Epilog: Sesaat Sebelum Padam
Sesaat Sebelum Padam Ceritanya masih tentang KKN, jangan bosan ya, hehe. Seharusnya mungkin judulnya bukan Sesaat Sebelum Padam. Mungkin Nano-Nano lebih cocok jadi judulnya, sebab beragamnya genre kehidupan empat bulan ini. Mulai dari melodrama, komedi, horor, misteri, thriller, romusha, sampai romansa, lengkap sudah semuanya. Mei lalu, anggaplah tulisan “Bukan Setoples Nastar” sebagai prolog. Lalu “Pesan Berbintang” sebagai monolog. Maka jadikan “Sesaat Sebelum Padam” sebagai epilog. Sebab begitulah seharusnya sebuah pertemuan: diawali sapaan, ada percakapan, dan tak lupa berpamitan, bukan malah pergi diam-diam. Sebuah tulisan berjudul Kitab Tanpa Aksara mengantarkan saya pada tulisan yang Anda baca sekarang ini. Kitab Tanpa Aksara adalah satu dari sekian bab yang termuat dalam buku Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan karya Agustinus Wibowo. Pada awalnya saya pun tidak memahami mengapa Koh Agus justru memberi judul Kitab Tanpa Aksara. Apa maksudnya? Mengapa ada sebu...