[Read More Books #8] Jalan Panjang untuk Pulang

 

[Read More Books #8]

 

Jalan Panjang untuk Pulang:

Sekumpulan Tulisan Persinggahan

 

 


 

A book by Agustinus Wibowo

 

 

Seperti karya-karya sebelumnya dari Koh/Mas Agus, saya kembali berkelana dalam tulisan beliau. Karya Koh Agus dengan segudang warna dari perjalanan di berbagai wilayah selalu menarik untuk diikuti. Tidak seperti Garis Batas yang  mengisahkan perjalanan di Asia Tengah, buku baru ini merupakan kumpulan tulisan perjalanan, baik perjalanan fisik maupun batin. Tak hanya tentang bagaimana warna-warna berbeda yang ditemui di setiap persinggahan, buku ini menampilkan sisi lain dalam diri sang penulis.

Pembaca akan diajak berkelana dari kota-kota bersejarah di Cina, dinginnya taiga Mongolia, pegunungan raksasa Pamir, negeri selimut debu Afghanistan, negeri kincir angin Belanda, negeri kanguru Australia, hingga perbatasan terpencil Indonesia dan Papua Nugini. Tak kalah menarik, perjalanan batin sang penulis juga turut menjadi bagian dari buku ini. Situasi pandemi dengan segala dampaknya serta bagaimana cara kita memandang sesuatu terselip dalam buku setebal 462 halaman dalam 4 bab ini.

Sebelum kita menyelami isi buku ini, selamat dan terima kasih Mas Agus atas comeback menulisnya. Terima kasih karena lagi-lagi saya ikut berkelana tanpa perlu beranjak ke mana-mana. Buku ini memberikan warna yang baru bagi tulisan-tulisan panjenengan. Waiting for your new book. Ajak kami berkelana kembali, hehe. Menika, matur suwun sanget bonus tanda tanganipun wonten buku iki. Stay healthy and see you. Xie-xie, Koh. Pangampunten mboten saged basa Cina, Koh.

 

Bab 1 Lokasi Lokasi Lokasi

Dunia di Mata Mereka  yang Tidak Bepergian

Bab pertama buku ini dibuka dengan sangat epik. Pembaca diajak untuk membayangkan Kota Beijing di masa sekarang dengan atmosfer Maois. Apa jadinya? Bagian ini berisi imajinasi tentang dunia di mata mereka yang tak bepergian. Orang Korea Utara misalnya, ketika mereka diajak untuk menggambarkan Kota Beijing yang tak pernah mereka lihat, mereka mengisi imaji dengan hal-hal di sekitar mereka. Misalnya tentara merah yang sedang bernyanyi meriah di karaoke, tapi dengan lagu-lagu nasional. Alangkah uniknya. Gambaran mereka tidak salah, tapi di mata kita mungkin atmosfer tersebut terkesan aneh. Tetapi, mereka memang tidak bepergian, sama halnya dengan kita yang tak pernah menginjakkan kaki di negeri seperti Korea Utara.

“Kalau kita amati lebih dalam, elemen-elemen dalam lukisan ini semuanya real. Bangunan-bangunan itu nyata, karaoke itu nyata, bahkan para  turis asing dengan kamera di leher dan barisan parade Tentara Merah itu juga real. Tetapi mengapa kombinasi dari semua nni menghasilkan nuansa yang aneh sekaligus mengerikan?” (Halaman 6)

“Tinggal di Indonesia dengan semangat antikomunisme Orde Baru, negara-negara sosialis sepenuhnya adalah dunia yang lain, warna-warna peta yang kami tidak pernah tahu apa-apa kecuali namanya dan nama ibu kotanya.” (Halaman 7)

Mengunjungi sebuah  tempat itu tidak menjamin kita sudah benar-benar memahami inti dari tempat-tempat itu. Esensi dari budaya, kekompleksan masyarakatnya, impian dan ketakutan yang ada di dalam kepala orang-orangnya.” (Halaman 8)

Kita mungkin bisa mengunjungi banyak daerah, tapi kunjungan itu tak benar-benar menjadi jaminan kita mengetahui seluruhnya tentang persinggahan kita. Sebagaimana Yogyakarta bukan hanya tentang gudeg dan angkringan saja, bukankah Indonesia bukan hanya tentang Bali? Bukan hanya tentang korupsi dan banjir? Bukankah Hong Kong bukan hanya tentang modernitas? Ada banyak sisi lain yang belum kita telusuri rupanya.

Terlahir Kembali dengan Roh Berbeda

            Bagian ini menceritakan tentang kota bersejarah Anhui dan pegunungan Huangshan  terlahir kembali dengan roh berbeda. Hefei atau Anhui adalah legenda yang tersisa dari  kota perdagangan, kental dengan nuansa seni tradisional, dan bagian dari kisah legendaris Tiga Kerajaan. Sementara Huangshan adalah pegunungan magis yang mengilhami karya-karya indah Cina. Sejarah terlahir dengan kemasan baru, pariwisata.

            Para leluhur itu masih dilibatkan, dikemas ulang, dipamerkan dan ditawarkan, dipadukan dengan pesona keindahan alam dengan berbagai infrastruktur modern, demi memikat hati semua pelancong yang datang.” (Halaman 13)

            Huangshan tidak perlu banyak kata. Keindahan wajah pegunungan raksasa ini sudah cukup menjadi puisi bagi dirinya sendiri. Di tengah selimut kabut yang menyingsing, batu-batu menjulang dalam berbagai bentuk yang begitu aneh. Magis. Romantis.” (Halaman 17)

            “Sejarah, baginya, bukan sekedar kisah di atas buku. Sejarah adalah napasnya. Dia tinggal dalam sejarah, hidup bersama sejarah.” (Halaman 24)

            “Turisme, lagi-lagi adalah penyelamat sejarah.” (Halaman 27)

 

           

Menapak Jejak Shaman Mongolia

            Ketika mendengar tentang Mongolia mungkin yang kita bayangkan adalah padang luas tempat ternak yang dingin dan sepi. Atau mungkin teringat tentang Genghis Khan sang penakluk? Tapi apakah kita tahu bahwa shamanisme adalah bagian dari kehidupan orang Mongol? Kepercayaan mereka terhadap roh bumi menjadikan mereka begitu berhati-hati dalam kesehariannya. Mereka takut roh bumi marah sehingga selalu menutup lubang-lubang bekas kemah mereka.

            “Jangan bayangkan taiga adalah tempat yang tidak tersentuh, dan kamu bakal jadi orang pertama yang “menemukan” suku penggembala rusa salju yang “eksotik” dan “hilang” ini. Bahkan para shaman pun sekarang sudah punya telepon genggam, gadis-gadis keturunan mereka berdandan molek mengikuti mode Korea, dan tontonan sehari-hari mereka adalah serial opera sabun dari Seoul.” (Halaman 54)

 

 

 

 

Orang Tajik dan Orang Pashtun

Kita akan diajak berkeliling di Afghanistan dan menyaksikan kehidupan sehari-hari mereka. Apakah Afghanistan selalu tentang perang dan konflik? Apakah Afghanistan selalu tentang ketakutan? Kita akan diajak untuk menemukan warna baru yang mungkin tak pernah terlintas di benak. Penulis menceritakan pengalamannya selama menjadi tamu di rumah penduduk Afghan. Para tuan rumah benar-benar menghormati tamunya dan menganggap mereka adalah berkah dari Tuhan.

“Tetapi jangan pernah ragukan ketulusan mereka untuk menerima tamu. Banyak orang Muslim di Afghanistan yang percaya bahwa tamu adalah berkah dari Tuhan, dan mengulurkan tangan pada tamu yang membutuhkan bantuan adalah ibadah yang mulia. Mehmannavazi, atau keramahtamahan kepada tamu, adalah nilai yang sangat dijunjung tinggi di Afghanistan. Semangat persahabatan dan jiwa kemanusiaan yang tulus, didasari agama dan tradisi mereka, adalah hal yang senantiasa mengharukan saya sepanjang perjalanan di tengah masyarakat Muslim Afghanistan.” (Halaman 79)

“Dia bilang sekarang mulai tertarik belajar sejarah Afghanistan, karena memahami sejarah itu penting bagi masa depan.” (Halaman 81)

Sebagai orang asing yang berkunjung ke Afghanistan, saya beruntung bisa menembus masuk ke tengah etnik-etnik yang beragam  di negeri ini, tanpa terjebak konflik-konflik di antara sesama mereka. Setiap kaum memang cenderung menggambarkan kaum yang lain sebagai yang buruk, yang jahat, yang jahanam. Tetapi sebenarnya, dalam setiap kaum ini, saya selalu bisa menemukan orang baik di mana-mana, juga sifat-sifat mulia dalam budaya mereka yang mengundang rasa hormat.” (Halaman 86)

 

Negara Orang Tua

Australia, negara yang benar-benar mementingkan detail. Orang bahkan menganggapnya too much information. Tapi itu adalah bagian dari kehidupan mereka. Dengan mayoritas penduduk adalah usia lanjut, keseharian semacam ini berguna bagi mereka.

“Jalan beraspal mulus antarkota di Australia kebanyakan melintasi padang liar dan hutan tanpa penduduk. Sedangkan di Indonesia, banyak daerah yang penuh penduduk, tetapi tidak memiliki jalan yang layak.” (Halaman 117)

 

Bab 2 Melintas Batas

 


Tersekat Gunung dan Batas

            Berbicara tentang Asia Tengah, sebagian dari kita mungkin bahkan tidak tahu Asia Tengah itu di mana? Apakah India? Apakah Arab? Apakah Palestina? Sering kali kita lupa bahwa Asia Tengah pada masanya adalah sebuah jalur penting antara timur dan barat, Jalur Sutera. Tak kalah penting, bangsa-bangsa Asia Tengah juga sering terlupakan padahal mereka adalah asal dari banyak ilmuwan-ilmuwan muslim yang tak kalah hebat. Sebut saja Ibnu Sina, sang bapak kedokteran bahkan Imam Bukhari sang perawi hadits.

            “Bangsa Persia di Asia Tengah ini juga menghasilkan begitu banyak ilmuwan yang berkontribusi penting bagi peradaban dunia. Sebut saja Ibnu Sina sang Bapak Kedokteran, Al Biruni sang Bapak Matematika dan Astronomi, Firdaus penulis epos Kisah Raja-Raja (Shahnama), dan Umar Khayyam pujangga Persia yang karyanya tak lekang zaman.” (Halaman 123)

            Berbicara tentang Asia Tengah, tak luput juga persoalan garis batas. Ada daerah perbatasan dengan penjagaan ketat, Afghanistan dan Tajikistan misalnya. Ada pula daerah perabatasan yang terkesan ‘damai’ bahkan penduduk antarnegara dapat dengan bebas ke negara tetangganya dengan beberapa langkah saja, seperti kota Histervarz, antara Tajikistan dan Kirgizstan.

            “Waspadalah dengan garis batas. Hubungan antar desa, disebelah garis batas, menjadi hubungan internasional. Perkelahian  biasa antar pemuda, disusupi garis batas, menjadi konflik bilateral. Perselisihan sepele, dibumbui garis batas, menjelma menjadi kebencian kolektif.” (Halaman 137)

            Pernahkah Anda mendengar istilah enklaf? Secara sederhana, enklaf diartikan sebagai wilayah kecil milik suatu negara, tetapi terpisah dari negaranya, berada di tengah-tengah wilayah negara lain. Seperti sebuah pulau milik negara X, dikelilingi oleh lautan negara Z, hanya saja enklaf adalah bentuknnya di daratan. Enklaf menjadi hal yang banyak ditemui di wilayah Asia Tengah, misalnya wilayah Tajikistan di dalam Kirgizstan.

            “Kepada Husein si pemilik warung, saya menunjukkan peta Vorukh dan Lembah Ferghana yang saya bawa. Menyaksikan bahwa Vorukh tampak seperti pulau kecil yang dikelilingi  Kirgizstan, dia tercengang. “Mengapa begitu? Kenapa kami bisa berada di Kirgizstan?”

            “Empat puluh dua tahun dia hidup, tak pernah sekali pun dia menyadari bahwa selama ini dia tinggal di dalam sebuah enklaf. Selama bermenit-menit, dia kehilangan kata.” (Halaman 143)

 

Garis Batas di Atas Kertas

            Kadangkala garis batas tak hanya berupa perbatasan antar negara, tetapi juga berupa garis batas di atas kertas. Penulis bercerita tentang bagaimana dia sebagai pemegang paspor Indonesia harus melewati berbagai pemeriksaan sebelum terbang ke Eropa, sementara itu ia menyaksikan orang-orang Malaysia dan Timor Leste. Betapa berbedanya kami, hanya karena selembar kertas yang kita sebut paspor.

            “Setengah jam saya berdiri  di depan konter seperti seorang pesakitan, iri memandang para penumpang lain yang karena kewarganegaaran dan kertas-kertas mereka tidak perlu mengalami apa yang saya alami. Ya, garis batas itu berwujud kertas, bernama paspor dan visa.” (Halaman 146)

            “Bukankah itu bagus? Kamu bisa berkeliling dunia dengan bebas,” puji saya.

            Dia justru menggeleng. “Tidak. Ini tidak ada artinya buat saya. Ini hanya sekedar kertas. Saya punya paspor Belanda, tetapi saya bukan orang Belanda. Saya orang Irak, ke mana pun saya pergi, saya akan diperlakukan hanya sebagai orang Irak. Tetapi kenapa saya tidak bisa menggunakan paspor Irak saya untuk keliling dunia?” (Halaman 149)

            Ah, satu lagi garis batas, ras.

 

Virus yang Mengikatkan Takdir Kita Semua

            Bagian ini memberikan kita gambaran tentang kondisi dunia setelah kemunculan Covid-19. Pandemi menjadi satu hal yang mengubah kehidupan hampir seluruh penduduk bumi. Garis batas yang satu ini memang tidak terlihat. Tapi si makhluk mini tak kasat mata ini rupanya benar-benar punya kekuatan untuk mengubah banyak hal. Orang tak bebas pergi ke mana saja. Perekonomian yang lesu. Sekolah yang beralih ke layar handphone anak-anak. Pemegang paspor Italia yang sebelum pandemi dapat mengunjungi 188 negara tanpa visa, bahkan tak bisa memasuki Vatikan.

            “Pandemi ini memang seketika membuat semua paspor jadi setara. Seorang pemegang paspor Inggris kini tidak ada bedanya dengan seorang pemegang paspor Afghanistan, sama-sama tidak bisa ke mana-mana.” (Halaman 187)

            Tapi di balik semua dampak negatif yang ditimbulkan pandemi, selalu ada hikmah yang dapat diambil. Apakah kita menyadari bahwa akhir-akhir ini langit semakin cerah?

            “Dengan terkurungnya orang-orang dalam rumah masing-masing, polusi udara di bumi kita ini jauh berkurang. Langit menjadi biru, puncak salju Himalaya bisa terlihat dari ratusan kilometer. Kanal kota Venesia yang biasanya keruh dan mati, kini menjadi biru jernih dan ikan-ikan pun kembali. Perang berhenti, kubu-kubu yang berkonflik meminta gencatan senjata, berita tentang aksi teror pun mendadak jarang terdengar. Mungkin Covid-19 adalah cara alam untuk meregenerasi dirinya kembali dari segala perusakan yang telah dilakukan manusia.” (Halaman 188)

            Pada akhirnya dalam perang melawan virus ini, siapa yang menang bukanlah siapa yang dapat menemukan dalang dengan teori konspirasi dan saling fitnah. Siapa yang menjadi pemenang adalah negara yang mampu memperluas pandangan nasionalismenya, membangun solidaritas dan kerja sama dengan negara lain. Mengeluh tak jadi solusi.

            Covid-19 mengajarkan kita bahwa kita adalah satu kesatuan, penduduk di atas bumi yang sama.

            “Tetapi sebagai produk globalisasi, dia tetap mengajarkan hal yang sangat penting tentang globalisasi: bahwa takdir semua umat manusia di bumi ini saling terkait satu sama lain. Kita semua adalah manusia yang sama, di bumi yang sama, bergandengan tangan untuk menghadapi masa depan global yang sama.” (Halaman 190)

 

 

 

Bab 3 Rumah di Sini dan di Sana

           

“Justru ketika berada di Cina, saya pertama kali menyadari betapa Indonesianya saya. Saya berpikir dan berhitung mental dalam bahasa Indonesia. Saya bermimpi dalam bahasa Indonesia. Lidah saya senantiasa merindukan pedas yang khas dari makanan Indonesia. Saya selalu menggunakan air dan gayung di toilet, tidak bisa menggantinya dengan kertas tisu. Saya dibesarkan dengan langit biru dan bayang-bayang gunung berapi Semeru, bukan langit kelabu yang disapu badai pasir gurun Gobi. Saya lebih akrab dengan sejarah Sriwijaya dan Majapahit dibanding sejarah Dinasti Tang dan Ming.” (Halaman 221)

 

“Di antara para tentara Indonesia itu banyak juga orang Maluku, bahkan teman-temannya satu sekolah dulu. Di tengah gerilya hutan, pada malam buta yang sunyi, Bung Ony  memeluk senapannya, berdoa dengan bersimbah air mata. “Tuhan, saya pegang senjata ini bukan untuk bunuh orang, tapi untuk bela tanah air yang Tuhan berikan. Tuhan, jikalau mereka tidak bersalah, biarkanlah pelorku menyimpang dari arahnya.” (Halaman 246)

 

“Seorang pemuda tampil ke panggung, dengan lantang mengungkapkan kisah hidupnya pada semua hadirin. “Opa dan oma saya lahir di Indonesia, orangtua saya lahir di Suriname, sedangkan saya lahir di Belanda,” kata pemuda berpostur tinggi berparas Jawa, mengenakan jas dengan dasi berpola batik Jawa di atas kemeja putihnya. “Lalu, siapakah saya?” (Halaman 251)

 

“Bahkan di tanah Jawa kelahiran semua tradisi ini, pengetahuan dari leluhur ini semakin pudar dan dilupakan. Pernah dia pergi ke Yogyakarta, melihat banyak buku-buku kuno dibuang di jalan. Itu buku-buku dengan aksara Jawa hanacaraka. Kenapa buku-buku tulisan orang Jawa, berisi omongan orang Jawa, berserakan seperti sampah di jalan? “Orang Jawa kok begitu,” pikir Mak Djainem, “Sekarang kotanya sudah bersih, Jawanya juga sudah bersih [hilang].” (Halaman 272)

 

Jauhlah sudah berlayar.

Mungkin nanti jauh merayu.

Hilang tertinggal kampungku sayang.

Air mataku berlinang.

(Halaman 281)

 

 

 

“Di mana tanah airmu?” saya bertanya.

“Tanah air itu bukanlah tempat. Dia ada di sini,” katanya, sambil menaruh tangan di dada. “Pamir mungkin bukan tempat yang baik sama sekali, tetapi di sinilah aku lahir dan dibesarkan. Airnya, udaranya, semua tentangnya adalah manis bagiku. Aku tahu setiap lekuk dari gunung-gunung ini, setiap kelokan sungainya, setiap lembar rumputnya. Semuanya hangat di hatiku.” (Halaman 294)

 

 

Bab 4

“Dalam memandang masalah separatisme, orang biasanya terlalu menggunakan sudut pandang yang sangat dualis. Pemberontak atau patriot, militan atau mujahir, lakon atau bajingan, hitam atau putih, semua itu sepenuhnya tergantung dari sudut pandang kamu memandang. Padahal konflik itu tidak pernah sederhana. Konflik bukan hanya soal perbedaan identitas, pertentangan agama, klaim sejarah, atau isu mayoritas versus minoritas. Di sini juga ada masalah pertarungan politik, perasaan tertindas, represi identitas, ketidakadilan ekonomi, dan impian menjadi manusia yang setara. Semua itu perlahan-lahan membentuk sikap kolektif masyarakat setempat secara luas, sekaligus bisa mengubah identitas mereka dan cara mereka memandang masa depan.” (Halaman 364)

 

“Sementara di bawah ruangan, anak perempuan sang nenek duduk di bawah mayat duduk ibunya, tetap tersenyum pada saya, berkata, “Nenek sungguh beruntung. Semasa hidup, dia tidak pernah keluar kampung. Ke Makassar pun tidak pernah. Sekarang, dengan kamu di sini, foto-foto Nenek akan keliling dunia.”

Mendengar itu, malah saya yang menangis.

 

 

“Kalau sensasi-sensasi itu tidak permanen, buat apa kita terus-menerus mempertahankan kemelekatan terhadap semua sensasi itu? Buat apa kita terus mengejar hal-hal yang sebenarnya tidak membawa kebahagiaan abadi itu? Buat apa pula kita terus mempertahankan kebencian, kemarahan, dan ketakutan, yang semuanya juga datang dan pergi itu?” (Halaman 407)

 

“Laut,” lanjutnya, “dari pantainya kamu mungkin hanya akan melihat amukan badai dan ganasnya gelombang, mungkin malah tsunami. Tetapi kalau kamu lihat laut dari angkasa, laut adalah ketenangan yang tak terbatas.”

“Semua gelombang dan badai itu, katanya, memang harus ada, demi keseimbangan yang jauh lebih luas. Semua kerusuhan dan pertumpahan darah itu adalah tahap yang memang harus dilalui. Semua itu adalah revolusi-revolusi kita, yang tanpanya, hidup kita mungkin tidak akan pernah berubah.” (Halaman 459)

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[History #1] Hubungan Sriwijaya dan Mataram Kuno

Menjadi Guru SMA

Anak Sulungku: Catatan 20-an