Semarang Sebelum Padam

 

Semarang Sebelum Padam

 


Nyala itu masih ada, mungkin tidak seberapa terangnya, tapi ia masih berpendar dengan hangatnya.

 

Masih dalam suasana kemeriahan HUT RI dan penyambutan mahasiswa baru yang berseliweran di mana-mana, masa-masa ini agaknya cukup mengingatkan saya pada masa 4 tahun silam. Masih teringat betul, di lapangan bercat merah dan meriah, satu lagu yang saat itu diputar di hadapan ribuan mahasiswa baru.

                “Hidup tiada mungkin, tanpa perjuangan.

                Tanpa pengorbanan.

                Mulia adanya”

Dulu dengar lagu ini rasanya mungkin biasa saja, tapi sekarang, baru tau artinya wkwk. Sudah-sudah, jangan kepanjangan intronya. Mau cerita apa sih Mar? Hanya sekelumit cerita  tentang Semarang dan kenangannya.

---------------------------------------------

Yang redup belumlah padam

Yang temaram belumlah hilang

Lenteranya tertinggal di kota orang

 


Semarang empat tahun silam, Agustus 2019 ketika saya masihlah seorang mahasiswi baru berseragam putih hitam. Tidak pernah saya sangka, anak desa ini akhirnya punya kesempatan untuk kuliah juga. Dan bukan di tempat yang biasa, tapi di tempat yang memang sudah diimpikan sejak lama. Masih tersimpan buku catatan saya, impian untuk bisa mengenyam pendidikan di kampus tercinta akhirnya tercentang juga. Siapa sih yang ngga ingin untuk masuk kampus impian tanpa perlu tes ini dan itu? Bukan hal yang mudah juga untuk meraihnya. Banyak drama dan keribetannya. Mulai dari rumitnya mempersiapkan berkas beasiswa sampai drama server eror berhari-hari yang bikin panik camaba seluruh Indonesia. Tapi semua itu Alhamdulillah terlewati berkat izin-Nya.

Awal tinggal di Semarang, wahh adaptasinya lumayan susah. Terbiasa di Bumiayu yang cukup adem, lalu pindah ke Semarang yang walaupun di Gunungpati tapi serasa Gurunpati. Makanya, cari kost yang nyaman sangat-sangat dianjurkan. Kost di belakang jurusan (5 langkah wkwk), tapi kalau pagi (ndilalah kostnya penghuninya maba semua) antri mandinya bikin keki. Mana ospek harus berangkat pagi, banyak yang disiapkan lagi. Tapi tapi, begitu udah rapi, pintu doraemon terkunci, mana mau kami putar jalan lagi. Jalan tengah sekaligus solusi: panjat pintu pagar dan semua aman terkendali (Sssttt jangan bilang-bilang ya).

Di kelas sejarah, dipertemukan dengan orang-orang dari berbagai daerah. Rombel A Pendidikan Sejarah 2019 alias Cloryda yang kelasnya ambis wkwk. Iya iya, masih ingat lah di awal masa perkuliahan kita masih rajin-rajinnya. Jangan lupa perngapakannya, saya merasa banyak rekan seperngapakan. Komplit dari Tegal, Brebes, Banyumas, Cilacap, Wonosobo. Kuliah siang, pulangnya mampir di kost saya yang sering jadi markas karena paling deket kampus. Jangan lupa pertanyaan legend, “Mau makan siang apa kita hari ini?”. Tapi Lek Drat akan selalu terkenang sih pasti. Kalau weekend turun ke kota pakai bus kota alias BRT yang luar biasa jalannya. Ya lumayan kan, dapat harga mahasiswa. Masih ingat juga dulu di semester 1 duduk di lorong sambi ngobrol sana sini. Sudah rapi dan wangi, ternyata dosennya tidak hadir lagi. Terbitlah tugas yang sudah menanti.




Februari 2020, sebulan sebelum pandemi melanda negeri ini. Alhamdulillah masih sempat kunjungan ke Bali. Tapi di saat itu, saya tidak pernah menyangka akan jadi pengalaman kuliah di kampus bareng-bareng untuk yang pertama dan terakhir kali. Karena tahu sendiri kan, setelah satu semester kuliah di kampus, ada pandemi. Sudah deh, pulang lagi ke habitat asli. Kukira beneran libur dua minggu, ternyata jadi dua tahun hehehe.



Di awal masa ospek alias PPAK, jiwa-jiwa ambis agaknya mulai tumbuh (ya walaupun layu juga di tengah jalan). Menyaksikan orang-orang hebat di kampus, idealisme saya mulai tumbuh. Saya harus banyak relasi. Saya harus juara ini itu. Saya harus ikut ini dan itu. Panjang listnya wkwk. Satu semester pertama dilalui dengan cukup santai, daftar organisasi, dan jelajah Semarang. Pertama kali dikenalkan dengan History Study Club (HSC), anak sejarah yang nggak sejarah-sejarah banget ini mulai belajar dari rekan-rekan HSC. Ternyata begini caranya memantik diskusi. Ternyata begini realitanya ketika berhadapan dengan banyak pikiran dan argumentasi.





Berlanjut dengan  orang-orang luar biasa yang saya temui di LDF. Vibes anak LDK yang kaku sama sekali tidak saya temui. Teman-teman dan mbak-mbak LDK yang saya temui ramah dan merangkul. Dari LDK saya belajar banyak sekali. Belajar untuk menghandle suatu kegiatan, belajar bersosialisasi, belajar berbagi, belajar ngajuin proposal, belajar nembung pemateri, belajar improviasasi di situasi yang tidak ideal, dan banyak lagi. Temen-temen rohis yang luar biasa ini sudah seperti jadi keluarga kedua di Semarang. Dari awal masuk pas maba, disambut mbak-mbak yang sangat mengayomi. Ketemu juga dengan temen-temen angkatan 2019 yang selalu suport dan adik-adik yang selalu menghibur. Tiga periode bukan waktu yang singkat, pastilah banyak cerita dan kenangannya. Dua periode penuh dilewati selama pandemi, ya adaptasi lagi. Bagaimana caranya melakukan event online tanpa mengurangi esensi. Kebersamaan di akhir periode, Alhamdulillah masih sempat untuk masak bareng, bakaran, dan masih sempat camp bersama juga. Semoga selalu terjaga silaturahmi. Sehat selalu di manapun berada ya kawan-kawan.



Di tahun kedua kuliah, diberi kesempatan bergabung di ERC. Nah di sini beneran deh satu kesempatan berharga ketika bertemu orang-orang luar biasa yang selalu semangat untuk berprestasi. Saya belajar banyak hal di sini. Bukan soal ambisnya, tapi tentang semangat untuk terus belajar. Saya jadi tahu bagaimana caranya nulis esai, tips presentasi, info lomba, beasiswa, dll dari sini. Mindset untuk terus belajar dan nggak hanya jadi mahasiswa yang sekadar ikut kuliah saja, ini yang penting. Orang-orang yang saya temui di ERC jangan ditanya lagi, sudah pasti mereka luar biasa soal prestasi. Sebenarnya pun, saya ikut ERC salah satu alasannya ya biar ketularan habitnya hehe. Sukses selalu untuk ERC dan orang-orangnya.

Kembali pada saat pandemi, saya yang sedang semangat-semangatnya kuliah di kota orang, akhirnya panik juga buat pulang. Awalnya perkuliahan dialihkan daring selama dua minggu. Baru aja dua pekan masuk kuliah di semester 2. Lho kok jadi dua tahun ternyata? Ada lah kegabutan, kebosanan, kejenuhan ketika harus kuliah daring. Tugasnya numpuk juga, harus siap banyak kuota, dll. Semester 2, 3, 4, 5 terlewati dengan cukup abu-abu. Memang ngga ada momen ketemu temen-temennya. Time skip.

Setelah dua tahun yang abu-abu itu, sebenarnya masa kuliah di rumah masih berlanjut. Tapi berhubung sudah di titik jenuh yang amat sangat, saya memutuskan kembali ke Semarang. Ya walaupun sama-sama gabut di kostan. Tapi kembali ke Semarang di semester 6 rasanya masa kuliah saya terskip 2 tahun. Bayangkan, ketika masih semester 1 kuliah di kampus, giliran kembali ke kampus sudah semester 6, ditagih proposal penelitian.




Tapi semester 6 beneran ngga abu-abu. Di saat orang lain memilih magang online dan ikut kampus mengajar di desa masing-masing, bisa-bisanya saya memilih KKN 4 bulan di desa orang. Masih di sekitar Semarang. Empat bulan yang luar biasa dengan tim yang luar biasa juga wkwk. Banyak kocaknya, banyak sedihnya. Sudah pernah kuceritakan sebelumnya ya. Desa yang indah dengan segala cerita dan keramahannya. Saya banyak belajar selama masa KKN. Makan apa adanya, mau jajan tapi harus jauh ke kota. Kalau malam dinginnya luar biasa. Tapi view depan rumah memang seindah itu, Telomoyo di pagi hari.

Selepas KKN, kehidupan mahasiswa akhir dimulai. Masa-masa skripsian yang awalnya kukira akan menakutkan. Tapi ketika dijalani, ya semuanya pasti selesai kok. Bimbingan skripsi di pinggir jalan pun dilakoni. Dari survey sampai penelitian, sendirian pun dijalani. Skripsian depan Alfamart, di gerbong kereta, di teras kost, sudah dilalui. Bolak balik Bumiayu-Semarang tiap minggu pun dilalui. Serasa jadi langganan KAI. Bukan hal yang mudah, membagi waktu  dan perasaan antara pekerjaan dengan skripsian. Tapi, semuanya pasti akan selesai.



Terima kasih kepada segenap sponsor tugas akhir yang luar biasa, yang mungkin belum sempat tercatat di kata pengantar. Dari Da’i Fotocopy, tempat print sebelah kost yang baik hati. KAI yang selalu setia mengantar saya pulang pergi. Mak Pi, Mantu Lanang, dan Alfath yang selalu sedia amunisi. Warga Kost A4 yang baik hati kalau minjemin motor buat bimbingan. Lorong C2 yang jadi saksi riwehnya mempersiapkan sidang skripsi. Dan tentu saja, orang-orang baik hati yang selalu mendukung dan menemani dan sudah tertulis di kata pengantar skripsi: teman-teman rombel A 2019, KKN, KIFS, HSC, ERC, IMM, dan banyak lagi.

Akhir kata, terima kasih banyak atas cerita dan kebaikannya. Sampai jumpa lagi di titik temu berikutnya. Semarang akan selalu dikenang, apalagi orang-orangnya. Terima kasih banyak ya.

Bumiayu, 28 Agustus 2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[History #1] Hubungan Sriwijaya dan Mataram Kuno

Menjadi Guru SMA

Anak Sulungku: Catatan 20-an