5 Buku dan 6 Kata
5 BUKU DAN
6 KATA
Prolog
Cukup 6 Kata
Beberapa
waktu lalu, saya mendengar cerita seorang penulis yang juga seorang penggemar
Ernest Hemingway. Penulis tersebut memberi judul ceritanya dengan “Heomingway”,
menyisipkan satu marga namanya. Cerita ini mungkin singkat, tapi membuat saya
menyadari betapa ajaibnya kekuatan kata-kata.
Heo
memulai cerita dengan bertanya pada audiens, “Siapakah Hemingway? Apakah kalian
mengenalnya?”
Seorang
pria di bangku tepi ruangan mengacungkan
jari lalu menjawab, “Hemingway adalah penulis legendaris buku The Old Man and
The Sea.”
Heo
tersenyum dan menangggapi, “Sepertinya kau tahu sesuatu?”
Sang pria
tersebut menimpali, “Sesuatu seperti 6 kata?”
Heo
mengangguk mengiyakan lalu mulai bercerita.
“Ernest
Hemingway adalah seorang novelis kenamaan, salah satu karyanya yang disebutkan
tadi. Suatu hari, Hemingway sedang berada di sebuah tempat, sebut saja semacam
cafe. Sebagai seorang penulis, seseorang menantang Hemingway untuk menulis.
Orang tersebut menantang Hemingway untuk membuatnya menangis hanya dengan
menulis enam kata. Singkat cerita, Hemingway meyanggupi dan menulis tepat enam
kata pada selembar serbet. Kau tahu apa ia yang ditulis?”
“FOR SALE:
BABY SHOES NEVER WORN”
Got
it? Understand? Cukup enam kata, tapi Hemingway membuat kita berimajinasi
tentang bagaimana kesedihan sepasang suami istri yang ditinggal pergi sang
calon buah hati. Dari enam kata, cukup enam kata.
Jadi, jika
Anda berkenan, di kolom komentar Anda boleh menulis enam kata yang ingin Anda katakan pada
seseorang tanpa menyebut namanya, atau tulis enam kata yang ingin Anda dengar
dari seseorang, atau tulis enam kata paling indah yang pernah Anda dengar. Anonim
pun boleh saja.
Jika boleh
menambahkan, maka enam kata versi saya adalah:
Terima
kasih telah tumbuh dengan baik.
(But it’s
just a hope, only in my imagination. One day, apakah saya bisa mendengar kalimat ini?)
Upss, maaf apakah saya membuka terlalu banyak
hal?
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
What’s this person reading right now?
Apakah
kamu menyadari bahwa keseharian kita sebenarnya tidak lepas dari kegiatan
membaca? Bangun tidur, apa yang kamu lakukan pertama kali? Membaca doa? Membaca
jam, pukul berapa sekarang? Membaca pesan yang terkumpul semalaman? Membaca
notifikasi berita terbaru di browser? Semua hal itu dapat kita sebut “membaca”
bukan? Setujukah kamu jika saya mengatakan bahwa kita semua sebenarnya adalah
seorang “pembaca”?
Beranjak
siang, hendak merebus mie, apa yang kamu lihat? Tulisan di kemasan tersebut
bukan? Apakah rasa ayam? Apakah rasa soto? Selepas sebungkus mie sedang
dimasak, secangkir kopi menyusul daftar selanjutnya. Berapa jumlah air kita
tahu dari mana? Dari membaca bukan?
Beranjak
sore saat kamu berkendara di jalan raya. Apa yang kau baca? Lampu lalu lintas
misalnya, apakah merah, kuning, atau hijau yang menyala.
Beberapa
hal tersebut cukup mewakili apa saja yang kita “baca” dalam kegiatan
sehari-hari. Jadi, membaca itu sebenarnya apa? Kalau kita ambil perumpamaan
dari kegiatan “melihat warna lampu lalu
lintas”, membaca tidak cukup dengan melihat saja. Normalnya, pengendara sepeda
motor melihat lampu merah menyala lalu berhenti sejenak. Normalnya, seorang
penyeberang jalan baru akan melintasi zebra cross saat lampu merah menyala. Apa
yang dapat kita simpulkan? Membaca bukan sekadar kegiatan melihat belaka, tapi
ada hal yang kita tangkap, ada makna yang kita peroleh.
Memang
benar bahwa membaca bukan hanya sekadar membaca kata-kata dalam buku-buku
belaka. Tapi kali ini izinkan saya untuk sedikit mengulas buku-buku yang sudah
dibaca, biar tidak lekas hilang dari ingatan, biar ada pemaknaan. Tulisan ini
dibuat salah satunya untuk mengulas kembali dan memaknai apa saja yang sudah
dibaca di tahun 2021 ini. Salah satu
resolusi 2021 yang sepertinya dapat dikatakan terlaksana (walau belum
sepenuhnya), ya membaca sekian buku. Bacaan di 2021 secara keseluruhan, di
samping sebuah kewajiban (buku-buku kuliah sejarah , pendidikan, jurnal, dll)
juga adalah kebutuhan. Seseorang ingin belajar memasak, maka ia membaca buku resep.
5 BUKU
Berikut
ini adalah beberapa buku yang berkesan bagi saya sepanjang 2021. It doesn’t
mean, buku lain tidak bagus. Hanya saja, buku-buku di bawah ini memberikan kesan mendalam bagi
saya. Kalau bisa lebih kenapa harus lima? Hehe ya ingin kutulis semua, tapi
nanti nggak selesai-selesai jadinya. Dalam setiap bacaan, ada hal-hal yang
menarik yang ingin saya simpan (mungkin kamu pernah melihat story saya dengan
sebuah foto halaman buku). Tidak dipungkiri pula bahwa ada hal-hal yang
bertentangan dengan pikiran saya. Tapi ya seperti itulah membaca.
1.
Jalan Panjang untuk Pulang-Agustinus Wibowo
Buku yang terbit awal 2021 ini mengawali
bacaan saya di tahun ini. Buku keempat karya sang penulis kesayangan favorit.
Agustinus Wibowo yang baru-baru ini dinobatkan sebagai Writer of the Year 2021
dalam IKAPI Awards 2021, lagi-lagi mengajak sang pembaca untuk berkelana. Buku
ini berupa kumpulan tulisan perjalanan, baik perjalanan fisik maupun batin. Tak
hanya tentang bagaimana warna-warna berbeda yang ditemui di setiap
persinggahan, buku ini menampilkan sisi lain dalam diri sang penulis.
Pembaca
akan diajak berkelana dari kota-kota bersejarah di Cina, dinginnya taiga
Mongolia, pegunungan raksasa Pamir, negeri selimut debu Afghanistan, negeri
kincir angin Belanda, negeri kanguru Australia, hingga perbatasan terpencil
Indonesia dan Papua Nugini. Tak kalah menarik, perjalanan batin sang penulis
juga turut menjadi bagian dari buku ini. Situasi pandemi dengan segala
dampaknya serta bagaimana cara kita memandang sesuatu terselip dalam buku
setebal 462 halaman dalam 4 bab ini.
Saya
memaknai bahwa perjalanan paling jauh bukan perjalanan menuju benua lain, tapi
perjalanan paling jauh adalah perjalanan menyelami diri sendiri. Barangkali di
kedalaman palung hati ada kegelapan yang perlu diterangi. Barangkali di
sudut-sudut pikiran terselip mimpi-mimpi yang
terpinggirkan dan tak sempat kita pungut. Barangkali di bawah daun-daun
rasa dalam hutan kenangan ada
kabut-kabut rindu yang belum sirna. Barangkali di bawah mata air batin
tersimpan keinginan untuk menjadi lebih baik yang selalu kita abaikan.
Barangkali di tepian hamparan perasaan ada luka-luka lama yang belum selesai
dan harus segera kita sembuhkan.
Beberapa
kutipan yang berkesan:
“Dengan
terkurungnya orang-orang dalam rumah masing-masing, polusi udara di bumi kita
ini jauh berkurang. Langit menjadi biru, puncak salju Himalaya bisa terlihat
dari ratusan kilometer. Kanal kota Venesia yang biasanya keruh dan mati, kini
menjadi biru jernih dan ikan-ikan pun kembali. Perang berhenti, kubu-kubu yang
berkonflik meminta gencatan senjata, berita tentang aksi teror pun mendadak
jarang terdengar. Mungkin Covid-19 adalah cara alam untuk meregenerasi dirinya
kembali dari segala perusakan yang telah dilakukan manusia.” (Halaman 188)
“Dalam
memandang masalah separatisme, orang biasanya terlalu menggunakan sudut pandang
yang sangat dualis. Pemberontak atau patriot, militan atau mujahir, lakon atau
bajingan, hitam atau putih, semua itu sepenuhnya tergantung dari sudut pandang
kamu memandang. Padahal konflik itu tidak pernah sederhana. Konflik bukan hanya
soal perbedaan identitas, pertentangan agama, klaim sejarah, atau isu mayoritas
versus minoritas. Di sini juga ada masalah pertarungan politik, perasaan
tertindas, represi identitas, ketidakadilan ekonomi, dan impian menjadi manusia
yang setara. Semua itu perlahan-lahan membentuk sikap kolektif masyarakat
setempat secara luas, sekaligus bisa mengubah identitas mereka dan cara mereka
memandang masa depan.” (Halaman 364)
“Kalau
sensasi-sensasi itu tidak permanen, buat apa kita terus-menerus mempertahankan
kemelekatan terhadap semua sensasi itu? Buat apa kita terus mengejar hal-hal
yang sebenarnya tidak membawa kebahagiaan abadi itu? Buat apa pula kita terus
mempertahankan kebencian, kemarahan, dan ketakutan, yang semuanya juga datang
dan pergi itu?” (Halaman 407)
2.
Selesai Dengan Diri Sendiri
Buku karya Ahmad Rifai Rif’an yang juga terbit tahun 2021 ini
sudah mencuri hati saya sejak pertama kali melihat covernya. Mengapa tertarik
dengan buku ini? Seperti biasa, saya mengira buku ini akan relate dengan apa
yang sedang saya cari. Isinya tentang apa? Saya rasa covernya sudah sangat
mewakili. Bagaimana setelah membaca? Ya, memang benar, buku ini sesuai dengan
apa yang sedang saya butuhkan.
Isinya menyadarkan pembaca tentang mengingat kembali siapa diri
kita, apa tugas kita di dunia, dan bagaimana menjalani fase-fase hidup menuju
dewasa. Siapakah kita sebenarnya? Identitas akan membawa kita pada kesadaran,
siapa dan apa yang harus kita lakukan? Siapa saya? MANUSIA, iya. HAMBA, iya.
PEREMPUAN, iya. SEORANG ANAK, iya. PELAJAR, iya. Tugas kita berbanding lurus
dengan siapakah identitas kita.
Beberapa kutipan berkesan:
“Ada yang sibuk dengan ambisi-ambisi pribadinya, ada yang selesai
dengan pencapaian dirinya, sehingga fokusnya hanya memberi manfaat bagi
sekitarnya. Doaku, semoga orang itu adalah kita.”
Kau mau tahu dua kutipan yang paling menampar dari buku ini?
“Dunia ini hanya tempat
meninggal, bukan tempat tinggal.”
“Jangan menikah sebelum kamu selesai dengan diri sendiri.”
3.
Sang Alkemis – Paulo Coelho
Novel kenamaan yang telah dicetak jutaan eksemplar dalam beragam
bahasa ini, baru tahun ini saya baca. The Alchemist dan Paulo Coelho adalah dua
ternama yang sering saya dengar sejak lama. Seorang teman di komunitas baca
membuat review tentang buku ini dan membuat saya semakin penasaran. Tidak
apa-apa kan kalau sesekali saya baca novel, di samping tulisan-tulisan sejarah
hehe.
Kisah perjalanan Santiago di mata saya setelah selesai membacanya:
manusiawi dan kaya makna. Di setiap perjalanan, di setiap tempat, pada setiap
benda, kita dapat belajar sesuatu. Jika boleh merangkumnya dalam satu kalimat,
maka satu kalimat yang ingin saya
sematkan untuk kisah ini adalah: “Kegelapan itu ada karena kamu tidak mau
membuka mata.” Ada banyak hal besar di antara hal-hal kecil yang sering kita
lewatkan.
Perjalanan Santiago menuju Piramida saya kira akan berakhir dengan
penemuan harta karun. Tapi, alurnya tidak semudah itu untuk ditebak wahai
pembaca. Saya terkesan dengan Santiago sang penggembala yang tetap setia
membaca, buku dan tanda-tanda. Kalau kau ingin tahu tentang cerita ini, biar
sedikut kubisikkan. Santiago adalah seorang penggembala domba dari Spanyol dan
bermimpi mengunjungi piramida di Mesir. Sepanjang perjalanan, ada banyak kisah
menarik, menggugah, dan menggelitik. Perjalanan panjang tersebut berakhir
dengan ending yang tidak diduga-duga wahai pembaca. Kalau kamu penasaran, silahkan
baca sendiri ya hehe. Tapi tenang saja, saya hanya membaca novel dengan happy
ending, jadi jelas bahwa buku ini happy ending pemirsa.
Beberapa kutipan berkesan:
“Orang memang suka bicara yang tidak-tidak, pikir si anak. Kadang-kadang lebih enak bersama domba-domba
yang tidak pernah mengatakan apa-apa.
Dan lebih enak lagi sendirian saja bersama buku-buku. Buku-buku memaparkan
cerita-cerita yang luar biasa saat kita ingin mendengarnya. Sementara itu,
orang-orang sering membicarakan hal-hal yang sangat aneh, sampai-sampai kita
tidak tahu bagaimana mesti meneruskan percakapan.” (Halaman 35-36)
“Tapi aku seperti orang-orang pada umumnya- hanya melihat apa yang ingin kulihat, bukan
apa yang sebenarnya terjadi.” (Halaman 62)
“Kau juga harus lebih banyak membaca tentang dunia,” sahut si
orang Inggris. “Buku-buku bisa diibaratkan karavan juga, dari sudut itu.”
(Halaman 108)
“Setiap orang di dunia ini, apa pun pekerjaannya, memainkan peran
penting dalam sejarah dunia. Dan
biasanya orang itu sendiri tidak menyadarinya.” (Halaman 211)
4. 4. Walden –
Henry David Thoreau
Sedikit
cerita di balik buku ini, pertama kali melihatnya di sebuah series hits. Sang
tokoh hidup memilih hidup menyendiri seperti Henry di tepian Danau Walden. Ketertarikan
pada sebuah buku yang ingin dibaca kadangkala muncul random saja. Entah dari
judul, entah dari sampul. Tapi kali ini saya tertarik membacanya karena saya
berekspektasi bagaimana menjalani kehidupan yang tenang meskipun sendirian.
Ekspektasi saya terhadap buku ini adalah keindahan alam yang akan penulis
ceritakan dan bagaimana ia berinteraksi dengan lingkungan. Kalau kau ingin tahu
bagaimana rasanya setelah membaca buku ini? Apakah semua ekspektasiku akan
bacaan terbayar lunas?
Ya, tentu
saja. Buku ini cukup berkesan bagi saya. Bayangkan, sebuah tulisan dari
kira-kira 200 tahun yang lalu mampu membawa saya berimajinasi tentang alam pada
masa itu. Henry menulis buku ini sebagai memoar untuk menuliskan kisah hidupnya
selama dua tahun tinggal sendiri di tepi Danau Walden, Massachusetts, USA. Dia
mengisahkan tentang bagaimana ia bertahan hidup dan hari-harinya di tepi danau
jernih itu. Buku ini terdiri dari 17 bagian yang masing-masing membahas tentang
satu topik utama. Tapi, favorit saya tetap bagian kedua: Di Mana Saya Hidup dan
Demi Apa Saya Hidup serta bagian lima berjudul Kesunyian.
Membaca
Walden, saya berimajinasi berada di tengah hutan hijau, di tepi danau jernih,
langit biru, semilir angin, dan suara burung-burung bernyanyi. Sepertinya damai
sekali. Tapi, buku ini tidak sekadar menceritakan keindahan Walden saja. Buku
ini sekaligus kritik atas kondisi sosial politik pada masa buku ini ditulis.
Hal yang
wajar saat saya membaca buku-buku terjemahan, seringkali saya menemukan kalimat
yang mesti saya ulang dua kali baca agar dapat memahami apa yang saya baca.
Pada satu kalimat di bagian akhir sebuah paragraf, Henry menuliskan bahwa
buku-buku harus dibaca sehati-hati saat buku itu ditulis. Oleh karena itu,
membaca buku ini memerlukan waktu yang lebih lama dari buku-buku sebelumnya. Saya
membacanya di gerbong kereta beberapa waktu lalu, dan baru menyelesaikannya
malam ini.
Buku ini
mengajarkan kita untuk hidup sederhana, merasa cukup, menghargai alam, dan
betapa berharganya ketenangan. Maka jika saya meringkas dalam satu kalimat
untuk buku ini, saya akan menulisnya seperti ini: “Sesuatu yang selalu mahal
harganya: kesederhanaan dan ketenangan batin.”
Kutipan
favorit? Banyak sekaliii, saya sampai menghabiskan 15 baris pembatas buku dari tiga merek berbeda, tapi saya harus tetap memilih bukan?
“To know
that we know what we know, and that we do not know what we do not know, that is
true knowledge.” (Page 16)
Henry
mengutip syair karya Syekh Sa’adi dari Syiraz:”.........Janganlah tetapkan hati
kalian pada yang fana; karena Dijlah atau Tigris akan terus mengalir melalui
Bagdad setelah bangsa khalifah punah: jika banyak hal tergenggam di tangan
kalian, bermurah hatilah layaknya pohon kurma; tapi jika tak ada apa-apa di
tangan kalian, jadilah azad, atau manusia yang bebas, layaknya pohon cemara.”
(Halaman 101)
“Sering
kali, saya merasa bahwa hidup sendirian baik bagi kesehatan. Bersama orang
lain, bahkan bersama orang terbaik,
terasa melelahkan dan melemahkan. Saya
suka sendirian. Saya tidak pernah menemukan kawan yang begitu cocok menjadi
kawan sebagaimana kesunyian. Seringnya, kita lebih kesepian ketika kita berada di luar rumah di antara
orang-orang daripada ketika kita berada di kamar kita.” (Halaman 172)
“Sungguh
suatu hal yang menenangkan, di suatu hari nan indah pada musim gugur, tatkala
seluruh kehangatan sinar mentari teresap sepenuhnya, duduk di tunggul pohon di ketinggian ini sambil
melihat ke arah danau dan memandangi lingkaran-lingkaran gelombang yang tak henti-henti terpahat pada permukaannya di
tengah pantulan langit dan pohon-pohon yang tak terlihat.” (Halaman 239)
“Bagaimana
bisa burung-burung bernyanyi sedangkan hutan kecil mereka ditebang?” (Halaman
244)
“Kebaikan
adalah satu-satunya investasi yang tidak pernah gagal.” (Halaman 277)
5. Buku kelima,
Buku karya Vina. Tapi biarlah buku ini
tetap jadi rahasia, sebab kalau kamu tahu ini buku apa nanti jadi bahaya.
Intinya ini buku self-improvement tapi memang pembahasannya agak, ah tidak, memang
berat hehe. Pembahasan yang sangat runtut dan mudah dipahami. Tapi, buku ini terlalu berharga untuk hanya sekadar
dibaca. Makanya saya menghabiskan waktu yang cukup lama, berbulan-bulan untuk
mempelajarinya, bagian dem bagian, sebab seperti kata H. Agus Salim bahwa
“membaca dan mempelajari adalah dua hal yang berbeda, meskipun sama pentingnya.”
Sudah ya, cukup satu kutipan dari buku ini saja, saya ambil yang paling netral
dan tidak memberikan clue buku ini tentang apa hehe.
“Usaha tanpa doa adalah sombong,
sedangkan doa tanpa usaha adalah bohong.” (Halaman 253)
Buku-buku yang menemani saya di 2021,
terima kasih banyak ya. Saya mengeja kembali kealpaan diri pada banyak hal.
Saya berkaca kembali pada kisah-kisah yang buku-buku itu ceritakan.
Baiklah, terima kasih karena kamu
sudah berkenan membaca tulisan saya. Saya harap kita bukan hanya seorang
pembaca belaka, tapi juga pandai mengambil makna. Jaga kesehatan ya, semua. Selamat membaca.
p.s:
Tahun baru buku baru? Why not? Bisa
jadi salah satu resolusi buat tahun 2022. Baca apa yang kamu butuhkan. Bacaan
itu berarti, bisa memberimu inspirasi.
Kalau kata @inspirasabuku, “Baca buku temukan inspirasi.”
Tahun baru? Berbicara tentang waktu,
mari kita baca setahun silam. Apakah kita sudah jadi lebih baik dari tahun sebelumnya?
Apakah kita sudah jauh lebih bermanfaat, setidaknya bagi diri kita sendiri?
Mari membaca, kenali diri, selami, dan
terus introspeksi.
Bumiayu,
31 Desember 2021
-------
Intermezzo
“Mar, ada
rekomendasi buku buat kesehatan mental nggak?”
“Mar, kamu
punya saran buku apa yang bisa aku baca untuk mengelola stress ngga?”
Saat
teman-teman bertanya demikian, saya turut senang karena teman-teman melarikan
diri pada bacaan. Sebab dibanding orang, buku kadang jauh lebih pengertian dan
tanpa penghakiman. Perjalanan menuju kedewasaan memang tidak mudah. Tapi, semoga
buku-buku bisa menemanimu.
@citraleka.baca
@inspirasabuku
Komentar
Posting Komentar