[Read More Books #6] Yellow Autumn-A Novel by Isnaini S. Ibiz
[Read More Books#6]
Yellow
Autumn
A
book by Isnaini S. Ibiz
“Karena
cinta itu seharusnya diawali dengan kata tumbuh, bukan jatuh. Jika jatuh,
cintanya bisa saja hidup di sembarang tempat. Setan pasti akan terus
menggodanya untuk melakukan hal-hal yang dilarang Allah. Lain kalau cinta itu
tumbuh di lahan yang semestinya, dia pasti akan tumbuh melebat dengan
daun-daunnya yang hijau serta kelak akan menghasilkan buah-buah yang ranum
karena sang pemilik selalu merawatnya dengan baik.” (Halaman 266)
Kali ini yang
akan kita bahas adalah sebuah novel. Hehe tenang saja, saya sudah cukup usia,
lagipula genrenya bukan yang ‘ke mana-mana’. Tulisan ini request dari seorang
teman yang menyarankan tulisanku di sini biar lebih berwarna, bukan hanya soal
hidup, refleksi, sejarah, dan keseharian belaka tapi juga soal cinta. Hey it’s
not about lovey dovey okay?
Perihal tema
yang satu ini, saya juga bingung mau bercerita tentang apa. Jadi saya kira
novel ini pas sekali untuk bahas tema ini. Berbicara tentang novel, mungkin
saya memang tidak (atau belum) membaca novel-novel popular seperti karya Tere
Liye, Asma Nadia, Dee Lestari, dan lain-lain. Sebab memang biasanya novel yang
saya baca hanya seputar genre tertentu saja. Bukankah tak apa? Soal selera
setiap orang berbeda. Lalu kenapa novel ini yang saya tulis reviewnya? Yang
jelas, novel ini bukan tentang
percintaan masa SMA, bukan pula tentang istri yang dimadu suaminya.
Singkat cerita, saya mengikuti novel ini sejak masih di platform orange. Penulisnya
memang sering membuat cerita bertema Islami, jadi cukup sering saya ikuti.
Novel karya
Isnaini S. Ibiz ini merupakan karya kedua dari sang penulis. Dengan sampul
bernuansa kuning, mengambil latar cerita di Universitas Sebelas Maret di
Surakarta sana. Ini salah satu alasan novel ini nyaman dibaca, latar kampus
yang familiar di benak saya (Ngomong-ngomong, saya belum menemukan novel yang
latarnya di kampus tercinta, Unnes Indonesia, kalau ada boleh koment ya, atau
mungkin ini bisa jadi ide cerita buat kamu yang suka menulis cerita). Alur
cerita disajikan secara menarik, manis tetapi masih aman untuk dibaca di rentang usia saya. Penulis berhasil
menampilkan bacaan yang menarik, juga diselipkan nilai-nilai Islami.
Tokoh-tokoh dalam novel ini pun realistis, manusia punya kesalahan tentunya,
bukan sempurna segala-galanya. Satu lagi yang saya suka, happy ending pastinya.
Novel ini tentang apa sih? Namanya Vania, mahasiswi
pertanian di UNS. Kemudian Raka Bumi Aditya, suami Vania sang aktivis dakwah
kampus. Sudah ya? Saya tidak ingin bercerita banyak soal alurnya hehe, kamu
baca sendiri saja (Wah jahat nian saya). Di postingan ini saya hanya akan
menuliskan beberapa pesan yang saya simpulkan setelah membaca novel ini. Kenapa
tidak saya tulis secara jelas alurnya? (Biar kalian penasaran, hehe bercanda)
Mungkin teman-teman yang akrab dengan saya sudah paham, saya jadi tidak nyaman
kalau ketahuan baca novel, kalau subgenrenya roman begini. Jadi, silahkan
dibaca saja ya pesan-pesannya di bawah ini, siapa tahu saya kepleset nulis
alurnya meski sedikit. Sudah ya intro kepanjangannya, selamat membaca.
Yellow
Autumn: Memunguti Cinta di Sepanjang Jalan Ingatan
Sebuah
Dilema: Pilih Mana? Pilihan Sendiri Atau Pilihan Orang Tua?
Rahmawati mendesah kasar. “Kenapa
harus ke Solo, sih? Kita, kan, nggak punya saudara atau kerabat yang tinggal di
sana.”
Vania mengingat percakapan sebelum
makan tadi . Ibunya masih berkeras tak mengizinkannya.
“Pap, kasih tahu Vania, pokoknya,
Mama tetap nggak setuju dia kuliah di Solo.” (Halaman 6
Ketika
mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, Vania diam-diam memilih UNS sebagai
pilihannya, bukan saja di pilihan pertama tapi juga pilihan kedua. UNS, kampus
hijau yang berada di Solo itu diam-diam Vania idamkan. Sang mama yang tidak
tahu anaknya memilih UNS sebagai kampusnya selama 4 tahun ke depan tentu
khawatir. Solo? Jauh sekali dari Jakarta. Mengapa putrinya memilih kampus
sejauh itu padahal banyak kampus serupa yang terdapat di Jakarta? Diam-diam
Vania menyimpan sebuah alasan: mengapa harus kampus itu. Sementara sang mama
yang mengkhawatirkan putri semata wayangnya jauh di kota orang, melarang dengan
keras keinginan putrinya untuk melanjutkan kuliah di Solo sebab tak ada saudara
di sana.
Dilema
semacam ini mungkin sering kita dengar atau mungkin pernah kita alami. Ketika
anak ingin jauh merantau melanjutkan kuliah di kota orang, namun orang tua yang
melarang dengan alasan kekhawatiran. Sebenarnya saya rasa wajar saja orang tua
khawatir dengan anaknya yang akan merantau di kota orang. Dalam novel ini
diceritakan kedua orang tua Vania yang baru diberikan kesempatan mendapat
momongan di tahun kedelapan pernikahan. Pantas saja Vania sangat disayang oleh
kedua orang tuanya. Tak ingin terjadi apa-apa pada sang anak, Rahmawati, ibu
Vania melarang Vania berkuliah di Solo. Dalam kehidupan nyata, seperti
Rahmawati, ibu-ibu pada umumnya akan lebih senang jika anaknya selalu dekat
dengan orang tua. “Kuliah di sini aja yang dekat. Ngapain kamu kuliah jauh-jauh
di sana?” Bukan hal mudah untuk melepas anak gadis merantau jauh dari orang
tua. Kekhawatiran apakah sang anak akan makan dengan baik di sana? Khawatir
anaknya tak ada yang menjaga di perantauan sana. Lalu apa yang mesti kita
lakukan dalam dilema semacam ini?
Di kota itu, dia akan belajar hidup
mandiri.
Di kota itu, dia bisa melihat
bagaimana mahkota bunga angsana terlepas dari tangkainya, lalu meliuk bersama
angin.
Pun jauh dari lubuk hatinya, ada
satu alasan mengapa dia menginginkan Solo sebagai kota tujuannya. (Halaman 8)
Sebagai
anak, kita mesti memahami keinginan orang tua, tapi di sisi lain, kita ingin
mencari pengalaman baru, lingkungan baru yang membuat kita berkembang. Satu
kesalahan Vania mungkin adalah tidak mengomunikasikan keinginannya sejak
jauh-jauh hari. Mungkin keadaannya akan berbeda ketika kita merayu orang tua
sejak jauh hari, menyampaikan keinginan kita, beserta alasannya. Ya meskipun
pada akhirnya senjata terakhir adalah, “ Ma, aku sudah lolos loh di kampus ini,
sayang kalau dilewatkan.” Orang tua bisa apa? Jadi, sebelum dilema itu
menghampiri, katakan, sampaikan keinginanmu, rencana hidupmu pada mereka.
Tunjukkan bahwa kamu bersungguh-sungguh dengan pilihanmu. Perkara kuliah di
mana, jurusan apa, dan sebagainya saya rasa adalah topik serius yang mesti
dipikirkan matang-matang. Tapi, tidak selamanya pilihanmu adalah yang terbaik
sebagaimana tidak selamanya pilihan orang tua itu buruk.
Pada
akhirnya, Rahmawati mengizinkan putrinya kuliah di Solo sebab ada Raka, teman
kecil Vania yang juga sedang menempuh perkuliahan di kampus yang sama. Berbeda
dengan sang ayah yang sejak awal mendukung pilihan Vania.
Setiawan mengangguk kecil. “Itu
sudah jadi pilihan kamu. Papa hanya
mendukung pilihan yang kamu mau ngejalaninnya dengan senang.” (Halaman 7)
Rahmawati hanya diam. Dulu, Vania
bersahabat dekat dengan Raka. Mereka sekolah di sekolah yang sama. Dia ingat
Raka anak yang baik dan ramah, selalu menjaga Vania. Mengingat itu, sedikit
melegakannya.
Setidaknya, dia tidak perlu khawatir
karena ada Raka yang kuliah di kampus yang sama dengan Vania. Putrinya itu
tidak akan merasa sendirian melewati masa-masa awal kuliah di kota yang masih
asing baginya. Jika Vania butuh bantuan, ada seseorang yang akan membantunya.
(Halaman 9)
Menantu
Idaman?
“Kalau sedang pulang ke Semarang,
Raka selalu azan di masjid seberang jalan itu,” terang ayah Raka setelah
laki-laki itu keluar dari pintu gerbang.
“Wah... bagus, dong. Aku lihat
Raka juga lebih religius. Mantu idaman banget itu,” seloroh ayah Vania
tiba-tiba. Mereka kontan tertawa bersama.
Seharusnya, selorohan itu membuat
hangat hatinya. Namun, yang Vania rasakan sekarang justru sebaliknya.
Kenyataannya tadi mengingatkan dia di mana posisinya kini.
Suara azan yang menggema dari masjid
di seberang jalan seolah memperjelas; ada tabir pemisah antara dia dan
laki-laki itu. (Halaman 14)
Entah
kenapa, Vania merasakan jarak itu. Sahabat semasa kecilnya kini telah
berhijrah. Semakin religius, tapi entah mengapa terlalu dingin, seperti bukan
sahabatnya dulu. Ayahnya bahkan mengatakan Raka menantu idaman. Menantu idaman?
Dia iya, tapi dirinya? Serasa remah-remah biskuit di dasar toples belaka.
Mungkin
bagi sebagian orang, mereka yang sudah hijrah seolah berubah menjadi sosok yang
dingin. Padahal mereka hanya berusaha untuk menjaga diri dan pandangan,
memahami batasan.
Yang
Tak Halal: Jangan
Laki-laki itu menautkan jemarinya
di atas meja. “Sebenarnya, saya nggak masalah kalau Om Awan dama Tante Rahma
minta saya jagain Vania.” Dia menghela napasnya. “Tapi, masalahnya, saya sama
Vania itu bukan mahram. Kalau saya sering terlihat bersama dia, bukankah nanti
akan timbul fitnah? Apalagi, saya aktivis di kampus, bagaimana kalau mereka
menganggap kami ada apa-apa? Saya harap, Om Awan sama Tante Rahma termasuk Ayah
dan Ibu bisa paham dengan yang saya ungkapkan ini.” (Halaman 16)
Sebagai
muslim, kita mesti memahami batasan antara laki-laki dan perempuan. Bukan
bermaksud tidak ingin membantu, Raka hanya berusaha agar ia dan Vania tidak
terjebak dalam fitnah. Jangan beri ruang bagi setan untuk menggoda, jangan beri kesempatan. Sekali tidak maka tidak.
Sungguh, aturan Allah adalah benar-benar untuk kebaikan kita sendiri. Maka yang
tak halal jangan kau dekati.
Tak
perlu beralasan, “Kami nggak ngapa-ngapain kok.” Iya, oke, kamu mungkin tidak
melakukan apa-apa, tapi setan itu pandai melihat celah, sekecil apapun itu.
Maka jangan beri kesempatan setan untuk masuk dan menggoda. Tak ada alasan
apalagi pembenaran, jagalah batasan.
“Dalam sebuah hadis shahih bahkan
dijelaskan, lebih baik ditusuk jarum besi di atas kepalanya ketimbang
bersentuhan sama perempuan yang nggak halal baginya.”
...
“Mungkin pas awal-awal memang nggak
mudah. Apalagi kalau kita hidup di lingkungan yang belum banyak paham soal itu.
Tapi, sebenarnya adanya batasan pergaulan dalam Islam itu justru untuk menjaga
kehormatan kita.” (Halaman 71)
Tak
Ada Jalan Lain yang Halal Selain Pernikahan
Raka berhenti sejenak. Dia kembali
menghela napas panjang. “Jadi...” Dia menatap Setiawan, tepat di pupil matanya.
“Bolehkah... saya menikahi putri Om?” (Halaman 20)
Demi
kebaikan bersama, satu solusi yang Raka pikirkan, semakin ia pikirkan terasa
semakin bulat dan benar keputusannya. Menikahi Vania. Sebab memang tak ada
jalan lain yang halal selain pernikahan. Tidak ada pembenaran untuk apapun
komitmen di luar pernikahan. Raka memahami betul bagaimana Islam menuntun
umatnya.
Bukankah
semua komitmen selain pernikahan adalah palsu dan semu? Jadi untuk apa
buang-buang waktu dengan sesuatu yang semu? Tak ada yang bisa menghalalkan
hubungan antara laki-laki dan perempuan selain menikah.
Membimbing
dan Dibimbing
“Aku janji, akan belajar. Tapi,
kan, nggak bisa langsung berubah gitu aja.” Dia menelan ludah sejenak. “Apa...
kamu bakalan sabar ngebimbing aku?”
...
“Sudah jadi kewajiban saya sebagai
suami untuk mendidik istri. Berubah bukan karena Allah, apalagi karena
paksaan itu akibatnya tidak akan bagus.”
(Halaman 29)
Perkara
belajar adalah kewajiban bersama, bukan hanya dibebankan pada satu pihak saja.
Bukan hanya istri yang mesti belajar untuk bisa mendidik anak, tapi juga suami
yang punya kewajiban untuk mendidik keluarganya. Jadi, sama-sama belajar.
Nobody’s
Perfect
“Lantai yang ada di bagian
sudut-sudut ini masih kotor. Yang di bawah kursi sama meja juga masih kotor.
Bagian ini kamu sapu nggak, sih?” komentar Raka saat dia mengambil kain pel dan
ember berisi cairan pembersih lantai. (Halaman 68)
“Kok bajunya masih kusut?” tunjuk
Raka pada baju yang ditata paling atas. (Halaman 71)
Tidak
ada manusia yang sempurna, sebagaimana kamu, pasanganmu juga tidak sempurna.
Jangan cari yang sempurna. Pertama, sebab kalau ia sempurna maka ia tak butuh
kamu karena sudah sempurna. Kedua, sebab yang sempurna itu tidak ada.
Tidak
Ada Kata Terlambat Untuk Belajar
“Maaf, Dik. Bukannya saya merasa
aneh. Saya memang sedikit terkejut, tapi jujur, saya takjub sama Adik yang
nggak segan belajar Iqra saat sudah kuliah seperti ini. Buat saya, itu luar
biasa karena nggak ada kata terlambat untuk belajar,” terang perempuan itu
sembari menyunggingkan senyum.
Jangan
malu untuk belajar, better late than never. Membaca Al-Qur’an adalah kewajiban
muslim, bagaimana membacanya dengan baik dan benar kita mesti terus belajar.
Menutup
Aurat Itu Kewajiban, Bukan Pilihan
“Tapi..., saya belum siap,
Ukh. Masih banyak sikap saya yang harus dibenahi,” ujar Vania lirih.
Mahira mengangguk paham. “Dulu, saya juga
berpikir seperti itu, Dik. Tapi, teman saya ini berusaha meyakinkan bahwa
dengan berjilbablah kita bisa menjadikannya cermin untuk menata diri.”
Vania terpekur mendengarkan.
“Misalnya saja begini, saat
kita khilaf melakukan keburukan, kita langsung teringat sama jilbab kita. Saat
itu juga, kita berusaha untuk nggak mengulanginya lagi. Dengan begitu, ke depannya
kita akan terus memperbaiki diri.” (Halaman 83)
Cantikmu
berharga, maka jagalah ia. Kalau menunggu kita jadi orang baik dulu sampai kapan
akan menunda kewajiban menutup aurat? Berjilbab itu kewajiban, akhlak itu diusahakan.
Hidayah tidak serta merta datang sendirinya, tapi harus dijemput oleh kita.
“Gue juga speechless, Van. Waktu
ustaz yang ngisi kajian itu nyeritain soal perempuan-perempuan Anshar. Setelah
ayat tentang kewajiban berjilbab turun, mereka cepat-cepat nyari hijab, bahkan sampai ada yang ngerobek
gorden rumah buat dijadiin hijab.” (Halaman 240)
....
“Lo pasti mikir, kenapa nggak
ngejilbabin hati dulu sebelum benar-benar berjilbab? Padahal, sikap gue masih
kayak gini. Mulut gue juga suka ceplas-ceplos.” Sevi seakan mengerti dengan yang
ada dalam pikiran Vania. “Kalau nunggu gue bisa baik dulu, sampai kapan, Van?
Gue berharap dengan pakai jilbab, bakalan jadi pengingat gue biar nggak sampai
ngelakuin yang dilarang Allah. Gue bakalan berusaha jadi orang yang lebih baik
dari sebelumnya.” (Halaman 241)
....
Benar. Jika dia berniat menjilbabi
hati dulu, sampai kapan dia akan merasa hatinya telah terjilbabi? Jika menunggu
hingga dia menjadi orang baik dulu, apakah akan jadi jaminan jika besok dia
akan selalu berbuat baik? Bukankah manusia memang tidak pernah luput dari dosa
dan lupa? (Halaman 242)
Bukankah
kita mesti bersyukur, hidup di masa sekarang, jilbab dengan mudah ditemukan,
banyak pilihan, dan tentu saja lebih leluasa untuk kita kenakan. Bercermin dari
para wanita Anshar yang Sami’na Wa Atho’na. Apakah alasan untuk menunda
berjilbab dengan dalih menjilbabi hati dulu benar-benar alasan kuat? Atau sekedar
pembenaran belaka? Ingat bahwa waktu terus berjalan, jangan sampai kita
terlambat menyadari kewajiban. Sampai kapan hendak menunda menutup aurat?
Apakah ada jaminan kita masih hidup besok? Ah, tidak, satu jam lagi apakah ada
jaminan kita masih hidup? Sayangi diri dan ayahmu dengan menutup auratmu. Cantikmu
berharga, alangkah indah, terlalu berharga untuk diumbar begitu saja. Semoga
yang sudah berjilbab diberi keistiqamahan dan yang belum segera dibukakan hatinya.
Menikah:
Bukan Happily Ever After
Vania dengan overthinkingnya dan
perasaan tidak percaya diri mendengar kabar dulu Raka sempat berniat melamar
Mahira serasa menggores hatinya. Bahkan mungkin alasan Raka hijrah dan bergabung
dengan rohis adalah perempuan salihah itu, Ukh Mahira. Ya, itu semua hanya
prasangka Vania. Apakah suaminya itu terpaksa menikahinya?
“Mas Raka berhak ngedapetin
yang terbaik. Aku nggak mau bebanin Mas Raka sama kelabilanku. Pasti tanggung
jawab Mas Raka sebagai suami sangat berat sekali karena punya istri kayak aku.
Cuma sekadar ngejalanin kewajiban nutup aurat aja aku masih mikir panjang.
Padahal, Mas Raka udah banyak ngasih tahu aku soal kewajiban berjilbab.”
(Halaman 224)
Tidak semua jalan lurus dan mulus,
mungkin begitu juga dengan pernikahan. Aral melintang akan menghadang di tengah
jalan. Maka bicarakan baik-baik, jauhi prasangka. Perempuan dengan over
thinkingnya. Laki-laki dengan diamnya. Tinggal mana yang bisa mengesampingkan
ego.
Permasalahan yang mungkin juga
sering terjadi, mertua vs menantu. Dalam novel ini, Raka merasa bersalah pada
mertuanya yang sudah mempercayainya. Salah paham karena Vania yang mengaku sudah
memiliki SIM padahal belum. Jadi, selama ini Raka membiarkan Vania mengemudi
tanpa SIM. Suatu hal yang kelak menjadi pembahasan pelik oleh mertuanya.
“Karena menikah itu bukan soal aku
atau kamu, melainkan sudah menjadi kita. Apa pun yang terjadi sekarang atau
nanti, mari kita hadapi bersama.” (Halaman 305)
Tabayyun
Raka masih duduk di sofa. Matanya menatap lurus
ke arah Vania. Ada sorot mata kecewa di balik manik hitam itu. Embusan napas
panjang keluar dari mulutnya. “Bukankah sudah saya bilang? Sepertinya kamu cuma
berasumsi sendiri. Belum tentu yang dikatakan orang lain itu benar. Kenapa kamu
malah memutuskan sepihak?” (Halaman 225)
Tabayyun
atau klarifikasi ini penting sebelum kita menyimpulkan sesuatu. Validitas
sebuah informasi yang kita terima mesti ditelusuri kebenarannya. Jauhi prasangka.
Belum tentu apa yang dikatakan orang lain itu benar.
Zaki berdeham. “Begini, Akh. Ana mau tabayyun sama antum. Ana nggak mau
su’udzon, makanya ana milih tabayyun.” Laki-laki itu menjeda sejenak. “Beberapa
teman melihat Akh Raka bersama perempuan adik tingkat. Ada yang melihat saat Akh Raka turun dari mobil, ada yang
melihat saat Akh Raka bicara berdua. Apakah adik tingkat itu saudara Akh Raka?
(Halaman 255)
Aktivis
Dakwah Kampus
Bukan
hal yang mudah bergabung dalam Lembaga Dakwah Kampus. Ada kewajiban yang mesti dijalankan. Ada
batasan yang mesti dijaga. Ada citra lembaga yang mesti dijaga, serta teladan
yang mesti diberikan. Tapi LDK bagi saya adalah keluarga yang hangat. Mereka yang
mengayomi dan selalu peduli. Lingkungan yang baik In Syaa Allah akan menuntun
kita pada kebaikan. Sebagaimana Raka yang awalnya muslim biasa, tapi setelah
bergabung dengan Lembaga Dakwah Fakultas Pertanian ia semakin mantap untuk
berhijrah.
Stigma
anak soleh yang mungkin melekat bagi aktivis dakwah sebenarnya menurut saya pribadi
adalah predikat yang cukup berat. Ketika diri sendiri juga bukan sosok yang
luput dari dosa, sementara di luar sana orang memandang anak LDK sebagai seorang
salih dan salihah. Seperti alasan Vania yang memilih menyembunyikan status
pernikahannya dengan Raka sebab merasa tidak pantas, dirinya yang belum
berjilbab bersuamikan Raka, aktivis dakwah kampus yang digadang-gadang menjadi the
next ketua LDK fakultasnya. Mungkin Vania merasa bahwa dirinya tidak ingin
mempermalukan suaminya dengan menikahi perempuan yang belum berjilbab seperti
dirinya, apa kata teman-teman LDK suaminya jika mengetahui kenyataannya.
Kemudian
pandangan tentang aktivis dakwah kampus
yang pendiam, sulit didekati, dan terkesan eksklusif terhadap yang bukan
aktivis dakwah. Padahal saya kira menjaga batasan bukan berarti anak LDK tertutup
dan asing dengan yang non LDK. Akhwat LDK yang selalu saya temui di sekitar saya adalah ramah, bersahabat, dan
merangkul bukan saja kepada yang sudah berjilbab tetapi sesama perempuan. Mungkin
seperti Ukh Mahira yang lembut dan keibuan pada adik tingkatnya.
Makhluk
Bernama Perempuan
“Mas, tahu bros mutiaraku itu
nggak?” tanya Vania sembari mengacak-acak laci riasnya.
“Biasanya kamu taruh di situ, kan?”
Raka malah balik bertanya.
“Iya, tapi kucari di sini nggak
ada.”
...
“Pakai bros lain kan bisa, Dek,” saran
Raka seraya melongok ke dalam laci.
“Tapi, kerudungnya cocoknya pakai
itu, Mas.” Vania masih belum menyerah.
“Kalau gitu kerudungnya bisa diganti
yang lain, kan? Pakai yang warna biru malah senada sama gamisnya Adek.”
“Aku nggak suka kalau pakai kerudung
yang senada gitu, Mas.”
Raka hanya menghela napas panjang.
Urusan jilbab saja bisa memicu perdebatan jika tidak ada yang mengalah.
(Halaman 311)
Ini
kerudungnya harus matching sama gamisnya. Ini ciputnya mesti senada sama
kerudungnya. Ini brosnya mesti pas sama jilbabnya. Ini warna pentulnya ngga
boleh yang terlalu mencolok karena warna jilbabnya sudah cerah. Ini gamisnya terlalu
cerah untuk dipakai kuliah. Hari ini
acaranya open donasi di outdoor, berarti usahakan pakai gamis yang simpel,
jangan pakai pasmina. Bla bla bla. Perempuan.
Ya,
perempuan dengan segala.....-nya. Hihi.
Mengapa
Kamu Memilih Jatuh Padalah Bisa Memilih Tumbuh?
“Kamu pasti tahu QS Ar-Ruum Ayat
21, kan? Allah akan menumbuhkan rasa kasih dan sayang dalam pernikahan. Karena
cinta itu seharusnya diawali dengan kata tumbuh, bukan jatuh. Jika jatuh,
cintanya bisa hidup di sembarang tempat. Setan pasti akan terus menggodanya
untuk melakukan hal-hal yang dilarang Allah. Lain kalau cinta itu tumbuh di
lahan yang semestinya, dia pasti akan tumbuh melebat dengan daun-daunnya yang
hijau serta kelak akan menghasilkan buah-buah yang ranum karena sang pemilik
selalu merawatnya dengan baik.” (Halaman 266)
Jadi, ini soal pilihanmu, membiarkan ia jatuh
di sembarang tempat dan tak terawat atau menunggu untuk tumbuh di lahan yang
tepat hingga bersemi dengan lebat?
Mengapa
kamu memilih jatuh, padahal bisa memilih tumbuh? Jatuh di sembarang tempat,
kalau bibitnya rusak dimakan hama baru menyesal. Berbeda ketika bibit itu tumbuh
di lahan yang tepat, ia akan dirawat dengan baik, lalu bersemi dengan indah.
Sebab
cinta adalah sebutir permata yang tak bisa kau sebarkan begitu saja seperti
sebutir debu.
Bagaimana
mungkin kamu mencari ‘produk original’ di toko ‘KW’?
Untuk
apa kamu menghabiskan waktu dengan sesuatu yang semu? Bukankah lebih baik
menunggu sesuatu yang sejati?
Bukankah
sia-sia, menghabiskan waktu dengan ‘yang palsu’. Buang-buang uang, buang-buang
rasa, berdosa, dan buang-buang waktu. Banyak ruginya tau? Belum tentu yang
palsu itu benar-benar jadi pendamping hidupmu.
Sesuatu
yang halal hanya akan diperoleh melalui jalan yang halal pula.
Sebab
diri ini berharga, maka jagalah ia.
Ibiz,
Isnaini. 2020. Yellow Autumn. Depok: SigiKata
Bumiayu,
5 Februari 2021


Komentar
Posting Komentar