Karavan

 Karavan




Di bawah langit biru Semarang dan semilir angin pukul satu siang. Tidak ada secangkir es teh, hanya sebuah meja lipat di balkon belakang.

Beberapa lembar catatan saya temukan di tengah sebuah buku yang sudah selesai dibaca. Catatan yang rupanya kutulis sesaat setelah merampungkan membaca buku bersampul coklat itu. Lembaran-lembaran ini sebenarnya belum cukup lama ditulis, hanya beberapa saat terlupakan. Mungkin agak sentimental, tapi catatan ini benar-benar merekam akumulasi emosi setelah membaca buku ini.



“Akhirnya aku paham mengapa orang-orang di seluruh dunia berkata bahwa buku ini luar biasa. Buku ini menceritakan tentang hidup, tentang hati, tentang takdir, tentang makna, dan tentang cinta.

Semua yang terjadi ada alasannya, dan itu  pilihan kita apakah akan menggali maknanya atau memilih untuk merutukinya. Kalau kita mau berusaha, sekuat dan seyakin-yakinnya, alam semesta yang Tuhan ciptakan akan membantu kita.

Telusuri hatimu, sebab ia memahami apa-apa yang tersembunyi dan tak tampak di matamu. Untuk apa meramalkan masa depan, kau hanya perlu menjalani hari ini dengan sebaik mungkin maka masa depanmu sedang kau perbaiki. Hiduplah, sadarilah, di sini, hari ini, dan saat ini. Ketakutan-ketakutan adalah keniscayaan. Tapi bukankah selama ini ketakutan ini hanya ada di benakmu?

Tidak selamanya mimpi buruk dan hal-hal tidak menyenangkan yang terjadi padamu untuk membuatmu kesal dan marah. Kejadian-kejadian itu akan menjadi kutukan jika kamu menganggapnya demikian.

Tuhan bermurah hati membawamu pada kesadaran dan keyakinan akan takdirmu. Kau harus bersyukur akan hal itu. Bacalah pertanda alam. Selama ini, mereka bukan sekedar ciptaan belaka pengisi dunia, tapi juga tempatmu belajar banyak makna.

Tapi alam itu terbatas, anak muda, ia hanya makhluk. Sebab sehebat apapun hasil ciptaan, tentu jauh lebih hebit Dia Yang Menciptakan. Alam pun makhluk yang sedang belajar. Temukan pada mereka pelajaran-pelajaran berharga itu.

Perihal “jodoh” (bukan selalu tentang orang), dia adalah sesuatu yang murni. Tertulis, sesuatu yang sudah termaktub dan dirancang sedemikian rupa. Bukankah sebuah keajaiban bagaimana Tangan-Tangan Tuhan mempertemukan dua jiwa? Konspirasi dan rahasia besar apa yang ada di baliknya? Kau hanya perlu meyakininya bahwa entah di  belahan bumi yang mana, seseorang atau mungkin sesuatu sedang menantimu di sana. Dan Tuhanmu jauh lebih paham bagaimana cerita yang lebih indah akan terjadi. Kamu cukup yakin bahwa takdir setiap makhluk-termasuk takdirmu dan takdirnya- ditulis oleh Tangan yang sama. Cinta adalah bagaimana padang pasir menumbuhkan semak, merawat serangga, dan melepasnya untuk sang belalang. Dan ia bahagia melakukannya.

 

Jalan yang berputar, berliku mungkin melelahkanmu. Tapi ia memberikanmu pengalaman baru yang mungkin tak pernah kau bayangkan dapat memukau netramu. Kau hanya perlu melangkah lebih jauh. Barangkali, sedikit lagi kau akan sampai di tempat yang kau tuju. Apa yang kau lewati sepanjang perjalananmu adalah sarana untukmu lebih memahami dunia. Sebab kita semua adalah sama-sama pembelajar untuk satu sama lain.

Berterimakasihlah pada apa saja yang membantumu. Jangan lupakan orang-orang dan hal-hal kecil yang tanpa kau sadari sebelumnya menjadi penuntun jalanmu.

Terakhir, biar kusimpulkan.

Rahmat-Nya begitu luas dan agung. Hanya saja kita manusia yang seringkali mempersempitnya. Dan kamu, jangan jadi manusia yang seperti itu.

Dunia ini indah jika kamu mau lebih dalam memahaminya. Kebahagiaan, ketenangan hati dan jiwa itu tidak jauh rupanya. Semua tergantung pada keyakinan dan kemauanmu mengungkap makna. Sederhana.

 

Jika kisah ini boleh kusimpulkan dalam satu kalimat, maka:

Kegelapan itu ada karena kamu tidak mau membuka mata.

 

Semarang, 29 November 2021

Aku yang masih belajar dan mencari makna

 

Mar

----

 

p.s:

Mengapa aku baru menemukanmu? Kenapa tidak sejak dahulu?

Ah, lupakan kalimat-kalimat pesimis itu. Bukankah tidak ada kata terlambat untuk menemukan hal-hal baru? Terima kasih banyak, semua makna yang terungkap. Yakin pada takdirmu, segala yang ditakdirkan untukmu takkan pernah salah alamat dan ia akan mencari jalan menemukanmu. Jika kamu terus melangkah, mungkin kamu akan menemukan sesuatu.

Membaca novel ini mengingatkanku pada salah satu buku yang pernah kubaca bertahun-tahun lalu, entah kapan tepatnya, seingatku saat aku masih duduk di bangku kelas satu di Sekolah Dasar. Buku yang samar-samar aku ingat dengan kertas kecoklatan yang kupinjam dari tas sekolah tanteku. Cerita berjudul “Kaktus Bertuah”.

Rupanya sudah sejak dulu saya mecintai kisah-kisah perjalanan. Mari terus berpetualang, sebab buku juga adalah sebuah “karavan”.

Menuliskan perasaan setelah membaca sebuah buku ibarat menyimpan satu potret dari rangkaian emosi yang secara implisit kita rasakan sepanjang membaca buku tersebut. Menumpahkannya dalam sebuah tulisan saya rasa langkah yang cukup manis untuk menyimpan kenangan dari bacaan. Dua hal berbeda antara menulis resensi dengan menuliskan catatan tepat setelah selesai membaca sebuah buku. Kadangkala tulisan mampu mengabadikan kesenduan, kelegaan, dan perasaan yang tidak terdefinisikan setelah merampungkan sebuah bacaan. Dan catatan yang biasanya saya tulis selepas membaca buku adalah catatan yang ‘paling jujur’. Kamu tahu nggak sih perasaan setelah melihat ending sebuah film? Nah semacam itu. Mungkin juga seperti saat kamu hanya bisa terdiam menatap dinding setelah membaca kata “tamat” di penghujung halaman. Jika sebuah tulisan begitu menyentuh hati pembaca, ada kalanya rasa tidak percaya sudah menyelesaikan satu bacaan tersebut. Ada pula rasa yang muncul ketika seseorang menatap tumpukan buku yang sudah dibaca dan berharap “hilang ingatan” dari apa yang sudah dibaca agar bisa kembali merasakan sensasi saat membaca sebuah tulisan. Maka dari itu, tulisan dapat menjadi pengingatnya. Saat membaca catatan ini, saya merasakan sense yang berbeda, ah rupanya demikian saat saya membaca buku ini. Rasanya menyenangkan saat kamu membiarkan tanganmu menulis apa saja yang kamu rasa, berbicara secara jujur.

Jika buku adalah jendela dunia, maka dalam Sang Alkemis buku adalah sebuah karavan yang siap membawamu menjelajah. Jadi, mari kumpulkan “karavanmu”.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[History #1] Hubungan Sriwijaya dan Mataram Kuno

Menjadi Guru SMA

Anak Sulungku: Catatan 20-an