[Read More Books #2] Bising

 [Read More Books #2


 

 

Bising










A Book by Kurniawan Gunadi 

 

 

 

 

“Kapan nikah?”

“Kok belum lulus juga?”

“Kenapa masih ngontrak?”

“Kapan punya momongan?”

“Kerja apa sekarang?”

“Sudah, terima saja.”

“Kamu mah enak yah, semua gampang.”

 

 

Kebisingan itu, suara-suara itu...

Buku ini akan menemanimu menjawabnya.

 

Mas Gun berhasil merangkai kisah-kisah menarik yang sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Pembaca akan dibuat bergumam,”Eh iya nih, bener banget, kok bisa pas banget sih?” Permasalahan seputar kehidupan menjadi orang dewasa. Tentang dilema pengangguran. Tentang kisah menjadi orang tua. Tentang dilema masa muda. Tentang kekhawatiran akan masa depan. Tentang masa lalu yang menghantui. Tentang keluarga yang tak lagi menjadi penyemangat diri. Tentang krisis kepercayaan diri. Tentang anak-anak broken home. Tentang cinta tak direstui. Tentang orang tua egois. Tentang bagaimana menghadapi omongan orang. Tentang mertua dan menantu. Tentang bagaimana peliknya menjadi orang dewasa.

 

Banyak kan ceritanya?

Jadi, yuk baca saja.

 

Saya mengutip beberapa bagian dari buku  ini, silahkan dibaca.

 

Dewasa yang Melelahkan

“Dulu sewaktu duduk di bangku SMP, aku begitu tak sabar ingin segera menjadi orang dewasa. Kukira, setelah dewasa, kita menjadi lebih leluasa, lebih bebas dalam membuat keputusan. Sesuatu yang tak kumiliki saat menjadi anak-anak.” [Bising, halaman 5]

 

Hayo, siapa yang waktu kecil ingin jadi orang dewasa, begitu sudah dewasa ingin kembali menjadi anak kecil saja? Termasuk saya, hehe.Dulu dalam bayangan kita, tampaknya menyenangkan sekali menjadi orang dewasa. Ke mana pun bebas. Mau beli apa pun bebas. Nah, anak kecil, beli es krim saja kadang tak boleh, apalagi jalan-jalan ke manapun sesuka hati kita. Tapi setelah kita menginjang usia dewasa, kenapa rasanya ingin kembali menjadi anak kecil saja? Anak-anak dengan kepolosannya, tak memikirkan apa-apa selain main, makan, tidur. Tak dipusingkan dengan segala urusan rumit yang ada di kepala. Tak perlu khawatir besok bagaimana. Hari-hari diisi dengan bermain dan tawa.

 

Tapi, hidup memang terus berjalan. Kita yang semakin menua dihadapkan pada kehidupan menjadi orang dewasa. Jadi, ya jalani saja, sebaik mungkin.

 

Bising

“Tahun ini usiaku menginjak 30. Belum menikah. Masih bekerja sebagai pekerja honorer di kantor pemerintahan setempat. Rasanya, semua yang aku jalani saat ini adalah salah bagi mereka.” [Bising, halaman 13]

 

Pertanyaan ajaib semacam itu. Sudah pernah ditanya pertanyaan itu? Apa? “Kapan nyusul? Kapan nikah? Jadi perempuan nggak perlu ‘ngoyo’, sekolah tinggi-tinggi, kerja sampe pangkat paling atas.” Tokoh dalam kisah ini diceritakan sebagai perempuan pekerja di kantor  pemerintah, usia 30 tahun yang belum menikah. Dan yaaa... Riuh  orang berkomentar, serta keluarga yang tak mendukung. Kehidupan yang terasa kosong meski materi bukan menjadi masalah. Mungkin sebab terlalu frustrasi, sang tokoh sampai berharap dinikahi seseorang lalu dibawa pergi jauh dari rumah keluarganya sendiri.

 


Pahit

 

Kalau boleh minta doa dari semua makhluk hidup di dunia ini, aku hanya minta satu doa: doaka aku agar memiliki hati yang lapang.” [Bising, halaman 16-17]

 

Sang tokoh tumbuh dengan masa lalu yang pahit. Keluarga yang berantakan, dan diri yang tak yakin sanggup untuk bertahan. 



 

Diam dan Mendengarkanmu

“Aku tidak pernah tahu dari mana asal kekhawatiran dan keriuhan hati orang lain. Sumber masalah yang pasti akan diembunyikan rapat-rapat. Ditumpuk dengan wewangian dan pakaian yang bersih, serta senyum yang lebar.” [Bising, halaman 20]

Dia, teman yang diceritakan sosok yang kuat, pentolan di organisasi kampus, tiba-tiba bercerita tentang kehidupannya yang muram. Keluarga yang tak mengakui. Ibu yang mementingkan diri sendiri, serta diri yang harus banting tulang demi membiayai hidup sendiri. Sosok ‘dia’ diceritakan perempuan kuat, gadis cemerlang yang dikagumi banyak orang,  tak pernah disangka sekelam itu kehidupannya. Plot twistnya,

“Kak, lagi cari calon kan?” Si pencerita bertanya pada kakaknya.

“Emang siapa?” Sang kakak menjawab.

“Tuh” Tunjuk si pencerita pada ‘dia’, temannya yang tegar itu.

 

 

Melihatmu dari Kejauhan

“Kita tak  mampu melawan takdir, tak mampu melewati garis batas hidup yang memang mustahil.” [Bising, halaman 30]

Kali ini cerita tentang cinta yang tak direstui.



 

Kejarlah

“Setelah hampir dua tahun terakhir aku berusaha untuk bersiap-siap sebaik mungkin. Namun, sebaik mungkin itu seperti apa?” [Bising, halaman 44]

Apakah berusaha keras hingga lupa beristirahat? Atau menyerah saat tahu akan kalah?

 

 

Riuh

“Tidak akan terdengar oleh orang lain betapa riuh dan bisingnya suara-suara yang ada di dalam pikiranku ini. Tentang omongan orang yang berusaha kuabaikan, tapi malah terngiang-ngiang.” [Bising, halaman 50]

Memangnya kenapa kalau aku belum berhasil? Apa aku tak berhak menangis?


 

Aku Takut Kamu Tak Mengerti

Keadaan keluargaku tidak sempurna, termasuk keadaanku. Waktu kamu datang mengungkapkan perasaan kepadaku, sebenarnya itu adalah hal yang sangat kuinginkan sekaligus kutakutkan.” [Bising, halaman 60]

Kau mungkin menerima, tapi keluargamu? Tentu saja tidak. Sudah lah, percuma.

Tentang sang tokoh yang tak percaya diri dengan keadaan hidupnya, keluarga, dan dirinya. Takut melangkah sebab alasan takut tak diterima. Ia mengakhiri cerita dengan tangisan, biarlah ia sendiri saja, untuk saat ini.




 

Apa Kau Percaya?

Kamu selalu bertanya penuh keraguan tentang penerimaanku dan keluarga. Seolah tak percaya bahwa ada aku, orang yang memang bisa menerimamu, bagaimanapun liku jalan yang kamu miliki.” [Bising, halaman 66]

 

Tentang istri yang merasa rendah, tak pantas bersanding dengan suaminya. Rasa takut membangun keluarga sebab trauma. Sementara sang suami dan keluarganya masih berusaha meyakinkan bahwa mereka menerima. Apa adanya. Tak menyalahkan sang istri atas hal yang bahkan di luar kuasa. Sesulit itu menumbuhkan kepercayaan diri.






 

Bagaimana mungkin kamu merasa kalah padahal kamu tidak berjuang?

 









 

Kemewahan

Kelapangan hati untuk menerima nasihat. Kesadaran diri bahwa diri merasa kurang dan bersedia untuk belajar.”[Bising, halaman 104]

Tentang kesediaan untuk selalu belajar, menjadi sebuah kemewahan dalam diri seseorang.



Apa yang selama ini ingin kamu kalahkan dari dirimu sendiri?”



 

Apa Salahnya Jadi Orang Biasa?

“Apa salahnya jadi orang biasa? Tujuh miliar lebih penduduk bumi, tidak semuanya menjadi orang terkenal, kan? Tapi aku percaya, semuanya berperan. Peran-peran yang mengisi hidup ini, membuat kehidupan  berjalan seimbang.” [Bising, halaman 107]

 

Pahlawan butuh orang yang bertepuk tangan. Lho, kalau semua orang di dunia jadi pendiri start-up, lalu siapa yang nanti jadi pelanggannya?

 

Bekal dari Ayah

Ayah akan mengajarkanmu agar mudah menemukan alasan untuk berbahagia. Belajar untuk tahu kapan harus tutup telinga dan kapan harus mendengarkan apa yang orang lain katakan.” [Bising, halaman 118]

 

Omongan orang bukan berarti kamu harus menolak semuanya. Bodo amat juga ada tempatnya. Jangan menjadi tuli untuk hal-hal yang berharga, nasihat dan saran misalnya.

 

 





Khawatir

Rasanya hidup ini bukan untuk kita tebak-tebak bagaimana masa depan nanti, melainkan untuk dijalani sebaik mungkin.” [Bising, halaman 146]

 











 

Jadi, bagaimana?

Ada banyak pelajaran,

dan tak mungkin semua kutuliskan.

 

Terima kasih.

Selamat membaca.

 

 







Bumiayu, 18 Desember 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[History #1] Hubungan Sriwijaya dan Mataram Kuno

Menjadi Guru SMA

Anak Sulungku: Catatan 20-an