Epilog: Sesaat Sebelum Padam

 

 

Sesaat Sebelum Padam




Ceritanya masih tentang KKN, jangan bosan ya, hehe. Seharusnya mungkin judulnya bukan Sesaat Sebelum Padam. Mungkin Nano-Nano lebih cocok jadi judulnya, sebab beragamnya genre kehidupan empat bulan ini. Mulai dari melodrama, komedi, horor, misteri, thriller, romusha, sampai romansa, lengkap sudah semuanya. Mei lalu, anggaplah tulisan “Bukan Setoples Nastar” sebagai prolog. Lalu “Pesan Berbintang” sebagai monolog. Maka jadikan “Sesaat Sebelum Padam” sebagai epilog. Sebab begitulah seharusnya sebuah pertemuan: diawali sapaan, ada percakapan, dan tak lupa berpamitan, bukan malah pergi diam-diam.

Sebuah tulisan berjudul Kitab Tanpa Aksara mengantarkan saya pada tulisan yang Anda baca sekarang ini. Kitab Tanpa Aksara adalah satu dari sekian bab yang termuat dalam buku Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan karya Agustinus Wibowo. Pada awalnya saya pun tidak memahami mengapa Koh Agus justru memberi judul Kitab Tanpa Aksara. Apa maksudnya? Mengapa ada sebuah kitab tanpa aksara? Bisakah disebut kitab jika tanpa aksara?

Impresi pada awal bab saat membaca judulnya terjawab sudah. Pada akhirnya, pembaca baru akan memahami maksud penulis saat sudah selesai membaca satu bab penuh. Itulah maksudnya Kitab Tanpa Aksara. Sang penulis bercerita, sepulang dari perjalanan akbarnya ada banyak pertanyaan yang dilontarkan orang-orang di sekitar. Ke mana saja kamu? Bagaimana Himalaya? Apakah memang sungguh sulit untuk ditaklukkan? Tapi bagaimana caranya sang petualang menjawab semua pertanyaan itu dengan kata-kata? Ribuan langkah pendakian menuju Himalaya tentu terlalu kompleks untuk bisa diceritakan melalui kata-kata. Bagaimana caranya ia harus bercerita, dengan  kata-kata apa sampai para penanya mengerti betul bagaimana perjuangan menuju puncak sana? Apakah jika kuceritakan semuanya mereka akan paham atau hanya sekadar menganggukkan kepala seolah-olah mengerti? Mau diceritakan sampai mulut berbusa pun, tidak akan pernah bisa menceritakan detail perjalanan menuju Himalaya yang agung. Hendak diceritakan dengan seekspresif apapun, orang lain yang tidak mengalaminya sendiri tidak akan pernah memahami sepenuhnya badai salju yang dengan ganasnya menusuk tulang. Tidak akan pernah. Itulah Kitab Tanpa Aksara.



“Aksara dan bahasa adalah produk dari otak manusia yang begitu terbatas. Ada “Sesuatu” yang tak bisa dijelaskan dengan beribu buku ataupun berjuta-juta aksara, tidak dapat dinalar dengan berlaksa bahasa.” (Page 258)

“Betapa ajaibnya jalan dan perjalanan! Betapa dalamnya filosofi dari sebilah jalan. ..... Jalan adalah untuk dijalani. Perjalanan adalah proses menyusuri jalan. Tak ada kata-kata apa pun yang sanggup menggantikan sebuah perjalanan. Bukan kitabnya yang penting, tetapi hakikat kehidupan yang ditemukan dari perjuangan perjalanan.” (Halaman 259)

Wes wes, apa hubungane karo KKN Mar? Hehe piye yah carane njelaske? Jadi begini, seperti Kitab Tanpa Aksara, cerita yang sebenarnya adalah kekosongan. Tidak ada kata-kata yang sanggup merangkum kompleksnya seluruh kisah. Beberapa kali diberi pertanyaan tentang pengalaman KKN, tidak semua  hal bisa dijelaskan. Tidak semua cerita bisa dikisahkan. Suka duka dan segala cerita setiap harinya berbeda. Mau kujelaskan seperti apapun tentang dinginnya air di waktu sahur, tentang ribetnya menjemur di hari yang mendung, tentang indahnya matahari terbit di Telomoyo, tentang dramanya berebut giliran  mandi, tentang pahitnya kopi Sepakung, tentang beratnya menahan kantuk saat diri harus tetap terjaga, tentang misteriusnya kehilangan hanger, tentang semrawutnya benang-benang rasa, tentang realita hidup di desa, tentang rumitnya komunikasi dan bahasa perempuan, tentang tajamnya kritik, tentang hecticnya menghadapi situasi tak terduga, tentang serunya masak bersama, tentang lelahnya menghadapi perbedaan karakter,  tentang senangnya menemukan signal, tentang sederhananya orang desa, tentang sulitnya bersikap biasa saja saat hati tidak  baik-baik saja, dan masih banyak cerita yang terlalu kompleks untuk bisa diceritakan.

Coba baca tulisan berhighlight di atas. Tak ada kata-kata apa pun yang sanggup menggantikan sebuah perjalanan, sebab yang lebih penting adalah hakikat kehidupan yang ditemukan dari perjuangan perjalanan. Pada intinya, maksud sebuah proses dengan segala kompleksitasnya baru bisa dipahami setelah di akhir. Orang bisa paham maksud sebuah peristiwa mungkin bukan pada saat peristiwa berlangsung, tapi jauh setelah peristiwa tersebut selesai. Ternyata berbaur dengan masyarakat itu penting. Ternyata komunikasi memang  penting, tapi pemahaman jauh lebih penting. Ternyata manusia dengan segala macam karakternya itu perbedaan yang unik, menggelitik, dan rawab menyebabkan konflik. Ternyata bahasa perempuan memang sulit dipahami. Ternyata hidup di desa damai sekali. Ternyata seperti ini menjadi orang dewasa. Ternyata orang bisa salah memahami walaupun berkomunikasi dengan bahasa yang sama. Ternyata masak bersama seru juga. Ternyata apa yang saya takutkan tidak benar-benar terjadi. Ternyata ada banyak sekali orang baik di sekitar kita. Ternyata ada banyak keindahan yang tidak kita sadari. Ternyata ada begitu banyak hal yang harus kita syukuri. Dan ternyata, saya tidak salah langkah, saya tidak salah pilih jalan, ternyata begitu banyak maksud Tuhan di balik pertemuan dengan kalian. Jika ada yang harus disesali, maka saya menyesal mengapa tidak berusaha lebih keras, tidak berupaya lebih kuat atas banyak hal. At least, we can say we’ve tried. Thanks a lot, I learn a lot.  

Dari buku ini pula, saya memaknai bahwa sebuah perjalanan tidak pernah berakhir. Titik nol itu mungkin bukanlah akhir dari perjalanan, tetapi menjadi awal dari perjalanan lain yang berbeda. People leave, memory stay. Maka sesaat sebelum memori tentang  Sepakung mulai meredup menuju padam dan perlahan terlupakan, biarlah tulisan ini menjadi semacam prasasti. Kalau saya hidup di zaman Mataram Kuno, mungkin prasastinya dalam bentuk tulisan di atas batu. Tapi Sepakung (alamnya, suasananya) sepertinya terlalu kompleks untuk dideskripsikan dengan kata-kata. Jadi biarlah mata lensa yang berbicara.

 


23.02.2022
Sambutan yang hangat





24.02.2022
Keindahan tersembunyi di balik bukit-bukit, tebing, dan lembah





03.03.2022
Terpesona




08.03.2022
Sahabat kita




12.03.2022
Sweet talk






17.03.2022
Kering kerontang macam hati ini :)





28.03.2022
A birthday flower, thanks 





29.03.2022
Before sunrise
"I like to feel his eyes on me, when I look away"





03.04.2022
Where we go?





03.04.2022
Ramadhan di desa orang 






11.04.2022
Selamat malam, Semarang





17.04.2022
 Ulum mengulum senyum




13.05.2022
Berbunga-bunga





15.05.2022
Bagimu, semua kawan seperjalanan








15.05.2022
The skies is bright, and so are you







15.05.2022
Izinkan kulukis senja






23.05.2022
Mr. Bean







23.05.2022
Coffee break 
(Padahal ora ngopi)





26.05.2022
The hill of yearning






26.05.2022
Pemandangan teroos







29.05.2022
Another route







01.06.2022
Kebun sayur





02.06.2022
Students vacation tiap hari




02.06.2022
Yang seumuran kita




05.06.2022
A cute girl and her soldier





07.06.2022
Rawa Pening





11.06.2022
Kontemplasi





12.06.2022
Cewe bumi






12.06.2022
Telaga di kaki bukit











---

See you, thank you
Nice to meet you

Bumiayu, 13 Juli 2022












-Mar-








Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

[History #1] Hubungan Sriwijaya dan Mataram Kuno

Menjadi Guru SMA

Anak Sulungku: Catatan 20-an