[Read More Books #3] Adakah Orang Sepertiku?

 

[Read More Books #3] Adakah Orang Sepertiku?

 

 

Adakah Orang Sepertiku?

 

 



 

A book by Lucia Song

 .

.

.



“Hanya saja, aku lelah pada pekerjaan dan hubungan dengan orang lain, juga pada cinta.”

 

 

Aku memang tidak lebih bahagia daripada orang lain,

tetapi tidak seburuk itu.

Aku tidak merasa tertekan juga tidak merasa gembira.

Aku menyukai seseorang,

tetapi terkadang tidak menyukainya.

Begitulah, setengah  introver, setengah ekstrover.

 

Seseorang yang sepertiku.

 

 

 

 

 -----------------------------------------------

 

Jika boleh kubilang, buku ini adalah refleksi kehidupan sehari-hari manusia modern zaman ini. Disadari atau tidak, permasalahan mental merupakan salah satu isu yang tak bisa lepas dari kehidupan manusia modern. Perasaan depresi, lelahnya bersaing dalam ‘kompetisi’, manusia yang tidak manusiawi, ketakutan akan masa depan yang tak pasti, keluhan akan kondisi, dan sebagainya.

 

Lucia Song berhasil menampilkan bacaan yang ringan, relate, dan bermakna bagi orang-orang masa ini⸻termasuk saya. Bahasa yang sederhana membuat pembaca seakan-akan sedang membaca diary sang penulis. Kisah-kisah sehari-hari yang tak asing di telinga, atau bahkan sering kita alami. Buku yang menarik ini terbagi menjadi lima bagian yang masing-masing bagian berisi kumpulan tulisan yang menceritakan berbagai kisah. Saya menuliskan beberapa kutipan dari buku ini.

 

Bagian I

Aku Ingin Hidup

dengan Kuat dan

dengan Caraku Sendiri_____________________________

 

Daftar Panggilan Akhir-Akhir Ini

“Hei, kamu bilang bahwa kamu iri padaku. Justru aku yang iri padamu. Bahwa pada dasarnya manusia hidup dengan rasa saling iri satu sama lain.” (Halaman 6)

 

Aku, Setelah itu Kamu

“Pada buku yang ditulis Paulo Coelho berjudul The Laundry is not Very Clean, terdapat kutipan seperti ini,

“Apa yang kita lihat ketika mengamati orang lain

 tergantung pada kejelasan dari tempat kita

melihatnya.”

(Halaman 7)

Penilaian kita terhadap sesuatu atau seseorang dipengaruhi oleh kaca mata yang kita pakai. Sebuah stereotif, tentang bagaimana kita memandang segala sesuatu.

 


Ada Saatnya Menyerah Menjadi Sebuah Jawaban

“Suatu ketika, aku mendengar sebuah jawaban, “Ya... Apa boleh buat” dari sebuah pertanyaan yang sebenarnya sangat sulit kuajukan. Seketika, aku pun berpikir, apakah di dunia ini ada sesuatu yang benar-benar tidak bisa diperbuat?” (Halaman 9)

Dalam hidup, kadang ada hal-hal di luar kuasa kita yang berakhir dengan”ya sudah”, “yo wes”, “yo piye meneh?”

 

Begitulah Menjadi Dewasa

“Ketika aku mulai teguh terhadap luka-luka yang pernah kuterima, perlahan-lahan aku menjadi dewasa.” (Halaman 13)

Dulu ketika kita anak-anak, jatuh saat bermain lalu lutut terluka menjadi hal biasa. Sesaat kita akan menangis. Tapi, kita tak berhenti bermain esok harinya bukan?

 

 

Bagaimanapun Juga, Hari Ini Harus Tetap Hidup

“Jujurlah pada emosi, tetapi jangan lupakan rasionalitas. Meskipun sering mengalami depresi dan terkadang bahagia, hiduplah dengan memikirkan hal-hal kecil yang membuat bahagia. Bagaimanapun, tetaplah hidup. Sebab, hidup adalah berkah.” (Halaman 23)

Saat kamu lelah dengan hidup, sebenarnya ada hal-hal sederhana di sekitarmu yang menunjukkan bahwa kamu masih hidup. Hembusan angin yang menyusup jendela kamarmu, menyibak pelan tirai usang itu. Langit biru bersih, seakan  kanvas dimana  kamu bisa ‘menuliskan atau menggambarkan’ apa saja. Rintik gerimis yang menguarkan bau tanah. Embun pagi yang membasahi  dedaunan saat pagi menjelang. Gelap malam dan kerlip bintang. Debu-debu berterbangan terseok laju mobil di jalanan. Kilau mentari yang menerpamu di pagi hari saat kau berjalan menuju tempat kegiatan. Ya, kamu masih hidup. Bernafas dengan bebasnya. Melangkahkan kaki di tepi jalan raya. Menyaksikan riuh kota. Kamu masih hidup, dan itulah kenyataannya⸻yang harus kamu syukuri.

 

Aku Baik-Baik Saja, Terima Kasih

Apakah tidak ada satu orang pun yang menanyakan apakah aku baik-baik saja pada telepon yang sengaja kubuat tanpa alasan tertentu?” (Halaman 29)

Kadang kamu tidak tahu bukan karena tidak melihat, tapi karena tidak pernah bertanya.

 


Memberanikan Diri untuk Mengubah Hidup Selama 5 Detik Sehari

“Dalam hidup, entah mengapa ada waktu ketika aku berpikir jika tidak dilakukan hari ini, maka tidak bisa. Bahkan, sebagian banyak orang, hal tersebut menjadi titik balik besar yang dimulai sejak saat itu.” (Halaman 31)

Ada hal-hal yang memang harus dimulai, tanpa perlu memikirkan apapun hasil akhirnya. Mulai saja. Saat ini juga. Now or never.

 

Tempat Singgah Keberuntungan

“Memang sulit  untuk memulai. Namun, begitu sudah dimulai, akan ada banyak hal terkait yang dapat terselesaikan dan lebih  mudah daripada yang kita pikirkan.” (Halaman 34)

Kata Nelson Mandela, “Segala sesuatu tampak mustahil hingga selesai dikerjakan.”

 

Hariku

“Pada akhirnya, semua proses menunjukkan hasil, tetapi sebuah proses tidak bisa dievalusi hanya melalui hasilnya saja. Hari ini, aku pun menjalani hidup, berpikir, dan sedikit produktif, berusaha untuk tidak berdiam sampai lumutan. Setidaknya dalam standarku karena semuanya dilakukan untukku jadi tidak masalah  apabila di depan  orang lain tidak begitu terlihat bernilai.” (Halaman 38)

Setidaknya aku melakukan sesuatu, sesedikit apapun itu.

 

Lanjutkan atau Berhenti

“Tidak ada waktu yang berlalu tanpa arti sedikitpun.” (Halaman 41)

Even a dead clock shows correct time twice a day.

 

 

 

 









 

 ------------------------------

Bagian II

Keadaan Ketika Menyukai

Sekaligus Tidak Menyukai

Seseorang Secara Bersamaan

 

Perbedaan Antara Kesepian dan Kesendirian

“Tidak ada kata-kata yang ingin kutulis untuk menjawab  pesan yang sudah menumpuk. Namun, tidak ada juga orang yang sedih sampai tidak bisa menahan kesedihannya atas pesan yang tidak kubalas.” (Halaman 47)

Kadang terbesit dalam pikiran, memangnya ada yang mencariku meski aku pergi sejenak saja?

 

Mengenal Bahasa Masing-Masing

“Hanya karena saling berbicara menggunakan bahasa ibu yang sama, aku tidak berpikir bahwa kita memakai bahasa yang sama.” (Halaman 48)

Pada kenyataanya, ada hal-hal yang tak bisa disampaikan dengan kata-kata. Ada hal-hal yang harus dipahami meskipun tanpa kata.

 

Aku Sangat Menyukai Seseorang Sekaligus Tidak Menyukainya

“Sebenarnya, aku berkepribadian setengah introver dan setengah ekstrover. Oleh karena itu, sesekali aku senang bertemu dengan orang lain, tetapi setelahnya, aku lebih senang menghabiskan banyak waktu di rumah sendirian.” (Halaman 53)

Kadang ingin sendiri, kadang ingin bersama.

 

Suatu Hubungan

“Akhir-akhir ini aku tidak ingat kata-kata apa saja yang kutulis di dalam buku harian yang muncul di mimpiku setiap harinya. Ketidakhadiran objek tertentu tanpa disadari melumpuhkan alam bawah sadar.” (Halaman 57)

 

Percakapan yang Tampak Memunculkan Perbedaan

Jika dipikir-pikir, saat aku berkata tidak menginginkan hal apa  pun, maka sebenarnya saat itulah banyak hal yang aku inginkan. Kenyataannya, memahami bahwa tidak menjadi serakah dan tidak berekspektasi terhadap apa pun dapat menjadikan hidup lebih nyaman tidaklah  mudah.” (Halaman 61)

 

Perkataan

“Aku hidup dengan berbagi puluhan ribu kata pada ratusan orang, tetapi aku masih saja sulit untuk berbicara dan bercakap dengan orang lain.” (Halaman 79)











 -------------------------------

Bagian III

Ketika Perasaan Depresi Sering Datang Sekaligus

 

Hari yang Kubenci

“Namun, alasan lain yang lebih dalam adalah aku benci diriku yang terlihat lemah di daripada orang lain.” (Halaman 103)

Perasaan tidak ingin menangis di hadapan orang lain.

 

Ada Hal Mustahil Dilakukan Hanya dengan Waktu

“Kesehatan perasaan sama pentingnya dengan kesehatan tubuh.” (Halaman 118)

 

Hal yang Dilakukan Hari ini: Tidak Melakukan Apa-Apa

“Ada kebiasaan tidak menulis apa pun ketika tidak ada yang akan ditulis. Sebab, tulisan yang ditulis dengan terpaksa untuk sesuatu tidak memiliki kekuatan di dalamnya.” (Halaman 134)

Jadi, setahun ini aku ngapain aja?









----------------------------- 

Bagian IV

Ketika Cinta Membuat Lelah Seseorang

 

Menjadi Kebahagiaan untuk Seseorang

“Seperti dialog tokoh  utama yang terdengar dalam drama favoritku, aku akan hidup di dunia untuk orang lain juga selain diriku sendiri.” (Halaman 182)

 

 

 

 

 


 

--------------------------- 

Bagian V

Ingatan Tentang Seseorang yang Telah Berpisah

 

Aku Benar-Benar Tidak Tahu

“Tentu saja, tidak semua hal harus menyenangkan, tetapi anehnya aku kehilangan minat pada banyak hal. Menonton film  yang dulu kusukai, berbincang dengan teman, atau berjalan-jalan di tempat yang nyaman pun tidak lagi istimewa.” (Halaman 231)

 

“Ketenangan  hati dan diam seribu bahasa  mengalir dengan tenang lalu mengambang di lautan kehidupan, mungkin ada hari-hari ketika kita menghadapi badai, tetapi ada juga hari ketika kita dipenuhi dengan matahari terbenam yang cerah hingga mampu mengisi hati.” (Halaman 233)

 

Ada hari ketika seseorang lelah dengan dunia. Bukankah tidak apa-apa jika sesekali kita mengambil jeda? Untuk sekedar mengistirahatkan pikiran dari hiruk pikuk dunia. Bukankah kesehatan pikiran juga sama pentingnya dengan kesehatan raga?

 

 

 

 

 

 

 

 

 Song, Lucia. 2020. Adakah Orang Sepertiku?. Yogyakarta: Shira Media.

 

 

 

 

 

 Bumiayu, 30 Desember 2020



@maratuss_sholekha

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[History #1] Hubungan Sriwijaya dan Mataram Kuno

Menjadi Guru SMA

Anak Sulungku: Catatan 20-an