[Her Story #9] Dear Diary

[Her Story Not HisStory #9] Dear Diary

 

 

Dear Diary

               



                Apa rencanamu?” sambungnya.

                “Aku mau membeli sebuah arloji,” jawabku.

                “Arloji? Untuk apa arloji?”

                “Dengan arloji sebenarnya orang bisa menghitung waktu.”

                Kenapa harus mengitung waktu?” tanyanya.

                Dengan menghitung waktu , orang tahu berapa jam lagi hari malam. Berapa jam lagi hari sinag. Lama-lama ia pun tahu berapa lama lagi ia bisa mempertahankan hidup,” kataku.

                Teman ayahku itu segera menuduhku tekah gila. Tetapi dia tanya lagi.

                “Apa lagi yang ingin kau beli?”

                “Sebuah buku harian.”

                “Sebuah buku harian?”

                “Ya, sebuah buku harian. Sebuah buku harian lebih tinggi nilainya daripada arloji tadi. Dalam buku harian itu aku bisa menulis apa saja yang bisa kutulis. Apa saja yang bisa kutulis, dan aku takkan bisa didakwa atau ditangkap oleh tulisan itu. Aku bisa memaki langit-langit, gedung-gedung, mobil-mobil, orang-orang dari tingkat dan pangkat apa pun juga. Dengan buku harian itu aku kehilangan rasa cemas dan takut, dan aku merasa jauh lebih merdeka daripada kau, biar pun kemerdekaan itu kumiliki untuk diriku sendiri saja,” kataku.

                “Apa lagi?”

                “Jangan memotong dulu,” kataku, “masih perlu disambung. Dalam buku harian itu bisa juga kucatat hutang dan piutangku, yaitu neraca ekonomi. Kalau tiap-tiap orang bisa mengatur perekonomian dirinya sendiri, ia berarti telah ikut menyumbang perekonomian negara, biar pun sumbangan itu Cuma sepersembilan puluh juta,” kataku.

===

 

 

Potongan percakapan di atas adalah salah satu cuplikan dalam cerpen “Nasehat untuk Anakku” karya Motinggo Busye.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Judulnya Dear Diary, isinya bukan curhatan menye-menye saya kok, tenang saja.

I don’t know, ini penting atau tidak, tapi semoga bermanfaat.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

“Ini buku apaan Mar?” tanya seorang teman saat berkunjung ke rumah.

“Hehe diary dari jaman SD sampe sekarang,” jawabku.

“Hah? Masa? Ini semua? Wah bisa dibikin novel nih,” ujar temanku.

“Novel? Apaan? Belum tau endingnya nih,” kataku.

 

Dia cuma melihat tumpukan diary, tidak membaca ya, fyi.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 


Beberapa catatan, sisanya ada di kostan, hmm.




Kenapa  perlu menulis diary?

Semua orang butuh curhat, merefleksikan pikiran dan perasaan setelah menjalani hari.

 

Kenapa memilih diary sebagai tempat curhat?

Tidak semua hal bisa kita ceritakan pada orang lain. Untuk orang-orang yang sulit mengekspresikan perasaan di depan orang lain, diary bisa jadi alternatif medianya.

 

Apa isi diary?

Meskipun saya menyebutnya diary, tapi isinya memuat journaling dan planner juga. Random sekali, ada jadwal kuliah, daftar tugas, quotes, buku yang ingin dibaca, list event lomba, gambar-gambar acak, rencana postingan blog, ide-ide  yang muncul tiba-tiba, catatan kajian dan seminar.

 

Weekly Plan

Edisi 2021

Weekly plan membantu saya mengetahui apa saja yang mesti dilakukan dalam satu minggu. Misal, senin pengumpulan tugas literasi digital, lalu jumat pengumpulan tugas sumber dan media pembelajaran, ahad kajian kemuslimahan. Dengan menuliskan daftar aktivitas mingguan saya dapat menentukan prioritas, mana yang lebih dahulu dikerjakan.

 

Monthly Plan

Awal kuliah







Perencanaan bulanan berisi catatan kegiatan/event dan projek dalam satu bulan. Weekly plan membantu dalam mencatatat event yang sifatnya bulanan,  misalnya seminar atau webinar, rapat bulanan, agenda organisasi, postingan blog yang harus ditulis bulan ini, dan sebagainya.

 

Dreams


Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin ini, ingin itu, banyak sekaliiii” (Doraemon)

Mimpi-mimpi perlu dicatat agar bisa jadi penyemangat. Keajaiban sebuah  mimpi, sudah banyak dibahas oleh mereka yang sukses berawal dari menuliskan impian di selembar kertas. Lalu perlahan mengupayakan, hingga bertahun-tahun setelahnya selembar kertas itu hanya akan jadi selembar kertas yang usang dan rapuh, sebab isinya sudah jadi kenyataan. Tau nggak sih? Mencentang daftar impian yang sudah jadi kenyataan sangat menyenangkan, ceklis ceklis ceklis.



Contoh saja ya kawan

Dengan menuliskan impian, kita sudah merencanakan. Bukankah bermimpi itu bebas? Tulis saja impianmu, target, keinginan, cita-cita, harapan, apa pun itu. Sekecil apapun, impian tetaplah impian. Misalnya, “2021 rutin puasa sunah”, “Akhir tahun ini target hafalan terpenuhi”, “Setahun ini nabung buat beli printer”, “Maret mulai buat projek tanaman hias di depan rumah”, “Bulan depan saya posting review buku A”, “Sepuluh tahun lagi saya jadi profesor”, “2024 punya rumah pribadi”, “2025 umroh”, apa salahnya menulis? Gratis kan.



Dengan menuliskan impian-impian, kita dapat memetakan target, kapan tercapai, apa saja yang harus dilakukan, mana yang perlu diprioritaskan. Kadang karena terlalu banyak keinginan, tapi hanya tersimpan di dalam hati, kita mudah melupakan. Jadi, silahkan tulis saja.


Idea

Saat ide muncul tiba-tiba, rasanya harus segera dicatat, mengingat diri yang kadang mudah lupa.

Ini contohnya, sebenarnya muncul ide post soal journaling juga random, tiba-tiba terpikirkan.


Task List



Saat terlalu banyak tugas (sampai bingung  yang mana dulu dikerjakan), menuliskan daftar tugas beserta keterangan dan deadline-nya bisa jadi pengingat. Biar nggak lupa, tulis saja. Saat guru atau dosen berkata, “Jam 9 tugas dikumpulkan,” lalu kalang kabut karena lupa tak mengerjakan. Menuliskan daftar tugas bisa jadi alternatif biar tertib.

 

Quotes





Tulisan jaman SMP




Kadang saat membaca buku, menonton film, scroll Instagram, muncul kata-kata yang ingin kita simpan. Entah karena bermakna atau mengena.

 

List Belanja



Menuliskan daftar barang yang dibutuhkan saat belanja memudahkan kita untuk memprioritaskan kebutuhan. Bulan ini beli buku, bulan depan beli skin care, dan sebagainya. List belanja yang dilengkapi daftar harga bisa membantu  kita menentukan seberapa besar pengeluaran dalam satu bulan. “Uangku ke mana aja ya?”, mungkin pernah terlintas di benak kita.

 

 

Habbit Tracker



Belajar produktif dari habbit tracker. Hal-hal sederhana seperti membiasakan membaca buku sehari 20 menit, konsumsi sayuran mingguan, jogging, belajar resep baru, Jumat baca Al-Kahfi, dll.

 

Reading List







"Mar, bukumu banyak yah?"

"Iya, 'banyak' di keranjang Shopee"


Daftar ini bisa diiisi buku-buku yang sudah dibaca, yang sudah beli tapi belum dibaca, yang belum dibeli.  Bulan ini baca buku A, bulan depan baca buku B, kalau tidak direncanakan biasanya saya jadi banyak alasan untuk menunda membaca. Maka dari itu, perlu ditulis daftarnya.

 

Gratitude Page



Halaman ini berisi hal-hal yang perlu disyukuri. Sesederhana bisa posting blog atau menceklis daftar buku yang sudah dibeli. Kadang kita terlalu fokus pada sesuatu yang besar tapi  melupakan hal-hal kecil yang perlu disyukuri. Contoh saja, suatu waktu kalah dalam lomba, oke ngga dapat juara, tapi setidaknya sudah mencoba. Contoh lain, realistis, kadang kita ingin seperti orang-orang di social media, punya banyak uang, beli banyak barang, wisata ke mana saja, stylish, dan sebagainya. Tapi kita lupa bahwa ada satu banyak hal yang kita miliki juga, yang tak bisa kita beli dengan uang. Ya, bukankah sehat juga adalah nikmat? Bukankah masih bisa menghirup udara dengan bebasnya juga adalah sebuah nikmat? Bahkan dalam keadaan paling terpuruk sekalipun, selalu ada hal-hal yang mestinya kita syukuri.


“Jujurlah pada emosi, tetapi jangan lupakan rasionalitas. Meskipun sering mengalami depresi dan terkadang bahagia, hiduplah dengan memikirkan hal-hal kecil yang membuat bahagia. Bagaimanapun, tetaplah hidup. Sebab, hidup adalah berkah.” (Lucia Song)


Kalau kata orang Jawa, serba untung.

Ketika jatuh di jalan, “Alhamdulillah, untung cuma lututnya yang luka.”

Bahkan ketika mengalami kecelakaan pun, “Alhamdulillah, masih hidup.”

Ketika kehilangan uang, “Alhamdulillah, untung cuma uangnya yang hilang, tapi masih sehat bisa cari uang lagi. Ora popo.”

Ketika lelah beraktivitas, “Alhamdulillah masih dikasih capek, berarti aku masih hidup.” Bukankah lelah adalah pertanda sebuah proses sedang berlangsung?

Ketika mendengar teman-teman yang di perantauan tak bisa mudik saat lebaran, “Alhamdulillah untung iso mulih, iso mangan kupat nang umah, ketemu keluarga.”

 

Seorang teman pernah berkata, “Bukan bahagia yang membuat kita bersyukur, tapi bersyukur yang menjadikan kita bahagia.”

 

 

 

Halaman Catatan













Halaman kosong ini bisa diisi dengan menulis catatan hasil rapat, catatan kajian atau webinar, lirik lagu yang tiba-tiba terdengar, quotes yang kita lihat di story teman, gambar-gambar acak, vocab baru, informasi yang perlu dicatat, dan tentu saja diary itu sendiri. 

 

Art Page

Bagian ini bisa diisi gambar-gambar, lukisan, doodle, dan sebagainya. Ketika sedang malas menuangkan ekpresi dalam tulisan, kita bisa menggambar atau melukiskannya.



 

“Kalau boleh minta doa dari semua makhluk hidup di dunia ini, aku hanya minta satu doa: doakan aku agar memiliki hati yang lapang.” [Bising, halaman 16-17]






“Garis batas membuat hidup manusia penuh warna. Berkat garis batas, ada negeri-negeri berbeda, bangsa-bangsa berbeda, beribu bahasa dan makanan khas, adat-istiadat.... Bayangkan jika dunia ini dihuni oleh semua orang yang sama persis, berwajah sama, berbahasa sama, punya impian dan agama yang sama, berjenis kelamin sama, semua sama makmur, sama sempurna, sama pintar, selalu bersama-sama pergi ke sini dan kesana... betapa membosankannya.”(Garis Batas, halaman 82)




“Ketenangan  hati dan diam seribu bahasa  mengalir dengan tenang lalu mengambang di lautan kehidupan, mungkin ada hari-hari ketika kita menghadapi badai, tetapi ada juga hari ketika kita dipenuhi dengan matahari terbenam yang cerah hingga mampu mengisi hati.”  (Lucia Song)





“Apa salahnya jadi orang biasa? Tujuh miliar lebih penduduk bumi, tidak semuanya menjadi orang terkenal, kan? Tapi aku percaya, semuanya berperan. Peran-peran yang mengisi hidup ini, membuat kehidupan  berjalan seimbang.” [Bising, halaman 107]





It's okay to not be okay
----------------------------------------------------------------------------------------------

Pada akhirnya, semua proses menunjukkan hasil, tetapi sebuah proses tidak bisa dievalusi hanya melalui hasilnya saja. Hari ini, aku pun menjalani hidup, berpikir, dan sedikit produktif, berusaha untuk tidak berdiam sampai lumutan. Setidaknya dalam standarku karena semuanya dilakukan untukku jadi tidak masalah  apabila di depan  orang lain tidak begitu terlihat bernilai.” ( Lucia Song, dalam "Adakah Orang Sepertiku", halaman 38)

               

Journaling, writing a diary, planning dan sebagainya, mungkin bagi orang lain bukan hal yang cukup penting. Tapi saya merasa terbantu dengan menulis di planner, journaling or writing a diary. Rutinitas menjadi lebih tertata. Dan... Rasanya mengasyikkan ketika menceklis daftar yang terpenuhi. Untuk orang-orang yang mungkin sulit mengekspresikan pikiran atau perasaan secara lisan, menulis bisa jadi solusi. Blog ini bagi saya juga adalah sebuah diary tempat berekspresi. Bukankah menyenangkan memiliki ruang untuk dirimu sendiri? Sebuah tempat untukmu bercerita, jujur pada diri sendiri. 

 

Kalau boleh bercerita...

Selama #dirumahaja, hasil kegabutan, mulai menulis diary (alias curhatan-curhatan) di ms word. Awalnya iseng saja, bercerita di sela-sela tugas. Tapi ketika tulisan-tulisan itu saya ikutkan lomba, alhamdulillah hasilnya. Berkah #dirumahaja.  

Mungkin bagi yang sudah membaca beberapa tulisan saya di blog ini melihat tulisan saya belum terstruktur. Entahlah, saya hanya membiarkan tulisan di sini mengalir sesuai ekspresi, entah puisi atau tulisan di Her Story. 

 Terima kasih diary, sudah menemani hari-hari.

Terima kasih juga sudah berkenan membaca, selamat menulis.

 

 

 









Bumiayu,  2 Januari 2021

@maratuss_sholekha


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

[History #1] Hubungan Sriwijaya dan Mataram Kuno

Menjadi Guru SMA

Anak Sulungku: Catatan 20-an