Membaca Burung-Burung Manyar

 Membaca “Burung-Burung Manyar”



 

Sejujurnya, sudah sejak awal tahun pertama bangku SMA, novel ini saya ketahui. Novel berlatar masa perang kemerdekaan ini awalnya saya kira dari judulnya bukan sebuah novel sejarah. Anak sejarah yang tidak sejarah-sejarah amat ini akhirnya setelah tujuh tahun berlalu, baru benar-benar membaca novel ini secara keseluruhan. Sebenarnya sering pula semasa kuliah, melihat novel ini di kampus. Tapi entah kenapa, belum ada ketertarikan untuk membacanya.

Membaca roman karya Y. B Mangunwijaya seolah mengantarkan saya berpetualang dalam lorong waktu di masa perang kemerdekaan. Tapi cerita ini menyuguhkan sudut pandang yang berbeda. Cerita ini dimulai dari tahun 1934-1944 saat sang tokoh utama, Setadewa alias Teto masih remaja. Dikisahkan Setadewa atau Teto adalah seorang “anak kolong”, putra seorang Indo dan keturunan Belanda. Dibesarkan di tengah keluarga militer KNIL menjadikan ia seorang prajurit. Hal-hal yang terjadi seiring zaman perang di Hindia Belanda hingga pergantian kekuasaan Jepang dan masa kemerdekaan turut mewarnai hidup Setadewa berikut keputusan-keputusan besar dalam hidupnya. Barangkali seorang prajurit juga seorang manusia yang punya rasa. Sebutlah Larasati, sang “nona prenjak” yang masih kerabat Keraton Solo turut menjadi bagian dari cerita hidupnya, baik berjumpa maupun tidak.

Kisah demi kisah dituliskan dengan latar yang berbeda-beda. Sejak di Magelang, Jakarta, Yogyakarta, Solo, dan Bogor. Masa kecil Teto di Magelang dengan kehidupan KNIL yang kental, tapi ia agaknya memang seorang yang cinta kebebasan. Hidup dengan anak-anak Jawa lebih menyenangkan sepertinya. Kehidupan Teto berubah ketika Jepang kemudian mengambil alih kekuasaan di Hindia Belanda. Segalanya berubah. Dan perubahan-perubahan kekuasaan itu, sungguh mengubah dirinya pula. Demi sang Mami, sang Papi, dan harga dirinya. Tapi apakah sungguh ia telah membela pihak yang benar? Sebab kebenaran di masa itu sungguh bukan perkara yang mutlak. Kecintaannya pada Atik, Larasati yang rupa-rupanya setia pada cita-cita Indonesia merdeka kadangkala memantik rasa tak karuan di  benak Teto. Tetapi sebuah pilihan tetap harus diambil.

Roman sejarah ini menyuguhkan sudut pandang yang berbeda dari sudut pandang kita seorang Indonesia pada umumnya. Ini tentang siapa pejuang dan siapa pemberontak. Banyak pula diangkat dalam cerita ini tentang perspektif orang-orang desa terhadap kondisi politik yang kian berkembang. Apakah masa kemerdekaan benar-benar sudah merdeka? Ataukah justru di masa penjajahan kita jauh lebih merdeka?

Tidak banyak yang dapat saya ceritakan mengenai detail kisahnya. Tapi barangkali beberapa kesan yang saya tangkap saat membacanya. Setiap keputusan hidup yang kita ambil, salah atau benarnya, pasti didasari oleh suatu perasaan yang dalam. Dan tugasmu bukan untuk menyesali atau menghakiminya. Kalau kamu berpegang teguh pada alasan dan tujuanmu, maka terimalah bagaimanapun ujungnya. Sebab kita memang bukan pihak yang punya kuasa atas segala sesuatu di luar kita.

Adapun cinta, barangkali seperti seekor burung manyar yang tak pernah memaksa. Atau seperti Verbruggen yang merelakan Marice untuk Brajabasuki. Mencintai tidak mesti memiliki. Tapi memang, tidak semua orang bisa serela itu. Tidak semua orang bisa seperti Setadewa. Barangkali, menjadi Atik muda yang pemberani lebih baik daripada semuanya.



“Setiap kami pulang dari kol istana, bertambahlah keyakinanku, bahwa tidak ada dunia yang leboh firdaus daripada anak kolong tangsi Magelang” (Halaman 9).

Teto suka kebebasan. Budaya penuh basa-basi jelas bukan Teto sekali. Rasa-rasanya bermain dengan anak-anak pribumi jauh lebih menyenangkan daripada beskap, inggah-inggih, atau jas Eropa dengan tampilan necis. Teto memang bangga sebagai anak kompeni. Tapi soal kebebasan, dia jauh lebih merdeka menjadi orang biasa.

Beberapa bagian kadang mengungkap bagaimana perasaan seorang ibu terhadap anak perempuannya. Segenting apapun situasi perang, bagi seorang ibu, perang batin tiada akhirnya. Apakah putrinya kelak akan dapat hidup dengan baik? Siapakah nanti yang meminang putri kesayangannya kelak? Tetapi sebagai perempuan, sedahsyat apapun pergolakan di batinnya, tetap saja senjata utamanya hanya doa.

“Jaman perang seperti tidak ada habisnya. Sudah tiga tahun Jepang berkuasa dan banyak orang berbincang tentang kemerdekaan Indonesia kelak di kemudian hari. Tetapi bagi setiap ibu yang menjadi pertanyaan pokok hanyalah: nasib atau lebih  tepat calon jodoh sang anak kelak di kemudian hari” (Halaman 44).

“Ah, semogalah selamat. Apa yang bisa diperbuat perempuan selain berdoa?” (Halaman 47).

“Semua tahu siapa yang ia maksudkan. Tetapi ayah-ibunya diam saja. Tidak semua yang diketahui harus juga dikatakan” (Halaman 53).

“Menurut tukang kebon itu, Mami sakit tifus. Dikubur ke mana? Tak ada sepasang mata melihatnya. Tapi dalam hatiku Aku kurang percaya tentang sakit tifus itu. Orang-orang negeri ini pandai mempermanis berita-berita pahit” (Halaman 62).

Rupanya, Teto sing pejuang KNIL pun pernah takut kalah sebelum berperang. Ya, peperangan dengan dirinya sendiri. Orang bilang, setiap manusia tumbuh dan lahir dengan otak yang luar biasa. Ia bekerja dengan sangat canggih, tapi ia mulai menjadi bodoh saat jatuh cinta.

“Dalam saat-saat seperti itu aku benar-benar kalah. Dengan segala logika dan kehaibatanku. Gadis satu ini bukan jenis ratu kecantikan, tetapi dalam saat-saat tertentu sungguh mempesona. Tetapi terus terang saja, aku takut jatuh cinta padanya. Sebab naluriku  berkata, aku akan kalah. Dan justru itu aku tidak mau” (Halaman 68).

“Kau boleh menembak aku sebagai mata-mata, tetapi memperolok-olok gadis satu itu kularang. Kularang!” (Halaman 83)

“Dan untuk pertama kali sesudah sekian tahun aku  mendengar angin yang menggerisik di antara bunga-bunga rumput jarum. Aku duduk lagi di tepi jalan. Merapi itu terus saja merokok. Dan Merbabu temannya (atau istrinya) diam saja. Merbabu itu sungguh betul babu. Bentuknya dan mentalnya. Negeri ini memang vulkan sifatnya. Semua onggokan itu masih bekerja sebetulnya. Hanya Merapi ini yang terang-terangan merokok tanpa mengingat sopan-santun adat Jawa, yang selalu pendiam serba diam dan diam. Simpatik dia Merapi. Tak tahu sopan santun. Kurangajar merokok acuh tak acuh. Hah! Persis aku!” (Halaman 149).

 


Martahati,

@kamarbacamar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[History #1] Hubungan Sriwijaya dan Mataram Kuno

Menjadi Guru SMA

Anak Sulungku: Catatan 20-an