Cenderamata dari Pandawa

 Cenderamata dari Pandawa

 

Cenderamata • Indonesia

cen.de.ra ma.ta /cêndêra mata/

n. pemberian (sebagai kenang-kenangan, sebagai pertanda ingat, dan sebagainya); tanda mata.

------------------------------------------------




 

Sumber: Koleksi pribadi

    Laut biru terhampar luas menyambut kami siang itu. Kedua mata seolah disuguhi ucapan selamat datang dari riuh ombak. Awan-awan putih seperti kapas yang mengisi kolom langit membentang seolah tak berbatas. Hari itu memang cukup terik, tapi pemandangan ini terlalu menarik untuk ditampik.

    Sambil menyelam minum air, hari Kamis, 13 Februari 2020 di sela-sela kajian peninggalan sejarah di Pulau Dewata, kami mengunjungi Pantai Pandawa. Agenda besar kami adalah Kajian Peninggalan Sejarah (KPS) yang diikuti oleh mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Negeri Semarang angkatan 2018 dan 2019. Di sela serangkaian jadwal kajian, agenda semi-liburan alias liburan kecil-kecilan tentu menjadi satu hal yang tak dapat dilewatkan. Keindahan Pulau Dewata rasanya terlalu memanjakan mata untuk kami telusuri. Di salah satu pantai yang cukup terkenal untuk kegiatan wisata, di Pantai Pandawa kami berada. Rangkaian tebing-tebing kapur yang terjal ternyata menyembunyikan pemandangan pantai seindah ini.

    Hamparan laut biru menyejukkan mata. Kami berpencar mencari kesenangan. Ada yang berenang, ada yang mengabadikan keindahan di mata lensa, ada pula yang menikmati keindahan pantai ini dengan secangkir kopi. Cuaca cerah dan cukup terik membuatku dan teman-teman memilih menepi. Rasanya menyenangkan sekali bercerita sambil menikmati pemandangan indah ini.

    Satu pemandangan yang melekat di ingatanku adalah laut biru dengan sebuah kapal yang tertambat dekat pantai. Seperti lukisan alam, indah sekali. Tanganku tentu tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Salah satu hobiku adalah fotografi, terutama pemandangan alam. Maka disuguhi pemandangan ini, aku sempatkan hunting foto. Biarkan mereka berenang menikmati segarnya laut Bali, tapi aku cukup memandangi keindahan pantai ini dan mengabadikan dengan kamera. Saat menyaksikan pemandangan hamparan laut dan langit biru ini, tiba-tiba suara Shane Fillan dan kawan-kawan terngiang di benak dari sebait lagu lama.

So I say a little prayer

And hope my dreams will take me there

Where the skies are blue

To see you once again

Overseas from coast to coast,

To find the place I love the most

Where the fields are green

To see you once again

 

(Westlife-My Love)

 

    Menjelang senja dengan langit jingga, kami menyaksikan sebuah pertunjukan yang memanjakan mata. Kisah Ramayana yang melegenda ditampilkan dalam sebuah pertunjukan dengan banyak pemeran. Kami menyaksikan pertunjukan dimulai dengan upacara dari sang Brahmana. Sang Rama digambarkan gagah berani. Rahwana digambarkan menakutkan. Hanoman berlarian menuju bangku penonton. Satu sosok yang kami tunggu, sang dewi, Sinta yang jelita. Pertunjukan ini dilakukan setiap sore oleh pengelola wisata setempat. Para pemerannya adalah warga sekitar yang tentu saja tidak asing dengan kesenian dan kisah Ramayana. Senja itu akan kuingat sebagai salah satu senja terindah yang pernah kusaksikan. Lembayung senja dan Ramayana, kombinasi yang sempurna untuk disimpan sebagai cerita dan cendera mata.

    Cerita ini kuberi judul cendera mata sebab kunjungan ke Pantai Pandawa menghadiahkan buah tangannya. Cendera mata pertama adalah pemandangan indah yang akan kami simpan di kedua netra. Keindahan laut biru  serta hamparan langit biru dan awan-awan putih yang terpantul di atas samudra. Cendera mata kedua adalah lembayung senja dan kisah Ramayana. Kami menyaksikan pertunjukan menarik ditemani langit jingga membingkai pemandangan menuju malam dan membawa sang mentari tenggelam di cakrawala. Kisah Ramayana yang kami saksikan adalah sebuah pertunjukan kolaborasi  seni, sastra, dan agama dalam satu panggung.

 

Satu lagi cendera mata yang kubawa dari Pantai Pandawa. Selain kumpulan foto yang memenuhi galeri, ada rasa syukur yang terselip di dalamnya. Saat aku melihat kembali foto-foto itu, rupanya cendera mata berupa rasa syukur terbersit di benak. Saat itu Februari tahun 2020, dua pekan sebelum pandemi melanda negeri ini. Aku bersyukur bisa menyaksikan keindahan Pantai Pandawa sebelum kita dibatasi keadaan pandemi yang tak kunjung reda. Ada dua mata yang leluasa memandang samudra. Ada raga yang sehat dan kesempatan menjelajah Pulau Dewata. Semua hal itu adalah rangkaian rasa syukur, sebuah cendera mata dari Pantai Pandawa.

 

Semarang, 12.12.2021


-------


p.s:

Sebenarnya tulisan ini juga dibuat karena tugas: buatlah cerpen tentang pengalamanmu dan laut. Tak tau lah, sing penting nggarap. 



 












Komentar

Postingan populer dari blog ini

[History #1] Hubungan Sriwijaya dan Mataram Kuno

Menjadi Guru SMA

Anak Sulungku: Catatan 20-an