Mengenal Sisi Lain Bung Hatta dari Novel Biografi Hatta: Aku Datang karena Sejarah
Mengenal
Sisi Lain Bung Hatta dari Novel Biografi Hatta: Aku Datang karena Sejarah
Kisah
hidup Bung Hatta yang kita kenang sebagai salah satu tokoh berjasa dengan
segudang kisah perjuangannya tentu menarik untuk ditelusuri. Bapak Proklamator
yang satu ini tidak habisnya memberikan semangat dan inspirasi bagi banyak
orang. Raganya memang sudah tidak bersama kita, tapi kisah hidupnya akan terus mengilhami.
Orang-orang masih terus bertanya tentang bagaimana sejarah beliau di balik perjuangannya
serta kisah-kisah lain yang mungkin belum kita ketahui. Salah satu tulisan yang
dapat mengajak kita mengenali beliau adalah biografi berjudul Hatta: Aku Datang
karena Sejarah karya Sergius Soetanto.
Kalimat
“Sesuatu yang selalu mahal harganya: kesederhanaan” menjadi pembuka biografi ini.
Satu kalimat pengantar yang seolah mengajak pembaca untuk lebih dekat dengan
Bung Hatta melalui kesederhanaan beliau. Perjalanan hidup Bung Hatta dapat kita
telusuri dalam buku setebal 360 halaman karya Sergius Soetanto ini. Alih-alih
berisi biografi yang memaparkan fakta-fakta secara deskriptif, Sergius melalui
karyanya memberikan kesegaran bagi pengalaman membaca biografi. Buku biografi
Bung Hatta ini ditulis dalam bentuk novel sehingga pemaparan kisah hidup beliau
disampaikan secara naratif.
Berbicara
tentang biografi, secara umum kita
memahami biografi sebagai kisah perjalanan tokoh dengan pasang-surut kehidupannya.
Orang membaca biografi untuk mengetahui perjuangan seorang tokoh dan memperoleh
pelajaran dari kisah hidupnya. Biografi dapat berbentuk tulisan tentang kehidupan
tokoh dengan serangkaian fakta yang bersifat deskriptif. Seiring perkembangan
kretivitas di dunia kepenulisan, penulisan biografi pun berkembang dan
menawarkan pengalaman baru bagi pembaca dengan tulisan naratif. Novel biografi
membawa pembaca untuk mengenal tokoh dengan pendekatan yang ringan dan alur
yang dapat diikuti pembaca.
Novel
biografi Bung Hatta memiliki alur yang menceritakan serangkaian fase kehidupan Bung
Hatta sejak kecil hingga masa tuanya. Dalam 40 bagian dalam novel ini, pembaca
akan menyelami sejarah hidup sang Bapak Koperasi dan menemukan sisi lain yang
mungkin belum diketahui. Berikut di antaranya.
Impian Menuju Mekkah
Kita mungkin mengenal Bung Hatta sebagai sosok akademisi
yang menempuh pendidikan di Eropa, tapi siapa sangka bahwa di masa kesil beliau
sebenarnya hendak belajar agama di Mekkah. Pada bagian 2 berjudul Menunggu Mekkah,
diceritakan bahwa sang kakek yang biasa dipanggil Pak Gaek akan memboyongnya belajar
di Mekkah setelah beliau lulus Sekolah Rakyat. Hatta kecil saat itu baru
berusia menjelang tujuh tahun. Impian tentang belajar Islam di Mekkah dan Kairo
lantas pupus setelah sang ibu, Siti Saleha berat hati melepas Hatta kecil
belajar di negeri orang.
Menjadi Pegawai di Kantor
Pos
Pada bagian 7 berjudul Matang di Padang dikisahkan bahwa
tahun 1916 Bung Hatta hendak melanjutkan sekolah di Betawi, akan tetapi impiannya
pergi belajar di daerah lain lagi-lagi pupus. Ibundanya meminta beliau untuk menyelesaikan
sekolah MULO di Padang terlebih dahulu. Selama di Padang rupanya ada pergolakan
batin dalam diri Hatta. Hatta muda memilih melamar kerja di Kantor Pos Kota
Gadang. Dengan gaji sebesar f. 65, Bung Hatta remaja merasa senang dengan hasil
kerjanya.
Padang dan Awal Mula Pencerahan
Selama Bung Hatta bersekolah di Padang, ada dua peristiwa
yang membekas di hati beliau. Diceritakan bahwa pada tahun 1918, Jong
Sumatranen Bond mengirimkan Nazir Dt. Pamontjak ke Padang. Pidato Nazir
menguatkan Bung Hatta untuk bergabung dengan Jong Sumatranen Bond. Peristiwa
kedua adalah kehadiran Abdul Muis sebagai anggota Volkstraad pada Septemper
1918 di Padang. Dari uraian-uraian Abdul Muis, Hatta muda semakin menyadari pentingnya
nilai sebuah kebebasan.
Pertemuan dengan Haji Agus
Salim
Pada Februari 1920 saat Bung Hatta sedang menjalani pendidikan
di Betawi, bersama rekannya yakni Bahder Djohan dan Amir, mereka bertiga bertamu
di rumah Haji Agus Salim. Bung Hatta muda memperoleh banyak wawasan baru
tentang ideologi dari percakapan dengan Haji Agus Salim.
Jeruji di Negeri Belanda
23 September 1927, pemerintah Belanda saat itu menangkap
Bung Hatta yang saat itu menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Indonesia di
Belanda. Tapi satu hal yang menarik adalah pembebasan beliau dari tahanan juga
dibantu oleh seorang pengacara Belanda yakni Mr. Duys.
Hatta dan Buku
Perintah pengasingan terhadap Bung Hatta turun pada awal
tahun 1935. Satu hal yang cukup menarik yang membuktikan kecintaan Bung Hatta
terhadap buku adalah beliau memboyong serta 16 peti bukunya menuju tanah Digul.
Hatta dan Para Sahabat
Dalam berbagai bagian dari novel ini, penulis menampilkan
banyak kisah perjuangan Bung Hatta dengan rekan-rekannya. Kisah-kisah Bung
Hatta dengan para sahabat seperjuangan memberikan banyak nuansa nasionalisme
dalam novel ini. Salah satunya adalah Sutan Syahrir yang turut serta diasingkan
di tanah Banda. Salah satu bagian setelah kemerdekaan menceritakan bagaimana
kesedihan Bung Hatta terhadap wafatnya Bung Syahrir yang memperjuangkan
kemerdekaan Indonesia tetapi meninggal sebagai tahanan di negeri Indonesia yang
telah merdeka.
Secara umum, novel biografi ini memberikan pengalaman
membaca biografi Bung Hatta lebih dekat. Ada sisi-sisi lain yang mungkin belum
kita ketahui dari buku-buku sejarah. Novel biografi yang secara naratif menjelaskan
kisah hidup Bung Hatta seolah mengajak pembaca untuk turut serta dalam kehidupan
beliau.
POSTINGAN BARUNYA SELALU DI TUNGU-TUNGU, SELALU MENGINSPIRASI !!!!!
BalasHapus