Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini





Kita terbiasa memasang earphone saat tak ingin diganggu. Kita terbiasa menutup pintu kamar saat tak ingin berinteraksi. Kita terbiasa berpura-pura memejamkan mata agar dikira tertidur. Kita terbiasa mengambil jalan yang memutar agar tak bertemu orang-orang. Dalam keseharian, pasti ada satu hal kecil yang kita jadikan sebuah pelarian. Bukan, aku bukan hendak mengadili semua pelarian itu. Aku hanya sedang ingin sedikit melarikan diri dari kepenatan. Hanya sedikit saja mengistirahatkan diri dari hiruk pikuk pikiran. Dari banyaknya pertanyaan di benak.

Saat hari-hari yang kita lalui terasa berat, pikiran penat, raga tak sehat, dan hati tak semangat kadangkala manusia memang butuh sedikit pelarian. Bukan untuk menghindar, bukan pula untuk menjauh dari segala persoalan kehidupan. Tapi untuk sejenak memejamkan mata dan menghela napas. Bukan untuk melepaskan diri dari tanggung jawab, tapi untuk sebentar saja berpikir bahwa semuanya baik-baik saja. Bukan untuk angkat tangan, tapi untuk sedikit saja menangguhkan beban.

Aku tahu, pelarian singkat memang tidaklah bisa menyelesaikan segalanya. Sebab memang bukan itu tujuan utamanya. Tapi setidaknya aku punya lebih banyak tenaga dan kesiapan untuk menghadapi semuanya.

Memang ada banyak cara yang orang-orang pilih untuk sekadar ‘berlari’. Ada yang memilih berkeliling kota. Ada yang memilih memesan satu dua makanan favoritnya. Ada yang sekadar duduk di kursi depan toko bercat merah dan biru tua dengan secangkir kopi yang pahit rasanya. Ada yang memilih bercerita pada kawan dekatnya. Ada yang memilih untuk menyendiri di atas sajadah di pagi buta. Ada yang mengambil ribuan langkah mendaki puncak gunung ciptaan-Nya. Tapi kali ini, aku tak berlari pada tidur awal dan suguhan di buku cerita. Aku hanya ingin menulis bahwa aku juga sedang ‘berlari’ pada tulisan. Mereka bilang, saat tak ada yang bisa mendengarkanmu, biarkan jemarimu yang berbicara. Bukan pada orang lain, tapi pada dirimu sendiri.

--------------

Selamat malam, Semarang. Kali ini aku kembali ke sana. Tak banyak yang berubah selain parkiran stasiun yang semakin ramai dan banyak gedung baru di kampus kita. Udaranya masih sama, terik seperti biasa. Tak banyak yang berbeda selain tak lagi ada aku di dalamnya wkwk. Sudah sudah, kembali ke cerita.

Barangkali Semarang memang akan selalu punya tempat istimewa di hati penghuninya. Menatap jalanan bermarka kuning yang agak lengang, aku memungut sekeping kenangan. Dulu pun, walau dihadapkan pada rasa takut dan ketidakmungkinan, aku pernah melalui jalan itu dengan penuh keyakinan. Di antara rak-rak buku di perpustakaan, aku menemukan selembar catatan. Dulu pun, walau sering nggak yakin bisa menyelesaikan tugas akhir, nyatanya kamu menuntaskannya juga. Saat menatap pantulan dirimu yang tampak di pintu lift, aku menemukan sepuah potret. Bahwa dulu pun, potret yang kutatap saat ini adalah orang yang sama, yang pernah bahkan sering merasa takut tentang masa depan. Semua keraguan dan ketakutan itu, tidak jauh berbeda dengan sekarang. Aku pernah melaluinya. Hanya sedikit berbeda versi saja. Tapi, aku masih orang yang sama. Semua kerumitan isi pikirmu itu pernah  dilalui sebelumnya. Dan seperti dulu, bukankah seharusnya aku juga yakin bisa melewatinya di masa kini dan masa yang akan datang?

---------------

 

Seperti yang sudah kuceritakan sebelumnya, ada banyak cara orang memilih caranya berlari. Kali ini bolehlah aku berlari yang benar-benar mengambil langkah yang jauh ke kota orang. Mengambil kesempatan untuk menempuh satu perjalanan yang sedikit lebih panjang. Boleh kan aku sedikit menepikan diri?

Sebentar saja aku ingin merasakan duduk di bangku kereta. Lalu menatap ke luar jendela dan mengintip indahnya matahari senja. Cukup sebentar saja aku ingin menikmatinya. Bersandar di bahu jendela sambil mendengarkan suara merdu Nadin mengalun di telinga. Sebentar saja. Pada akhirnya, perjalanan yang “sebentar” itu mengantarkanku pada Surakarta. Memang bukan pertama kalinya, tapi kota ini selalu punya keindahan di setiap sudutnya.

“Ada yah, orang lagi sakit bukannya istirahat di rumah malah keluyuran sampe ke luar kota?”, ucap temanku begitu menyambutku di pintu kedatangan wkwk. Bagaimana ya, kadangkala obatnya memang tidak dijual di klinik kesehatan. Ngobrol dengan teman lama misalnya. Tak cukup di WA. Tidak, kita perlu bertemu dan mengupdate bagaimana hari-hari kita. Kita perlu bertukar cerita dan bertatap muka. Menertawakan keseharian kita. Duduk di taman kota. Lalu pulang dengan perasaan lega. Mahal juga ya obatnya harus keluar kota wkwk.

-------------------------------

Suatu sore di Surakarta.

Kali ini kami memilih duduk di antara ratusan orang yang barangkali juga punya niat yang sama. Kalau raga sedang tak sehat, maka datang ke klinik kesehatan. Tapi kalau jiwa yang sedang tidak baik-baik saja, maka semoga siraman kalbu bisa jadi obatnya. Tema besarnya adalah “Hilang untuk Healing”. Tepat seperti yang dibutuhkan.

Beliau menceritakan bahwa Rasulullah Muhammad, sang manusia pilihan pun pernah merasa sedih. Para nabi dan orang-orang saleh pun pernah merasa sedih dan tak baik-baik saja. Apalagi kita yang manusia biasa?

Rasulullah Muhammad pernah melalui masa sedih. Beliau pun sering pergi berkhalwat, menyendiri di Gua Hira untuk bertafakur. Nabi Musa pun demikian. Pernah merasakan kesedihan hingga akhirnya pergi ke negeri Madyan. Perempuan pilihan, Maryam pun pernah merasakan kesedihan. Orang-orang yang salih lagi taat pun pasti pernah merasakan persoalan batiniyah.

Di kajian kali ini, biarkan kami untuk sedikit merasakan healing. Sejenak merenungi kealpaan diri dan benar-benar menghadirkan hati dan pikiran kami di sini. Sejenak menangisi diri yang begitu serakah akan banyak hal. Merenungi diri yang tak pandai bersyukur. Sejenak mengisi kembali energi batin kami. Bahwa tidak apa-apa untuk sejenak mengambil istirahat dari keseharian. Menyadari bahwa kita ini memang seringkali menginginkan sesuatu dengan terburu-buru.

“Setiap ujian, setiap rasa sakit memberi pelajaran. Dan pelajaran mengubah seseorang. Kalau kalian hanya fokus dengan rasa sakitnya maka kalian akan terus menderita. Tapi jika kalian fokus dengan pelajarannya maka kalian akan terus bertumbuh.”

--------------

 

Ini sedikit buah tangannya.

Baiklah, barangkali perjalanan singkat ini hanya sekelumit bagian dari perjalanan panjang yang sesungguhnya. Kau tak perlu merasa bersalah untuk sejenak mengambil jeda dari keseharian. Kau berhak menerimanya dan jangan merasa sendirian lagi, ya. Sepulang dari sini, ayo sambut hari yang baru dengan semangat yang baru. Agar perjalanan ini tak sia-sia, kau harus mampu menemukan kembali binar di matamu. Walaupun setelah ini kamu mungkin akan kembali berhadapan dengan rumitnya isi kepala, setidaknya ingat satu hal. Mungkin bukan sekarang, mungkin bukan besok, barangkali lusa, tapi suatu hari kamu pasti akan menemukan jawaban atas beragam pertanyaaan yang menghantui pikirmu. Masa depan yang kamu khawatirkan itu, adalah bagian dari apa yang kamu lakukan hari ini. Jangan dipikirkan, jalani saja sebaik dan sekuat-kuatnya. Allah selalu punya rencana yang terbaik untuk hamba-Nya.

Jangan pernah berhenti berdoa. Mungkin saja, mungkin hanya butuh satu dua doa lagi untuk sampai pada apa yang kau harapkan. Kau tak tau doamu yang mana, usahamu yang ke berapa yang akan mendatangkan hasil. Tugasmu hanya satu di antara keduanya: perbanyaklah.

Warna langit yang kau tatap serupa warna lensa yang kau pakai. Akan selalu ada keindahan dan kebaikan di sekitar kita jika kita mau mencarinya. Semoga kamu selalu dapat menemukan keindahan dan kebaikan di setiap sudut bumi Allah yang luas ini, di manapun berada.

 

Terima kasih sudah mendengarkan.

Surakarta, 14 Juli 2024

 

-------

Just like a flower, you will bloom if you take time to water yourself.

So, let’s meet when the flower is bloom and the weather is fine.

Take your time.

Talk to you later.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

[History #1] Hubungan Sriwijaya dan Mataram Kuno

Menjadi Guru SMA

Anak Sulungku: Catatan 20-an