Living, Loving, Learning, Growing
2023: Living, Loving,
Learning, Growing
Hanya beberapa catatan kecil tentang hal-hal acak di
keseharian sepanjang 2023 ini.
Sopo Ngerti
Kalau orang Barat mengatakan, “What If?” maka orang Jawa seringkali mengatakan “Sopo ngerti”. Seringkali dalam menghadapi banyak drama-drama kehidupan, saya kagum pada prinsip hidup orang Jawa. Mungkin terdengar sederhana, tapi sebenarnya memiliki kedalaman makna. Bayangkan, ketika dihadapkan pada situasi yang tidak menyenangkan, orang Jawa selalu punya kelapangan hati untuk berprasangka baik. Contoh kecil:
· Seorang pedagang keliling sudah sedari pagi belum melayani pembeli hingga sore menjelang. Dagangannya masih utuh padahal sudah berkeliling jauh. Tapi apa yang dikatakannya? “Ah ora popo, sopo ngerti bar iki ono sing tuku” lalu melanjutkan jualannya.
· Ketika ditolak dalam rekrutmen karyawan sebuah perusahaan, “Ora popo, sopo ngerti sesuk aku ditompo ning kantor gedhe”
· Ketika berkali-kali revisi skripsi, seorang mahasiswa berkata “Tak garap meneh, sopo ngerti minggu ngarep ACC”
That’s it, sesingkat itu kata “Sopo ngerti” tapi membangkitkan harapan baru dan prasangka baik dalam banyak hal. Jadi, kalau hari ini impian kita mungkin banyak yang belum terlaksana, bersabarlah, sopo ngerti taun ngarep kelakon. Aaamiin.
Manusia itu
pada dasarnya sering berpikir jauh ke depan, mengira-ngira banyak hal, bertanya
sesuatu yang belum tentu terjadi. Di usia sekarang, agaknya tubuh ini memang
tidak sempat pergi ke mana-mana. Tapi pikirannya sudah melalang buana ke mana-mana memikirkan ini itu. Di
umur segini, sedikit aja ada waktu luang tanpa mengerjakan apapun, raganya
mungkin diam, tapi isi kepala begitu berisik. Saat masih kuliah, duh gimana ya
skripsiku nanti? Gimana ya nanti kalau sidang saya dibantai penguji? Lulus kuliah saya kerja apa ya? Jadi apa saya
nanti? OVTnya udah makin naik level kalau begini. Tentang orang tua yang
semakin tua tapi saya yang belum jadi siapa-siapa. Apakah saya bisa bantu orang
tua? Dengan cara apa? Anak kecil seperti
saya bisa nggak yah bertahan di tengah dunia kerja? Apakah langkah yang saya
lakukan ini sudah benar? Apakah saya bisa menemukan dan menjadi pasangan yang
baik? Apakah diri ini sudah dewasa sesuai umurnya? Bisa nggak yah nanti aku
jadi orang tua yang baik? Pantes nggak sih diri ini dicintai? Saya kan begini,
begini, begitu. Tidak ada habisnya seperti benang kusut di kepala.
Semua itu wajar bukan? Tetapi saya ingin terus mengingatkan diri sendiri bahwa seperti sebelum-sebelumnya, kadangkala kita yang terlalu takut dan faktanya sejauh ini kita bisa melaluinya. Tidak akan semenakutkan apa yang kita bayangkan. Yang menentukan batasnya adalah pikiran kita sendiri. Jadi, agaknya kita memang harus terus menyibukkan diri biar nggak ada celah buat overthinking ya.
Jujurly
“Why can’t we for once, say what we want, say what we
feel”
Akhir-akhir ini lagi sering dengar lirik yang satu ini. Suatu hari, saya pernah mendengar bahwa “Manusia itu bisa berbohong, bahkan pada buku diarinya sendiri”. Sebenarnya masing-masing dari kita tahu apa yang kita inginkan. Hanya karena kondisi ataupun alasan-alasan yang tidak memungkinkan untuk kita sampaikan. Kita inginnnya A. Tapi bertindak B. Gimana tuh konsepnya? Seringkali mendengar beberapa kalimat ini, “Kalau butuh bantuan bilang ya, jangan diem aja” wkwk, “Sebenernya hatimu tau apa yang kamu mau”, “jangan apa-apa dipendam sendiri lagi”. Sudah deh, jujur saja, jangan menahan diri terus. Tertawalah saat kamu ingin tertawa. Menangis saat kamu ingin menangis. Ceritalah jika kamu ingin bercerita. Apapun yang kamu rasakan, akui saja pada dirimu. Jangan mengelaknya. Hatimu bukan saklar yang bisa kamu atur on atau offnya. Biarkan hatimu berbicara.
Catatan 20-an
Kemarin, saya baru saja mengikuti
sebuah workshop dari seorang dalang lokal kenamaan. Beliau menceritakan
banyak hal tentang perwayangan. Di tengah perbincangan seru, beliau bercerita
tentang falsafah hidup orang Jawa dari umur manusia. Singkat sebenarnya, tapi
kok saya baru tau ya. Singkat sebenarnya, tapi bikin saya mikirin usia ya hehe.
Dalang : “Ngertos mboten cah ngopo kok yuswane wong Jawa kuwi selikur,
rolikur, lan seteruse? Nek dua puluh kan basa Jawane rong puluh. Kenang apa kok
dua puluh satu kuwi ora rong puluh siji, rong puluh loro, lsp. Tapi kok basane
malah selikur, rolikur, telu likur? Kuwi ana maknane. Likur iku seko sanepa “linggih
kursi”. Dadi wong yen wis umur selikur, rolikur, telu likur, pat likur kuwi
kudune wis linggih kursi alias wis bisa luruh pangan dewek, wis duwe posisi
utawa gaweyan. Banjur nek umur 25 kok ora limang likur basane? Ngopo kok 25 iku
selawe? Selawe kuwi singkatane “seneng lanang wedok”. Wong yen wis umur 25, umume
wayah nggolek garwa. Nopo garwa niku? Sigaraning nyawa. Ngoten, Nduk, Nang.”
Dalang: “Kamu tau nggak kenapa
umur orang Jawa itu disebut selikur? Kalau 20 kan bahasa Jawanya rong puluh.
Tapi kenapa kalau 21 istilahnya selikur, bukan rong puluh siji?
Itu ada maknanya. Kata “likur” berasal dari singkatan “linggih kursi
(duduk di kursi)”. Jadi, orang kalau
umurnya sudah 21, 22, 23, 24 itu seharusnya sudah “menduduki suatu jabatan”
alias sudah bisa mencari makan sendiri, sudah punya pekerjaan. Lalu kalau umur
25 kenapa bukan limang likur, tetapi selawe? Selawe adalah
singkatan dari kata “seneng lanang wedok”. Orang kalau sudah berumur 25,
umumnya sudah waktunya mencari pasangan (garwa). Garwa adalah
singkatan dari kata “sigaraning nyawa” (belahan jiwa). Begitu, Nduk,
Nang.”
Ada Masanya
Sering mendengar “people come
and go”, “semua ada masanya” tapi pada kenyataannya tidak semudah itu
bestie. Terbiasa di Semarang dengan teman-teman yang kocak dan random, lalu
tiba-tiba sudah tidak di tempat yang sama dan melanjutkan perjuangan di tempat
lain. Belum sepenuhnya terbiasa. Biasanya bareng-bareng nyari makan. Biasanya
bareng rebutan kursi Rumah Ilmu. Biasanya janjian badminton deket rektorat. Biasanya
ngobrol sampai tengah malam di kamar kost (hmm lebih tepatnya saya tim nyimak wkwk).
Biasanya duduk di kursi merah di teras kost (waduh wkwk). Biasanya hunting
jajan kalau malem. Biasanya gabut dan nyetel speaker keras-keras. Biasanya malem-malem
bimbingan di bawah pohon depan SD. Jadi, sudah selesai yah masa-masa itu? Sebagai
orang yang bubar wisuda langsung pulang wkwk, sepanjang perjalanan rasanya masih
belum percaya “Udahan nih beneran?”. Padahal masih banyak wacana kita yang
belum terealisasikan bersama. Masih banyak tempat yang belum dikunjungi. Tau
begini kan, harusnya dulu banyak jalan-jalan ke mana-mana.
Kalaupun memang setiap orang
ada masanya, bisa nggak sih kita jadi
teman sepanjang masa?
Capture It, Remember It
Satu hal pula yang sedikit saya
sesali. Kenapa saya nggak banyak menangkap momen bersama teman-teman? Kadangkala
memang kalau sama sahabat-sahabat dekat, nggak kepikiran buat foto bersama ya wkwk.
Baru nyadar kan kalau setiap momen itu berharga? Kamu mungkin bisa mengunjungi tempat
yang sama dengan orang yang sama, tapi tidak mungkin bisa dapat momen yang sama
dua kali.
Rumput Tetangga
“Rumput tetangga memang selalu
tampak lebih hijau, kamu cuma nggak tahu saja di bawah rumput itu juga ada
bebatuan dan pecahan kaca”
Di halaman ini izinkan saya
mengutip kata-katanya Kak Ima Madani:
Dulu aku begitu enteng menilai
hidup orang lain serba mudah. Ah, kenapa dia begitu mudah mendapat pekerjaan. Lalu ternyata ia
telah ditinggal ayahnya sejak kecil.
Kenapa dia begitu mudah mudah
menemukan pasangan. Ternyata ia sudah tidak punya siapa-siapa. Kenapa dia mampu
berjalan keliling dunia, ternyata ia pernah berbaring di bangsal rumah sakit
berbulan-bulan tanpa bisa berdiri. Kenapa orang-orang diberikan harta
sedemikian banyaknya, ternyata adik-adiknya sudah menjadi bagian dari tanggung
jawabnya.
Semua itu merubah sudut pandang serta merta
mengurangi perasan hasad dan iri. Setiap melihat orang lain dianugerahkan lebih,
aku jadi berpikir: “Apa yang telah Allah ambil dalam hidupnya? Nikmat mana yang
Ia cabut? Pahit mana yang telah ia telan? Ujian apa yang sudah Allah timpakan
padanya sampai dia dikaruniakan sesuatu seindah itu?
Sebab kita hanya mengetahui
sepersekian kecil hidup seseorang, dan mungkin itu hanya bagian bahagianya
saja. Kita hanya melihat bunga ketika bermekaran indah, tanpa tahu bagaimana
takdir yang telah dijalani sejak masih menjadi bibit, dan tak peduli setelah ia
layu.
Skripsweet
Tertinggal
lah sudah aku, oleh rekan-rekanku
Tersusul lah
sudah aku, dengan yang mulai setelah aku
... Walau kuberada
di lampu merah, kuyakin semua ini hanyalah hambatan sementara
... Oh
perjalanan ini memang berlika-liku
Tentang yang
satu ini, dulu dalam bayangan saya juga tampak menakutkan. Ada banyak
pikiran-pikiran yang menghantui. Takut dapat dosbing yang killer. Takut salah
ambil data dan disuruh penelitian ulang. Takut ditinggal teman-teman lulus duluan.
Takut banget pas sidang ternyata dibantai sama penguji. Takut salah mengolah
data. Takut lama selesai skripsinya padahal anak Bidikmisi seperti saya hanya
diberikan kesempatan sampai semester 8. Takut nggak lancar penelitiannya. Takut
lama ACC-nya. Dan masih banyak ketakutan yang lain. Tapi, seperti yang sudah
saya katakan sebelumnya, terkadang pikiran kita saja yang mudah takut. Sesuatu
akan tampak menakutkan kalau belum benar-benar dijalani.
Soal skripsi
ini persoalan yang cukup personal dan memang banyak faktor ya pemirsa. Setiap
orang punya kondisi yang berbeda-beda. Tidak bisa kita sama ratakan semuanya.
Setiap orang punya strugglenya masing-masing dan prosesnya tidak sama. Ada yang
dosbingnya baik hati tapi dapat ujian di tempat penelitian. Ada yang dosbingnya
super sibuk padahal dirinya sendiri sudah sangat rajin. Ada yang sibuk bekerja dan
kesulitan membagi waktu mengerjakan skripsi. Ada yang terjebak lampu merah,
ehh. Ada yang masih stuck dengan ide penelitiannya. Dan banyak lagi faktor
lainnya.
Satu hal yang
saya sadari, masa-masa skripsi itu walaupun urusannya masing-masing, tapi kita
beneran butuh bantuan orang lain. Sesederhana teman ngobrol buat cerita tentang
topik yang akan diambil dan berbagi pengalaman dengan kating. Kita harus merasa
butuh. Kita yang harus aktif untuk mencari informasi. Informasi sesingkat “di
mana tempat print murah” itu berguna lho. Kadangkala kita harus membuka diri,
bercerita dengan orang lain biar dapat masukan dan saran dari orang lain.
Jangan pernah merasa lemah dan malu untuk berbagi tentang kesulitan yang sedang
kamu alami dalam skripsi.
Sepanjang masa
skripsi, terima kasih banyak untuk teman-teman dan semua pihak yang memberikan
doa dan dukungannya. Bukan hal yang mudah bagi saya bisa menyelesaikan skripsi
kalau tanpa bantuan orang lain. Bapak fotokopian sebelah kost sing sabare pol direpoti
bolak-balik salah print halaman. Temen-temen baik yang setia sharing dan dengerin
ocehan saya selama skripsi. Teman-teman baik yang sering direpotin buat mengantar
saya bimbingan malam hari. Mbak mas yang dengan senang hati berbagi pengalaman
selama skripsi. Serta masih banyak lagi orang-orang baik hati yang tidak bisa ditulis satu per satu. Semoga lancar skripsian kawan-kawan.
Kereta Ini Melaju Terlalu Cepat
Malam kota lamaku, aku di sini
untuk sebentar
Suatu saat, saya duduk di antara
bangku-bangku di ruang tunggu penumpang di sudut stasiun. Selepas sampai di stasiun
yang dituju, hujan memang turun dengan derasnya. Bising suara petugas stasiun yang
memanggil para penumpang untuk melanjutkan perjalanan. Di luar sana, kendaraan
berlalu lalang, ada yang menjemput dan mengantar. Bangku stasiun ini sudah
menyaksikan banyak hal. Manisnya pertemuan. Pelukan perpisahan. Jabat tangan
tanda berpamitan. Bahkan tangisan keputusasaan mereka yang tertinggal jadwal
keberangkatan. Bangku ini sudah mendengarkan banyak hal. Salam hangat dan
sampai jumpa. Doa dan bahasa netra. Kereta silih berganti berjalan di jalurnya.
Setiap orang ada masanya sebagaimana setiap kereta ada jadwalnya. Setiap orang
berjalan di jalurnya masing-masing. Sampai berjumpa di titik temu berikutnya.
Sampai jumpa di pemberhentian berikutnya. Pertemuan bukanlah sesuatu yang
mustahil jika kita punya stasiun tujuan yang sama.
Jumpa aku di sana
Entah di mana yang aku maksud
Kereta ini tak gentar
Terus melaju, aku takut
-Nadin Amizah
Best Read 2023
Akhir-akhir ini di dunia bookstagram, sedang tren membagikan
“Best Read 2023” sebagai penutup akhir tahun. Banyak dari mereka yang
membagikan buku-buku keren yang mereka baca sepanjang 2023. Ada yang membagikan
buku paling memorable atau bahkan paling relate dengan kehidupan mereka. Tapi,
jika boleh berpendapat lain, best read 2023 saya adalah selembar kertas yang
butuh 4 tahun keringat dan air mata untuk mendapatkannya. Yup, ijazah. Best
Read karena mendapatkannya bukan hal yang mudah. Boleh kan jika saya berpendapat
demikian?
Kutipan favorit tahun ini:
“Dan untuk pertama kali sesudah sekian tahun aku mendengar angin yang menggerisik di antara
bunga-bunga rumput jarum. Aku duduk lagi di tepi jalan. Merapi itu terus saja
merokok. Dan Merbabu temannya (atau istrinya) diam saja. Merbabu itu sungguh
betul babu. Bentuknya dan mentalnya. Negeri ini memang vulkan sifatnya. Semua
onggokan itu masih bekerja sebetulnya. Hanya Merapi ini yang terang-terangan
merokok tanpa mengingat sopan-santun adat Jawa, yang selalu pendiam serba diam
dan diam. Simpatik dia Merapi. Tak tahu sopan santun. Kurangaj*r merokok acuh
tak acuh. Hah! Persis aku!” (Burung-Burung Manyar, halaman 149).
Learning by Doing
Tidak terasa setahun sudah diberikan
kesempatan untuk belajar mengajar. Masih ingat setahun yang lalu, Desember
tahun lalu saya mahasiswa semester 7 yang masih ribet skripsian, LPJ organisasi,
eh tiba-tiba nekat apply lamaran di salah satu loker. Masih ingat juga, gimana
rasanya berhadapan dengan pelamar lain (guru-guru hebat) dan apalah dayaku yang
anak bawang sudah pesimis duluan wkwk. T-ttapi tidak menyangka juga, dalam
hitungan hari langsung diberi kesempatan untuk belajar mengajar. Hanya saja,
rasanya begitu cepat inii. Kepikiran
kira-kira saya bisa nggak yah? Kira-kira saya kikuk nggak yah? Nanti kalau di
tengah pelajaran tiba-tiba ngefreeze gimana? Kepikiran juga gimana caranya saya
bagi waktu mengajar, ngerjain skripsi, sambil bolak-balik Semarang-Bumiayu yang
lumayan memakan waktu dan tenaga.
Tapi di tengah perjalanan
mengajar, saya menyadari banyak hal. Menjadi seorang pengajar bukanlah suatu kompetensi
yang hanya bisa diperoleh dengan mempelajari teori-teori mengajar. Suatu
kesempatan yang berharga bagi saya bisa diberi kesempatan learning by doing.
Perlu pembiasaan, perlu adaptasi, perlu persiapan. Ternyata menjadi pengajar seolah-olah
saya sedang belajar merancang skenario di setiap pertemuan. Minggu lalu
membahas A dengan metode A. Minggu ini membahas B dengan metode B. Habis materi
ngapain lagi ya? Ketika di kelas lalu LCD ternyata ngga menyala saya harus
bagaimana? Kalau di suatu kelas ketika jam pelajaran terakhir, siswa mengantuk,
apa yang harus saya lakukan untuk menyegarkan suasan? Saya baru menyadari
ternyata semuanya tidak semudah itu. Semuanya butuh proses dan kesabaran.
Setiap hari adalah hari yang berbeda. Setiap pertemuan pasti ceritanya berbeda.
Mari terus belajar.
Belajar dari Siswa
Sepanjang setahun ini, bagi saya pembelajaran di kelas adalah suatu proses yang semestinya dua arah.
Justru bagi pemula seperti saya, saya yang malah belajar banyak hal dari siswa.
Setiap pribadi adalah entitas yang unik. Setiap mereka punya cerita
masing-masing yang saya banyak belajar darinya. Seringkali saat siswa bertanya
dalam pembelajaran di kelas, mereka melontarkan pertanyaan dan reaksi yang out
of the blue sekali. Dan saya merasa sudah sedikit saja mencapai tujuan
pembelajaran jika ada siswa yang bertanya. Sebab dari pertanyaan itu saya jadi
belajar lagi, buka buku kuliah lagi, dan menelusuri kembali. Banyak topik yang
mereka tanyakan, mulai dari dinosaurus, agama manusia purba, sampai pada
pertanyaan tentang siapa sebenarnya Isra*l itu? Pertanyaan-pertanyaan unik mereka
membuat saya jadi belajar lagi dan menarik garis awal yang cukup jauh, sebab satu
peristiwa sejarah pasti saling terkait bukan?
Diri dan Hal-Hal yang Diri(ndukan)
Bertambahnya usia dan menyaksikan anak-anak muda di sekolah seringkali membuat saya sedikit bernostalgia saat saya seusia mereka. Mereka yang setiap pagi ketika hendak berangkat sekolah tidak pernah lupa bersalaman pada orang tuanya. Mereka yang bangun pagi buta untuk belajar persiapan ulangan. Mereka yang setiap pagi tidak pernah terlambat mengaji dan membaca Asmaul Husna sebelum memulai pelajaran. Mereka yang masih rutin menambah hafalan Qur’annya. Mereka yang masih sempat membaca buku yang dipinjam dari perpustakaan. Mereka yang tidak pernah melewatkan dua rakaat di waktu Dhuha. Mereka yang walaupun dibebani banyak kegiatan sekolah tetapi masih semangat dengan Senin-Kamis. Mereka yang selalu aktif bertanya tentang hal-hal baru di kelas. Mereka yang tidak malu-malu untuk menyampaikan kebingungan dan apa-apa yang mereka rasakan.
Berkurangnya usia, apakah diri ini sudah menjadi pribadi yang semakin bijak? Apakah diri ini sudah pantas menjadi contoh untuk anak-anak didiknya? Apakah diri ini sudah melaksanakan kebiasaan-kebiasaan baik yang setiap hari dipraktekkan anak didiknya? Atau justru diri ini malah sebaliknya. Semangat mengingatkan, tapi loyo dalam melaksanakan. Beralasan sibuk dengan administrasi pembelajaran, lalu lupa meluangkan waktu untuk kembali menambah hafalan. Beralasan lelah sepulang bekerja dan tidak punya waktu untuk membaca. Beralasan padatnya jadwal mengajar dan tak menyempatkan diri untuk shalat Dhuha. Beralasan kegiatan sampai sore menjelang, hingga melewatkan Senin-Kamis yang ke sekian.
Di antara banyak hal yang saya rindukan, saya rindu pada diriku sendiri, masa-masa yang lebih rajin dari sekarang.














Komentar
Posting Komentar