Prolog : Bukan Setoples Nastar
Bukan Setoples Nastar
Ini apa sih? Bukan setoples nastar, mungkin sekeping rindu. Entah apa yang kutulis. Hanya
ingin merekam saat-saat ini agar terpatri dalam hati. Katanya, sesuatu baru
terasa berharga setelah tiada. Tapi, aku tak ingin masa-masa ini terlewati
begitu saja. Maka izinkan si hati rapuh ini tantang wahana, mencoba mengukir
prasasti yang tidak jelas isinya apa.
Di Sepertiga Malam
Angin dingin
pukul 3 pagi menyelinap melalui sela-sela gorden yang tak tertutup rapat. Seisi
kamar masih gelap sebab para penghuninya masih terlelap. Sepasang mata terjaga,
menyelami suasana di antara berisiknya alarm yang berulang kali mati dan
menyala. Tap, suara seseorang menyalakan saklar lampu di dekat pintu.
“Sahur sahur..
Yuk bangun sahur,” ajak seseorang
“Nanti ajaaa,
setengah empat,” jawab sebuah suara lalu bergelung kembali dalam selimut.
Selalu Mengingatmu: Jemuran
Cuaca
di sini sungguh tidak menentu, layaknya hati yang kadang senang kadang sendu.
Langit di sini pun begitu, kadang biru tiba-tiba berubah jadi abu-abu. Pernah
satu hari begitu terik, sisanya berkabut dan berangin. Sama juga sepertimu,
kadang manis kadang juga dingin. Hey, kembali ke topik, maaf.
Di sisi rumah sebelah
timur, satu sofa tua teronggok kesepian sebab tempat itu hanya ramai di pagi
menjelang siang. Sofa tua berwarna abu-abu setia mendengarkan percakapan. Ah,
bukan lebih tepatnya perebutan. Di hadapannya seutas tali usang memanjang
dengan tiga tiang penyangga yang telah rapuh. Isinya pakaian-pakaian yang berbaris sedari pagi, bersandar menanti hingga dijemput pemiliknya. Seringkali seutas
tali begitu terbebani hingga miring ke sisi jalan. Membuat sang sofa
bertanya-tanya penuh kasihan, “Siapakah gerangan yang menjemur begitu banyak
pakaian hari ini?” Sedikit saja langit berawan, sang pemilik pakaian dengan
segera mengangkat pakaian-pakaiannya. Sofa tua kembali kesepian.
Garis Interaksi
“Kalau di kamar mandi jangan konser, apalagi bikin kolak” (Sing nyengir berarti ngrasa :D
“Ini piring siapa tolong cuci sendiri yaaaa”
“Kamar mandi kosong ngga? Hah? Ada orang? Siapa? Hah? Dia lagi? Bukannya tadi udah?”
“Jemuran
jemuran... Gerimis tauu... Ini celana siapa? Ini handuk siapaaa woy?”
“Banyak
ranjau depan pintu, siaga satu, waspada waspada”
“Tok
tok, banguuuun udah siaangg”
“Tok tok tok... Yang di kamar mandiii, masih lama nggaa?”
“K...s, tolong benerin laptopkuuu..”
“Jepitanku tinggal tiga, gantunganku tinggal lima, huhuu ke mana ajaa itu selusin perginya?”
“Nanti hujan ngga ya? Kok mendung gini. Yang di posko tolong jagain jemuranku yaa, titip”
“Ada yang mau ke toilet ngga? Udah siang malah kontraksi, takut digedor anak-anak” (Harap jangan telan mentah-mentah kalimat ini)
“Rapat... Yok rapat... Sebentar aja” (Sebentar versimu berapa jam? Canda ya Pak hehe)
“Permisii paket, atas nama KKN ...”
“Pinarak mba nggen kula...”
“Sandalku
banyak yang naksir kayanya, ke mana perginyaaa?”
“Mas,
mas, galonnya abis, tolong beliin ya sekalian sama gas juga, ini uangnyaa
makasii”
“Eh
kamu mau ke warung ya? Aku titip Aoka rasa bluberinya dua, rasa coklatnya tiga,
rasa nanasnya tiga, sama satu lagi: rasa yang pernah ada.. upps”
“Ini
lantai kamar banyak rambutnya ihh. Kalau dari panjangnya udah ketahuan nih rambut
siapa. Siapa lagi kalau bukan M--ryati”
“Ya
Allah gaes ternyata nasinya belum mateng, udah mau magrib.. maaaaaaf huhuu”
“Hmm..
tahu lagi tahu lagi, kemarin tahu kecap, hari ini tahu tumis campur sayur,
besok bisa ngga sih tahu-tahu ada yang traktir mi ayam bakso di warung Mbah
Leman” (Kode keras hehe. Suara hati yang tak bisa disuarakan)
“Kabar
gembira... Kabar gembiraa.. Besok iuran lagi ya kawan” (Kabar gembira apanyaa,
ujar dompet tipis yang kering kerontang tak
berdaya)
Sudahlah, ayo ngaku
Desa Penari Desa Petani, nek kedawan mengko sing maca
ngantuk.
Perjalanan membawamu bertemu
denganku, kubertemu kamu
Begitu kata Om Tulus. Saya hanya
sedang sedikit merenungi, kira-kira kalau saya nggak ikut KKN semester ini, apa
yang sekarang saya lakukan? Apakah masih
berkutat dalam zona nyaman mengikuti perkuliahan seperti biasa? Kalau tidak
bertemu kalian, apakah saya bisa dapat pengalaman sekeren ini di tempat yang
seindah ini?
Sudah banyak yang terlewatkan. Tragedi
rantai putus di tanjakan, kucing keguguran, masakan keasinan, bangun kesiangan,
kamar mandi rebutan, lampu meledak dadakan, tragedi kesalahpahaman, kehujanan,
kedinginan, beras kehabisan, tempat jemuran ngga kebagian, dan banyak lainnya
yang belum disebutkan.
Thanks a lot, I learn a lot.
Dari
sekian banyak tempat, pasti ada alasan mengapa kita ditempatkan di desa kecil
nan sejuk ini. Dari sekian banyak orang, pasti ada alasan mengapa Dia mempertemukan
kita semua dengan segala perbedaan. Entah untuk saling berbagi tawa dan cerita.
Atau untuk saling merangkul duka. Semoga selalu ada hikmah dari setiap
interaksi kita.
Dalam berinteraksi, dalam
berkomunikasi, sedikit banyak pasti ada yang tidak pas di hati.
Ramadhan yang penuh warna ini
sudah hendak pamit pergi.
Teriring doa, Taqabbalallahu
minna wa minkum, wahai Saudara-Saudari.
Minal aidzin wal faidzin, mohon
maaf lahir dan batin.
----
Mohon maaf jika ada salah bicara,
salah sikap, salah kata, salah rasa (ehh salah lagi ya).
Mohon maaf ya semuanya.
----
Selamat hari raya Idul Fitri,
dari Fitri dan kawan-kawan.
Semoga selepas Idul Fitri, hati
kita bisa kembali suci.
Sebening Rawa Pening, sesejuk
embun pagi Telomoyo.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Wes wes, pokoke aja ngresulah
ketemu maning, masih 2 sasi hihi. Semangat !
Perhatian:
Rampung kan anggonmu moco? Ora koment brarti kangen, ora
kangen brarti koment (Candaaa)
Maafkan kegabutan ini kawan
Mari kita tutup dengan suaranya
Om Tulus lagi,
“Di manapun kalian berada,
kukirimkan terima kasih”







🌻🌻🌻♥️😭
BalasHapusKenapa nangis? Kangen mah bilang aja 😁
HapusAku ora kangen
BalasHapus🤧
Hapus