[History #1] Hubungan Sriwijaya dan Mataram Kuno

 


Tulisan ini adalah THR saya lebaran tahun ini.

Iya, THR.

Maksudku Tugas Hari Raya, sama-sama THR kan?


Sriwijaya, kamu sering mendengarnya, yuk kita pelajari.




Sumber: historis.id



----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


KERAJAAN SRIWIJAYA DAN HUBUNGAN DENGAN MATARAM KUNO


             Kerajaan Sriwijaya kita ketahui sebagai salah satu kerajaan terbesar di Nusantara karena kekuasaan yang luas terhadap wilayah-wilayah strategis serta kekuatan maritim yang mumpuni pada zamannya. Awal dari Kerajaan Sriwijaya masih menjadi perdebatan tentang kapan dan di mana pusat kerajaan Sriwijaya didirikan. Kemudian dari beberapa sumber terdapat keterangan mengenai asal-usul kerajaan Sriwijaya. Kajian tentang asal-usul Sriwijaya diperoleh melalui sumber-sumber berikut.

a.       Naskah Cina dari abad ke-7 dan ke-8 yang menyebutkan tentang sebuah kerajaan bernama Shih-li-fo-shih terletak di Namhan  (Laut Selatan). Nama tersebut ditafsirkan oleh George Coedes sebagai Kerajaan Sriwijaya dalam buku Le Royaume de Crivijaya (Budisantoso, 2006).

b.      Prasasti Kedukan Bukit (682 M) di mana terdapat tulisan “Sriwijaya” (Budisantoso, 2006). Isi dari Prasasti Kedukan Bukit adalah sebagai berikut (Irfan, 2015):

Swasti, cri. Cakawarsatita 604 ekadaci cuklapaksa wulan Waicakha Dapunta Hyang naik di amwau mangalap sidha yatra. Di saptami cuklapaksa wulan Jyestha Dapunta Hyang marlapas dari Minanga tamwan manawa yang wala dua laksa dangan koca dua ratus cara di samwau, dangan jalan sariwu tlu ratus sapulu dua wanyaknya. Datang di Mukha Upang sukhacitta di pancami cuklapaksa wulan Asadi. Laghu mudita datang marwuat wanua........Criwijaya jayasiddhayatra subhiksa.

 

Terjemah isi Prasasti Kedukan Bukit dalam bahasa Indonesia (Irfan, 2015):

Bahagia, sukses! Tahun Saka berlalu 604 hari kesebelas paro terang bulan Waisaka Dapunta Hyang naik di perahu melakukan perjalanan. Di hari ketujuh paroterang bulan Jesta Dapunta Hyang berangkat dari Minanga tambahan membawa bala tentara dua laksa dengan perbekalan dua ratus koli di perahu, dengan berjalan seribu tiga ratus dua belas banyaknya. Datang di Muka Upang sukacita di hari kelima paroterang bulan Asada. Lega gembira datang membawa wanua...Perjalanan jaya Sriwijaya berlangsung sempurna.

 

c.       Prasasti Talang Tuo (berangka 684 M)  yang menunjukkan nama lengkap Raja Sriwijaya sebagai berikut (Irfan, 2015).

Swasti, cri. Cakawarsatita 606 dim dwitiya suklapaksa wulan Caitra, sana taikalanya parlak Sriketra ini niparwuat, parwan Dapunta Hyang Cri Jayanaja. Ini pranidhahan Dapunta Hyang.

 

Terjemah bahasa Indonesia:

Bahagia, sukses! Tahun Saka berlalu 606 hari kedua paroterang bulan Caitra, itu saatnya taman Sriketra ini diperbuat, titah Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Ini nazar Dapunta Hyang.

d.      Berdasarkan sumber lain (Irfan, 2015) disebutkan bahwa salah satu bukti yang diyakini oleh Coedes tentang keberadaan kerajaan Sriwijaya adalah Prasasti Kota Kapur (686 M). Dalam baris  kedua terdapat kalimat kadatuan criwijaya (Kerajaan Sriwijaya). Kemudian pada baris keempat terdapat kalimat datu criwijaya (Raja Sriwijaya), serta pada baris kesepuluh terdapat kata wala crivijaya (Tentara Sriwijaya).

Cakawarsatitta 608 dim pratipada cuklapaksa wulan Waicakha, tatkalanya yang mangmang sumpah ini nipahat, di welanya yang wala Sriwijaya kaliwat manapik yang Bhumi Jawa tida bhakti ka Criwijaya.

 

Terjemah bahasa Indonesia:

Tahun Saka berlalu 608 hari pertama paroterang bulan Waisaka (28 Februari 686), tatkala kutukan dan sumpah ini dipahat, ketika tentara Sriwijaya berangkat menyerbu Tanah Jawa yang tidak berbakti pada Sriwijaya.

e.       Catatan I-Tsing yang datang ke Sumatra dalam perjalanan menuju India, pada tahun 671 singgah di Fo-shih (Sumatra, Palembang) lalu menetap selama enam bulan. Pada masa itu sudah terdapat lebih dari 1000 pendeta Buddha dan banyak dikaji tentang kitab-kitab agama Budha. Selanjutnya, I-Tsing datang kembali ke Palembang pada tahun 689 M, dicatat bahwa Kedah sudah menjadi bagian dari kerajaan tersebut. Fo-shih ditafsirkan sebagai Sungai Musi yang apabila dikaitkan dengan daerah di dekat Sungai Musi yaitu Palembang (Santun, 2013).

f.        Dalam sumber lain (Taim, 2013) juga disebutkan tentang kitab sejarah Dinasti Song buku 489 ( 960-1279 M), yang menyebutkan tentang Raja San-bo-tsai yang bertempat tinggal di Chan-Pi. Ditafsirkan bahwa San-bo-tsai merupakan Sriwijaya dan Chan-pi adalah Jambi.

 

2.      Kejayaan Sriwijaya

         Secara umum, Sriwijaya pada abad ke-7 dan 8 sudah menguasai wilayah-wilayah yang strategis dalam lalu lintas perdagangan dunia.  Sriwijaya yang mulanya berpusat di Palembang kemudian mengambil langkah untuk menguasai wilayah sekitar yang strategis dalam pelayaran dan perdagangan. Palembang dianggap kurang strategis sebab kapal-kapal dagang banyak singgah di Kedah. Sebelum menguasai daerah strategis, Sriwijaya hanya dikunjungi oleh para pendeta di Cina karena Sriwijaya gencardalam kegiatan agama Budha. Sebagaimana catatan I-Tsing di bawah ini (Irfan, 2015):

“Dalam kota Sriwijaya yang berbenteng terdapat lebih dari seribu pendeta Buddha yang rajin mempelajari seluruh masalah secara nyata seperti di Madhyadesa (India). Aturan dan upacara mereka semuanya tidak berbeda dengan di India. Oleh karena itu jika ada pendeta Cina yang ingin pergi ke India untuk mendengarkan kuliah atau membaca naskah-naskah Buddha asli, alangkah baiknya jika ia berdiam dahulu di Sriwijaya selama satu tahun atau dua tahun untuk berlatih aturan-aturan umum, dan sesudah itu barulah ia berangkat ke India.”

       Sriwijaya memang unggul di bidang keagamaan Buddha, akan tetapi tertinggal oleh Kedah dan Melayu secara ekonomi. Oleh karena itu, Sriwijaya memiliki tujuan untuk memperluas wilayah dan menguasai daerah-daerah yang strategis bagi pelayaran dan perdagangan antarnegara. Di antara beberapa wilayah yang dikuasai Sriwijaya menurut Wolter dalam (Budisantoso, 2006):

1.      Semenanjung Malaya

2.      Pantai timur laut dan utara Sumatra yang kemudian dijadikan sebagai suplier komoditas perdagangan.

3.      Daerah pantai timur dan pulau-pulau di sekitar Palembang.

          Wolters berpendapat bahwa negeri pertama yang dikuasai Sriwijaya untuk mewujudkan misiperluasan kekuasaan adalah negeri Melayu (Irfan, 2015). Akan tetapi Slamet Muljana berpendapat bahwa perluasan daerah Sriwijaya dimulai dari daerah terdekat, yang kemungkinan adalah Bangka, kemudian Lampung. Bangka dikuasai oleh Sriwijaya berdasarkan Prasasti Kota Kapur (686 M) yang ditemukan di sekitar Bangka berisi kutukan terhadap siapa saja yang berkhianat dari Sriwijaya. Adapun Melayu yang ditafsirkan sebagai Jambi dikuasai berdasarkan Prasasti Karang Brahi. Kemudian Kedah dikuasai pada tahun 682 M, diperkuat dengan catatan I-Tsing yang mengatakan bahwa pada tahun 689 M, Kedah sudah menjadi bagian dari Kerajaan Srwijaya. Lebih jauh lagi yaitu daerah Ligor di Semenanjung Melayum sekarang Thailand Selatan yang diketahui dari Prasasti Ligor (775 M). Prasasti Ligor A isinya antara lain kekuasaan raja Sriwijaya Dharmasetu yang membangun bangunan suci Buddha, trisamaya caitya (Pusponegoro, 2010).

            Kejayaan Sriwijaya dalam menguasai daerah-daerah penting di Selat Malaka dan sekitarnya didukung oleh armada laut yang kuat. Dr. Pierre Yves Manguin berpendapat bahwa (Irfan, 2015):

“Sriwijaya menggunakan kapal-kapal besar dalam jalur perdagangan di Samudera Hindia dan Laut Cina Selatan.Sumber-sumber Cina mencatat munculnya Kun Lun Pc (arti secara harfiah: kapal Melayu). Bobotnya mencapai 250 sampai 1000 ton, dengan panjang 60 meter. Kapal itu mampu memuat penumpang sampai 1000 orang, dan ini belum termasuk muatan barang. Kapal jung Cina pada abad ke-16 tidak lebih dari tiruan bentuk kapal Sriwijaya. Cina tak pernah punya kapal-kapal antarsamudera sebelum abad ke-9. Baru pada zaman Dinasti Sung, Cina mulai membuat armada laut yang kuat. Dan baru pada zaman Dinasti Yuan mereka mendominasi Laut Cina Selatan, setelah Sriwijaya, penguasa maritim terkuat di Asia Tenggara mulai kehilangan wibawa dan menghilang dari sejarah. 

          Perdagangan dunia yang terjalin antara barat dan timur dihubungkan melalui kepulauan yang dikuasai Sriwijaya. Sehingga kapal-kapal dagang dari Arab maupun India harus melewati wilayah Sriwijaya sebelum menuju Cina. Perkembangan kekuasaan Sriwijaya di daerah-daerah strategis tersebut membawa dampak bagi perkembangan ekonomi melalui perdagangan. Pada saat itu, peran Sriwijaya sangat penting karena menjadi penguasa daerah strategis. Perdagangan semakin pesat di Sriwijaya dengan para pedagang dari luar. Berdasarkan kronik Hsin-Tang-shu diketahui bahwa Sriwijaya telah menguasai 14 buah kota dagang.

         Secara ekonomis, komoditas perdagangan dari Sriwijaya antara lain daging hewan, kulit, binatang liar. Akan tetapi sepak terjang Sriwijaya tidak terhenti sampai di sana. Sriwijaya kemudian menjembatani perdagangan di seluruh nusantara dengan para pedagang asing. Para pedagang di nusantara yang hendak menjual dagangan ke pedagang asing harus melalui Sriwijaya, sehingga secara tidak langsung Sriwijaya telah berhasil menguasai perdagangan di nusantara. Komoditas perdagangan dari para pedagang nusantara antara lain rempah-rempah, gading,emas, beras, dll. Sementara itu, Sriwijaya juga menarik pajak dari para pedagang asing yang singgah sehingga menanmbah keuntungan ekonomi Sriwijaya.

          Jalur perdagangan timur-barat yang melalui Sriwijaya sebelumnya dikenal sebagai jalur laut yang banyak perompak atau bajak laut. Oleh karena itu, jalur ini sebelum dikuasai Sriwijaya menjadi tidak aman. Akan tetapi, setelah dikuasai Sriwijaya, jalur ini menjadi aman sebab Sriwijaya memanfaatkan para bajak laut untuk bekerja sama dengan membuat kontrak yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak. Para bajak laut dijadikan sebagai bagian dari organisasi perdagangan kerajaan dengan upah berupa sebagian dari hasil perdagangan (Pusponegoro, 2010). Kontrak tersebut pada intinya merupakan kerja sama untuk mengamankan wilayah laut yang menjadi jalur pelayaran dan perdagangan. Dengan adanya kontrak tersebut, para perompak tidak lagi mengganggu para pedagang yang berlayar. Dampak dari jaminan keamanan jalur perdagangan adalah semakin banyak para pedagang yang singgah dan melintas di Sriwijaya, termasuk para pedagang muslim yang dampak selanjutnya adalah masuknya Islam di nusantara (Berkah, 2017). Dalam catatan dari Cina yaitu Hsin-Tang-shu (Sejarah Dinasti Tang) dan Sung-shih (Sejarah Dinasti Sung) diketahui bahwa pelabuhan-pelabuhan di wilayah Sriwijaya banyak dikunjungi oleh orang Ta-shih. Ta-shih adalah sebutan untuk para pedagang dari Arab. Catatan tersebut juga menerangkan bahwa di kota-kota dagang Sriwijaya terdapat pemukiman para pedagang Islam (Irfan, 2015).

           Sriwijaya selain mengamankan jalur pelayaran dan perdagangan juga menjalin hubungan diplomatik dengan kekaisaran Cina. Dengan hubungan baik tersebut, Sriwijaya mengirimkan utusan dan upeti setiap tahunnya kepada Cina. Utusan dari Sriwijaya ke Cina diketahui berdasarkan catatan Dinasti Tang tentang kedatangan utusan dari Sriwijaya sejak tahun 670 M hingga 673 M dan 713 M sampai 741 M. Dampak dari hubungan diplomatik antara Sriwijaya dengan kekaisaran Cina adalah jaminan keamanan atau perlindungan dari Cina kepada wilayah Sriwijaya. Selain itu, hubungan dengan Cina dapat mencegah niat buruk terhadap Sriwijaya dari negara-negara lain di sekitarnya, khususnya Asia Tenggara (Pusponegoro, 2010).

           Kekuasaan Sriwijaya diperkuat oleh jaringan pelabuhan yang saling terhubung dan disertai pula oleh tentara serta perlengkapan yang kuat. Oleh karena itu, Sriwijaya berhasil menjadi negara yang mendapat keuntungan dari sisi maritim dan perdagangan. Hal tersebut senada dengan catatan Reid tahun 1995 yang dikutip oleh Santun (2013) tentang catatan pedagang Arab yang bernama Sulaiman. Catatan Sulaiman tahun 851 M dihubungkan dengan keberadaan Sriwijaya yang jaya. Adapun isi dari catatan tersebut adalah sebagai berikut.

 

Raja kota ini dikenal dengan gelar maharaja (raja besar). Konon luasnya (luas wilayah  tempat kota itu berdiri sebagai ibukota) mencapai 900 parasang (persegi). Maharaja juga memerintah sejumlah besar pulau yang tersebar hingga sejauh 1.000 parasang atau lebih. Di antara pulau-pulau tersebut terdapat pulau bernama Sribuza yang konon luasnya mencapai 400 parasang dan pulau bernama Rami yang konon luasnya mencapai 800 parasang. Di Pulau Rami terdapat perkebunan kayu brasil, kapur barus, dan minyak-minyak lainnya. Maharaja juga menguasai tanah maritim Kalah yang terletak pada pertengahan Cina dan Arab (Reid, 1995).

       Berdasarkan catatan pedagang Sulaiman maka kemungkinan besar sebutan Sribusa adalah istilah untuk Kerajaan Sriwijaya yang menjadi tujuan para pedagang muslim termasuk Sulaiman. Sementara itu Kalah ditafsirkan sebagai Kedah. Hal ini masuk akal, sebab Kedah dalam catatan I-Tsing tahun 685 telah masuk menjadi wilayah Sriwijaya.

         Perdagangan Sriwijaya berlangsung dengan pesat dan menambah penghasilan Sriwijaya. Komoditas ekspor dan bea cukai yang ditetapkan kepada kapal-kapal asing yang singgah di Sriwijaya merupakan penghasilan utama. Berdasarkan rincian dari Jacob Cornelis van Leur jenis-jenis komoditi ekspor Sriwijaya sebagai berikut (Irfan, 2015).

a.       Komoditas ekspor Sriwijaya ke Arab antara lain kayu gaharu, kapur barus (senada dengan catatan pedagang Sulaiman), cendana, gading, timah, eboni, kayu sapan, rempah-rempah, dan kemenyan.

b.      Komoditas ekspor Sriwijaya ke Cina antara lain gading, air mawar, kemenyan, buah-buahan, gula putih, cincin kristal, gelas, kapur barus, batu karang, pakaian kapas, cula badak, wangi-wangian, bumbu masak, dan obat-obatan.

           Jadi, kejayaan Sriwijaya dapat dilihat dalam berbagai bidang yaitu bidang ekonomi melalui perdagangan internasional, bidang ilmu pengetahuan melalui pusat pengajaran agama Buddha, lalu bidang politik melalui hubungan diplomatik dengan luar negeri dan penguasaan wilayah-wilayah strategis, kemudian  bidang teknologi dengan kemampuan membuat kapal yang hebat pada masanya.

3.      3. Hubungan Sriwijaya dengan Kerajaan Mataram Kuno dan Peristiwa Mahapralaya

 

      Dinasti Syailendra

           Istilah Syailendra (Sailendrawangsa) dijumpai dalam Prasasti Kalasan yang berangka tahun 778 M, Prasasti Kelurak (782 M), dan Prasasti Abhayagiriwihara (792 M), Prasasti Kayumwungan (824 M). Akan tetapi, dalam beberapa prasasti di luar Jawa yaitu Prasasti Ligor, Prasasti Nalanda, dan Leiden juga ditemukan hubungan dengan sailendrawangsa. Mengenai asal-usul keluarga Sriwijaya masih menjadi perdebatan di antara para ahli. Terdapat beberapa pendapat tentang asal-usul Dinasti Syailendra, di antaranya adalah Dinasti Syailendra berasal dari India, pendapat lain mengatakan Dinasti Syailendra berasal dari Jawa dan Sumatra. Yang jelas diketahui adalah bahwa Dinasti Syailendra merupakan salah satu keluarga penguasa Kerajaan Mataram Kuno yang berkaitan dengan pembangunan Candi Borobudur. Lalu bagaimana hubungannya dengan Kerajaan Sriwijaya? Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Dinasti Syailendra dan Sriwijaya kita perlu membahas kembali tentang peninggalan-peninggalan Sriwijaya maupun Mataram Kuno.

       Dalam Prasasti Sojomerto yang ditemukan di Batang pada tahun 1963 berisi cerita tentang Dapunta Selendra, ayahnya Santanu, dan ibunya Badrawati. Dapunta Selendra menganut agama Buddha (Pusponegoro, 2010). Boechari  berpendapat bahwa prasasti tersebut memiliki jenis huruf sama dengan Prasasti Kedukan Bukit. Sehingga meskipun Prasasti Sojomerto tidak menunjukkan angka tahun yang jelas, kemungkinan prasasti tersebut ditulis sezaman dengan Prasasti Kedukan Bukit (berangka tahun 682 M). Nama Dapunta Selendra dalam Prasasti Sojomerto merupakan asal dari nama Dinasti Syailendra dan merupakan bangsa asli dari nusantara, entah dari Sumatra atau Jawa terbukti dari penggunaan bahasa Melayu Kuno dalam prasasti tersebut (Irfan, 2015).

         Dalam Prasasti Ligor A dan B yang ditemukan di Semenanjung Melayu berisi pujian terhadap dua orang raja. Prasasti Ligor A (berangka 775 M) memuji seorang raja Sriwijaya (Crivijayendraraju) yang membangun caitya, sedangkan bagian belakangnya yaitu Prasasti Ligor B berisi sanjungan terhadap raja bergelar sarwarimada-wimathana (pembunuh perwira musuh) laksana Dewa Wisnu berasal dari  keluarga Syailendra , tetapi tidak menyebutkan secara jelas nama rajanya. Sementara itu, dalam Prasasti Kelurak berangka tahun 782 M yang ditemukan di Jawa Tengah menyebutkan tentang pembangunan arca dan nama seorang raja Sri Sanggrama Dhananjaya memiliki julukan wairiwarawimardana (pembunuh perwira musuh). Raja yang disebutkan dalam Prasasti Ligor B sebagai sarwarimada-wimathana merupakan orang yang sama dengan Sang wairiwarawimardana dalam Prasasti Kelurak. Kedua prasasti tersebut menunjukkan bahwa kedua kerajaan, yaitu Sriwijaya dan Mataram Kuno saling berhubungan.

         Berdasarkan pendapar Nia Kurnia, hubungan Sriwijaya, Syailendra, dan Mataram Kuno yang merupakan satu keluarga merujuk pada Prasasti Ligor. Prasasti Ligor sama-sama memuji raja dari Sriwijaya dan Mataram Kuno menunjukkan bahwa keduanya memiliki hubungan yang erat. Mustahil Prasasti Ligor B memuji raja asing yang tidak dikenal jika bukan merupakan kerabat atau keluarga. Kemudian mengapa bisa dua orang dari satu keluarga menjadi raja bersama? Nia bependapat bahwa mulanya Dapunta Selendra berasal dari wilayah Sriwijaya kemudian menurunkan raja-raja Mataram Kuno di Jawa Tengah setelah Sriwijaya melakukan ekspansi ke Jawa. Bukti ekspansi Sriwijaya ke Jawa adalah Prasasti Kota Kapur yang berangka  686 M tentang keberangkatan tentara Sriwijaya memerangi Bhumi Jawa. Daerah Jawa yang dimaksud dalam prasasti tersebut mungkin adalah Tarumanegara yang tidak mau tunduk pada Sriwijaya. Ekspansi tersebut mungkin saja sampai ke Jawa Tengah dengan bukti berupa penggunaan bahasa Melayu Kuno dalam berbagai  peninggalan Mataram yaitu prasasti Gandasuli, Dieng, Candi Sewu, dan Bukateja.

          Selanjutnya, Nia berpendapat bahwa setelah menguasai Jawa Tengah, kekuasaan di Jawa Tengah sengaja dibuat terpisah dengan kekuasaan Sriwijaya di Sumatra. Pendapat tersebut diperkuat dengan kronik Cina Hsin-Tang-shu dalam buku 222 B bagian 5a yang menyebutkan pembagian Shih-li-fo-shih (Sriwijaya) menjadi dua pemerintahan. Alasan pembagian kekuasaan Sriwijaya dan Mataram Kuno mungkin saja untuk menjaga agar tidak ada persaingan antarsaudara. Dalam Prasasti Telaga Batu (Pertengahan kedua abad 7) salah satu isinya adalah keberadaan dua putra Dapunta Hyang. Dengan demikian pendapat Nia tentang pembagian kekuasaan Sriwijaya di Sumatra dan Jawa mungkin saja terjadi, sehingga dapat menjelaskan hubungan Sriwijaya dengan Mataram Kuno.

           Dalam sumber lain, yaitu Prasasti Nalanda yang ditemukan di India dan dipahat sekitar tahun 860 M, menceritakan tentang  permintaan Raja Balaputradewa dari Suwarnadwipa (Sumatra) untuk membangun wihara di Nalanda. Balaputra disebutkan sebagai cucu Raja Yawabhum, sedangkan ayah Balaputradewa bernama Samaragrawira. Artinya, Raja Balaputradewa dari Sriwijaya masih keturunan dari keluarga raja Jawa. Dalam Prasasti Nalanda disebutkan bahwa kakek Balaputradewa adalah cailendrawangsatilaka (Mustika Keluarga Syailendra) yang dijuluki pembunuh perwira musuh. Ibu Balaputradewa disebutkan bernama Tara, putri Dharmasetu, kemudian menikah dengan Samaragrawira.  Sementara itu  Prasasti Karang Tengah yang bertarikh 824 M menyebutkan bahwa Raja Samaratungga mempunyai putri bernama hPramowardhani yang meresmikan pembangunan Candi Jinalaya (Candi Borobudur) yang bertingkat-tingkat (Adji, 2011). Nama Raja Samaratungga menurut beberapa sumber diidentikan dengan nama Samaragrawira dalam Prasasti Nalanda, sehingga Balaputradewa merupakan adik dari Pramowardhani. Nama Balaputra sendiri memiliki arti putra bungsu.

Pendapat Krom bahwa Balaputradewa merupakan saudara Pramowardhani didukung oleh de Casparis yang merujuk pada prasasti wantil (856 M) tentang perang saudara antara Pramowardhani dan Balaputradewa. Pendapat tersebut berbeda dengan Slamet Muljana yang merujuk pada Prasasti Kayumwungan bahwa Samaratungga hanya memiliki seorang putri yaitu Pramowardhani, dan Balaputradewa adalah adik Samaratungga atau paman Pramowardhani (Achmad, 2018).

           Terlepas dari asumsi bahwa Balaputradewa adalah adik atau paman Pramowardhani, keduanya memiliki hubungan sebagai keluarga kerajaan Mataram Kuno. Selanjutnya, Pramowardhani menikah dengan Rakai Pikatan, putra Rakai Patapan Pu Palar. Rakai Patapan merupakan pembantu Raja Samaratungga dalam pembuatan candi, sehingga memiliki posisi penting. Akan tetapi, Rakai Patapan memiliki niat menjadi raja, sehingga Raja Samaratungga khawatir akan terjadi peperangan. Akhirnya, Samaratungga menikahkan putrinya, Pramowardhani dengan Rakai Pikatan (Pusponegoro, 2010). Sepeninggal Raja Samaratungga, Rakai Pikatan naik tahta didampingi istrinya Pramowardhani. Melihat kenyataan tersebut, Balaputradewa merasa lebih berhak menjadi raja menggantikan ayahnya Samaratungga. Terjadilah perang saudara antara Rakai Pikatan dan Balaputradewa  memperebutkan tahta raja Mataram Kuno. Dalam pendapat de Csparis disebutkan bahwa ia mengacu pada Prasasti Wantil  atau Prasasti Siwagerha (856 M) yang menceritakan tentang peperangan antara Rakai Pikatan dan musuhnya yang bersembunyi dalam benteng batu, serta terdapat penyebutan walaputra yang ditafsirkan sebagai Balaputradewa. Benteng batu tersebut kemungkinan adalah situs Ratu Boko (Achmad, 2018). Dalam pertempuran tersebut, Balaputradewa kalah perang lalu pergi ke Sumatra, pusat Kerajaan Sriwijaya yang juga kampung halaman ibunya. Di Sriwijaya, Balaputradewa berhasil menjadi raja. Keberhasilan Balaputradewa menjadi raja di Sriwijaya menunjukkan bahwa Dinasti Syailendra di Jawa berasal dari Sumatra (Sriwijaya). Hal tersebut masuk akal, sebab tidak mungkin Kerajaan Sriwijaya dipimpin oleh raja Jawa yang kalah perang jika bukan termasuk keluarga Sriwijaya (Irfan, 2015). Setelah menjadi raja Sriwijaya, Balaputradewa menjalin hubungan dengan India sebagaimana dalam Prasasti Nalanda (860 M ) yang berisi permintaan raja Sriwijaya yang berasal dari keluarga Syailendra di Jawa untuk membangun wihara di Nalanda (El-Ibrahim, 2019) .


 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, K. B. (2018). Perempuan-Perempuan Tangguh Penguasa Tanah Jawa. Yogyakarta: Arashka.

Adji, K. B. (2011). Ensiklopedia Raja-Raja Jawa: dari Kalingga hingga Kesultanan Yogyakarta. Yogyakarta: Arashka.

Berkah, A. (2017). Dampak Kekuasaan Maritim Sriwijaya Terhadap Masuknya Pedagang Muslim di Palembang Abad VII-IX Masehi, 16. Medina-Te, 1: 51-60.

Budisantoso. (2006). Sriwijaya Kerajaan Maritim Terbesar Pertama di Nusantara. Jurnal Ketahanan Nasional, XI, 1: 49-56.

El-Ibrahim, d. M. (2019). Kerajaan Mataram Kuno. Semarang: Mutiara Aksara.

Irfan, N. K. (2015). Kerajaan Sriwijaya Pusat Pemerintahan dan Perkembangannya. Bandung: Kiblat Buku Utama.

Muljana, S. (2011). Sriwijaya. Yogyakarta: LKis Printing Cemerlang.

Pusponegoro, M. D. (2010). Sejarah Nasional Indonesia II Zaman Kuno (Edisi Pemutakhiran). Jakarta: Balai Pustaka.

Santun, D. I. (2013). Simbol Kejayaan Ibukota Sriwijaya dalam Tiga Prasasti Sriwijaya di Palembang, 13. Mozaik, 2: 136-148.

Taim, E. A. (2013). Studi Kewilayahan Dalam Penelitian Peradaban Sriwjiaya 22. KALPATARU, 2: 61-122.

Wendra, I. N. (2017, Agustus 18). Kontroversi Kerajaan Sriwijaya: Sebuah Tinjauan Menurut Buku Teks Sejarah. Retrieved from Sejarah UPI: http://sejarah.upi.edu/artikel/dosen/kontroversi-kerajaan-sriwijaya-sebuah-tinjauan-menurut-buku-teks-sejarah/

Yeni, S. P. (n.d.). Rangkuman Materi Perkuliahan Sejarah Indonesia Kuno. http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._SEJARAH/197706022003122-YENI_KURNIAWATI_SUMANTRI/Bahan_ajar_SIK.pdf

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Guru SMA

Anak Sulungku: Catatan 20-an