[History #1] Hubungan Sriwijaya dan Mataram Kuno
Tulisan ini adalah THR saya lebaran tahun ini.
Iya, THR.
Maksudku Tugas Hari Raya, sama-sama THR kan?
Sriwijaya, kamu sering mendengarnya, yuk kita pelajari.
Sumber: historis.id
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
KERAJAAN SRIWIJAYA DAN HUBUNGAN DENGAN MATARAM KUNO
Kerajaan Sriwijaya kita ketahui
sebagai salah satu kerajaan terbesar di Nusantara karena kekuasaan yang luas
terhadap wilayah-wilayah strategis serta kekuatan maritim yang mumpuni pada
zamannya. Awal dari Kerajaan Sriwijaya masih menjadi perdebatan tentang kapan
dan di mana pusat kerajaan Sriwijaya didirikan. Kemudian dari beberapa sumber
terdapat keterangan mengenai asal-usul kerajaan Sriwijaya. Kajian tentang
asal-usul Sriwijaya diperoleh melalui sumber-sumber berikut.
a.
Naskah Cina dari abad ke-7 dan ke-8 yang
menyebutkan tentang sebuah kerajaan bernama Shih-li-fo-shih terletak di
Namhan (Laut Selatan). Nama tersebut
ditafsirkan oleh George Coedes sebagai Kerajaan Sriwijaya dalam buku Le
Royaume de Crivijaya
b.
Prasasti Kedukan Bukit (682 M) di mana
terdapat tulisan “Sriwijaya”
Swasti, cri.
Cakawarsatita 604 ekadaci cuklapaksa wulan Waicakha Dapunta Hyang naik di amwau
mangalap sidha yatra. Di saptami cuklapaksa wulan Jyestha Dapunta Hyang
marlapas dari Minanga tamwan manawa yang wala dua laksa dangan koca dua ratus
cara di samwau, dangan jalan sariwu tlu ratus sapulu dua wanyaknya. Datang di
Mukha Upang sukhacitta di pancami cuklapaksa wulan Asadi. Laghu mudita datang
marwuat wanua........Criwijaya jayasiddhayatra subhiksa.
Terjemah isi Prasasti
Kedukan Bukit dalam bahasa Indonesia
Bahagia, sukses! Tahun
Saka berlalu 604 hari kesebelas paro terang bulan Waisaka Dapunta Hyang naik di
perahu melakukan perjalanan. Di hari ketujuh paroterang bulan Jesta Dapunta
Hyang berangkat dari Minanga tambahan membawa bala tentara dua laksa dengan
perbekalan dua ratus koli di perahu, dengan berjalan seribu tiga ratus dua
belas banyaknya. Datang di Muka Upang sukacita di hari kelima paroterang bulan
Asada. Lega gembira datang membawa wanua...Perjalanan jaya Sriwijaya
berlangsung sempurna.
c.
Prasasti Talang Tuo (berangka 684 M) yang menunjukkan nama lengkap Raja Sriwijaya
sebagai berikut
Swasti, cri.
Cakawarsatita 606 dim dwitiya suklapaksa wulan Caitra, sana taikalanya parlak
Sriketra ini niparwuat, parwan Dapunta Hyang Cri Jayanaja. Ini pranidhahan
Dapunta Hyang.
Terjemah bahasa
Indonesia:
Bahagia, sukses!
Tahun Saka berlalu 606 hari kedua paroterang bulan Caitra, itu saatnya taman
Sriketra ini diperbuat, titah Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Ini nazar Dapunta
Hyang.
d.
Berdasarkan sumber lain
Cakawarsatitta 608 dim
pratipada cuklapaksa wulan Waicakha, tatkalanya yang mangmang sumpah ini
nipahat, di welanya yang wala Sriwijaya kaliwat manapik yang Bhumi Jawa tida
bhakti ka Criwijaya.
Terjemah bahasa
Indonesia:
Tahun Saka berlalu 608
hari pertama paroterang bulan Waisaka (28 Februari 686), tatkala kutukan dan
sumpah ini dipahat, ketika tentara Sriwijaya berangkat menyerbu Tanah Jawa yang
tidak berbakti pada Sriwijaya.
e.
Catatan I-Tsing yang datang ke Sumatra
dalam perjalanan menuju India, pada tahun 671 singgah di Fo-shih
(Sumatra, Palembang) lalu menetap selama enam bulan. Pada masa itu sudah
terdapat lebih dari 1000 pendeta Buddha dan banyak dikaji tentang kitab-kitab
agama Budha. Selanjutnya, I-Tsing datang kembali ke Palembang pada tahun 689 M,
dicatat bahwa Kedah sudah menjadi bagian dari kerajaan tersebut. Fo-shih
ditafsirkan sebagai Sungai Musi yang apabila dikaitkan dengan daerah di dekat
Sungai Musi yaitu Palembang
f.
Dalam sumber lain
2.
Kejayaan Sriwijaya
Secara umum, Sriwijaya pada abad ke-7
dan 8 sudah menguasai wilayah-wilayah yang strategis dalam lalu lintas
perdagangan dunia. Sriwijaya yang
mulanya berpusat di Palembang kemudian mengambil langkah untuk menguasai
wilayah sekitar yang strategis dalam pelayaran dan perdagangan. Palembang
dianggap kurang strategis sebab kapal-kapal dagang banyak singgah di Kedah.
Sebelum menguasai daerah strategis, Sriwijaya hanya dikunjungi oleh para
pendeta di Cina karena Sriwijaya gencardalam kegiatan agama Budha. Sebagaimana
catatan I-Tsing di bawah ini
“Dalam kota Sriwijaya
yang berbenteng terdapat lebih dari seribu pendeta Buddha yang rajin
mempelajari seluruh masalah secara nyata seperti di Madhyadesa (India). Aturan
dan upacara mereka semuanya tidak berbeda dengan di India. Oleh karena itu jika
ada pendeta Cina yang ingin pergi ke India untuk mendengarkan kuliah atau
membaca naskah-naskah Buddha asli, alangkah baiknya jika ia berdiam dahulu di
Sriwijaya selama satu tahun atau dua tahun untuk berlatih aturan-aturan umum,
dan sesudah itu barulah ia berangkat ke India.”
Sriwijaya memang unggul di bidang
keagamaan Buddha, akan tetapi tertinggal oleh Kedah dan Melayu secara ekonomi.
Oleh karena itu, Sriwijaya memiliki tujuan untuk memperluas wilayah dan
menguasai daerah-daerah yang strategis bagi pelayaran dan perdagangan
antarnegara. Di antara beberapa wilayah yang dikuasai Sriwijaya menurut Wolter
dalam
1.
Semenanjung Malaya
2.
Pantai timur laut dan utara Sumatra yang
kemudian dijadikan sebagai suplier komoditas perdagangan.
3.
Daerah pantai timur dan pulau-pulau di
sekitar Palembang.
Wolters berpendapat bahwa negeri
pertama yang dikuasai Sriwijaya untuk mewujudkan misiperluasan kekuasaan adalah
negeri Melayu
Kejayaan Sriwijaya dalam menguasai
daerah-daerah penting di Selat Malaka dan sekitarnya didukung oleh armada laut
yang kuat. Dr. Pierre Yves Manguin berpendapat bahwa
“Sriwijaya
menggunakan kapal-kapal besar dalam jalur perdagangan di Samudera Hindia dan
Laut Cina Selatan.Sumber-sumber Cina mencatat munculnya Kun Lun Pc (arti secara
harfiah: kapal Melayu). Bobotnya mencapai 250 sampai 1000 ton, dengan panjang
60 meter. Kapal itu mampu memuat penumpang sampai 1000 orang, dan ini belum termasuk
muatan barang. Kapal jung Cina pada abad ke-16 tidak lebih dari tiruan bentuk
kapal Sriwijaya. Cina tak pernah punya kapal-kapal antarsamudera sebelum abad
ke-9. Baru pada zaman Dinasti Sung, Cina mulai membuat armada laut yang kuat.
Dan baru pada zaman Dinasti Yuan mereka mendominasi Laut Cina Selatan, setelah
Sriwijaya, penguasa maritim terkuat di Asia Tenggara mulai kehilangan wibawa
dan menghilang dari sejarah.
Perdagangan dunia yang terjalin
antara barat dan timur dihubungkan melalui kepulauan yang dikuasai Sriwijaya.
Sehingga kapal-kapal dagang dari Arab maupun India harus melewati wilayah
Sriwijaya sebelum menuju Cina. Perkembangan kekuasaan Sriwijaya di
daerah-daerah strategis tersebut membawa dampak bagi perkembangan ekonomi melalui
perdagangan. Pada saat itu, peran Sriwijaya sangat penting karena menjadi
penguasa daerah strategis. Perdagangan semakin pesat di Sriwijaya dengan para
pedagang dari luar. Berdasarkan kronik Hsin-Tang-shu diketahui bahwa
Sriwijaya telah menguasai 14 buah kota dagang.
Secara ekonomis, komoditas perdagangan
dari Sriwijaya antara lain daging hewan, kulit, binatang liar. Akan tetapi
sepak terjang Sriwijaya tidak terhenti sampai di sana. Sriwijaya kemudian
menjembatani perdagangan di seluruh nusantara dengan para pedagang asing. Para
pedagang di nusantara yang hendak menjual dagangan ke pedagang asing harus
melalui Sriwijaya, sehingga secara tidak langsung Sriwijaya telah berhasil
menguasai perdagangan di nusantara. Komoditas perdagangan dari para pedagang
nusantara antara lain rempah-rempah, gading,emas, beras, dll. Sementara itu,
Sriwijaya juga menarik pajak dari para pedagang asing yang singgah sehingga
menanmbah keuntungan ekonomi Sriwijaya.
Jalur perdagangan timur-barat yang
melalui Sriwijaya sebelumnya dikenal sebagai jalur laut yang banyak perompak
atau bajak laut. Oleh karena itu, jalur ini sebelum dikuasai Sriwijaya menjadi
tidak aman. Akan tetapi, setelah dikuasai Sriwijaya, jalur ini menjadi aman
sebab Sriwijaya memanfaatkan para bajak laut untuk bekerja sama dengan membuat
kontrak yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak. Para bajak laut
dijadikan sebagai bagian dari organisasi perdagangan kerajaan dengan upah
berupa sebagian dari hasil perdagangan
Sriwijaya selain mengamankan jalur
pelayaran dan perdagangan juga menjalin hubungan diplomatik dengan kekaisaran
Cina. Dengan hubungan baik tersebut, Sriwijaya
mengirimkan utusan dan upeti setiap tahunnya kepada Cina. Utusan dari Sriwijaya
ke Cina diketahui berdasarkan catatan Dinasti Tang tentang kedatangan utusan
dari Sriwijaya sejak tahun 670 M hingga 673 M dan 713 M sampai 741 M. Dampak
dari hubungan diplomatik antara Sriwijaya dengan kekaisaran Cina adalah jaminan
keamanan atau perlindungan dari Cina kepada wilayah Sriwijaya. Selain itu,
hubungan dengan Cina dapat mencegah niat buruk terhadap Sriwijaya dari
negara-negara lain di sekitarnya, khususnya Asia Tenggara
Kekuasaan Sriwijaya diperkuat oleh
jaringan pelabuhan yang saling terhubung dan disertai pula oleh tentara serta
perlengkapan yang kuat. Oleh karena itu, Sriwijaya berhasil menjadi negara yang
mendapat keuntungan dari sisi maritim dan perdagangan. Hal tersebut senada
dengan catatan Reid tahun 1995 yang dikutip oleh Santun (2013) tentang catatan
pedagang Arab yang bernama Sulaiman. Catatan Sulaiman tahun 851 M dihubungkan
dengan keberadaan Sriwijaya yang jaya. Adapun isi dari catatan tersebut adalah
sebagai berikut.
Raja kota ini dikenal
dengan gelar maharaja (raja besar). Konon luasnya (luas wilayah tempat kota itu berdiri sebagai ibukota)
mencapai 900 parasang (persegi). Maharaja juga memerintah sejumlah besar
pulau yang tersebar hingga sejauh 1.000 parasang atau lebih. Di antara
pulau-pulau tersebut terdapat pulau bernama Sribuza yang konon luasnya mencapai
400 parasang dan pulau bernama Rami yang konon luasnya mencapai 800 parasang.
Di Pulau Rami terdapat perkebunan kayu brasil, kapur barus, dan minyak-minyak
lainnya. Maharaja juga menguasai tanah maritim Kalah yang terletak pada
pertengahan Cina dan Arab (Reid, 1995).
Berdasarkan catatan pedagang Sulaiman
maka kemungkinan besar sebutan Sribusa adalah istilah untuk Kerajaan Sriwijaya
yang menjadi tujuan para pedagang muslim termasuk Sulaiman. Sementara itu Kalah
ditafsirkan sebagai Kedah. Hal ini masuk akal, sebab Kedah dalam catatan
I-Tsing tahun 685 telah masuk menjadi wilayah Sriwijaya.
Perdagangan Sriwijaya berlangsung dengan
pesat dan menambah penghasilan Sriwijaya. Komoditas ekspor dan bea cukai yang
ditetapkan kepada kapal-kapal asing yang singgah di Sriwijaya merupakan
penghasilan utama. Berdasarkan rincian dari Jacob Cornelis van Leur jenis-jenis
komoditi ekspor Sriwijaya sebagai berikut
a.
Komoditas ekspor Sriwijaya ke Arab antara
lain kayu gaharu, kapur barus (senada dengan catatan pedagang Sulaiman),
cendana, gading, timah, eboni, kayu sapan, rempah-rempah, dan kemenyan.
b. Komoditas
ekspor Sriwijaya ke Cina antara lain gading, air mawar, kemenyan, buah-buahan,
gula putih, cincin kristal, gelas, kapur barus, batu karang, pakaian kapas,
cula badak, wangi-wangian, bumbu masak, dan obat-obatan.
Jadi, kejayaan Sriwijaya dapat
dilihat dalam berbagai bidang yaitu bidang ekonomi melalui perdagangan
internasional, bidang ilmu pengetahuan melalui pusat pengajaran agama Buddha,
lalu bidang politik melalui hubungan diplomatik dengan luar negeri dan
penguasaan wilayah-wilayah strategis, kemudian
bidang teknologi dengan kemampuan membuat kapal yang hebat pada masanya.
3. 3. Hubungan
Sriwijaya dengan Kerajaan Mataram Kuno dan Peristiwa Mahapralaya
Dinasti Syailendra
Istilah Syailendra (Sailendrawangsa)
dijumpai dalam Prasasti Kalasan yang berangka tahun 778 M, Prasasti Kelurak
(782 M), dan Prasasti Abhayagiriwihara (792 M), Prasasti Kayumwungan (824 M).
Akan tetapi, dalam beberapa prasasti di luar Jawa yaitu Prasasti Ligor,
Prasasti Nalanda, dan Leiden juga ditemukan hubungan dengan sailendrawangsa.
Mengenai asal-usul keluarga Sriwijaya masih menjadi perdebatan di antara para
ahli. Terdapat beberapa pendapat tentang asal-usul Dinasti Syailendra, di
antaranya adalah Dinasti Syailendra berasal dari India, pendapat lain
mengatakan Dinasti Syailendra berasal dari Jawa dan Sumatra. Yang jelas
diketahui adalah bahwa Dinasti Syailendra merupakan salah satu keluarga
penguasa Kerajaan Mataram Kuno yang berkaitan dengan pembangunan Candi
Borobudur. Lalu bagaimana hubungannya dengan Kerajaan Sriwijaya? Untuk
mengetahui lebih lanjut tentang Dinasti Syailendra dan Sriwijaya kita perlu
membahas kembali tentang peninggalan-peninggalan Sriwijaya maupun Mataram Kuno.
Dalam Prasasti Sojomerto yang ditemukan
di Batang pada tahun 1963 berisi cerita tentang Dapunta Selendra, ayahnya
Santanu, dan ibunya Badrawati. Dapunta Selendra menganut agama Buddha
Dalam Prasasti Ligor A dan B yang
ditemukan di Semenanjung Melayu berisi pujian terhadap dua orang raja. Prasasti
Ligor A (berangka 775 M) memuji seorang raja Sriwijaya (Crivijayendraraju) yang
membangun caitya, sedangkan bagian belakangnya yaitu Prasasti Ligor B
berisi sanjungan terhadap raja bergelar sarwarimada-wimathana (pembunuh
perwira musuh) laksana Dewa Wisnu berasal dari
keluarga Syailendra , tetapi tidak menyebutkan secara jelas nama
rajanya. Sementara itu, dalam Prasasti Kelurak berangka tahun 782 M yang
ditemukan di Jawa Tengah menyebutkan tentang pembangunan arca dan nama seorang
raja Sri Sanggrama Dhananjaya memiliki julukan wairiwarawimardana
(pembunuh perwira musuh). Raja yang disebutkan dalam Prasasti Ligor B sebagai sarwarimada-wimathana
merupakan orang yang sama dengan Sang wairiwarawimardana dalam Prasasti
Kelurak. Kedua prasasti tersebut menunjukkan bahwa kedua kerajaan, yaitu
Sriwijaya dan Mataram Kuno saling berhubungan.
Berdasarkan pendapar Nia Kurnia,
hubungan Sriwijaya, Syailendra, dan Mataram Kuno yang merupakan satu keluarga
merujuk pada Prasasti Ligor. Prasasti Ligor sama-sama memuji raja dari
Sriwijaya dan Mataram Kuno menunjukkan bahwa keduanya memiliki hubungan yang
erat. Mustahil Prasasti Ligor B memuji raja asing yang tidak dikenal jika bukan
merupakan kerabat atau keluarga. Kemudian mengapa bisa dua orang dari satu
keluarga menjadi raja bersama? Nia bependapat bahwa mulanya Dapunta Selendra
berasal dari wilayah Sriwijaya kemudian menurunkan raja-raja Mataram Kuno di
Jawa Tengah setelah Sriwijaya melakukan ekspansi ke Jawa. Bukti ekspansi
Sriwijaya ke Jawa adalah Prasasti Kota Kapur yang berangka 686 M tentang keberangkatan tentara Sriwijaya
memerangi Bhumi Jawa. Daerah Jawa yang dimaksud dalam prasasti tersebut mungkin
adalah Tarumanegara yang tidak mau tunduk pada Sriwijaya. Ekspansi tersebut
mungkin saja sampai ke Jawa Tengah dengan bukti berupa penggunaan bahasa Melayu
Kuno dalam berbagai peninggalan Mataram
yaitu prasasti Gandasuli, Dieng, Candi Sewu, dan Bukateja.
Selanjutnya, Nia berpendapat bahwa
setelah menguasai Jawa Tengah, kekuasaan di Jawa Tengah sengaja dibuat terpisah
dengan kekuasaan Sriwijaya di Sumatra. Pendapat tersebut diperkuat dengan
kronik Cina Hsin-Tang-shu dalam buku 222 B bagian 5a yang menyebutkan pembagian
Shih-li-fo-shih (Sriwijaya) menjadi dua pemerintahan. Alasan pembagian
kekuasaan Sriwijaya dan Mataram Kuno mungkin saja untuk menjaga agar tidak ada
persaingan antarsaudara. Dalam Prasasti Telaga Batu (Pertengahan kedua abad 7)
salah satu isinya adalah keberadaan dua putra Dapunta Hyang. Dengan demikian
pendapat Nia tentang pembagian kekuasaan Sriwijaya di Sumatra dan Jawa mungkin
saja terjadi, sehingga dapat menjelaskan hubungan Sriwijaya dengan Mataram
Kuno.
Dalam sumber lain, yaitu Prasasti
Nalanda yang ditemukan di India dan dipahat sekitar tahun 860 M, menceritakan
tentang permintaan Raja Balaputradewa
dari Suwarnadwipa (Sumatra) untuk membangun wihara di Nalanda. Balaputra
disebutkan sebagai cucu Raja Yawabhum, sedangkan ayah Balaputradewa bernama
Samaragrawira. Artinya, Raja Balaputradewa dari Sriwijaya masih keturunan dari
keluarga raja Jawa. Dalam Prasasti Nalanda disebutkan bahwa kakek Balaputradewa
adalah cailendrawangsatilaka (Mustika Keluarga Syailendra) yang dijuluki
pembunuh perwira musuh. Ibu Balaputradewa disebutkan bernama Tara, putri
Dharmasetu, kemudian menikah dengan Samaragrawira. Sementara itu
Prasasti Karang Tengah yang bertarikh 824 M menyebutkan bahwa Raja
Samaratungga mempunyai putri bernama hPramowardhani yang meresmikan pembangunan
Candi Jinalaya (Candi Borobudur) yang bertingkat-tingkat
Pendapat Krom bahwa
Balaputradewa merupakan saudara Pramowardhani didukung oleh de Casparis yang
merujuk pada prasasti wantil (856 M) tentang perang saudara antara Pramowardhani
dan Balaputradewa. Pendapat tersebut berbeda dengan Slamet Muljana yang merujuk
pada Prasasti Kayumwungan bahwa Samaratungga hanya memiliki seorang putri yaitu
Pramowardhani, dan Balaputradewa adalah adik Samaratungga atau paman
Pramowardhani
Terlepas dari asumsi bahwa
Balaputradewa adalah adik atau paman Pramowardhani, keduanya memiliki hubungan
sebagai keluarga kerajaan Mataram Kuno. Selanjutnya, Pramowardhani menikah
dengan Rakai Pikatan, putra Rakai Patapan Pu Palar. Rakai Patapan merupakan
pembantu Raja Samaratungga dalam pembuatan candi, sehingga memiliki posisi
penting. Akan tetapi, Rakai Patapan memiliki niat menjadi raja, sehingga Raja
Samaratungga khawatir akan terjadi peperangan. Akhirnya, Samaratungga
menikahkan putrinya, Pramowardhani dengan Rakai Pikatan
DAFTAR PUSTAKA
Achmad, K. B. (2018). Perempuan-Perempuan Tangguh
Penguasa Tanah Jawa. Yogyakarta: Arashka.
Adji, K. B.
(2011). Ensiklopedia Raja-Raja Jawa: dari Kalingga hingga Kesultanan
Yogyakarta. Yogyakarta: Arashka.
Berkah, A.
(2017). Dampak Kekuasaan Maritim Sriwijaya Terhadap Masuknya Pedagang Muslim
di Palembang Abad VII-IX Masehi, 16. Medina-Te, 1: 51-60.
Budisantoso.
(2006). Sriwijaya Kerajaan Maritim Terbesar Pertama di Nusantara. Jurnal
Ketahanan Nasional, XI, 1: 49-56.
El-Ibrahim,
d. M. (2019). Kerajaan Mataram Kuno. Semarang: Mutiara Aksara.
Irfan, N.
K. (2015). Kerajaan Sriwijaya Pusat Pemerintahan dan Perkembangannya.
Bandung: Kiblat Buku Utama.
Muljana, S.
(2011). Sriwijaya. Yogyakarta: LKis Printing Cemerlang.
Pusponegoro,
M. D. (2010). Sejarah Nasional Indonesia II Zaman Kuno (Edisi
Pemutakhiran). Jakarta: Balai Pustaka.
Santun, D.
I. (2013). Simbol Kejayaan Ibukota Sriwijaya dalam Tiga Prasasti Sriwijaya di
Palembang, 13. Mozaik, 2: 136-148.
Taim, E. A.
(2013). Studi Kewilayahan Dalam Penelitian Peradaban Sriwjiaya 22. KALPATARU,
2: 61-122.
Wendra, I.
N. (2017, Agustus 18). Kontroversi Kerajaan Sriwijaya: Sebuah Tinjauan
Menurut Buku Teks Sejarah. Retrieved from Sejarah UPI:
http://sejarah.upi.edu/artikel/dosen/kontroversi-kerajaan-sriwijaya-sebuah-tinjauan-menurut-buku-teks-sejarah/
Yeni, S. P.
(n.d.). Rangkuman Materi Perkuliahan Sejarah Indonesia Kuno. http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._SEJARAH/197706022003122-YENI_KURNIAWATI_SUMANTRI/Bahan_ajar_SIK.pdf

Komentar
Posting Komentar