Dua Nol Dua Nol

 

Dua Nol Dua Nol


 

“Dua nol dua nol”, suara itu memanggil

Tahun ini ibarat kereta api,

kitalah penumpangnya

yang berancang-ancang hendak turun nanti

Suara pengingat itu terdengar kembali,

“Penumpang yang kami hormati,

Anda akan tiba di stasiun tujuan sesaat lagi”

 

Suara itu mengalun beberapa kali,

menepuk pelan kita yang lelap dari mimpi

Kita membuka mata, terjaga

“Kenapa cepat sekali rasanya?

Sudah hampir sampai saja”

 

Sementara sang kereta terus melaju perlahan,

kita sibuk menelisik bawaan,

kenangan, catatan, kepingan ingatan, dan harapan,

untuk kita bawa ke stasiun tujuan,

melanjutkan perjalanan

 

 

 

Kita terdiam menjejak kaki di pintu kereta

Menatap bayang-bayang benda di luar sana

Samar-samar tertangkap mata,

membentuk alur cerita

 

Kita melangkah di antara peron stasiun kala tiba

Seraya menatap kereta dua nol meninggalkan  kita

Di antara letih dan lega,

kita mengumpulkan sisa tenaga,

melambai pada sang kereta

 

“Dua nol dua nol, rangkaian yang unik,

menarik, juga berisik.

Pandemik dan rasa panik.

Menggelitik dan mencekik.

Mendidik.

Lekas membaik.”

Kita berbisik,

seraya mengingat kilas balik.

 

 

 

⸻Bumiayu, 4 Desember 2020











-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Puisi ini pernah diikutsertakan dalam Lomba Cipta Puisi yang diselenggarakan oleh @kata_kita.id (100 naskah terbaik "Kisah 2020" dalam proses penerbitan buku antologi puisi).




p.s: 

Yuk, sudah hampir tiba keretanya. 

Sudah siap-siap ganti kereta?



@maratuss_sholekha


Komentar

Postingan populer dari blog ini

[History #1] Hubungan Sriwijaya dan Mataram Kuno

Menjadi Guru SMA

Anak Sulungku: Catatan 20-an