Catatan Kaki

 

Catatan Kaki


Tumpukan buku tampak berdebu                                                             

Rak-rak tersusun rapi,

namun tampak sepi

Lorong ini gelap sekali

Di antara rak-rak tinggi,

cahaya hanya mengintip bagai kisi

Tapi sepasang kaki terus menyusuri

Jemarinya tak henti mengindrai,

dari tepi ke tepi

 

Aku tak dapat menahan diri,

seutas kalimat kulontarkan padamu,

pada buku mengapa kau begitu candu?

 

Kau terkekeh mendengarnya

Katamu kau hanya suka

Tak ada alasan apa-apa

 

Aku terdiam, tak menanggapi

Belum sempat kakiku melangkah,

suaramu mencegah

 

“Kau ingat penulis favoritku?”, tanyamu

“Aku rela di penjara asalkan bersama buku,

 karena dengan buku aku bebas”

Suaramu mengalun pelan, membacakan sebuah kutipan

Mohammad Hatta, Memoir: sembilan belas tujuh sembilan



⸻Bumiayu, 21 November 2020






@Gedung Rumah Ilmu, Universitas Negeri Semarang


Tempat ini jadi sepi sekali selama pandemi.

Jadi, kapan kesini lagi?



@maratuss_sholekha





Puisi ini diikutsertakan dalam Lomba Kepenulisan Nasional 2020 yang diselenggarakan oleh Gerakan Pemuda Indonesia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[History #1] Hubungan Sriwijaya dan Mataram Kuno

Menjadi Guru SMA

Anak Sulungku: Catatan 20-an