[Read More Books #4] Hatta: Aku Datang Karena Sejarah
[Read More Books #4]
Hatta: Aku Datang
Karena Sejarah
A book by Sergius
Sutanto
Apa yang terbayang di benak
kamu ketika mendengar tentang sejarah? Tentang biografi tokoh? Apakah buku tebal yang terkesan membosankan?
Apakah tulisan-tulisan yang membuat mata cepat lelah saking banyaknya? Atau mungkin
cerita zaman dahulu yang sudah tidak update?
Biografi yang mungkin sering
kamu tonton dalam film-film dokumenter mungkin bagi sebagian orang lebih
menarik untuk disaksikan daripada buku-buku biografi yang mesti dibaca lembar
demi lembar. Ya sah-sah saja, toh kenyamanan setiap orang dalam menikmati
konten berbeda-beda.
Tapi buku biografi yang satu ini
menurut saya sangat menarik. Kenapa? Membaca buku biografi sang Bapak Koperasi
ini pembaca akan larut dalam alur cerita. Biografi Bung Hatta yang ditulis oleh
Sergius Sutanto ini dikemas dalam bentuk novel yang menggambarkan kehidupan
Bung Hatta semasa hidupnya. Membaca buku ini kita akan diajak lebih dekat
mengenal sosok Bung Hatta. Mulai dari masa kecil, masa sekolah, perjuangan
kemerdekaan, rumah tangga, hingga memasuki usia senja dituliskan dengan alur
yang menarik.
Bung Hatta, apa yang kita ketahui
tentang Bung Hatta? Pahlawan proklamator? Wakil presiden RI? Bapak koperasi?
Dwi Tunggal dengan Bung Karno? Pejuang kemerdekaan? Atau...sosok pahlawan yang
begitu mencintai buku? Rasanya kita tidak dapat memilih satu kata saja untuk
menggambarkan sosok Bung Hatta. Beliau dengan segala jasa dan
pikiran-pikirannya.
Novel biografi ini secara umum
terbagi dalam 51 bagian yang masing-masing menceritakan cerita yang berbeda.
Penulis menggunakan alur campuran yang dapat membantu pembaca lebih memahami
suatu cerita.
Bagian I
Sebuah Pengakuan_____________
Bagian ini merupakan prolog dari
keseluruhan cerita. Cerita dimulai dengan keputusan Bung Hatta untuk mundur
dari jabatan sebagai wakil presiden. Bung Hatta meletakkan kembali tugasnya
sebagai wakil presiden pada 1 Desember 1956. Keputusan yang sebenarnya telah
dipikirkan Bung Hatta sejak lama. Penulis menggambarkan kediaman Bung Hatta di
rumah baru yang terletak di Jalan Diponegoro 57 dan sekitarnya dengan menarik.
Pada bagian ini Bung Hatta
memandangi koleksi bukunya yang berjumlah ribuan. Mengenang bagaimana ia
mengumpulkan dan membaca para ‘sahabat’nya ini. Bung Hatta merenungi bagaimana
ia akhirnya memutuskan mundur dari jabatan wakil presiden. Sembari memandangi
ribuan buku di lantai dua, kilasan ingatan terlintas di benak.
“Ya,
aku kembali ke sini karena sebuah sejarah.” (Halaman 16)
“Buku-buku ini tidak untuk kuperjualbelikan. Dia
menjadi milikku selamanya. Ini buktinya. Mereka bertakhta dengan aman bersamaku
kini.” (Halaman 21)
“Penderitaan
seharusnya membukakan mata pada makna “kemanusiaan”. Tapi mengapa
orang-orang di Istana justru gemar menciptakan kesakitan pada rakyat banyak?
Lagi-lagi Hatta membatin.
Teori apa ini?
Di mana kau sekarang?
Datanglah segera, ada kopi panas.
Di lantai dua rumah ini, sekeliling mata memandang
melulu adalah buku. Hatta mencintai buku seperti penari gandrung irama lagu.
Dia menghargai buku bagai pujangga sunyi menyayang malam-malam panjang. Buku
adalah kawan setianya, kawan sepenanggungan yang menyimpan banyak rahasia dan
cerita. Sebagian alasan meninggalkan kemegahan Istana Merdeka pun, sesungguhnya
ada dalam ribuan buku di kamar ini. Bukan alasan emosional, karena buku-buku
ini telah mengajarkan banyak kebenaran. Kebenaran yang terasa menyakitkan bagi
mereka yang bergumul dalam penyelewengan.” (Halamam 23)
“Karena aku adalah manusia biasa.
Aku juga orang yang bisa berduka.”
(Halaman 26)
II
Bagian 2-7 Masa Kecil Bung Hatta (Sebelum Sekolah di Jawa)
Bung Hatta
lahir di Aur Tajungkang, Bukittinggi pada 12 Agustus 1902. Ibunya Siti
Saleha, sedangkan ayahanya Haji Muhammad Djamil dari Batuhampar. Akan tetapi,
Bung Hatta sudah ditinggal sang ayah sejak kecil. Ayahnya sudah meninggal dunia
saat Hatta kecil baru berusia delapan tahun. Oleh karena itulah, pengasuhan
Hatta yang utama oleh sang ibu dan kakeknya, Pak Gaek Ilyas Gelar Baginda
Marah. Selain itu, Bung Hatta juga memiliki seorang kakak perempuan bernama
Siti Rafi’ah.
Diceritakan bahwa
Hatta kecil bersekolah di Sekolah Rakyat mulai tahun 1908 bersama kakaknya. Baru dua tahun
bersekolah di SR, Hatta kecil dipindahkan ke ELS pada 1910, sekolah anak-anak
Belanda. Selain mengenyam pendidikan formal, Hatta kecil juga mengenyam
pendidikan non formal dengan mengaji di Surau Inyik Djambek, sebuah surau di
tengah sawah, tak jauh dari kediaman keluarganya. Sementara itu, pengasuhan
Hatta di tengah keluarganya digantikan oleh sang kakek, Pak Gaek yang tegas.
Hatta kecil setiap sore mendengarkan
sang kakek bercerita tentang apa saja, tentang kisah Nabi, akhlak, dan
nasehat-nasehat berharga yang membentuk karakter Bung Hatta kelak. Mulanya pada
tahun 1912, Pak Gaek akan turut serta membawa Hatta ke Mekkah untuk belajar
agama di sana. Usia Hatta yang saat itu baru sepuluh tahun membuat sang ibunda,
Siti Saleha berat melepaskan putranya belajar jauh ke negeri orang. Kontan
saja, Hatta kecil yang gagal berangkat ke Mekkah menjadi kecewa sebab impiannya
tertunda.
“Beri Hata
lima pilihan: rendang, laut, buku, sekolah, dan Mekkah. Maka dengan cepat dia
akan pilih yang terakhir, Mekkah. Itulah pilihan Hatta kecil, sebelum dia
mengenal sekolah.” (Halaman 27)
Setelah
keberangkatan sang kakek ke Mekkah, Hatta pindah sekolah di ELS Padang,
menamatkan sekolahnya di sana. Impian ke Mekkah seakan semakin jauh saja untuk
terwujud. Setelah menamatkan ELS di Padang, Hatta bersiap untuk pergi
melanjutkan pendidikan di Betawi sana. Akan tetapi, seperti sebelumnya, Hatta
kecil yang sedih tak jadi pergi ke Mekkah harus kembali merasakan hal yang
sama. Sang ibunda, Siti Saleha keberatan jika Hatta sekolah ke Betawi saat itu
dengan alasan Hatta masih terlalu kecil dan mengkhawatirkan pergaulan di
Betawi. Untuk kedua kalinya, Hatta kecil terpaksa menuruti perintah ibunya,
melanjutkan sekolah di MULO Padang.
Selama
bersekolah di Padang, Hatta kecil mulai belajar banyak hal. Kemandiriannya
terbentuk saat ia harus mengatur waktu untuk belajar dan berorganisasi.
Wawasannya pun semakin luas sebab bertemu banyak cendekiawan di kota itu. Hatta
semakin tercerahkan saat kedatangan Nazir Dt. Pamuntjak ke Padang sebagai
utusan Jong Sumatranen Bond pada pertengahan 1918. Pidato Nazir seolah
mendorong Hatta untuk terjun dalam Jong
Sumatranen Bond. Kemudian pada September 1918, Abdul Muis yang dikenal sebagai
salah satu anggota Volkstraad juga singgah di Padang. Uraian yang disampaikan
Abdul Muis menyadarkan Hatta tentang pentingnya nilai kebebasan.
“Semua orang punya kesukaan. Tapi kalau kesukaan
itu sudah melebihi takaran, itu hanya akan mencelakakan.” (Halaman 40,
nasehat Pak Gaek pada Hatta)
“Jangan takut
, teruslah berlatih. Indak ado gunung nan tinggi nan indak dapek didaki, indak
ado lurah nan dalam nan indak dapek
dituruni (Tidak ada gunung yang tinggi yang tidak dapat didaki, tidak ada
lembah yang dalam yang tidak dapat dituruni).” Hakaman 50)
“Terbayang wajah
ibunda saat itu, wajah sang pemerhati. Sebuah penyesalan menyergap.
Andai ini roman, dia tidak ingin menjadi Hanafie dalam Salah Asuhan-nya
Abdul Muis, yang menderita seumur hidup karena sebuah keputusan yang salah.
Yusuf lebih beruntung dalam Layar Terkembang. Hatta memilih menjadi Yusuf.
Itulah babak-babak kritis Hatta remaja. Tapi agaknya
dia lebih melihat ini sebagai sebuah godaan. Ya, godaan yang nyaris membelokkan
arah hidupnya.” (Halaman 66)
III
Bagian 8-10 (Selama Bung Hatta
belajar di Betawi)
Setelah
menamatkan MULO di Padang, Bung Hatta pergi belajar di tanah Jawa pada 1919.
Beliau bersekolah di PHS (Prin Hendrik School) sebuah sekolah menengah dagang. Diceritakan
suasana kota yang masih sangat lengang, trem listrik masih eksis. Bung Hatta
selama bersekolah di Betawi banyak menulis karangan di majalah Jong Sumatranen
Bond dengan nama pena Hindania. Tak hanya itu, seperti pelajar umumnya,
berkumpul bersama rekan-rekan, berdiskusi, bermain musik, dan membaca adalah
kegiatan sehari-hari. Salah satu bacaan wajib bagi mereka adalah karya Max
Havelaar, Saijah dan Adinda.
Selama
belajar di Betawi, Bung Hatta banyak belajar dari Engku Loyok, salah seorang
tetangganya yang mengidolakan tokoh tiga serangkai Douwes Dekker, dr. Tjipto
Mangoenkoesoemo, dan Soewardi Soerjaningrat. Empu Loyok sering berdiskusi
dengan Bung Hatta tentang politik, pergerakan, organisasi, dan tentunya tak
jauh dari bagaimana kolonisasi Belanda di negeri mereka.
Engku
Loyok melirik sekilas, “Coba Atta bayangkan. Mereka merayakan kemerdekaan
dengan dana dari tanah jajahan. Terlalu bukan?” (Halaman 79)
Pada
Februari 2020, Hatta dan kedua temannya Bahder Djohan dan Amir berkunjung ke
kediaman Haji Agus Salim. Satu malam yang berkesan bagi mereka ketika bisa
berdiskusi dengan seorang tokoh senior yang disegani. Saat itu H. Agus Salim
sudah berusia sekitar 30 tahunan, tetapi beliau dengan asyik mengobrol bersama
Hatta dan kawannya yang masih tergolong remaja. Obrolan malam itu rupanya
membekas di hati Hatta. Haji Agus Salim membicarakan tentang ummat, tentang
Sarekat Islam, dan juga hubungan Islam dengan sosialisme.
“Aku
baru membaca buku Pierson dan Quack. Belum lagi mempelajarinya.”
“Memang, membaca dan mempelajari adalah dua hal
yang berbeda,” kata H. Agus Salim. Bahder Djohan dan Amir asyik menyimak.
“Tetapi apa yang dibaca tak akan hilang begitu
saja dari kepala,” lanjut H. Agus Salim sambil mengambil gelas kopi-nya.
“Bahkan banyak yang menyangkut di otak sehingga bisa menjadi modal dasar untuk
memahami masalah hidup.” (Halaman 83)
“Sodorkan kembali padanya lima pilihan seperti yang
sudah-sudah: rendang, laut, buku, sekolah, dan Makkah. Maka kini dia akan
mengambil cepat satu pilihan lagi. Apalagi kalau bukan buku.” (Halaman
87)
IV
Bagian 11-22 (Selama Bung Hatta
belajar di negeri Belanda)
Setelah
tamat sekolah di Betawi, Bung Hatta
masuk Handels Hoge School di Rotterdam, Belanda. Selama belajar di
Belanda, Bung Hatta berkenalan dengan Indische Vereeniging (Perhimpunan
Indonesia). Perlahan beliau terus aktif di PI sebagai bendahara selama beberapa
periode. Pada 17 Januari 1926, Bung Hatta terpilih sebagai ketua Perhimpunan
Indonesia mewarisi kursi Iwa Koesoema Soemantri, Nazir Pamuntjak, dan Soekiman
Wirjosandjojo. Selain aktif berorganisasi, Hatta juga aktif menulis di majalah
perhimpunan serta koran-koran terbitan Hindia Belanda.
Bung Hatta
memiliki banyak teman selama belajar di
Belanda. Di antaranya Achmad Soebardjo, Ichsan, Mohammad Nazif, Soenarjo, Sutan
Syahrir, dan lain-lain. Mereka sering berkumpul di Kos Achmad Soebardjo untuk
berdiskusi.
Perjuangan
Bung Hatta dan kawan-kawan bukan main dalam berorganisasi. Begitu dilantik
menjadi ketua PI, Bung Hatta segera menggencarkan aksi propaganda luar negeri
di bidang politik. Tujuannya adalah mengenalkan nama “Indonesia” kepada dunia.
Beliau bekerja sama dengan para mahasiswa Asia dan alumni Sorborne University. Kemudian pada
Februari 1927, Hatta dan kawan-kawan turut hadir dalam sebuah kongres penting
“Kongres Menentang Imperialisme dan dan Penindasan Kolonial” di Brussel,
Belgia. Selanjutnya pada 10 September 1927, cakrawala pergaulan Bung Hatta dan
kawan-kawan terus berlanjut dengan kehadiran mereka dalam Liga Wanita
Internasional untuk Perdamaian dan Kemerdekaan. Pertemuan liga tersebut tidak
hanya mempertemukan Bung Hatta dengan Nehru, tetapi juga menaikkan pamor
“Indonesia” di mata dunia.
Perjuangan
para pelajar tentu tidak hanya seputar keberhasilan, diikuti pula pahitnya yang
mesti dikecap, resiko dari perjuangan itu sendiri. Pada 23 September 1927 di
pagi buta, dua orang polisi Kerajaan Belanda meringkus Bung Hatta di kamar
kostnya. Sejak hari itu pula, Bung Hatta mendiami Penjara Casuaristraat.
Penahanan Bung Hatta tersebut dilandasi tiga tuduhan yang dilayangkan pada Bung
Hatta: menjadi anggota perhimpunan terlarang, terlibat dalam pemberontakan, dan
penghasutan untuk menentang Kerajaan Belanda. Tiga rekan Bung Hatta yang juga
ikut ditahan adalah Nazir Pamuntjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul Majid Djojoadniningrat.
Sementara itu,
Mr. Duys seorang pengacara Belanda beserta Mr. Mobach, dan Miss Weber bersedia
membantu Bung Hatta untuk dapat bebas. Setitik keraguan timbul di benak.
Haruskah saya terima pertolongannya? Apakah ia nanti akan dicap kooperatif
dengan Belanda? Hari-hari yang sepi dilalui Bung Hatta, rasanya hampa tanpa
secangkir kopi hitam. Dari balik jeruji besi, Bung Hatta menitipkan pesan agar
Mr. Duys membawakan buku-buku karangan Kranenburg dan Krabbe serta set majalah
Indonesia Merdeka untuk menyusun pembelaannya.
“Dari
Sejarah Turki, aku mendapatkan contoh-contoh tentang berjuang atas ‘kesanggupan
tenaga sendiri’, dan dari perjuangan India aku mengambil pengaruh dan kekuatan
non-cooperation.” (Halaman 92)
Dia
menjabatku hangat tadi.
Persoalannya,
andai aku sendiri menyambut uluran tangan Mr. Duys, apa itu namanya?
Cooperation? Kerja sama? Terjadi perang di batin Hatta.
Tidak!
Demi Allah, aku akan tetap di jalur non-cooperation. Apa kata teman-teman
pergerakan di Hindia Belanda nanti. Sejarah buyut dan nenek moyang adalah sejarah
yang berdarah-darah. (Halaman 104)
“Kemanusiaan
tidak perlu diajarkan. Dia lahir karena simpati dan kebenaran: bahwa kebenaran
harus selalu diperjuangkan.” (Halaman 104)
“Apakah si
kulit hitam keluar sebagai pemenang dalam pergelutan itu, barulah dunia memperoleh wajah yang
baru. Perhubungan kolonial digantikan oleh masyarakat dunia, yang di dalamnya
hidup bangsa-bangsa merdeka dan berkedudukan sama. Barulah akan tercapai
‘persaudaraan segala bangsa’. Betapa juga disesalkan, hukum sejarah keras,
bahwa kebahagiaan manusia hanya dapat dicapai dengan menuangkan darah dan air
mata.” (Kutipan dari Majalah Indonesia Merdeka, novel halaman 111)
“Perjuangan
itu,” Amir bergaya laiknya pemimpin pergerakan,”adalah sebuah
pemberontakan yang intelek dan cerdas.” (Halaman 112)
Di balik
jeruji besi yang dingin, Hatta muda merindukan kopi hitam, kawannya
sehari-hari. Belenggu sepi di penjara benar-benar bisa menggelapkan mata.
Tapi...
“Tiga
bulan, cukup waktu untuk menumbuhkan benih kegilaan. Tapi syukurlah, aku
tidak memeliharanya karena aku mencintai hidup.” (Halaman 123)
“Bahwa
penjajahan Belanda akan berakhir, bagi saya itu pasti. Itu hanya soal waktu dan
bukan soal ya atau tidak. Janganlah Nederland bersugesti bahwa penjajahannya
akan langgeng sampai akhir zaman, “ tegas Hatta. (Halaman 125)
Memasuki bulan
keempat dari sunyinya Casuaristraat, Mr. Duys mengunjungi Hatta dengan sebuah
kabar, persidangan Bung Hatta dan kawan-kawan akan akan dilangsungkan Maret
1928. Berbulan-bulan berikutnya, Bung Hatta mempersiapkan pembelaannya. Sidang
berlangsung alot dengan tiga tahap, tanggal 8, 9, dan puncaknya pada 22 Maret
1928, Bung Hatta dan ketiga rekannya dinyatakan bebas dari segala tuduhan.
Pergilah
segala ego diri
Pergilah
kepada ombak berbuih
Tak
kuhitung duka di hati
Karena
telah lumatlah cintaku pada negeri
(Halaman
151
“Kami bukan pemberontak, kami adalah pejuang.”
(Halaman 155)
V
Bagian 23-25 (Pulang ke tanah air
hingga penjara Glodok)
VI
Bagian 26-29 (Digul)
VII
Bagian 30-33 (Banda Neira)
VIII
Bagian 34-41 (Menjelang
Proklamasi)
IX
Bagian 42-43 (Inikah
Kemerdekaan?)
X
Bagian 45-51 (Keluarga dan
Negeri)

Komentar
Posting Komentar