Catatan Ke Dua Puluh Tiga

 Catatan Ke Dua Puluh Tiga, 3 Muharram 1445 H




Cawan Usia

 

Cawan usia mulai bertangkup kerak

Terisi mimpi yang dikubur dan dibiarkan berserak

Tertimpa harap dan pikiran-pikiran penuh sesak

Dasarnya tertutup selapis pudar semangat

Tepiannya ringkih terbentur dinding kenyataan menggurat

Terlanjur rapuh dan pecah sebelah

Tersiram secangkir sepi dan setetes amarah

Berdenting ditabuh sesendok rasa bersalah

Cawan usia menanti pemiliknya

Membasuh piranti dan mengisinya dengan setangkup cita

Atau barangkali, juga segenggam cinta

 

Semarang, 31 Agustus 2022

 

-----------------------------------------------


Serasi Tak Serasa

Dekat layaknya Merapi dan Merbabu

Indah dari kejauhan membentang biru

Bersisian dan saling mengayomi

Sejuk nian ucap penduduk bumi

 

Merapi nan gagah

Merbabu nan setia

Sepasang yang tak bisa dipisah

Seolah tersihir mantra dalam risalah

 

Mereka bilang kita serasi

Bunyi doa:  pasangan sejati

Satu hal  tersembunyi

Kita tak serasa walau serasi

Tidak pula sehati

Mungkinkah setakdir?

Ah, tapi tidak

Barangkali aku yang terlalu ‘babu’

Dan kau yang terlalu ‘berapi-api’

 

2023


Disclaimer: POV Setadewa dan Larasati

----------------------------------


Masih Mengeja

 

Di kanvas langit,

kelabu membungkus lembar biru

Adalah angin berhembus dingin

Sore itu gerimis meriuhkan senja

Aku masih bertanya

Adakah rintiknya kan menumbuhkan  bunga-bunga,

ataukah sekadar melintas menawarkan secercah kesejukan belaka?

Dan aku, masih mengeja pratanda

 

Di lembar-lembar kertas,

C bersanding A

Berserak di ujung netra

H berdamping K

A i u , ra sa, bla bla bla

Aksara membahana seisi kepala

Tercetak dengan pudar tinta

Tertulis di kertas-kertas nila

Menjelma jadi rangkaian kata

Dan aku masih mengeja,

adakah huruf-huruf itu akan terbaca

Entah jadi puisi atau hanya frasa

Entah jadi prasasti atau hanya selembar cerita


Semarang, 19 Oktober 2022

 

 

----------------------------------------


Perihal Kabar

 

Bagaimana kabar?

Suaramu samar

Rindu menguar

Hatiku mulai tak sabar

 

Hari-hari yang terasa hambar

Dan aku hanya terduduk di sudut kamar

Kau bilang kita harus bersabar

Kau akan datang di kala fajar

Kapalku masih berlayar

 

 

2023

 --------------------------------------------------------


Bukan Dyah Pitaloka

Tuan menjalin sulam, daku memintal benang

Pinggala rona, elok nian

Berkilat bagai sutra berpasang-pasang

Halus disentuh, menawan dipandang

 

Tapi sang pengawal menebas dengan sebilah pedang

Terputus, tercerai berai jalinan benang

Hancur, indahnya hanya dapat dikenang

 

Daku bukan lagi emas tempawan

Daku bukan lagi juita Tuan

Simpul lepas segala ikatan

Tuan jangan mendekat

Mereka  tak ingin kita terikat

 

2021

Disclaimer: Ditulis seusai membaca novel Majapahit 

------------------------------------

Suara I: Sunyi yang Tak Begitu Sunyi

 

Di perpustakaan, di ruang tunggu klinik kesehatan

Dalam kelas di sekolahan, di ruang perkuliahan

Di mana-mana kita diingatkan, jagalah ketenangan

Tapi bukankah tak ada tenang yang benar-benar tenang

Tak ada hening yang benar-benar hening

Tak ada sunyi yang benar-benar sunyi

Sebab sehening apapun ruangan ini, isi kepalaku begitu berisik

Dalam rongga dadaku sebuah suara berdetak teratur

Di relung hatiku, ada getaran disentuh irama nada

Di telingaku, mengalun merdu senandung dari penyuara jemala

Satu lagi rupanya, tutur batinmu saat membaca tulisan ini juga adalah sebuah suara

Di mana saja ada suara, tanda kita masih hidup dan bernyawa

Di mana saja ada suara, tanda kita masih diberi nikmat berupa telinga

Tanpa suara, tentu saja kita bisa gila

 

Semarang, 15 November 2022

 

 

Suara II: Bukan Tanpa Suara

Di ujung ruangan ini saya duduk diam

Sekali lagi mendengarkan himbauan menjaga ketenangan

Tidak banyak percakapanku dengan orang lain

Tapi percakapan dengan diriku sendiri begitu riuh mengisi batin

 

Diamku bukan tanpa suara

Penyuara jemala menghantarkan irama

Ada rindu yang tak pernah surut dalam  “Bertaut”

Ada banyak kenyataan dalam “Dunia Tipu-Tipu”

Ada banyak warna di balik “Monokrom”

“Dandelions” menerbangkan keping-keping angan

Secercah tenang kutangkap dari “Usik”

Sebuah melodi cinta dari Dere kutemukan dalam “Kota”

Ada satu tempat di sudut hati saya untuk “Somewhere Only We Know”

Terhanyut dalam nada-nada indah dalam “Asmalibrasi”

Sebab “Walau Habis Terang”  akan ada “Hari yang Cerah untuk Jiwa yang Sepi”

Mari kita tutup dengan cara yang unik, sebuah lagu dari gitar akustik

Mengalunkan “Pesan Terakhir” dari “Sang Dewi”

 

 

Semarang, 15 November 2022



Suara III : Harap Tenang

 

Tak tik tuk suara ketikan menjadi lagu sambutan

Pintu lift terbuka seolah berucap selamat datang

Diiringi tap tap tap langkah kaki petugas kebersihan

Derit kursi  dan petak ubin bersinggungan

Samar-samar gesekan kertas dalam buku-buku bacaan

Tak ada suara percakapan di antara orang-orang

Bukan, bukan sebab kami sedang bermusuhan

Tetapi ini di perpustakaan

 ---------------------------------------------------------


Komentar

Postingan populer dari blog ini

[History #1] Hubungan Sriwijaya dan Mataram Kuno

Menjadi Guru SMA

Anak Sulungku: Catatan 20-an