[Her Story #3] Manually

 Her Story Not HisStory #3




Manually







 

Manual Indonesia

Kbbi /ma.nu.al/

(a.)  dilakukan dengan tangan

 

 

Apa yang terlintas di benak kamu ketika mendengar kata ‘manual’?

Proses tanpa mesin? Tradisional? Atau mungkin menghitung satu per satu barang dengan jari?

 

Menurut KBBI, manual merupakan istilah untuk mejelaskan suatu kegiatan atau cara yang dilakukan dengan tangan. Misalnya tadi, menghitung dengan jari alih-alih dengan kalkulator. Tapi menurut saya, istilah manual tidak hanya terbatas pada hal-hal yang dilakukan dengan tangan saja. Berjalan kaki misalnya.

Berbicara tentang manual, kita sekarang ini hidup di masa yang serba mesin. Digitalisasi, mekanisasi, serba teknologi, dan sebagainya. Mau makan tinggal klik go-food. Mau nonton tinggal buka youtube. Mau baca buku tinggal download ebook. Mau bicara dengan saudara di luar kota tinggal buka WhatsApp. Lantas apakah karena digitalisasi maka semua hal beralih menjadi serba  mesin? Serba online?

Nyatanya masih ada orang yang lebih suka berjalan kaki ke pasar dibanding pesan makanan di bang ojol. Nyatanya masih banyak orang yang menyapu lantai dengan sapu dibanding penyedot debu. Nyatanya masih ada orang-orang yang gemar saling mengunjungi dibanding bertukar pesan Wh*tsApp. Nyatanya ada banyak orang yang lebih nyaman membaca buku dibandingkan e-book. Ada orang yang lebih suka pertunjukan langsung daripada video youtube. Ada orang yang tidak mempunyai akun media sosial karena lebih senang berbicara langsung.  Ada pula yang merasa lebih nyaman menggunakan uang tunai dibanding uang elektronik. Gayung dan shower. Radio dan Sp*tify. Sepeda dan motor. Surat dan Whats*pp. Uang tunai dan G*pay. COD dan Sh*peepay. Jalan kaki atau naik angkutan? Jari dan kalkulator. Koran dan web. Ketemuan atau Video Call?  Ulekan atau blender? Delman dan mobil. Undangan kertas dan undangan video. Netflix dan bioskop.

 

Hal-hal manual itu, memangnya tidak boleh?

Katanya “Banyak jalan menuju Roma?”

Perbedaan cara, bukankah tidak apa-apa?

 

Di dunia modern ini, teknologi memang memang memudahkan, menghemat biaya, tenaga, dan waktu. Tapi apakah semua hal harus berbasis tekonologi canggih nan modern macam mesin? Bukan berarti teknologi modern tidak berarti, tapi....

Saya hanya merasa bahwa ada hal-hal yang memang lebih nyaman dilakukan secara manual. Hal-hal manual, kesannya memang tradisional. Tapi bukankah manusia tidak bisa lepas dari hal-hal manual? Makan dengan tangan, berjalan dengan kaki, berbicara dengan mulut, menyapa dengan bersalaman.

 

Apalagi di masa pandemi ini, apakah kamu menyadarinya? Hal-hal manual yang dahulu kita anggap  rutinitas biasa jadi terasa berharga. Siapa yang kangen sekolah atau kuliah tatap muka? Ayo mengaku saja...

 

Dunia boleh berubah, berkembang sedemikian rupa, semakin canggih saja. Tapi ada hal-hal yang terasa berbeda saat dilakukan secara manual.

Kamu mendapat surat dari sahabat di kota orang atau mendapat pesan hijau di handphone, bukankah akan terasa berbeda kesannya.

Kamu dapat undangan dari kertas akan terasa berbeda ketika mendapat undangan video. Benar tidak?

Ketika memasak di dapur, kata ibu cita rasa bumbu yang diulek lebih sedap daripada bumbu yang diblend.

Kamu yang terbiasa naik motor, ketika berkunjung ke Jogja mencoba naik delman atau becak terasa nuansa barupadahal becak dan delman sudah ada sejak dahulu.

Ketika mendengarkan pelajaran atau mungkin kajian lewat youtube, berbeda kesannya dengan pertemuan tatap muka.

Ketika seseorang memberimu buku (buku fisik), kamu akan merasa terkesan. Tapi apakah sama ketika kamu menerima ebook?

Ketika mencuci baju dengan tangan, saya merasa pakaian saya lebih bersih daripada saat menggunakan mesin cuci.

Ketika kamu mendapat  kunjungan dari temanmu, lalu berbincang berjam-jam lamanya, bukankah akan berbeda rasanya dengan video call lalu mengobrol beberapa jam?

 

 

Ya, bagi sebagian orang, sebagian hal akan terasa lebih bermakna saat dilakukan secara manual. Kamu boleh berbeda pendapat dengan saya, sebab saya menulis ini dari sudut pandang dan hal-hal di sekitar saya.

Saya tidak hendak berkata bahwa teknologi itu tidak berharga. Tapi sesekali, cobalah lakukan sesuatu dengan manual.

Alih-alih mengirim pesan WhatsApp untuk orang tua di rumah, cobalah sesekali pulang dari tanah rantau. Alih-alih telefon ria dengan teman, cobalah saling mengunjungi dan berbagi. Alih-alih menonton video NatGeo di Youtube, cobalah sesekali pergi ke taman atau berjalan-jalan melihat pemandangan. Ada bunga-bunga kecil yang mekar. Ada teman-teman yang mungkin bisa hilang stressnya dengan kamu ajak mengunjungi taman.

Alih-alih pesan  Gr*b-Food, cobalah sesekali berjalan ke pasar. Temui para pedagang  di sana, mereka yang mungkin belum laku dagangannya. Alih-alih mendownload ebook, sesekali berkunjung ke perpustakaan, menambah bacaan.  Atau alih-alih membeli ebook, sesekali pergi ke toko buku, pilih sendiri bukumu.

 

Alih-alih naik motor, cobalah sesekali naik angkutan umum, mendengarkan para penumpang bercerita tentang hari-hari mereka.

 

Untuk orang-orang di sekitar kita yang mungkin lebih nyaman dengan hal-hal manual, cobalah menghargai itu.

 

Pembaca,  Anda boleh membaca buku karya Desi Anwar berjudul Going Offline: Menemukan Jati Diri di Dunia Penuh Distraksi. Selamat menikmati sajian offline dengan buku terbitan Gramedia yang satu itu....

 

 

 

Terima kasih.

Kanigara

 

Bumiayu, 4 Desember 2020

 

 







Komentar

Postingan populer dari blog ini

[History #1] Hubungan Sriwijaya dan Mataram Kuno

Menjadi Guru SMA

Anak Sulungku: Catatan 20-an