Anak Sulungku: Catatan 20-an
Anak Pertamaku : Catatan 20-an
Hidup adalah pelajaran berharga, dan masa muda adalah
kelas pertamanya.
Hai,
perkenalkan, ini anak sulungku, namanya Catatan 20-an. Anak pertama yang butuh
bertahun-tahun sampai bisa dilahirkan dan sampai di tangan kalian. Si sulung,
buku solo pertamaku ini memang hanya sebuah buku tipis yang tak lebih dari 150
halaman. Tapi, percayalah, ia adalah saksi dari hari-hari masa mudaku yang
tidak tercipta dalam sekali duduk dan semalam suntuk.
Ia lahir dari
perjalanan panjang yang diam-diam kusimpan sejak 2020. Draf yang sebenarnya
lebih seperti catatan random yang bermula dari ide-ide acak yang melintas di
kepala. Catatan yang kutulis di sela-sela kuliah online, di malam-malam yang
terasa terlalu sunyi. Saat itu, aku tak pernah membayangkan bahwa
potongan-potongan kalimat itu akan menjelma sebuah buku. Aku hanya menulis agar
mengingatnya, masa muda yang tak selalu cerah, tentang pencarian yang kadang
tak pernah selesai.
Sebagai seorang pembaca, aku selalu bermimpi untuk menjadi penulis. Meskipun sudah beberapa kali berkesempatan menjadi penulis buku antologi, tapi mempunyai buku solo tentu menjadi goal besarnya. Sejak awal 20-an, aku bercita-cita untuk menerbitkan buku solo sebelum berusia 25 tahun. Satu impian yang sejak dahulu terpendam dan tidak kusangka pula bahwa kesempatan itu akhirnya datang awal tahun ini. Catatan-catatan itu seolah berserakan tidak rapi. Mulai dari cerita sehari-hari, pandangan terhadap hal-hal di sekitar, curhatan tentang suka dan duka. Seiring waktu, aku kembali membuka lembaran-lembaran lama dan menemukan banyak sekali versi diriku di sana. Ada aku yang bersemangat, ada aku yang lelah, ada aku yang bosan dengan rutinitas.
Selalu terbayang di benakku bahwa sebenarnya menuliskan buku ini adalah sebuah keberanian besar. Menulis buku ini bagiku seperti membuka tabir diri. Seolah mengizinkan orang lain mengintip ruang-ruang yang biasanya kusimpan rapat. Ada banyak luka di sana. Luka yang barangkali masih bisa terbaca dari kalimat-kalimatku. Aku takut orang lain tahu banyak hal tentangku.
Aku sempat
bertanya pada diriku sendiri, apakah aku siap jika orang-orang mengetahui
betapa tidak sempurnanya aku? Apakah aku siap jika mereka menemukan
fragmen-fragmen kesedihan yang terselip di antara tulisanku? Cukup lama aku
ragu. Tapi, aku ingat bahwa kesempatan tidak datang dua kali. Now or never.
Meskipun pengalaman
hidupku mungkin belum sehebat orang lain, izinkan aku memberanikan diri untuk
berbagi cerita. Tentang masa 20-an yang penuh warna ini. Buku ini terbagi menjadi
enam bagian dengan warnanya masing-masing. Bagian pertama, Membuka Halaman
Baru, tentang masa dewasa saat kita dihadapkan dengan ekspektasi vs realita.
Bagian kedua, tentang hal-hal yang tak diajarkan di sekolah, kuberi
judul Kompas Kehidupan. Bagian ketiga, bagian paling menguras air
mata saat menuliskannya: Ketika Hidup Mempertemukan Kita. Tentang
bagaimana hidup mempertemukan kita dengan manusia beraneka warna, yang setiap
warnanya bermakna, bagaimanapun cerah dan gelapnya. Bagian keempat, tentang
bagaimana realita dunia pekerjaan, kuberi judul Menghitung Harga Sebuah
Pilihan. Bagian kelima, seperti benang kusut, tentang kesehatan
mental dan perasaan-perasaan manusiawi yang mewarnai masa muda. Bagian
keenam, buku ini kututup dengan judul Menghapus dan Menulis Ulang
Pelajaran Hidup.
Di tengah
proses penulisan buku ini, sempat terselip rasa takut bahwa orang lain
berpandangan semua yang kutulis adalah ceritaku seorang. Padahal, tulisan ini
sedikit banyak terdapat kisah-kisah dari orang-orang di sekitarku. Di dalamnya
ada jejak langkah orang-orang di sekitarku. Ada percakapan tengah malam dengan
sahabat. Ada pesan-pesan penuh makna dari teman-teman tercinta. Ada banyak nasehat
dari orang-orang yang bahkan mungkin tak menyadari bahwa mereka pernah menjadi
bagian penting dari perjalanan masa muda ini. Tentang apa saja yang kusaksikan
dari teman-teman, rekan kerja, bahkan juga tentang orang-orang yang tak lagi
bersinggungan jalannya. Bukankah kita tak selalu belajar dari cerita hidup
sendiri, tapi juga dari cerita orang lain?
Catatan 20-an
memang bukan sebuah buku yang sempurna. Ada momen ketika aku merasa tulisanku
terlalu biasa untuk dibaca orang lain. Namun aku belajar bahwa sebuah karya
tidak perlu menunggu sempurna untuk dibagikan. Meskipun jauh dari sempurna, tapi
ia adalah mimpi yang menjadi nyata. Ia adalah hadiah kecil untuk diriku sendiri
sebelum usia 25 tahun. Dan semoga, ketika kamu membacanya, kamu merasa
ditemani. Karena sejatinya, buku ini kutulis bukan hanya untukku. Buku ini juga
untukmu. Untuk siapa pun yang sedang bertumbuh, jatuh, bangun, dan mencari arti
dari semua perjalanan ini.
"Tetap semangat dan terus berjuang, karena kamu adalah bagian dari doa seseorang."
(Wira Nagara)
-----------------------------
Halo, sudah lama tidak menulis di
sini. Hati-hati lho, sekarang katanya kalau ada yang diaggurin lebih dari 3
bulan, bakal disita pemerintah uppss.
Baiklah, sore ini saya ingin
sedikit merayakan pulang gasik yang jarang sekali saya dapatkan. Biasanya
sampai rumah saat adzan magrib berkumandang, jadi hari ini pulang sebelum asar
adalah sebuah hal yang sangat disyukuri. Jadi, selagi ada waktu luang, kuambil
kursi dan duduk diam di depan laptop.
Akhir-akhir ini, hari-hari terasa
begitu padat. Rutinitas seolah tiada henti, dari pagi ke pagi. Dari pukul enam
pagi sampai enam petang. Di sela kesibukan ini, aku ingin sejenak mengambil
jeda singkat. Jeda yang berharga karena akhirnya menyempatkan diri untuk
memperkenalkan anak sulungku yang satu ini hehe. Kadang healing yang kita
butuhkan bukan pergi berwisata, tapi duduk diam dan bercerita. Ini dia, anak pertamaku
yang berharga, semoga pembaca berkenan menerima.
Selamat
datang di dekade yang sering disebut paling menyenangkan sekaligus mendebarkan.
Usia 20-an adalah fase di mana kita mulai mengambil keputusan-keputusan besar
yang akan mempengaruhi sisa hidup kita.
Tapi di saat yang sama, kita sering merasa merasa belum tahu apa yang
seharusnya kita lakukan. Kebingungan tentang mana yang harus dilakukan, harus
jadi apa, dan mengapa hidup tidak seindah ekspektasi saat remaja dulu. Masa dua
puluhan ini adalah masa yang berharga. Walaupun banyak PR-nya, banyak pertanyaannya,
termasuk pertanyaan soal kapan, kapan, dan kapaaaan? Baiklah, kembali ke topik.
Beribu
terima kasih kepada orang tua, keluarga, Bapak/Ibu guru, dan sahabat-sahabat
tercinta yang telah berbagi cerita dan inspirasi dalam proses penulisan buku
ini. Tak lupa kepada setiap orang yang telah mewarnai masa 20-anku. Apapun
warnanya─cerah maupun kelabu, semuanya memberi pelajaran berharga yang
membentuk diri saya hingga hari ini.
Di kesempatan ini, aku sungguh
ingin berterima kasih banyak kepada semuaaaaaa pihak yang telah terlibat dalam penulisan
buku ini, baik langsung maupun tidak langsung. Mereka yang terlibat langsung,
misalnya orang-orang yang beberapa bulan lalu dengan sangat random kumintai
quotes favorit mereka. Dan tanpa mereka ketahui, sebenarnya tulisan mereka
kubuat satu bagian dari buku ini berjudul “Magical Jar”. Mereka yang terlibat
secara tidak langsung, misalnya orang-orang
yang tanpa sadar memberikan banyak pelajaran di usia 20-an ini dan mungkin
terselip di banyak tulisanku di buku ini. Sekali lagi, terima kasih banyak untuk
semua doa dan dukungan kalian semua. Doakan ya semoga suatu saat bisa cetak kedua.
Teruntuk pembaca, semoga
perjalanmu di masa muda tetap bermakna. Teruslah bertumbuh dan berproses, karena kamu tidak
sendiri. Semoga
setiap lembar yang kamu baca bisa menjadi pengingat bahwa semuanya tidak harus
sempurna, karena yang terpenting adalah kita terus mencoba sebisanya
Terakhir, aku ingin mengingatkan
diriku sendiri sebelum orang lain. Rahmat-Nya begitu luas, mungkin kita saja
yang terlalu buta.
Alhamdulillah 'ala kulli hal.

Komentar
Posting Komentar