[Read More Books #5] Pancarona: Warna-Warni di Balik Corona

[Read More Books #5] 



PANCARONA

(Warna-warni di Balik Corona)







----------------------------------

 Halo, readers. Intro dulu sebelum melanjutkan membaca. Jadi, sebenarnya Pancarona ini adalah naskah yang dimuat dalam buku Kisah Inspiratif Mahasiswa (Selama Pandemi COVID-19). Buku antologi ini adalah kumpulan cerita dari mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas  Negeri Semarang selama pandemi. Kisah selama #dirumahaja ini berhasil terkumpul dalam event lomba Menulis Kisah Inspiratif tingkat fakultas. Isinya apa? Rupa-rupa, ada yang sedih karena KKN ambyar, ada yang lelah dengan perkuliahan tanpa tatap muka, ada yang senang karena semakin produktif saja. Harapannya dengan kisah yang tertuang dalam buku ini bisa menjadi bahan renungan atau refleksi bagi kita dalam menyikapi kehidupan new normal.

 

Adapun Pancarona adalah naskah yang saya ikutsertakan dalam event ini. Sedikit cerita, Pancarona sebenarnya adalah kumpulan catatan harian saya selama #dirumahaja. Serius ini diary kamu? Hehe iya, tapi sudah diedit sana sini pula. Versi yang ada di postingan ini 90% sama dengan yang di buku, tapi beberapa bagian tidak saya tampilkan di sini, hehe biar saya simpan sendiri. Sebenarnya Pancarona di buku ini adalah versi kedua dari versi aslinya. Lho banyak amat versinya? Hehe sudahlah yang penting yang ini  bisa dibaca dan bermakna. Versi aslinya tidak dipublikasikan karena privasi hehe (Hayo cerita apa nih di versi aslinya? Ssstt). Versi aslinya biar saya simpan sendiri saja ya pembaca ^_^

 

Pancarona, judulnya saya ambil acak sebenarnya, ternyata pas sama Corona, ya sudah dipilihlah judul ini. Pancarona, beraneka warna. Awalnya dari curhatan selama #dirumahaja, jadilah naskah ini. Alhamdulilah berkah #dirumahaja. Baiklah, selamat membaca.


--------------------------------------

Pancarona

[pan-ca-ro-na] • Indonesia

kbbi (n . ) beraneka warna

 

Prolog

Suatu hari di sebuah desa.

“Kha, kamu pulang kapan? Kok Ibu baru tahu yah?”

"Loh balik kapan nok?"

"Lagi ning umah nok?"

Perasaan udah lama deh aku di rumah

End of Prolog

          Sebenarnya ada banyak pertanyaan serupa yang sering kudengar akhir-akhir ini. “Kok pulang ke rumah?”, “Nggak kuliah? Eh kamu lagi liburan?”, “Pulang kapan Kha? Kok baru ketemu?”. Kira-kira seperti itu pertanyaan yang sering kudengar akhir-akhir ini. Banyak hal terjadi, hari-hari berlalu, dan banyak yang ingin kuceritakan padamu. Jadi, Mar’a maukah kamu mendengar cerita dari lembar-lembar catatanku? Cerita ini kutulis untukmu sebagai pengingat dari masa lalu. Bukankah masa lalu adalah pembelajaran berharga bagimu? Kelak ketika kamu membaca ini, semoga kamu lebih bijak dari hari ini.

 

......................................................................................................................................................                                                                                           

                                                         Catatan Pertama-Senandika

 

(Catatan ini terkunci)

........

........  

                                                                                 Always pray, keep healthy

OK Dear?

 

Ditulis di  Bumiayu

Rabu, 1 April 2020

 

Senandika

[se.nan.di.ka] Sansekerta

kbbi (n.) A monologue

 

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

 

Aku tersenyum mengingatnya. Sudah lama rupanya. Sekarang bahkan aku sudah masuk semester tiga. Catatan yang peratama kuberi judul Senandika, aku benar-benar menulisnya saat bosan melanda. Karena bosan, bingung mau apa, jadilah iseng menulis saja. Berbicara sendiri mungkin menurutmu seperti orang gila. Catatan ini kutulis beberapa bulan lalu, April 2020 saat aku bahkan baru menginjak semester dua. Tapi saat itu ada yang berbeda dari biasanya. Aku tak datang ke kampus untuk mengikuti perkuliahan. Tidak pula pergi ke perpustakaan. Bahkan tidak pula berada di Semarang. Bolos kuliah? Oh tidak, aku bukan sedang bolos kuliah. Aku memang di rumah. Ya, #dirumahaja. Bukan hanya aku, orang-orang pun berusaha untuk tidak keluar rumah. Memangnya ada bencana apa di luar sana? Bukan banjir, bukan tsunami, bukan pula gunung meletus. Lalu alasan apa kami tetap tinggal #dirumahaja?

Jika kamu ingin tahu, kuharap kamu masih setia membaca tulisanku.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

                                                Catatan Kedua – Eunoia

 

Halo, Mar’atus di sini.

Tertanggal 7 April 2020.

                                                                                         

Sudah lama rasanya aku tidak menulis. Selama hampir dua tahun ini rasanya berat untuk kembali menulis. Entah karena kehilangan alasan untuk menulis, terlalu sibuk dengan hal lain atau karena takut untuk menulis kembali. Sebenarnya banyak yang bisa jadi bahan tulisan. Aku hanya merasa terlalu enggan, aneh bukan? Jadi, selagi aku #dirumahaja, dan karena memang bosan yang melanda, aku mulai menulis lagi. Isinya ya tentang hari-hari selama #dirumahaja.

Sudah lebih dari sebulan aku di rumah aja. Maret lalu aku baru saja masuk semester 2. Kuliah baru dua kali pertemuan di kampus sana. Bahkan beberapa matkul baru membuat kontrak perkuliahan. Tapi tiba-tiba, ada himbauan kuliah di rumah aja. Akhirnya mahasiswa pulkam deh. Meninggalkan Semarang, dan hiruk pikuk kehidupan mahasiswa. Jadilah sekarang, kuliah online. Entah sampai kapan. Berhubung sekarang lagi pandemi, semua harus jaga diri. Mungkin sampai Si Corona pergi.

So, selama di rumah aja, kan banyak tuh buku-buku yang belum aku baca. Beberapa yang kubawa ke rumah bisalah jadi teman setia. Mungkin ini saatnya buat membabat habis buku-buku hasil kalap dari diskon dan harga mahasiswa. Hehe. Iya, selama kuliah di Semarang coba udah berapa kali beli buku baru? Masih banyak kan yang belum dibaca? Biar lebih produktif, nih ya aku tulis target bacaan selama di rumah aja. Jangan males lhoo, Kha.

List Buku

Ø  Antimainstream Scholarship Destination-Belgia. Tentang perjuangan  kuliah di luar negeri.

Ø  Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, karya Marchella FP. Belajar menjadi manusia, ngga papa.

Ø  Garis Batas, karya Agustinus Wibowo. Perjalanan di negeri-negeri Asia Tengah. Garis batas yang kita imajinerkan mengubah banyak hal.

Ø  Ensiklopedia Raja-raja dan Istri-istri Raja di Tanah Jawa, karya Krisna Bayu Adji.

Ø  Gajah Mada edisi 1-5, karya Langit Kresna Hariadi. Jilid 1 aja belum kelar....

Ø  Egosentris dan Sadda, karya Syahid Muhammad.

Ø  Max Havelaar, karya Douwes Dekker alias Multatuli. Intrik masa kolonial di Banten.

Ø  Kalau mau baca novel, coba baca Yellow Autumn (Isnaini Ibiz), CHSU (Eriska Helmi), SIMaS (AriztaVee),  dll.

Ø  ..................................................................................................... Sebenarnya daftarnya masih panjang, tapi biarlah beberapa dulu yang kubaca saat ini.

Tambahan nih, list film yang inspiratif :

Ø  5 CM, persahabatan yang setia. Mas Genta dan kawan-kawannya.

Ø  3 IDIOTS, filmnya Aamir Khan yang keren banget. Biar kamu berpikir ulang soal esensi pendidikan.

Ø  I Can Speak, ceritanya ada unsur-unsur sejarahnya nih. Tentang para jugun ianfu masa penjajahan Jepang di Korea, sedikit menyinggung Hindia Belanda.

Ø  Merry Riana-Mimpi Sejuta Dollar, keajaiban sebuah mimpi.

Ø  Tare Zameen Par, lagi-lagi Aamir Khan memberi makna dalam tentang setiap anak itu istimewa dengan caranya masing-masing.

Ø  Mr. Clark, bagaimana menjadi seorang guru?

Ø  ..............................................................................................................................

 

 

Mungkin ini saatnya sejenak rehat dari hiruk pikuk kota. Sudah, nikmati saja. Bersabar atas segalanya.

 

 

Selesai ditulis di Bumiayu,

Jum’at, 17 April 2020

Di tengah masa pandemi yang memburu

 

Eunoia

[yoo-noy-yuh] • Greek

(n . ) A pure and well-balanced mind,

a good spirit, a beautiful thinking.

 

 

            Eunoia adalah catatan yang kedua. Dengan judul ini kuharap kita masih dapat bertahan dengan pikiran yang dewasa. Harus dari mana aku bercerita? Mungkin sejak Maret tanggal dua. Hari pertama perkuliahan di semester dua. Aku yang sedang bersemangat menempuh kuliah di kota. Siang itu aku membaca sebuah berita. Perihal kasus Corona di Indonesia. Saat itu, awalnya baru ada dua pasien terdata. Bermacam-macam komentar dari netizen yang berkata-kata di media. Awalnya aku masih sedikit lega.”Oh pasiennya di Jakarta.” Awalnya.

            Setelahnya aktivitas kampus berjalan seperti biasa. Kuliah di Gedung C2. Pergi ke perpustakaan kota. Bahkan makrab organisasi di vila. Tidak banyak yang berbeda. Sampai suatu ketika, orang-orang mulai tidak nyaman. Resah dengan pemberitaan. Beberapa kampus menutup perkuliahan. Aku masih ingat, 15 Maret 2020, terbit sebuah surat edaran. Isinya tentang kuliah yang dirumahkan. Semuanya dimulai sejak saat itu. Aku segera pulang meninggalkan Semarang. Awalnya dalam surat hanya bertuliskan kuliah daring hingga Mei menjelang. Tapi nyatanya kembali diperpanjang.

            Dimulailah hari-hari kami kuliah di rumah. Kami yang masih beradaptasi dengan sistem daring tentu banyak keluh kesah. Aku nyatanya memang ikut kuliah, tapi kenapa rasanya sangat bosan di rumah. Jadi di sela-sela mengerjakan tugas kuliah, aku punya ide untuk menulis catatan-catatan ini. Isinya tentang apa yang aku dapati sehari-hari. Bukan tanpa sebab, karena bosan dan merasa tidak produktif, aku menantang diri dengan beberapa tugas baca yang hingga sekarang belum kuselesaikan. Seperti yang telah kuceritakan tadi tentang judul-judul buku yang ‘seharusnya’ kubaca selama #dirumahaja. Kelak semoga aku bisa menyelesaikannya.

            Aku ingin selama di rumah ini ada sesuatu yang bisa kukerjakan. Tidak harus hal besar dengan memberikan sumbangan milyaran untuk korban. Hal-hal kecil yang bisa kulakukan setidaknya akan bermanfaat untuk diriku sendiri. Bukankah seorang pelajar punya tugas belajar? Aku ini mahasiswa biasa. Dalam kondisi pandemi ini apa yang aku bisa? Karena aku bukan dokter yang bisa merawat pasien, bukan pula milyarder yang bisa beri donasi berjuta-juta. Jadi, di masa pandemi ini, setidaknya aku membantu dengan hal yang aku bisa. Seperti himbauan dari pemerintah, kurangi aktivitas di luar rumah. Jaga kesehatan. Rajin cuci tangan. Jangan lupa pakai masker. Bukankah dengan aku di rumah saja sudah cukup membantu para tenaga medis yang sedang berjuang? Setidaknya aku bisa mengurangi resiko penularan.

Kamu ingat kan kalau aku gampang kalap di toko buku? Hehe, iya syukur kalau bukunya dibaca semua. Ketika pulang dari Semarang bulan Maret lalu, aku membawa beberapa buku. Harapannya ketika di rumah, buku yang belum kubaca bisa terselesaikan di sela-sela kuliah dan tugas harian.

Apalagi yang akan kuceritakan? Ah iya, dulu di awal pandemi, aku ingat saat itu masker medis dan hand sanitizer menjadi barang langka. Kalaupun ada tentu harganya naik berkali lipat pula. Ada saja oknum-oknum yang dengan teganya menjual ulang dengan harga berjuta-juta. Semua berubah sejak saat itu. Masker menjadi alat pelindung diri yang berharga. Sarung tanganpun dipakai buat jaga-jaga. Hand sanitizer diburu di mana-mana. Media ramai dengan tagar #dirumahaja.

            Untuk beberapa saat, bukankah wajar jika mengeluh dengan keadaan? Kami yang belum terbiasa sekolah, kuliah, bekerja dari rumah rasanya tersiksa. Awal-awal karantina, banyak cuitan tentang “Kuliah Online vs Tugas Online”. Kontan saja, semua masih mecoba beradaptasi. Tugas menumpuk lama-lama tambah suntuk. Lelah dengan semuanya.

            Kelak di masa depan ketika kamu membaca tulisan ini, coba cari lagi video-video viral 2020 hasil keisengan anak sekolah dan mahasiswa. Satu yang masih kuingat adalah cuitan tentang “Tugasnya Nggak Ada Akhlak”, sindiran untuk banyaknya tugas yang diberikan guru ataupun dosen. Wajar saja kurasa, kami masih sama-sama beradaptasi dengan keadaan. Ada pula mereka menyinggung tentang “Kuliah Online vs Tugas Online.” Tapi di balik semua itu, ada saja tangan-tangan istimewa yang terus berkarya. Produsen masker dan hand sanitizer misalnya. Mereka orang-orang yang tidak menyerah dengan keadaan.

            Hari-hari pandemi terus berlanjut hingga menjelang Ramadhan...

 

                                                       ...Catatan Ketiga – Saudade...

                                           

                                                                                                                       Bumiayu, 23 April 2020

Tidak terasa sudah menjelang Ramadhan. Alhamdulillah masih diberi kesempatan. Apa kabar diri?

Baik Alhamdulillah. Masih seperti biasa, nugas, berkutat dengan jurnal, laptop, handphone. Minggu ini UTS. Tidak terasa, padahal baru dua minggu kuliah (Dua minggu apanya?). Ya maksudku baru dua minggu kuliah offline, baru dua pertemuan, ehh udah UTS aja. Jujur si ngerasa cepet banget udah UTS. Kuliah online ngga kerasa macam kuliah. Ehh berarti udah satu bulan lebih  nih #dirumahaja. Ngga pengen keluar rumah? Hehe bukannya ngga pengen. Cuma ya taati anjuran pemerintah aja ya. Cuci tangan, pake masker, social distancing, hidup bersih,  dan sehat.

Ramadhan kali ini mungkin akan berbeda. Ngga ada sahur on the road, ngga ada buka bersama. Apa akan tetap ada kuliah subuh, tarawih di mushola, sholat Id, keliling kampung buat salam-salaman? Hmm

Kangen suasana Ramadhan. Sore-sore hunting takjil. Ribut bikin kue. Beli baju baru.

Udah banyak iklan sirup lho.

Kiranya kapan semua kembali normal?

Aku tahu aku ngga boleh ngeluh.

 

 

Maafin Ya Allah. Hamba-Mu cuma lagi capek dan bosan di rumah.

Tetap semangat sambut Ramadhan.

 

                                                                                                    Marhaban Yaa Ramadhan.

 

Saudade

[souˈdädÉ™] • Portuguese

(n . ) a feeling of longing, melancholy, or nostalgia 

 

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

                   Kalau kamu lupa soal social distancing, kami dihimbau untuk mengurangi kontak sosial maupun fisik dengan orang lain. Tidak salaman, tidak berjabat tangan. Bahkan dulu untuk pertama kalinya  mengalami di masjid nggak ada tarawih. Semua solat di rumah masing-masing. Bahkan ibadah haji saat itu terpaksa ditunda. Yah, demi keselamatan bersama, menghambat penularan virus. Makanya kamu harus bersyukur hidup di masamu, semua serba mudah. Selagi mampu, ramaikanlah masjid. Nikmati momen-momen Ramadhan yang syahdu. Dan yang nggak kalah penting ya menjaga pola hidup sehat. Kesehatan itu penting, kan? Penting banget. Kalau sehat kita bisa beraktivitas dengan lancar, ibadah dengan nyaman. Betul, kan? Saudade adalah gambaran kerinduan mendalam pada sesuatu atau suasana. Saat itu, aku yakin bukan hanya aku, orang-orang  pun rindu dengan suasana Ramadhan yang syahdu.

So, kamu juga harus jaga kesehatan. Dulu, sewaktu wabah melanda, orang-orang baru menyadari bahwa kesehatan itu penting sekali. Dari situlah mulai banyak tempat cuci tangan di berbagai tempat. Orang-orang yang masih sayang dengan tubuhnya tentu akan mematuhi protokol kesehatan yang berlaku. Tetap di rumah, jangan lupa pakai masker, dan rajin cuci tangan. Apa kamu penasaran jika kami #dirumahaja darimana kami makan? Ya, memang saat itu ada pembatasan sosial, tapi beberapa pekerjaan tetap beroperasi untuk memenuhi kebutuhan. Misalnya nih, pabrik obat, produksi makanan, jasa pengiriman, dll. Alhamdulillah, negeri kita kaya dengan bahan pangan, makanya nggak sampai kekurangan. Tapi saat itu, di beberapa negara sempat kekurangan pangan karena memang pembatasan sosial yang ketat.

Tapi sebetulnya karena wabah itu pula orang-orang mulai saling peduli dengan keadaan. Banyak penggalangan dana atau donasi, banyak program gotong royong desa untuk mencukupi kebutuhan pangan, dan masih banyak lagi. Macam-macaam bentukya, ada donasi masker bagi tenaga medis, donasi bahan pangan untuk warga terdampak, misalnya yang kena PHK, dll. Orang-orang ikut membantu satu sama lain semampu mereka.

                  Aku mengingat kembali saat itu, orang-orang bereaksi dan menyikapi pandemi berbeda-beda. Ada yang patuh dengan protokol kesehatan. Ada yang masih suka lupa tidak pakai masker. Ada yang tetap berjuang demi menghidupi keluarga. Semua itu adalah bagian dari realita yang akhirnya harus diterima. Perang melawan virus setidaknya menyadarkan semua. Apakah kepedulian itu masih ada?

Satu hal yang masih jelas kuingat hingga sekarang adalah peran figur-figur publik dengan memanfaatkan pengaruhnya untuk menggalang donasi. Dalam hitungan hari, milyaran uang terkumpul untuk membantu sesama. Mereka berperan semampunya. Sesederhana pesan makanan lewat Ojek Online, tapi diberikan pada si pengantarnya. Kalaupun belum bisa membantu lewat harta, mereka setidaknya diam di rumah, mengurangi aktivitas di luar sana untuk mencegah penularannya. Atau sekedar membagikan informasi di social media tentang menjaga diri dan lingkungannya.

                   Sementara ada pula orang-orang yang tetap bergeliat bahkan semakin berkarya dengan ide-ide solutif. Seminar online, diskusi online, lomba esai, aksi galang dana, donasi buku, produksi masker, produksi hand sanitizer, dan lain sebagainya.

Kesadaran mulai muncul. Orang-orang desa bahkan membuat program apotek hidup, warung hidup, dan Jogo Tonggo. Program apotek hidup dengan bersama-sama menanam tanaman obat sehingga ketika diperlukan dapat digunakan. Program warung hidup adalah program menanam tanaman pangan atau memelihara ikan atau ternak untuk mencukupi kebutuhan bersama. Program Jogo Tonggo merupakan program filosofis dan solutif yang dikembangkan masyarakat desa dengan konsep jimpitan (Beras untuk sesama).

Bagaimana? Apa kamu mulai mengantuk membaca tulisanku? Hehe, baiklah tak apa. Kamu boleh melanjutkannya nanti atau jika kamu masih ingin tahu maka tetap bersamaku, mendengar ceritaku. Di masa depan sana, apakah orang-orang disekitarmu sudah sadar tentang kesehatan yang berharga? Kuharap kamu juga termasuk dengan mereka yang peduli dengan keadaan.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------

                                                      Catatan Keempat – Kaca Benggala                     

 

 Bumiayu, 6 Mei 2020

“Permisi, ada info loker (lowongan kerja)?”

Begitulah salah satu isi status seorang teman. Aku melihatnya sambil tersenyum. Ternyata pandemi memang berdampak banyak. Beberapa teman di luar sana yang sedang masa kuliah daring, mencari pekerjaan paruh waktu. Ya, tentu saja selain karena bosan, juga alasan kebutuhan. Kuliah online, sekolah online, belanja online, semua butuh kuota guys.

Salah seorang teman nyeletuk, “IP semester ini ditentukan oleh sinyal dan kebaikan hati dosen.” Sinyal pengaruh banget buat ikut kuliah daring dan ngumpulin tugas. Untungnya tempatku ini sinyal lancar. Bayangkan anak-anak di pelosok desa yang harus rela naik turun gunung biar dapat sinyal. Miris lihatnya. Butuh kuota pula. Ya, masalah kuota kan emang semua juga butuh. Tapi berhubung teleconverence itu nyedot banyak kuota, jadilah semakin boros aja.

Kampusku bulan ini mulai memberikan kuota gratis kepada mahasiswa. Ya, berkat permintaan teman-teman dan mediasi bersama. Selain minta kuota, pasti banyak lah mahasiswa yang minta keringanan UKT karena merasa UKT semester genap ini nggak guna buat mahasiswa. Iya dong, kampus nggak ditempati, wifi kampus nggak dipake, jadi ya uang UKT semester genap ini buat kuota aja dong ya harusnya. Belum lagi uang kost yang mesti dibayar walaupun nggak ditempati. Huhu...

Tugas-tugas menumpuk, antre untuk diselesaikan. Rupa-rupa lah kuliahnya, ada yang pake elena, ada yang pake WA, ada yang pake youtube aja, ada pula nih yang isinya cuma tugas buat mahasiswa. Wes wes, dinikmati wae. Untung koe iso kuliah, iso puasa nang umah. Sinau sing sregep.  Tugasmu akeh to? Aja youtuban bae, aja scroll instagram terus. Ehh ngomong-ngomong instagram nih, temen-temen jadi banyak koleksi quotesnya. Ya memang sih mungkin karena waktu buat online lebih leluasa.

 

 Kamu di rumah bukan berarti nggak belajar ya.  

 Tetep belajar.

 Iya, belajar sabar.

Hehe nemenin bocil-bocil ngerjain PR kan belajar juga namanya.

                                                                                                            ‘belajar mar’

 

Kaca benggala

[ka.ca-beng.ga.la] • Javanese

(n . ) A large mirror; to introspection or contemplation

 

 

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Di tengah hari-hari kuliah atau mungkin di tengah kejenuhan, beberapa kali teman-teman menanyakan lowongan pekerjaan. Atau bahkan yang lebih ekstrem, ada yang buat story tentang “Capek kuliah, pengen nikah aja.” Mereka kan hanya menyampaikan unek-unek di dada. Bukankah nggak masalah?

Kalau aku dulu sehari-hari ya cuma nugas, kadang nemenin anak-anak tetangga ngerjain PR. Ya lumayan lah bisa buat beli pulsa dulu, hehe. Walaupun dari kampus udah ada kuota gratis, masih aja kurang, kan butuh youtuban juga. Karena dulu belum pasang Wi-Fi, jadilah boros kuota. Ada lho dulu anak sekolah atau mahasiswa yang rumahnya terpencil, rela naik gunung biar bisa dapat sinyal. Kasihan mereka. Tapi ya mau gimana lagi? Biar tetap ikut sekolah. Masaku mungkin tak secanggih jamanmu kelak. Orang-orang di pelosok desa masih ada yang nggak konek internetnya, nggak kaya kamu di masa depan semua jaringan sudah lancar di berbagai pelosok daerah. Bahkan mungkin anak-anakmu sudah biasa sekolah online.

Anak-anakmu mungkin lebih beruntung, sekolah lancar, fasilitas ada. Nah, itu dia. Kamu dan mereka harus bersyukur bisa sekolah nyaman. Semua ada. Makanya mereka harus belajar yang rajin, biar mereka bisa jadi dokter, hehe. Aaamiin. Semoga  tercapai. Ngomong-ngomong soal dokter, waktu pandemi COVID melanda, dokter dan tenaga medis adalah garda terdepan dalam perang melawan virus. Mereka rela tidak tidur, pakai alat perlindungan diri yang ribet, dan berbulan-bulan nggak ketemu keluarga. Demi mengobati pasien. Benar banget kata kamu kalau dokter itu berjasa. Padahal nih, tenaga medis sangat rentan tertular virus.  Sebenarnya tidak sedikit pula tenaga medis yang tertular virus lalu meninggal dunia. Tapi mereka yang masih tersisa tetap berjuang dengan segenap jiwa raga.

Kaca Benggala kurasa dapat menjadi judul yang tepat. Kaca Benggala kuartikan sebagai media refleksi, berkaca untuk memperbaiki. Masa-masa pandemi semoga dapat menjadi pelajaran dan bahan perenungan untuk kita semua. Sampai saatnya nanti tiba, kita akan lulus sebagai pemenangnya. Menjadi orang yang lebih dewasa.

Ceritaku masih cukup panjang, pastikan di sampingmu ada secangkir teh dan biskuit kacang, atau mungkin seseorang yang bisa jadi teman baca. Biar kamu tidak terlalu bosan.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

                                                       Catatan Kelima - Arunika

 

Halo, Mar di sini.

Hari ini tanggal 13 Mei 2020. Puasa yang ke berapa ya?

Kelamaan di rumah jadi lupa waktu.

 

Bagaimana kabar?

Sudah bosan? Sama. Saya juga.

Lelah. Muak. Penat. Malas.

 

Tell me something. Are you happy in this modern world? Or do you need more? Is there somethin’ else you searchin’ for.

 

Capek? Saya juga. Jujur sudah jenuh dengan semua ini. Rasanya sejak aku kembali dari Semarang berita kenaikan jumlah pasien positif tiap hari terus bertambah. Setiap sore notif dari browser terasa biasa. Biasa. Karena setiap hari berita yang sama. Pasien positif. Lagi. Dan lagi.

Ramadhan ini memang terasa berbeda.  Terasa lebih hambar. Terasa terlalu cepat. Sekarang bahkan sudah memasuki 10 hari terakhir Ramadhan. Secepat itu kah?

Orang-orang di luar sana, beragam sikapnya. Ada yang tetap semangat bekerja, demi menuntaskan  dahaga. Mereka yang tak bisa pulang sebab sayang. Mereka yang terpaksa menutup usahanya karena keadaan. Mereka yang di-PHK. Mereka yang putus asa, nekad mudik demi bertemu keluarga. Keadaan yang memaksa, daripada terlunta di kota. Sudah berapa banyak yang harus terluka?

 

Kebosanaan yang meraja lela. Desa-desa menutup aksesnya. Di mana lagi semarak berbuka? Aku rindu.

 

Sampai kapan? Bukan hanya aku yang bertanya.

Seluruh dunia.

Tapi.. Mungkin ini saatnya, kita berkaca

Semua ada maknanya.

 

Kita manusia, bukan siapa-siapa.

Hilangkan kesombongan di dada.

Kita yang bukan siapa-siapa.

Bahkan kalang kabut oleh makhluk mini tak kasat mata.

 

Lelah manusiawi.

Jenuh sudah pasti.

Tapi hidup harus tetap berjalan lagi.

 

Yang sekolah, yang kuliah, tetap belajar meski di rumah.

Yang bekerja, semoga selalu berkah.

 

Ingat ya, kalau kamu baca tulisan ini, berarti sudah 3 bulan sejak pasien COVID-19 terdeteksi di negeri kita. Saya jadi sadar bahwa bersama itu mermakna. Teknologi penting nyatanya. Kesabaran, kebersamaan, gotong royong, hal-hal kecil yang harus tetap ada. Saling menguatkan. Memang tidak mudah bertahan. Harus bagaimana? Kangen teman-teman.  Ingin kembali ke kampus tercinta. Kulihat Unnes semakin sepi dari beberapa cerita di media. Ciee kangen.

Banyak yang saya renungkan selama karantina. Apa yang harus saya lakukan? Kok saya gini-gini aja? Kadang rasa malas memang ada. Lelah dengan sistem perkuliahan tanpa tatap muka. Oh ternyata pertemuan itu memang berharga. Jadi begini ya rasanya menunggu tanpa kepastian. Begini ternyata rasanya mereka yang gapyear. Bosan. Tak tahu harus apa. Jenuh dengan rutinitas. Saya jadi merasa tidak produktif, malas pokoknya. Tugas berdatangan silih berganti. Aku paham, dosen pun bingung dengan cara apa agar bisa menyelesaikan agenda.  Seharian di depan handphone dan laptop. Download jurnal sampai numpuk. Rapat online. Kajian online. Kurang asyik memang. Tapi memang ini jalan satu-satunya, sebab semua harus tetap berjalan.

Download aplikasi video conference, google meet, google class, discord, zoom. Bolak-balik buka Elena. Jalani saja.

Pesan whatsapp tertumpuk, kebanyakan grup, tak tahu kapan dibaca. Entahlah, maaf ya kawan.

Kenapa aku jadi malas begini ya? Sewaktu mau nonton drama, teringat ada tugas tentang Sriwijaya. Ah ya, benar. Sepertinya lebaranku kali ini berisi kenangan tentang Sriwijaya. Lebaran mau ke mana ya? Hah.

Sampai kapan aku #dirumahaja?

Maaf ya, aku mengeluh saja.

Aku sadar, ini pikiran jenuhku yang jadi penyebabnya. Ingin. Sehari tanpa sosial media. Sehari tanpa harus memikirkan, “Oh ya, ada tugas A”. Aku rindu aku yang produktif. Aku rindu aku yang tertata. Hariku yang normal. Apakah setelah semua ini masih bisa kita hidup normal? Apa aku butuh beristirahat sejenak? Menenangkan pikiran.

Kamu mungkin penasaran, apa yang akan kulakukan setelah semua ini reda?

1.      Alhamdulillah Ya Allah, terima kasih atas segalanya.

2.      Bisa jadi aku menangis bahagia, akhirnyaaaa.....

3.      Terima kasih kepada:

1)      Diri sendiri, kamu sudah bertahan sejauh ini.

2)      Orang tua, terima kasih banyak dan maaf merepotkan selama #dirumahaja

3)      Bapak /Ibu Dosen dan atas segala kesabarannya.

4)      Teman-teman, atas semangatnya.

5)      Telkomsel, PLN, bakul pulsa, tukang ojek, bakul masker, bakul hand sanitizer, jasa antar paket, bakul buku online (Gramedia dan kawan-kawan).

6)       Google dan anak-anaknya (Meet, Classroom, Chrome, Mail, Asisten, Maps, Play).

7)      YouTube, Zoom, Instagram, Microsoft Office, Oppo, Lenovo, Discord, Elena, dll.

8)      BTN, BNI, BRI

9)      Dan semuanya yang turut berjuang dalam perang lawan Corona

4.      10Menata ulang hari-hari

5.      Jaga kesehatan, jaga kebersihan.

6.      Mungkin pesan tiket kereta

7.      .........................................................................

Jangan tanya IPK ya. Saya juga ngga tahu harus apa.

Dengar, Mar. Kamu harus tetap belajar apapun kondisinya. Terlepas dari dunia yang semakin tua, dengan segala kondisinya, kamu harus selalu belajar. Itu tugas manusia. Belajar itu luas, Nak. Tidak terbatas pada membaca buku, menghafal teori, menganalis cerita. Lebih dari itu. Kamu bisa belajar dari berita. Belajar bersabar. Belajar memasak. Belajar berbagi.. Belajar sedekah. Belajar pola hidup baru. Belajar menulis. Belajar membaca, suasana misalnya. Belajar beropini. Belajar menunggu. Belajar memahami bahwa manusia bukan siapa-siapa. Kalah oleh makhluk mini yang bahkan tak tampak oleh mata. Apa? Corona.

 

Jangan lupa terus berdoa.

Bukan kita yang punya kuasa.

#dirumahaja

 

Ditulis oleh mahasiswi semester dua ketika jenuh melanda.

Corona, pulang sana.

 

 

                                                                                                         Bumiayu, 14 Mei 2020

 

Arunika

[a-ru-ni-ka] • Sansekerta

(n. ) Cahaya fajar

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

            Aku tersenyum mengenangnya. Ramadhan saat itu benar-benar berbeda. Jangan harap ada buka bersama. Berbuka #dirumahaja. Suasana Ramadhan saat itu lebih sepi dari biasanya. Tapi sebenarnya di balik Ramadhan yang berbeda, kita diajari sebuah makna. Kebersamaan yang berharga. Alasan mengapa aku memberi judul Arunika, menurutku fajar adalah simbol bagi harapan baru akan terbit saat pagi menjelang setelah ditelan gelap malam. Bukankah harapan dapat menguatkan kita tetap bertahan?

            Pandemi saat itu benar-benar merubah aktivitas manusia. Sedih juga sebenarnya mengingat dulu. Tarawih di rumah masing-masing. Nggak ada buka bersama. Mungkin itulah saatnya, buat lebih khusyuk ibadah di rumah aja. Nggak ada tuh pemandangan habis Subuh masjid ramai dengerin ceramah. Pengajian beralih ke Youtube, dll. Wah nggak ada Tarawih? Rasanya seperti bukan bulan puasa. Mungkin hal ini juga terlintas di benakmu. Yah memang sudah kebijakannya seperti itu. Supaya mengurangi resiko penularan, ya makanya dihimbau sholat di rumah masing-masing. Tapi ada kok orang-orang yang merasa lebih khusyuk ibadah saat itu.

            Masih mau mendengar lanjutan ceritaku? Pastikan kamu punya teman baca di sampingmu.

 

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

                                                    Catatan Keenam – Dersik

 

Halo, hari yang cerah akhir-akhir ini.

Apa kabar semua?

Semoga baik-baik saja.

Sehat-sehat ya, pulang ataupun tidak pulang.

 

Hari ini sudah H-2 lebaran. Tidak terasa, satu bulan berpuasa. Rasanya singkat sekali.

Saya paham, tahun ini tidak sama. Ragu, apakah suasananya akan tetap menyenangkan? Lebaran yang aku rindukan.

Rindu bisa shalat Id, silaturahmi ke sana ke mari. Jalan ke tempat temen. Ya, bukan hanya Anda yang merasakan, rindu itu. Gema takbir yang berkumandang. Riuh anak-anak di halaman. Ramadhan kali ini memang berbeda. Alhamdulillah masih menjumpai Ramadhan, meskipun sedikit berbeda.

Dua bulan terakhir di rumah saja. Bosan sudah pasti. Tapi bersyukurlah kamu yang masih merasa bosan. Bersyukur kamu masih bisa pulang ke rumah. Menyantap masakan ibu. Bandingkan dengan mereka yang tidak bisa pulang. Tertahan di kota orang.

 

Tetap semangat, baik-baik di sana. Jaga kesehatan. Jangan lupa makan. Maskeran. Cuci tangan. Semoga diberi kekuatan.

Semangat puasanya..

Tinggal dua hari saja.

Bersabar, bertahan, sampai semua reda.

Selalu jaga kesehatan, yah sayang.

 

 

 

                                                                                                               Bumiayu, 22 Mei 2020

 

Dersik

[der-sik] • Indonesian

(n . ) Desir, bunyi angin

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

Menjelang lebaran tiba, kenapa rasanya semakin hampa? Aku mendengar tentang teman dan saudara yang tak bisa pulang.  Tertahan di kota orang. Dersik adalah catatan yang kutujukan pada mereka yang tidak bisa pulang pada lebaran kali ini. Semoga tetap semangat puasanya. Bersabar, kelak kerinduan akan terbayar. Mungkin bukan sekarang memang.

 

            Kau ingat, jalan raya dekat rumah kita yang biasanya sudah ramai menjelang hari raya, kali ini lancar dan leluasa. Yang biasanya macet sepanjang jalan, sekarang lengang. Ini tentu buat para pedagang berkurang pendapatan. Kalau kamu ingat, dulu sebelum pandemi melanda, berapa banyak pedagang yang berjajar di sepanjang jalan raya.

 

 

 

 

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

                                                         Catatan Ketujuh – Hari Fitri

 

Bumiayu, 2 Syawwal 1441 H

 

 

Taqobbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin ya semua. Alhamdulillah masih diberi kesempatan berjumpa lagi dengan Ramadhan dan lebaran tahun ini. Terlepas dari apapun yang terjadi dan bagaimanapun suasananya, kita harus tetap bersyukur.

Hari ini, H+1 setelah lebaran. Iya, lebaran. Kenapa? Kamu ngga ngrasa ini kaya lebaran? Hehe sama kok. Rasanya agak hambar memang.

Malam takbiran kali ini rasanya lebih sendu. Saya agak terharu, rindu, dan sendu mendengar gema takbir itu. Bagaimana keadaan teman-teman yang tidak pulang? Memikirkannya saja sudah membuat sedih. Bayangkan saja, berlebaran di kota orang, sendirian pula. Makanya alhamdulillah saya masih bisa pulang ke rumah. Makan opor ayam. Makan ketupat. Shalat Id. Pakai baju baru. Dapat angpau. Makan peyek. Dan tentunya bertemu sanak saudara. Alhamdulillah, sebosan apapun kamu di rumah, kamu bisa pulang menikmati lebaran.

Kemarin pagi, saya (bukan hanya saya sih) tidak seperti biasanya tidak shalat Id di lapangan. Meskipun beberapa masjid menyelenggarakan Shalat Id berjamaah, saya memilih shalat #dirumahaja. Untuk pertama kali dalam hidup saya, shalat Id munfarid.

Selanjutnya ya seperti biasa, berkeliling desa. Kali ini lebih sepi dari biasanya. Banyak yang tidak mudik, -ralat- terpaksa tidak mudik.

Mohon maaf ya, semua. Kalau saya banyak salah dalam berucap atau bertindak. Semoga Allah senantiasa melindungi kita.

------------------

 

 

 

 

Karena sebelum lebaran banyak waktu luang, jadilah  belajar bikin donat, bikin biji ketapang, bikin bolu pisang, bikin coklat kurma. Ya iseng, semangat buatnya, tidak tahu mau buat siapa. Kalau tidak ada tamu ya buat saya saja. Haha.

Teman-teman yang tidak pulang... Harap bersabar ya, semoga selalu dikuatkan dan dilindungi. Saya juga rindu kuliah.

Teman-teman di manapun berada, sepertinya tahun ini kita tidak diperkenankan bertemu secara lagsung. Jadi, mohon maaf lahir dan batin nggih. Taqobbalallahu minna wa minkum. Maaf kalau ada salah-salah kata, salah tindakan dari saya.

--------------------------------------------------MAAF------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Semoga kita bisa berjumpa di Ramadhan dan lebaran tahun depan dengan damai yah semua. Mohon maaf lahir dan batin.

Nanti kita cerita tentang hari ini.

Tugas saya masih banyak.

THR (Tugas Hari Raya).

Sampai jumpa.

 

Bumiayu, 2 Syawwal 1441 H

                                                                                                                      25 Mei  2020 M

 

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

Lebaran tahun ini memang lebih sepi dari biasanya. Libur sih libur tapi nggak kerasa libur, hehe. Kan memang sudah di rumah sejak lama. Lebaran di rumah masing-masing. Dulu, pasar biasanya ramai menjelang lebaran. Tapi di tahun ini memang lebih lengang dari biasanya. Tapi, nggak papa, demi kesehatan bersama. Yang kuliah sibuk kuliah, dapat banyak THR juga pastinya. Iya, Tugas Hari Raya (THR). Yang merantau nggak bisa pulang. Jadi, nggak ada mudik-mudik. Saat itu orang keluar-masuk Jabodetabek sangat dibatasi. Kalaupun ada harus mengurus surat-surat dan sebagainya. Kereta, pesawat, bus, dll sangat dibatasi. Tapi tradisi mudik memang sudah melekat di kalangan masyarakat kita.  Makanya ada saja orang-orang yang nekat mudik sembunyi-sembunyi. Ada yang ngumpet di mobil pick up, ada yang rela bayar berkali lipat dengan naik travel, dan sebagainya. Keinginan bertemu keluarga di rumah. Bahkan ada pula yang terpaksa mudik karena bingung tak dapat pekerjaan di kota. Daripada terlunta-lunta. Aku beryukur masih bisa pulang ke rumah. Meskipun banyak tugas, meskipun bosan, setidaknya bisa lebaran di rumah.

Lebaran kali ini aku coba belajar bikin kue, bikin donat, dan jajanan Idul Fitri lainnya. Ya lumayan rasanya, namanya juga masih belajar. Buatnya sih semangat, tapi tamunya dikit ternyata. Akhirnya ya dimakan saya  juga. Buat sendiri, makan sendiri. Iya wajar kalau lebaran kali ini lebih memilih silaturahmi online, pagi-pagi sudah menyapa saudara di Jogja. Dan tahun ini pula, aku baru merasakan sholat Id di rumah. Seumur-umur nih, baru kali ini. Agak sedih sebenarnya.

Gimana lebaranmu? Masih rutin ke rumah orang tua kan? Jangan lupa, hadirmu itu berharga. Sempatkan selagi sempat. Berhubung masih suasana Idul Fitri, aku titip pesan ya, sebelum memaafkan orang lain, maafkanlah dirimu sendiri. Berdamai dengan masa lalu, mengakui segala salah dan dosa. Sebab esensi Idul Fitri yang sebenarnya adalah pribadi yang baru, setelah ditempa satu bulan lalu. Orang hebat bukanlah yang tidak pernah berbuat kesalahan. Orang hebat adalah ia yang ketika salah segera memperbaiki kesalahan.

Apa di masamu kelak orang-orang masih ada yang buat ketupat tiap lebaran, buat peyek dan rengginang, opor ayam, dan aneka jajajan? Semoga tradisi tetap lestari. Kalau kamu baca ini, semoga kamu sudah bisa masak ketupat, bukan semangat buat makannya aja. Hehe.

 

 

 

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

                                              Catatan Kedelapan - Kyoiku Mama

Kyoiku Mama adalah istilah Jepang yang diberikan kepada sosok ibu yang selalu mendorong anak-anaknya untuk sukses baik secara akademik, psikologis, maupun sosial. Kyoiku Mama secara bahasa artinya ibu pendidik.

Saya peruntukkan catatan ini untuk ibu-ibu luar biasa yang senantiasa mendukung dan mendoakan anaknya dalam belajar dan berkarya, di manapun berada. Khususnya ibu saya.

 

Mama

 

            Selama sekolah dan kuliah daring ini, ada satu hal yang saya sadari. Melihat realita anak-anak di lingkungan sekitar saya, mereka tetap bersemangat belajar dan mengerjakan tugas. Anak-anak TK yang dengan ceria belajar sambil menonton video atau sekedar mewarnai gambar. Anak-anak SD yang semangat mengerjakan tugas hitungan pecahan. Juga anak-anak SMP dan SMA yang tetap belajar di tengah situasi yang mengharuskan mereka di rumah saja.

 

            Di balik mereka, ada sosok ibu yang selalu mengingatkan dan mendampingi anak-anaknya. Pandemi ini membuat para ibu secara tidak langsung jadi sering belajar bersama anaknya. Perlahan ibu-ibu di rumah bertambah tugasnya, mengajari anaknya mengerjakan tugas. Perlahan pula, mereka akan mencari jawaban lewat google, si mesin pencari. Satu hal yang terjadi adalah ibu-ibu jadi semakin sadar bahwa tugas yang dikerjakan sang anak tidak semuanya mudah, mereka masih membutuhkan pendampingan dari orang dewasa.  Hampir setiap hari saya mendengar tetangga saya memarahi anaknya yang susah memahami soal. Teriakan para ibu  mungkin wajar, mereka hanya ingin anaknya paham.

Anak-anak SMP dan SMA yang sudah lebih dewasa, sekolah daring memang menghabiskan banyak kuota. Ada ibu-ibu yang dengan segenap usaha membelikan kuota untuk anaknya. Ada yang rela berdagang, bahkan rela berhutang. Semua demi anaknya agar bisa tetap mengikuti sekolah. Sementara ibu saya adalah ibu yang memahami kesibukan anaknya. Beliau paham kehidupan mahasiswa daring dengan setumpuk tugasnya. Ya, beliau bagi saya adalah Kyoiku Mama. Terima kasih kepada para ibu yang selalu mendukung anaknya.

 

                                                                                                      One day on June, 2020

[Kyoiku Mama] • Japan

(n .) Ibu pendidik

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

            Catatan ini ditulis karena aku sering mendengar para tetangga mengajari anaknya. Ibu-ibu dengan gaya khasnya menyuruh anaknya belajar. Macam-macam rupanya, ada yang berteriak dengan lantangnya, ada yang dengan pelan mengingatkan, ada yang hanya memberikan kuota buat internetan. Setiap ibu tentu punya caranya sendiri agar anaknya mau belajar. Seringkali pula aku dengar omelan para ibu pada anaknya yang susah menjawab soal. Selama pandemi ini, aku yakin mereka para ibu menyadari satu hal. Bahwa mengajari anak itu sulit luar biasa. Makanya bayangkan bagaimana para guru menambah stok kesabarannya setiap hari, mendidik anak orang dengan riang. Beberapa kali para ibu bercerita padaku seperti ini,

“Kha, kok pelajaran anak sekarang susah amat ya? Perasaan jaman Ibu dulu nggak gini amat,” gerutu mereka.

Aku tersenyum mendengar komentar mereka. Ya kalau mereka merasa pelajaran anak sekolah makin susah, artinya ada perkembangan kan dalam pelajaran dibandingkan dulu?

Sempat kusinggung pula sebelumnya, para ibu yang rela bekerja agar bisa beli kuota buat anaknya. Ada seorang anak yang awalnya nggak punya handphone buat belajar online. Akhirnya si ibu rela kredit hp biar anaknya nggak tertinggal belajar. Ada pula yang dengan sukarela pergi ke warung buat kuota anaknya, meski harus berhutang di warung tetangga. Sekecil apapun upaya mereka adalah bagian dari usaha mencerdaskan anaknya. Ibu-ibu luar biasa inilah yang kalau istilah Jepangnya Kyoiku Mama.

Aduh sepertinya aku terlalu banyak bicara sampai kamu mengantuk begitu ya? Iya, maaf deh. Satu lagi saja catatan yang mau kubaca. Dengerin ya? Tanganku perlahan membuka catatan selanjutnya, beneran deh ini yang terkahir. Catatan bertanggal 15 Agustus 2020. Catatan dengan judul Pancarona pada hari-hari penuh makna.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

                    Pancarona

 



Orenmanirago...

Sudah lama ya, hehe maafkan daku yang sok sibuk.

Terakhir aku tulis diary sepertinya Juni lalu, setelah lebaran. Wah sudah lama yah, bahkan sekarang sudah lewat dari Idul Adha. Apa kabar semua? Fisik sehat. Psikis sepertinya menjerit meminta jalan-jalan. Hati gimana kabar? Bosan iya, kangen apa lagi. Sebenarnya di antara sekian banyak hal, yang paling aku kangeni adalah kehidupanku yang teratur. Mar yang disiplin. Jam segini ngapain aja? Kapan yah aku kembali ke hari-hari sibuk tapi jelas dan teratur?

Ngomong-ngomong sekarang aku masih liburan. Belum ngapa-ngapain sih. Masih gini-gini ajah. Di kamar seharian, scroll instagram, nonton story orang, nunggu paketan, nonton drama, sekali-kali baca fiksi, sesekali baca buku sejarah, melukis, journaling, buat kue, hunting info, merangkum buku, hunting foto. Ohhh hari-hariku yang datar. Bosan sudah pasti. Aku  jadi merasa tidak produktif sekali.

Sekarang tanggal 15 Agustus 2020, sudah selama itu aku di rumah. Tapi bulan kemarin aku sempat ke Semarang sih, nengok kostan, beres-beres, ambil buku, dan begadang. Aku kangen deh beneran sama keseharian di Semarang. BTW, Unnes jadi sepi sekaliii.. Warung-warung banyak yang tutup. Kampus apalagi... Huhu siapa yang huni yah?

Btw, Idul Adha sudah lewat sekitar dua minggu yang lalu. Akhir-akhir ini temen-temen banyak yang nikahan dong, lebaran gini. Pokoke hampir tiap hari rasanya lihat story orang isinya kondangan, nikahan, undangan, tunangan, lamaran, syukuran, skripsian, KKN-an. Wajar sih di Idul Adha kemarin banyak yang nikahan. Asumsiku mungkin karena Idul Fitri kemarin nggak boleh ada kondangan-kondangan jadi akhirnya dialihkan ke Idul Adha. Aku cukup senang akhirnya karena lagi pada #dirumahaja jadi ada momen kondangan sekaligus reunian bareng teman-teman. Berbagi cerita dengan mereka mengenang masa-masa SMA. Aku menjumpai banyak pertanyaan,”Apa kabar?”, “Gimana kuliahmu?”, “Banyak tugas nggak?”, dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membuatku sadar bahwa aku nggak sendirian. Aku punya banyak teman, dan mereka pun mengalami hal yang hampir sama di dunia perkuliahan daring. Perasaan bosan, lelah, stress, penat yang kami alami belumlah seberapa. Daripada kami terus berfokus pada rasa lelah, bukankah lebih baik jika menikmati masa-masa ini dengan sabar dan menerima? Karena bukan hanya kita yang mengalaminya, orang-orang di seluruh dunia pun merasakan hal serupa. Kalau kamu lagi capek, lagi bosan dengan hiruk pikuk perkuliahan, cukup ingat saja bahwa lelahmu adalah tanda bahwa kamu masih hidup. Perasaan lelah adalah tanda bahwa ada proses yang sedang kamu lalui. Bukankah dulu kita begitu bersemangat masuk kampus?

            Beberapa hari lalu aku menemukan sebuah catatan kecil di sudut word. Catatan yang sudah tenggelam di balik banyaknya tugas. Catatan ini aku tulis di masa awal aku kuliah daring sebagai pengingat diri. Kelak di masa depan ketika kamu membaca tulisan ini, semoga kamu masih tetap bersemangat dalam menimba ilmu, bagaimana pun keadaanya. Saat ada corona ataupun tidak.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Halo, Mar

Apa kabar?

Semoga baik-baik saja

jangan berhenti belajar

Dialog Imajiner

 

Nyong :  “Nyong kesel ih, akeh tugas, kuliah online. Siji durung rampung, ehh nambah maning. Bolak-balik WA, MS Word, WPS, Google Classroom, Google Meet, Zoom, Elena, Chrome, Sikadu, muter-muter bae. Unggal dina uplek ning kono.”

Aku      :    “Apa Kha? Kuliah capek? Hehe memangnya kamu nggak inget?”

Nyong    :    “Hah? Inget apa?”

Aku        :    “Ehem. Mari bernostalgia. Dulu siapa yang mati-matian pengin kuliah? Dulu siapa yang rela begadang demi bisa masuk server SNMPTN yang saat itu error? Siapa? Katanya pengin kuliah. Ndaftar ke sana ke mari, ngurus berkas ini itu. Lah sekarang udah kuliah kok sambat terus? Capek ya wajar. Istirahat sebentar. Lalu lanjut nugas lagi. Pelan-pelan.”

Nyong    :    “Hmm.”

Aku        :    “Gini aja deh, inget ya, lelahmu saat kuliah belum seberapa dibandingkan sama lelahnya orang yang banting tulang demi bisa kuliahin kamu. Udah lah, banyakin bersyukur, kurangi sambat. Tau ngga? Kamu harusnya bersyukur banyak-banyak. Alhamdulillah bisa kuliah. Alhamdulillah sehat. Alhamdulillah dapat tugas. Alhamdulillah bisa pulang ke rumah. Alhamdulillah ada sarana buat kuliah di rumah. Alhamdulillah masih dikasih rasa capek, tandanya aku masih hidup dan berproses. Coba bandingkan sama orang lain. Temenmu mungkin yang nggak bisa kuliah karena biaya. Temanmu yang masih belum diterima kuliah di mana saja. Atau mereka yang hari ini sedang sakit, berjuang melawan penyakit. Mereka yang nggak bisa pulang ke rumah. Mereka yang sekarang nggak punya pekerjaan karena PHK. Atau bahkan kamu perlu bandingkan dengan orang-orang yang sudah nggak dikasih rasa capek alias sudah meninggal?

Nyong     :    “...................”

Aku          :   “Kuulangi yah, capek itu tanda kamu masih hidup dan terus berproses. Bersyukur, ingat bersyukur. Kursi yang kamu duduki sebagai mahasiswa adalah impian ribuan orang di luar sana yang mungkin tidak seberuntung kamu. Masa gini aja udah ngeluh? Kuota ada, word, classroom, meet, ppt,wps nyambung semua. Ayo dong jangan kalah sama keadaan. Perangi malasmu. Udah ya, tetep semangat berproses. Jaga kesehatan. Jangan lupa istirahat. Banyakin Alhamdulillah. Aku tau kita semua juga capek. Sabar, ya. Banyakin berdoa. Semoga kuat kita semua. Semoga semua kembali reda. Dan semoga sinyal lancar terus buat kuliah dan nugas tentunya. Sabar dulu, sabar lagi, sabar terus. Oke Dear?

Nyong     : “Astaghfirullah... Aku................”

 

                                                                        Bumiayu, 18 Maret 2020

                                  ---Untuk Mar yang dulu ‘katanya’ pengin kuliah

 

Allah punya rencana

Tetap semangat jalani hari, sebab semua harus tetap berjalan lagi.

Selama aku di rumah aja ternyata banyak hal yang saya saksikan, yang saya dengar, dan saya ketahui. #Dirumahaja  banyak hal terjadi. Banyak hal yang aku lihat dengan lebih jelas. Tentang kehidupan sehari-hari yang selama ini tidak benar-benar diperhatikan. Sesekali kudengar ibu-ibu tetangga memarahi anaknya yang sulit diajari belajar. Sesekali kudengar adikku dimarahi ibu karena main terus. Sesekali kudengar ada saudara melahirkan. Selamat datang ke dunia fana ini, Nak. Sesekali kudengar para sepuh satu per satu kembali ke pangkuan Yang Maha Kuasa. Sesekali kudengar ada berita bahagia, entah teman, saudara, atau tetangga yang menyambut hari bahagia, memulai berumah tangga. Sesekali pula kudengar ada berita seseorang terbaring sakit karena usia. Ternyata banyak hal yang aku lewatkan selama ini.

Ternyata kehidupan orang dewasa itu kompleks  sekali. Ada yang baru keluar dari tempat kerja. Ada yang kebingungan dengan skripsi yang tertunda. Ada yang bekerja keras membangun hunian untuk sanak keluarga. Ada yang semakin semangat bekerja, jualan ke mana-mana. Ada yang baru bertengkar dengan pasangannya. Ada yang baru saja meminang gadis pujaannya. Ohh  jadi begitu yah hubungan dengan mertua. Ohh mendidik anak ternyata luar biasa. Kira-kira seperti itulah kata-kata yang sering saya gumamkan dalam hati. Semakin sadar bahwa hidup adalah pelajaran berharga.

            Hal-hal kecil yang sering saya lewatkan. Di rumah aja ternyata buat saya lebih banyak berpikir. Banyak pertanyaan berseliweran di kepala. Semacam quarter life crisis. Aku ini siapa. Mau ngapain. Apakah jalan yang saya lalui ini sudah benar? Apakah saya akan berhasil? Apa yang saya kejar? Apakah saya sudah hidup sebagai manusia dengan benar? Apakah saya mampu memikul tanggung jawab yang lebih besar? Bukankah menjadi guru bukan pekerjaan yang mudah? Apakah saya mampu melanjutkan impian saya ? Apakah saya bisa membahagiakan orang tua? Bukan hanya soal materi, tapi juga soal rasa. Akankah saya bisa melalui semuanya? Bukankah pertanyaanku cukup banyak? Semakin lama saya semakin sadar bahwa saya harus banyak membenahi diri. PR saya masih sangat banyak. Kadang juga bingung menyelesaikan yang mana dahulu? Semoga Allah selalu menguatkanku.

            Manusia bukan siapa-siapa. Memangnya apa yang dipunya? Nyatanya dalam keadaan sekarang, harta, tahta, tak ada bedanya. Si Corona menyerang siapa saja korbannya. Tak peduli kaya, tua, muda, tak punya. Dalam kondisi ini, siapa yang menang bukan soal siapa yang punya banyak uang. Tapi yang dapat beradaptasi dengan cepat akan muncul sebagai pemenang. Orang-orang boleh saja mengeluh sebanyak mungkin. Tapi kehidupan yang terus berjalan ini, hanya akan dimenangkan oleh orang-orang yang terus berjalan pula. Mengeluh tidak jadi solusi. Belajar, bersabar, bertahan. Bukankah hidup ini adalah kumpulan pelajaran? Tetap semangat, semua. Jaga kesehatan, ya. Sayangi diri Anda.

 

 

 

 

/Bukankah orang diam adalah orang dengan pikiran paling sibuk?/

 

 

 

 

 

 

                                                                             Terima kasih, diri. Sudah bertahan sejauh ini.

                                                                                                                                        

 

-Just Mar

 

 

 

Bayur, 15 Agustus 2020.

 

 

Theme song:

 ·         Road 

·         To My Youth 

·         Breathe 

 

 

.

.

.

Pancarona

[pan-ca-ro-na] • Indonesian

kbbi (n . ) bermacam-macam warna; pancawarna

 

 

 

ige jeongmal nae giringa? 

 

            Pancarona adalah bagian terakhir yang akan aku kisahkan padamu. Meskipun kisahku sebenarnya masih panjang, kurasa sampai di sini saja dahulu. Pancarona kupilih sebagai judul catatanku sebab kisah selama Corona ada buatku memang beraneka warna. Mungkin kebetulan pula sekilas hampir terdengar seperti kata Corona, hehe.

            Kusebut beraneka warna karena memang banyak rasa. Ada perasaan sedih ketika melihat korban yang semakin hari bertambah saja. Atau ketika mendengar lagi-lagi ada saja tenaga medis yang tertular si corona. Ketika mendengar teman-teman yang tidak bisa wisuda seperti biasa. Ketika mendengar himbauan tentang sholat Id di rumah aja. Ketika melihat berita orang-orang yang di PHK. Ketika melihat tayangan tentang mayat-mayat tergeletak di negeri tetangga. Ketika lagi-lagi acara demi acara yang tertunda atau dihapus dari rencana. Rasa sedih ketika Masjidil Haram ditutup sementara.

            Ada pula rasa senang ketika menyaksikan kepedulian sesama. Rasa senang ketika bisa membantu anak-anak belajar meski #dirumahaja. Rasa senang ketika menyaksikan sedikit demi sedikit pasien sembuh dari corona. Perasaan senang ketika bertemu teman lama. Senang ketika langit akhir-akhir ini jadi semakin cerah saja. Perasaan bangga ketika buku yang tertumpuk akhirnya selesai dibaca. Ada perasaan haru dan bahagia ketika akhirnya saudari-saudari muslimah di luar sana tidak lagi dikecam karena cadarnya.

            Semua perasaan itu bagaikan warna-warna yang berbeda. Terlepas dari itu semua, aku harap kita bisa lebih bijaksana. Bukan tidak boleh untuk berkeluh kesah. Tapi bukankah berkeluh kesah tak menyelesaikan masalah?

            Kalau kamu ingat, dalam sebuah buku yang pernah kamu baca, isinya “Masalah ada karena kamu menganggapnya ada. Apapun yang hadir dalam hidup kita bersifat netral sebenarnya. Tergantung bagaimana kamu menyikapinya.” Ya, memang benar bahwa pandemi membawa banyak dampak bagi kita. Melelahkan memang. Membosankan iya. Tapi apakah kita hanya akan fokus pada rasa lelah dan bosan tanpa melakukan apa-apa?

            Sadarilah bahwa setidaknya dari pandemi ini kita mendapat pelajaran berharga. Bahwa kesehatan itu utama. Bahwa kebersamaan itu bermakna. Semoga pandemi ini membuat kita lebih bijaksana, dengan perenungan penuh makna. Semoga pandemi ini membuat kita jauh lebih bersyukur atas segalanya. Semoga kesabaran dan kekuatan masih dalam hati kita. Semoga Allah selalu melindungi kita. Semoga semua kembali reda. Seperti dahulu ketika hari-hari yang damai dan leluasa. Terima kasih Corona.

Baiklah, terima kasih telah setia membaca tulisanku sampai sini. Jadi, bagaimana? Kamu mengantuk membacanya? Apa kamu menikmatinya? Tehmu sudah habis berapa gelas Mar’a? Kalau kamu masih suka teh manis dua sendok gula. Aku hanya ingin bercerita, semoga ketika kamu membacanya kelak, kamu akan mengingat kisah ini sebagai sebuah pelajaran berharga dari Corona. Sedikit saja tak apa, semoga kamu dapat menangkapnya. Tulisanku ini, catatanku ini, kalau nggak ada Corona, mungkin kamu tidak akan membacanya. Satu lagi pesanku, akhiri harimu dengan baik. Sebelum beranjak tidur, sempatkanlah untuk meminta maaf atas kesalahan diri dan berterima kasih atas perjuangan hari ini. Sampai jumpa di hari-hari yang damai di mana kamu sudah jadi lebih dewasa. Seorang Mar’a di masa depan yang membaca tulisan ini, semoga kamu masih tetap mengingatnya. Hari-hari penuh makna. Hari-hari penuh warna. Selama Corona menyapa dunia. Pancarona.

 

Terima kasih. Jangan lupa bersyukur.

 

Ditulis di Bumiayu.

Tanggal dua puluh sembilan,

bulan sembilan,

tahun dua ribu dua puluh,

hari selasa.



Kanigara

 

 

p. s : Sengaja kuselesaikan sebelum tanggal 30 September,

biar nggak sama kayak peristiwa tahun ‘65




Juara 1 Lomba Menulis Kisah Inspiratif Selama Masa Pandemi Covid-19 Fakultas Ilmu Sosial Unnes


 

 

  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[History #1] Hubungan Sriwijaya dan Mataram Kuno

Menjadi Guru SMA

Anak Sulungku: Catatan 20-an