Cerita Bangga Menjadi Guru - WIT 2024


Bangga Menjadi Guru: Mendidik dengan Hati agar Sampai Ke Hati



Halo, perkenalkan saya Mar’atus Sholekha, guru di SMA Islam Ta’allumul Huda Bumiayu. Saya ingin berbagi cerita tentang perjalanan menjadi guru. Menjadi seorang guru bukan sekadar profesi, melainkan sebuah panggilan hati. Ketika memilih menjadi guru, seseorang tidak hanya memilih untuk mengajar di depan kelas, tetapi juga memilih untuk menginspirasi, membentuk karakter, dan membuka jalan menuju masa depan yang lebih cerah bagi generasi mendatang.

Mengapa memilih menjadi guru?

Banyak orang bertanya, “Mengapa memilih menjadi guru?”. Kecintaan terhadap ilmu pengetahuan membawa saya pada perjalanan menjadi seorang guru. Saya senang belajar dan berbagi. Salah satu profesi yang lekat dengan ilmu dan berbagi tentunya adalah guru. Dengan menjadi guru, saya merasa berkesempatan untuk berbagi banyak hal dengan siswa. Seorang guru bukan hanya berbagi pengetahuan, tetapi juga menciptakan momen berharga dalam hidup siswa, di mana mereka merasa didukung dan dipahami.



Selain ingin berbagi pengetahuan, alasan utama saya ingin menjadi guru adalah karena peran luar biasa guru-guru saya selama perjalanan menempuh pendidikan di bangku sekolah. Saya yang hari ini menjadi guru adalah akumulasi dari dedikasi dan dukungan tak terbatas dari guru-guru saya. Sebagai seorang penerima beasiswa sejak masih sekolah dasar hingga bangku kuliah, peran Bapak/Ibu guru mendukung pendidikan bagi saya sangat hebat. Atas bimbingan para guru, saya sungguh belajar banyak hal yang mengubah hidup saya. Dari seorang anak desa yang punya keterbatasan ekonomi hingga bisa sampai di fase ini, lulus sebagai sarjana dengan banyak cerita. Tanpa doa dan dukungan para guru, tidak mungkin bagi saya untuk dapat menumbuhkan semangat menggapai cita-cita dan menjadi sosok yang hari ini disaksikan para siswa di depan kelas.

“Memangnya kamu nggak bosan datang ke sekolah terus?”, ucap salah seorang teman. Bayangkan saja, selama 12 tahun belajar di sekolah, kemudian hampir 4 tahun belajar di kampus, setelah lulus justru kembali ke sekolah lagi untuk bekerja. Sejak masa anak-anak, datang ke sekolah bagi saya adalah hal yang menyenangkan. Saya bisa belajar banyak hal dari para guru dan bisa bertemu dengan teman-teman. Sejak dahulu, selalu terlintas di benak saya bahwa suatu hari saya ingin mengabdikan diri di sekolah, terutama di almamater saya. Lagi-lagi kembali kepada alasan awal, saya berhasil lulus sekolah dan kuliah dari almamater tercinta dengan beasiswa. Saya ingin mempunyai pengalaman mengabdikan diri dan bermanfaat bagi almamater tercinta. Sampai akhirnya, hadir satu kesempatan untuk mengabdi di sekolah almamater.

Bangga Menjadi Guru





Bagi banyak guru, kebanggan mereka sebagai guru bukan dinilai dari momen-momen yang luar biasa, tetapi justru terselip dalam momen-momen kecil. Ketika seorang siswa mengucapkan “Terima kasih, Pak/Bu atas bimbingannya, saya jadi lebih mengerti topik A.” Bagi seorang guru, kalimat sederhana ini merupakan bentuk penghargaan tertinggi yang tidak bisa dinilai dengan materi. Kebanggaan menjadi guru seringkali dirasakan saat menyadari bahwa mereka tidak hanya mengajarkan pelajaran saja, tetapi juga membentuk karakter. Banyak siswa yang setelah lulus masih kembali menemui gurunya untuk berterima kasih atas bimbingan yang mereka dapatkan. Hal ini adalah salah satu kebahagiaan terbesar bagi seorang guru, ketika melihat murid-muridnya tumbuh menjadi pribadi yang sukses, percaya diri, dan berkontribusi bagi masyarakat.

Seorang guru juga bangga karena mengetahui bahwa pengetahuan yang mereka bagikan adalah bagian dari proses pembentukan generasi penerus bangsa. Mereka menyadari bahwa setiap siswa adalah masa depan yang sedang dibentuk, dan  guru memainkan peran penting dalam perjalanan itu. Oleh karena itu, setiap guru tentu akan berupaya menyiapkan bekal terbaik yang dapat diberikan kepada peserta didiknya.

 

 

 

  

 


Bagi saya pribadi, pengalaman atau momen bangga menjadi guru salah satunya adalah ketika siswa kita dapat mengeksplor dirinya dalam sebuah kegiatan, baik program sekolah maupun bisa mengikuti perlombaan. Pengalaman saya dalam mendampingi peserta didik untuk mengikuti lomba adalah salah satu kebanggaan tersendiri. Saya mungkin memiliki banyak pengalaman mengikuti perlombaan semasa sekolah dan kuliah, tetapi ada hal yang berbeda saat saya menjadi guru. Semenjak menjadi guru, saya memahami satu hal bahwa ternyata jauh lebih menyenangkan ketika melihat siswa kita memenangkan lomba daripada ketika kita memenangkan lomba. Walaupun kemenangan dalam lomba bukanlah sebuah tujuan utama, saya merasa bahwa dengan menjadi pembimbing lomba saya menjadi belajar lebih banyak hal dibandingkan saat saya mengikuti perlombaan itu sendiri.

                Momen lain saat saya mengajar di sebuah kelas adalah ketika mereka menyampaikan keluh kesah dan cerita mereka hari itu. Saya merasakan kebanggaan tersendiri ketika menjadi tempat mereka dalam berbagi hari-hari. Saya merasa senang ketika mereka mengeluhkan tentang pembelajaran di kelas mereka yang seharian dijalani. Saya merasa menjadi teman bagi mereka. Hal kecil ini  membuat saya bersemangat bertemu peserta didik.

(Belajar) Menjadi Guru yang Merdeka Belajar

·         Konsep Merdeka Belajar

Merdeka Belajar adalah sebuah paradigma pendidikan yang mengutamakan kemerdekaan bagi peserta didik dalam proses pembelajaran. Konsep ini dirancang untuk mendorong siswa agar terlibat aktif dalam belajar dan memilih metode belajar yang sesuai dengan minat, bakat, dan kebutuhan mereka. Ciri utama dari konsep merdeka belajar adalah fleksibilitas dalam memilih metode dan materi pembelajaran, serta kesempatan untuk belajar di berbagai lingkungan, baik di dalam maupun di luar kelas. Peserta didik didorong untuk bekerja dalam kelompok, berkolaborasi, dan terlibat dalam proyek yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini menekankan pengembangan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan problem solving.

·         Peran Guru dalam Merdeka Belajar

Dalam kerangka  merdeka belajar, peran guru bertransformasi dari penyampai informasi menjadi fasilitator yang mendukung dan membimbing peserta didik dalam mengeksplorasi pengetahuan. Guru merdeka belajar berperan sebagai fasilitator yang mengedepankan kreativitas dan kemandirian siswa. Dalam pendekatan ini, guru tidak hanya menyampaikan materi pelajaran tetapi juga mendorong peserta didik untuk aktif berpartisipasi dalam proses belajar. Guru merdeka belajar berusaha menciptakan lingkungan belajar yang mendukung eksplorasi, diskusi, dan kolaborasi.

Dengan mengadaptasi metode yang sesuai, guru dapat memenuhi kebutuhan peserta didik dalam pembelajaran. Mereka juga berperan membimbing siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan problem solving. Akhirnya, guru merdeka belajar berfungsi sebagai agen perubahan yang menginspirasi siswa untuk terus belajar dan berinovasi. Melalui pendekatan ini, pendidikan menjadi lebih bermakna dan relevan dengan kehidupan nyata.

·         Berbagi Pengalaman Belajar Menjadi Guru Merdeka Belajar

Selama menjadi guru, saya terus berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang memungkinkan siswa melakukan eksplorasi, diskusi, dan kolaborasi. Berikut beberapa pengalaman saya dalam mendukung merdeka belajar bagi siswa.

a.       Menerapkan pembelajaran berbasis proyek




Pada mata pelajaran sejarah di kelas X, saya menerapkan pembelajaran berbasis projek penelitian sejarah lokal. Kegiatan pembelajaran ini sesuai dengan materi bab 1 semester gasal yaitu Pengantar Ilmu Sejarah. Pada bab pertama ini, saya berusaha memberi kesempatan bagi peserta didik untuk mengeksplor sejarah lokal wilayah Bumiayu secara berkelompok. Peserta didik mendiskusikan objek sejarah lokal yang akan diteliti. Selanjutnya, setiap kelompok dapat mengeskplorasi sejarah lokal yang telah ditentukan dengan berbagai sumber baik digital maupun non digital. Penggunaan sumber belajar yang beragam ini meliputi pemanfaatan dokumen sejarah, video, narasumber, dan arsip terkait. Selanjutnya, saya memberikan kebebasan bagi siswa untuk memilih produk yang akan dibuat dari hasil penelitian sejarah lokal. Peserta didik memilih produk yang mereka kuasai antara lain infografis, PPT, artikel, dan video. Hasil karya siswa dapat dilihat pada tautan berikut: https://linktr.ee/funhistory

 

 

Pada mata pelajaran sejarah di kelas X semester genap pada materi Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia, saya menerapkan pembelajaran berbasis projek dengan skema Museum Berjalan. Pembelajaran berbasis projek ini dengan membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok dapat berdiskusi untuk menentukan Kerajaan Hindu-Buddha yang akan dibahas. Setelah menentukan kerajaan yang akan dibahasa, setiap kelompok dapat membuat diorama kerajaan baik dalam bentuk digital maupun manual. Selanjutnya, pada pertemuan berikutnya setiap kelompok memilih spot masing-masing untuk saling mengunjungi satu sama lain. Pembelajaran ini mengusung konsep Museum Berjalan, artinya setiap kelompok adalah satu museum yang akan dikunjungi oleh kelompok lain. Selama kunjungan ke kelompok lain, peserta didik dapat saling bertanya tentang kerajaan masing-masing. Dokumentasi pembelajaran berbasis projek museum berjalan dapat disaksikan pada tautan berikut: https://linktr.ee/funhistory

b.      Menerapkan pembelajaran dengan diskusi

 



Pada mata pelajaran Sosiologi kelas XII Semester gasal pada materi perubahan sosial, saya menerapkan pembelajaran berbasis diskusi. Setiap kelompok berdiskusi dengan menganalisis dan mengeksplor fenomena perubahan sosial yang terjadi di lingkungan sekitar mereka. Hasil diskusi dimuat dalam Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD). Selanjutnya, sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ketiga yaitu menyajikan produk tentang fenomena perubahan sosial. Setiap kelompok menyajikan produk perubahan sosial dalam berbagai bidang dengan membuat gambar perbandingan sebelum dan sesudah perubahan sosial. Hasil diskusi juga dipresentasikan oleh setiap kelompok dengan memilih cara presentasi masing-masing. Ada kelompok yang mempresentasikan dengan mengupload hasil karya di postingan media sosial dan presentasi secara langsung di depan kelas. Dokumentasi hasil karya siswa tentang topik perubahan sosial dapat disaksikan pada tautan berikut: https://linktr.ee/funhistory

c.       Menerapkan pembelajaran berbasis kunjungan lapangan



Pada mata pelajaran Sejarah kelas X semester gasal pada materi Asal Usul Nenek Moyang dan Jalur Rempah, saya menerapkan pembelajaran di luar kelas. Peserta didik mengunjungi Museum Bumiayu sebagai kunjungan lapangan untuk mempelajari kebudayaan manusia purba di Indonesia. Peserta didik mengeksplor hasil kebuyaan manusia purba berupa artefak dan juga merekonstruksi pemahaman tentang pembentukan daratan Indonesia. Setiap peserta didik juga dapat bertanya secara langsung kepada narasumber yaitu penemu  benda-benda purbakala dan para pelestari Situs Bumiayu. Dokumentasi kegiatan outing class ke Museum Bumiayu dapat disaksikan pada tautan berikut: https://linktr.ee/funhistory

d.      Menerapkan asesmen berbasis game

 



Bagi peserta didik, asesmen atau ulangan biasanya terkesan kaku, sulit, dan membosankan. Saya berupaya menerapkan asesmen berbasis game agar penilaian dapat tetap berjalan dengan menyenangkan.  Asesmen berbasis game digital saya memanfaatkan platform Quizizz, Educaplay, dan Wordwall.  Misalnya, saya menerapkan ulangan dengan metode Quizizz sehingga peserta didik dapat interaktif dalam menjawab pertanyaan. Selain Quizizz, saya juga menerapkan ulangan berbasis game Clash of Champions melalui paltform Wordwall dan Educaplay sehingga peserta didik dapat lebih semangat dalam mengikuti asesmen. Dokumentasi asesmen berbasis game dapat disaksikan pada tautan berikut : https://linktr.ee/funhistory

 

 

·         Kolaborasi dan Kebersamaan



Era Merdeka Belajar membawa paradigma baru dalam pendidikan di Indonesia, di mana kebebasan, kreativitas, dan inovasi menjadi fokus utama. Dalam konteks ini, kolaborasi antar guru menjadi semakin penting. Kolaborasi mendorong inovasi. Dengan berkumpulnya berbagai perspektif, guru dapat merancang kegiatan pembelajaran yang lebih kreatif dan menarik. Misalnya, guru dari berbagai disiplin ilmu bisa bekerja sama untuk menciptakan proyek interdisipliner yang mengaitkan materi pelajaran dengan isu-isu nyata, sehingga siswa lebih memahami dan terlibat dalam proses belajar. etiap guru memiliki keahlian dan pengalaman unik. Dengan berkolaborasi, mereka dapat saling berbagi metode pengajaran, strategi kelas, dan sumber daya yang telah terbukti efektif. Hal ini tidak hanya memperkaya praktik mengajar, tetapi juga memungkinkan guru untuk belajar dari kekurangan dan keberhasilan rekan-rekannya.

Tantangan Menjadi Guru di Masa Kini

Menjadi guru di era modern bukanlah tugas yang mudah. Dengan kemajuan teknologi, perubahan sosial, dan tantangan global, peran seorang pendidik kini semakin kompleks. Berikut adalah beberapa tantangan utama yang dihadapi guru saat ini.

a.       Gen Z vs Gen Z



Mengajar generasi Z, yaitu mereka yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, memiliki tantangan unik yang berbeda dari generasi sebelumnya. Sebagai seorang guru SMA yang berinteraksi dengan generasi ini, Anda mungkin menghadapi berbagai dinamika yang memengaruhi proses belajar mengajar. Sebagai seorang guru yang termasuk generasi Z dan dihadapkan pada peserta didik dari generasi Z bahkan Alpha, hal ini menjadi tantangan bagi saya. Berikut beberapa tantangan selama mengajar generasi Z.

1)      Penguasaan Teknologi



Generasi Z adalah digital natives, yang berarti mereka tumbuh dengan teknologi sebagai bagian integral dari kehidupan sehari-hari. Meskipun hal ini membawa keuntungan dalam hal akses informasi, ketergantungan pada teknologi juga dapat mengganggu fokus dan perhatian siswa. Guru perlu menemukan cara untuk memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran, tetapi juga harus mengajarkan keterampilan manajemen waktu dan konsentrasi.

2)      Perubahan Gaya Belajar

Generasi Z cenderung lebih menyukai pembelajaran yang interaktif dan berbasis pengalaman. Mereka lebih suka pendekatan yang melibatkan kolaborasi, diskusi, dan proyek praktis daripada metode pengajaran tradisional yang bersifat ceramah. Sebagai guru, kita perlu mengadaptasi metode pengajaran untuk memenuhi kebutuhan ini, sehingga siswa merasa lebih terlibat dan termotivasi.

3)      Kesadaran Sosial dan Emosional

Generasi Z sangat peka terhadap isu-isu sosial, termasuk keadilan, lingkungan, dan kesehatan mental. Mereka cenderung lebih kritis dan ingin memahami konteks dari apa yang mereka pelajari. Guru harus mampu mengaitkan materi pelajaran dengan isu-isu nyata dan relevan, serta menciptakan ruang untuk diskusi yang mendalam dan reflektif.

4)      Kesehatan Mental

Masalah kesehatan mental semakin umum di kalangan generasi Z. Stres akibat tekanan akademis, harapan sosial, dan pengaruh media sosial bisa berdampak pada kesejahteraan emosional mereka. Sebagai pendidik, penting untuk mengembangkan keterampilan dalam mendukung kesehatan mental siswa, menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung, serta memberikan sumber daya yang tepat jika diperlukan.

 

 

 

 

 

 

b.        Penulis 1001 Skenario



Setelah menjadi guru, saya menyadari satu hal bahwa ternyata menjadi pengajar seolah-olah saya sedang belajar merancang skenario di setiap pertemuan. Minggu lalu membahas A dengan metode A. Minggu ini membahas B dengan metode B. Habis materi ngapain lagi ya? Ketika di kelas proyektor ternyata tidak menyal, lalu saya harus bagaimana? Kalau di suatu kelas ketika jam pelajaran terakhir, siswa mengantuk, apa yang harus saya lakukan untuk menyegarkan suasana? Saya baru menyadari ternyata menjadi guru seperti menjadi penulis 1001 skenario.  Setiap hari adalah cerita baru. Setiap kelas mempunyai keunikan. Setiap pertemuan pasti ceritanya berbeda.

 

c.       Belajar dari Siswa

 

 



Bagi pengajar pemula seperti saya, yang terjadi adalah saya yang belajar banyak hal dari siswa. Setiap pribadi adalah entitas yang unik. Setiap mereka punya cerita masing-masing yang saya banyak belajar darinya. Seringkali saat siswa bertanya dalam pembelajaran di kelas, mereka melontarkan pertanyaan dan reaksi yang out of the blue sekali. Setiap pertanyaan adalah bahan belajar bagi saya, sebab dari pertanyaan itu saya jadi belajar lagi, buka buku kuliah lagi, dan menelusuri kembali. Banyak topik yang mereka tanyakan, mulai dari dinosaurus, agama manusia purba, dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan unik lainnya. Pertanyaan-pertanyaan unik mereka membuat saya jadi belajar lagi dan menarik garis awal yang cukup jauh, sebab satu peristiwa sejarah pasti saling terkait bukan? Maka benar bahwa menjadi guru adalah pembelajar sepanjang hayat.

Refleksi Guru: Dari Hati ke Hati



Menjadi guru adalah proses belajar yang tidak pernah berhenti. Dunia pendidikan terus berkembang, dan para guru harus beradaptasi dengan perubahan zaman. Teknologi yang semakin canggih, metode pembelajaran yang terus berubah, serta kebutuhan siswa yang beragam membuat guru terus belajar dan berkembang. Namun, di tengah semua perubahan itu, satu hal yang tidak berubah adalah semangat seorang guru untuk memberikan yang terbaik bagi murid-muridnya.

Menjadi guru bukan hanya tentang mengajar, tetapi juga mendidik dengan hati. Kebanggan seorang guru bukanlah pengakuan materi atau pujian, melainkan ketika mereka melihat anak didik mereka tumbuh dan berhasil dalam hidup. Saya ingin terus berbagi motivasi kepada peserta didik bahwa pendidikan adalah harta paling berharga bagi kehidupan. Saya berharap dapat berbagi inspirasi kepada peserta didik bahwa tidak ada yang bisa membatasi diri kita mencapai cita-cita selain pikiran dan ketakutan kita sendiri.

Di tengah segala tantangan, menjadi guru adalah profesi yang penuh kebanggaan dan  makna. Setiap hari, seorang guru menciptakan perubahan, bahkan meski dalam hal-hal kecil. Pada akhirnya, dari hati yang terdalam mereka bisa berkata dengan penuh kebanggaan, “Saya adalah seorang guru, dan saya bangga mendidik generasi penerus.”

 

 

 

 

 

 

 

 

Cerita Bangga Menjadi Guru versi video dapat disaksikan melalui tautan berikut:

Video Cerita Bangga Menjadi Guru

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

[History #1] Hubungan Sriwijaya dan Mataram Kuno

Menjadi Guru SMA

Anak Sulungku: Catatan 20-an