[Her Story #7] Me. My. Self
Her Story Not HisStory #7
Me.My.Self
"Pada akhirnya, ini adalah
pertarungan diri sendiri. Kamu lah yang harus berjuang. Kamu lah aktornya.
Bukan dia, bukan mereka. Kamu lah orangnya."
Suatu hari saya mengikuti seminar
online yang diadakan oleh UKKI UNNES beberapa waktu lalu. Pembicaranya Kak Alvi
Syahrin. Pasti sudah banyak yang tahu beliau kan? Atau mungkin sudah baca
bukunya? Serie yang mana yang sudah kamu baca? Yang kedua? Jika Kita Tak
Pernah Jadi Siapa-Siapa? Atau bahkan sudah pre-order buku beliau yang
ketiga, Jika Kita Tak Pernah Baik-Baik Saja. Dalam seminar hari itu, ada
satu slide yang menarik di antara slide lainnya.
“Nobody can fully complete us.
It’s our own battle. Kita yang mengusahakan. Kita yang berjuang.”
Saya menangkap kutipan ini dengan persepsi bahwa pada akhirnya kita lah aktornya, pelakunya. Tentang perjuangan dan proses, orang boleh jadi mendengar ribuan motivasi dari beragam motivator handal. Dari A sampe Z. Dari niat sampe kunci kesuksesan. Menyaksikan profil ribuan orang hebat. Membaca puluhan biografi tokoh sukses. Pencarian demi pencarian kunci kesuksesan. Berdoa siang dan malam. Apapun itu yang berhubungan dengan mengumpulkan ide, membangun semangat, mengenali inspirasi.Tapi dari semua hal itu akan berakhir dengan pilihan yang kita ambil. Sebab kita lah pelakunya. Sudah mendengar sekian banyak motivasi, lalu kita lah yang beraksi. Sekali lagi, ini adalah pertarungan kita sendiri. Mau berjuang lebih keras ya pilihanmu, mau menyerah ya pilihanmu sendiri. Bertanggung jawab atas setiap pilihan.
Semua yang kita cari sebelumnya, motivasi, inspirasi, dan sebagainya, akan percuma kalau tidak ada aksi nyata dari kita. Seseorang bisa jadi sudah dinasehati berulang kali. Tapi kalau bukan dia sendiri yang beraksi tidak akan bisa merubah apapun.
Wong meh ngomong wiwit A nganti
Z, pan nasehati nganti kesel, nek ora termotivasi yo ora kanggo.
Perubahan apapun yang kamu
inginkan, harus kamu sendiri yang mengupayakannya. Kamulah yang
mengusahakannya. Memangnya dengan diam saja mendengarkan motivasi, sesuatu akan
berubah dengan sendirinya? Jadi benar bahwa pada akhirnya kamu adalah
pelakunya, setiap perubahan yang kamu inginkan, perbaikan yang kamu inginkan,
perkembangan yang kamu angankan. Helo ini bukan susu sapi yang didiamkan
lama-lama bisa jadi yogurt.
Seringkali orang takut memulai karena bayang-bayang ketakutan akan hasil akhir yang mungkin mengecewakan. Kata Nelson Mandela, “Semua hal akan terasa mustahil hingga selesai dilakukan.” Kadang untuk beberapa hal kita memang harus berani melangkah lebih dulu. Apapun hasilnya.
Banyak di antara teman-teman yang
bercerita pada saya, gimana caranya bisa sukses (ketika saya sendiri belumlah
cukup sukses), gimana caranya bisa berhasil ini itu dan sejenisnya. Mereka
manggut-manggut seakan mengerti, memahami, lalu berkata... Iya juga sih, bener yah.
Lalu ucapan itu hanya akan bertahan beberapa waktu. Dibiarkan begitu saja,
tergeletak di sudut hati, entah kapan bereaksi. Ya sudah, selesai sampai di
situ. Tidak ada perubahan. Tidak ada perkembangan. Tidak ada yang dilalukan.
“Masalah-masalah yang datang,
sejatinya hanya kita hadapi sendiri. Semua orang yang ada di sekitar kita,
tidak benar-benar memahami apa yang kita rasakan. Meski, harus kita akui,
kehadiran mereka setidaknya membuat kita merasa tenang karena punya tempat
untuk bercerita. Setelah berpisah dengan mereka, kita pulang ke rumah dan menemukan
kembali masalah-masalah yang berisik, berteriak di setiap sisi dinding, dari
setiap sudut lantai.” [Bising, halaman 42]
Benar bahwa kehadiran orang-orang
di sekitar kita dapat menjadi penyemangat. Ada teman cerita. Ada teman curhat.
Ada teman memberi saran. Ada teman memberi sedikit bantuan. Tulisan ini bukan
berarti kita meniadakan peran orang-orang di sekitar kita. Hanya saja, perubahan,
perbaikan, atau penyelesaian apapun memang harus kita sendiri yang memulainya.
Bukankah Allah sudah
mengingatkan, “...Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum
sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”(Q.S Ar-Rad: 11)
Jadi, pada akhirnya, kitalah yang
harus berusaha.
Bumiayu, 16 Desember 2020
@maratuss_sholekha

Komentar
Posting Komentar