Bukan Karena Sebuah Nama
Bukan
Karena Sebuah Nama
Prolog
“Mar’a,
kamu selamanya tidak akan pernah menjadi istri saliha seperti namamu. Kalau
kamu......”, ucapku ambigu.
Kata
orang, nama adalah doa. Kata orang pula, bahwa di balik identitas yang mereka
sebut ‘nama’ tersimpan doa terbaik dan
harapan besar orang tua terhadap anaknya. Tapi, apakah sebuah nama dengan makna
yang indah benar-benar sebuah panggilan berharga? Atau justru adalah beban yang membuat si pemilik nama berusaha menjadi versi paling sempurna
seperti nama pemberian orang tuanya?
Jika
nama adalah doa terbaik, kalau begitu, izinkan aku menceritakan padamu seorang
perempuan bernama “Mar’atus Sholekha”. Dua kata yang katanya adalah predikat
terbaik yang disematkan bagi perempuan terbaik. Dua kata yang bahkan disebutkan
oleh Rasulullah sebagai sebaik-baik perhiasan dunia. Perempuan yang salih,
begitulah arti dua kata tersebut. Tapi, apakah benar Mar’atus Sholekha yang
kukenal benar-benar seindah namanya? Atau jika dia memang tidak seindah
namanya, lantas perempuan seperti apa yang layak mendapat gelar sang perhiasan
dunia?
Bagian
1-Cundamani /cun.da.ma.ni/ permata terbaik
Berbicara
tentang wanita saliha, ada banyak nama yang mungkin tersirat di benak kita.
Muslimah-muslimah luar biasa dengan banyak karya dan jasa. Sejarah mencatat
dengan tinta emas tokoh-tokoh muslimah yang luar biasa. Ada yang berjasa dengan
ilmunya, Aisyah RA atau Fatimah Al-Fihri misalnya. Ada yang berjasa dengan
perannya, Khadijah Al-Kubra atau Nyai Ahmad Dahlan misalnya. Melampaui masa, ada pula muslimah
yang pemikirannya tetap tumbuh dan bersemi hingga hari ini, R.A Kartini
misalnya. Di masa kini, ada yang menginspirasi dengan karyanya, seperti Dewi
Nur Aisyah, Helvy Tiana Rosa, Najwa Shihab atau Dira Bachier misalnya.
Apa
kamu tahu? Perempuan-perempuan hebat yang kusebut tadi sebenarnya adalah sosok
yang diidolakan temanku itu. Mar’a banyak bercerita tentang muslimah-muslimah
hebat, perempuan-perempuan saliha yang menjadi inspirasinya. Jadi, maukah kamu
mendengarkan ceritanya?
Bagian
II⸻Humaira /kemerahan/ ⸻panggilan Rasulullah SAW
kepada Ummul Mukminin Aisyah.
“Ceritakan. Perihal perempuan yang
paling beruntung.”
“Saking cintanya Rasulullah SAW pada
Aisyah, beliau mendoakannya dengan doa yang begitu indah. Ya Allah, ampunilah
Aisyah dari dosanya yang telah lalu dan yang akan datang, yang tersembunyi dan
yang terlihat.”
Percakapan ini kutipan dari salah
satu unggahan temanku. Kau tahu, Mar’a memang mengagumi Bunda Aisyah, Sang
Humaira. Aisyah di mata seorang Mar’a adalah teladan sejati yang melintas masa
dan ruang. Sosok Aisyah adalah inspirasi sepanjang zaman. Cerdiknya, tingkah
lakunya, sabarnya, zuhudnya akan terus tercium harum menghias masa. Satu hal
yang bagiku paling disoroti oleh sahabatku adalah ketekunan Aisyah untuk
belajar. Aisyah muda yang tak pernah berhenti belajar, bukan hanya sebatas ilmu
agama tapi juga belajar syair dan pengobatan. Ribuan hadits berhasil
diriwayatkan Bunda Aisyah.
Mar’a bilang, menurutnya kemauan
belajar adalah sebuah kemewahan, sebab tidak semua orang memilikinya.
Sahabatku, semoga Allah senantiasa mudahkan langkahmu menuntut ilmu. Aku tahu,
pribadi kita bahkan sungguh jauh sekali dari sosok Aisyah. Tapi kita harus
tetap haus ilmu, tidak berhenti belajar.
Bagian
III─Berdikari /ber.di.ka.ri/berdiri di atas kaki
sendiri; mandiri
“Beberapa anak terlahir beruntung
karena dibesarkan pada keluarga yang cukup materi. Sisanya lebih beruntung
karena diberi hati dan tulang yang kuat untuk berusaha dan berjuang sendiri. Jadi, bukankah setiap anak itu beruntung?” Kalimat
penuh makna ini terpasang di dinding kamar Mar’a. Aku memahami kalimat ini
penuh makna bukan karena kalimat ini tercetak tebal di dinding kamarnya. Tapi
karena kalimat ini lekat dengan kehidupan kami berdua. Mungkin teman-teman kami
beruntung hidup dalam keluarga berada. Tapi bukankah kami lebih beruntung
karena diberi hati dan tulang yang kuat untuk berusaha dan berjuang sendiri?
Jadi, semua orang sebenarnya beruntung bukan?
“Aku ini pelajar. Tentu saja pekerjaanku
belajar,” jawabnya singkat.
“Bukankah belajar itu membosankan?”,
ucapku jengah.
“Belajar memang membosankan.
Makanya, orang yang bisa belajar itu hebat,”jawabnya.
Tapi, aku tahu bahwa ada yang
tersirat di balik jawaban singkatnya itu. Baginya belajar adalah sebuah pekerjaan
di samping sebagai memang kewajiban. Dia belajar agar bisa terus belajar.
Apa maksudnya? Ya, dia belajar agar bisa terus belajar. Itulah kenyataannya.
Pelajar seperti dia yang hanya bisa belajar di sekolah dengan beasiswa hasil
belajar. Selama ini, itulah makna berdikari yang kupahami dari dirinya. “Aku
mungkin tak banyak harta, tapi aku harus banyak baca,”pungkasnya.
Berdikari versinya aku setuju, aku
mengakui. Tapi satu yang tidak kusuka, kadangkala dia terlalu memaksakan diri
lalu kelelahan sendiri. Kadangkala pula, ada (banyak) saat ketika dia
benar-benar menjadi seorang pemalas. Lihat, bukankah dia memang anak muda biasa
yang tidak sebaik seperti yang orang-orang kira? Kau dengar sendiri bahwa
baginya belajar juga sesuatu yang membosankan.
Bagian
IV⸻Iqra /bacalah/⸻kalimat pertama yang mempesona
“Kata
paling indah adalah “baca”. Cukup b, c, dan a. Seakan mengajarimu cara mengeja,”
katanya. Sebuah keajaiban, kata Mar’a, dari ayat pertama.
Bacalah. Dulu saat perkenalan di depan kelas dia selalu berkata bahwa hobinya
membaca. Aku tidak begitu tertarik awalnya karena ya jujur saja, bukankah
berkutat dengan buku-buku tebal menjemukan sekali? Sampai suatu ketika aku
menyadari bahwa bagi orang lain, membaca mungkin adalah kesuraman dunia. Tapi
bagi sebagian orang, membaca adalah dunia mereka. Petualangan yang tidak pernah
ada habisnya. Buku baru menawarkan penjelahan baru, semacam memperpanjang tiket
perjalananmu. Begini kata Mar’a, “Dengan membaca aku berkelana, tanpa perlu
beranjak ke mana-mana. Itulah mengapa, buku adalah jendela dunia. Aku bisa
pergi ke masa lalu, aku bisa pergi ke masa depan. ” Ya, lagi-lagi aku
membaca kalimat ini dari dinding kamarnya.
Berbicara
tentang membaca, kali ini ada bukan dari tulisan di dinding kamarnya. Kali ini
aku mengutip dari salah satu storynya. Entah siapa pula yang sedang ia
bicarakan, tapi teman-temannya memang pembaca juga rupanya. Dia mengutip percakapan
temannya yang juga gemar sastra.
-----------------
“Ingin
kuceritakan perihal apa?”
“Perihal
wanita yang paling beruntung.”
“Saking
cintanya Rasulullah pada Aisyah, beliau mendoakannya dengan doa, ‘Ya Allah,
ampunilah Aisyah dari dosanya yang telah lalu dan yang akan datang, yang
tersembunyi dan yang terlihat.”
--------------------------------------------------
“Aku
ingin lebih banyak membaca buku, apa saja,” kataku sore itu.
“Boleh asal kesehatan matamu dijaga,” jawabmu sederhana.
Padahal
sebenarnya aku hanya ingin menjadi wanita dengan segudang cerita, agar kelak
setiap berjumpa kau akan dengan senang hati mendengarkan. Kau boleh bebas
memilih ingin kuceritakan apa saja, dan aku akan tetap sama dengan cengengesan
meminta perspektifmu seperti biasa.
----------------------------------------------------------------------
Ada banyak muslimah-muslimah pembaca
ulung yang jadi inspirasi hobinya. Kartini yang rajin membaca buku di tengah
tradisi pingitan Jawa pada masanya. Pula diceritakannya tentang Sang Duta Baca
Indonesia, Najwa Shihab alias Mba Nana. Katanya, “Hanya perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca. Cari
buku itu. Mari jatuh cinta.”-Najwa Shihab.
Satu kali lagi, meskipun dia suka
membaca tapi tentu saja dia juga manusia biasa. Begini contohnya, suatu hari
kami pernah berkunjung ke sebuah pameran buku. Saat itu pula aku merasa heran
padanya. Bagaimana bisa dia membeli buku sebanyak itu? Iya aku paham kalau
harga buku di pameran ramah kantong mahasiswa. Tapi buku sebanyak itu tentu
saja berat Mar’a. Ah, satu lagi kekurangannya. Dia mudah khilaf di toko buku.
Hey, jujur saja Mar’a, berapa banyak buku yang kamu beli tapi belum kamu baca?
Bagian
V-Photography /pho.tog.ra.phy/ the art of taking and
processing photographs.
Satu lagi hobinya Mar’a, fotografi.
Memang bukan untuk jadi fotografer profesional. Belum sehebat Diera Bachier
tentu saja. Baginya, fotografi adalah kesenangan tersendiri. Dia suka memotret
pemandangan (langit terutama), buku-buku, alam, dan banyak hal-hal random yang
diabadikannya lewat lensa. Katanya, ada banyak keindahan kecil yang sering
orang lewatkan, dan fotografi membuatnya lebih peka pada keindahan. Sekecil
apapun itu. Orang bisa memandang alam dengan kedua mata, tapi sebuah foto
menangkap momen yang tidak terulang oleh mata. Sebenarnya fotografi adalah
salah satu bentuk ‘membaca’ versi Mar’a. Bukankah kalimat Iqra pada ayat
pertama sungguh sempit jika hanya dimaknai sebagai membaca buku atau belajar?
Fotografi adalah cara untuk membaca. Membaca alam dan menangkap keindahan
maksudnya.
Aku teringat lagi satu
kekurangannya. Mar’a yang tidak hemat ruang buat foto-fotonya. Kalau kami pergi
ke suatu acara atau suatu tempat, dia akan memotret secara acak, sebanyak yang
ia mau. Foto yang bagus adalah yang tidak disengaja katanya. Lalu setelah itu
ia baru akan memilih dan memilah ‘foto-foto tidak sengaja’ yang bagus di
matanya. Langit biru mendominasi galerinya. Disusul bunga-bunga, halaman buku,
dan acara. Hey, ayolah hemat ruang Mar’a. “Fotografi itu...Menulis tanpa
kata...Melukis tanpa sketsa,” pungkasnya.
Menuju
Epilog
Mengembangkan diri adalah bagian
dari mensyukuri yang telah diberi. Dengan meneladani pembelajar seperti Aisyah,
kita bisa meraih salah satu tugas utama kita: menjadi madrasatul ula bagi
anak-anaknya. Dengan mencintai ayat pertama, jatuh cinta pada membaca seperti
kata Mba Najwa, kita bisa berpetualang melalui buku. Muslimah, meskipun kita
diutamakan untuk tinggal di rumah, tapi buku bisa membawamu bertualang ke
luasnya dunia tanpa membuatmu harus berkelana di dunia nyata. Bukankah sungguh
ayat pertama adalah kalimat yang mempesona? Pula, walaupun hanya sekedar
memotret pemandangan di sekitar kita, bukankah bisa menjadi sarana bersyukur?
Bersyukur atas anugerah mata. Ada banyak keindahan kecil yang Allah ciptakan.
Sesederhana langit biru dan awan putih. Kalau tidak kita memandang, apakah kita
hanya akan terus sibuk dengan pekerjaan? ‘Membaca’ pemandangan alam bisa
menjadi media refleksi atas keagungan kuasa Allah.
Saudariku Mar’atus Sholekha, kamu
pantas bersyukur atas doa indah yang orang tuamu sematkan di balik namamu. Aku
tahu kita masih punya banyak kekuarangan. Tapi, bukankah selalu ada kesempatan
untuk memperbaiki diri? Jadilah indah seindah namamu. Jadilah baik sebaik
namamu. Tapi pesanku, jadilah lebih baik bukan karena namamu menyimpan harapan
baik. Jadilah baik karena memang itulah kewajiban manusia yang jauh dari
sempurna untuk selalu memperbaiki diri.
Epilog
Satu
lagi saja kekurangannya:
“Mar’a,
kamu selamanya tidak akan pernah menjadi istri saliha seperti namamu. Kalau...”ucapku
ambigu
“Kalau??”jawab
Mar’a bingung.
“Iya,
kamu tidak akan jadi istri saliha kalau kamu................belum punya suami.
Gimana bisa kamu jadi istri saliha kalau belum jadi istri?”tukasku sambil
berlari, aku tak ingin ditimpuk jilid-jilid bukunya.
Satu
lagi saja kekurangannya:
Dia
masih jomlo, saudara-saudara.
Bumiayu,
30 Agustus 2021
Diikutsertakan
dalam Unnes Islamic Fair 2021
Komentar
Posting Komentar