Nomor Dua
Nomor Dua
“Siapakah orang yang pertama kali mendarat di bulan?”
Tak ragu kita akan menjawab Neil Armstrong. Tapi, siapakah
yang kedua setelah Armstrong?
Tidak ada yang mengingatnya. Tidak ada orang yang mau
susah payah mengingat siapa yang kedua.
Kutipan di atas adalah potongan
dialog di sebuah film legendaris. Di kehidupan nyata, orang-orang berlomba menjadi
nomor satu. Jadilah nomor satu. Jadilah yang paling. Dan hal-hal serupa.
Tapi di tengah tuntutan untuk selalu menjadi nomor satu,
beberapa waktu lalu saya membaca sebuah pesan dari seorang kakek yang
kata-katanya begitu menyentuh. Saya tidak menonton series yang beliau bintangi,
tapi kata-kata beliau di sebuah wawancara benar-benar dalam maknanya.
Kakek Oh Young Soo berkata:
“Seringkali masyarakat kita
memperlakukanmu seolah-olah kamu harus menjadi yang nomor satu. Tapi jika
dipikir-pikir, tempat kedua mungkin kalah dari tempat pertama, tetapi dia telah
mengalahkan tempat ketiga. Setiap orang sebenarnya adalah pemenang. Pemenang
sejati dalam pikiranku adalah orang yang berusaha untuk menjadi yang terbaik
dalam apa yang dia suka dan memberikan segalanya selama perjalanannya untuk
mencapai tingkat keahlian itu.
Aku telah menerima banyak hal dalam hidupku,
terlepas ukurannya besar atau kecil, dan aku ingin kembali dan meninggalkan apa
yang telah aku terima sebagai warisan. Misalnya, ketika aku masih muda, aku
akan memetik bunga di gunung jika aku melihatnya. Tetapi pada usiaku sekarang,
aku akan membiarkan bunga itu apa adanya dan kemudian aku akan pergi ke sana
lagi dan melihat bunga itu lagi. Aku pikir itulah hidup.”
Kamsahamnida, harabeoji.
Komentar
Posting Komentar