Rumah di Sudut Desa

Halo, pembaca...

Semoga kesehatan dan kebahagiaan selalu melimpahi Anda.

Siapapun Anda, di manapun berada.

 

Pagi ini saya membaca catatan-catatan lama. Ada catatan menarik yang kutemukan. Rupanya saya menulisnya saat duduk di bangku SMP tercinta, aku tak terlalu ingat waktunya. Sepertinya tahun 2014, entahlah, saya hanya ingin menuliskannya. Sebab catatan ini seperti halnya saya dahulu kala, murid lugu yang biasa saja. Saya mencoba mengingat emosi apa yang saya bayangkan saat dulu menulisnya. Kepolosan masa remaja. Lucu saja mengingatnya.

 

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

Rumah di Sudut Desa

    Di suatu pagi yang cerah, aku berjalan menuju sekolah. Tibalah aku di sebuah perkampungan yang asri. Di sana tampak rumah-rumah berjajar rapi. Pohon-pohon meneduhkan suasana. Warna-warni cat tembok di setiap rumah meramaikan pemandangan. Kuperhatikan jalan sekitar  yang nampak bersih. Ada sebuah selokan kecil di sisi kanan jalan nampak keruh. Namun itu tak membuat kesan indah tempat itu hilang. Di setiap rumah, hampir selalu kulihat halaman yang hijau.

    Aku terus berjalan sambil melihat-lihat. Pandanganku tertuju pada sebuah rumah bercat biru keabu-abuan. Halamannya memang tak begitu luas. Namun halaman itu selalu tampak indah di mataku. Dengan lampu taman yang tegak berdiri. Hamparan rumput yang menghijau. Diselingi beberapa pepohonan rindang. Semerbak bunga yang baru mekar dengan warna-warna yang indah. Rumah itu dikelilingi pagar. Di depan rumah tampak beberapa meja dan kursi tersusun rapi. Itulah salah satu pemandangan di Dukuhturi.

 

 

⸻Dukuhturi suatu pagi

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Gadis Berkerudung Hitam

            Siang itu cuaca sangat terik. Sinar matahari serasa membakar tubuh. Lalu lalang kendaraan di jalan raya membuat suasana bertambah runyam. Hembusan angin sepoi-sepoi menyegarkan suasana. Di tepi jalan, di bawah pepohonan rindang, tampak seorang gadis dengan wajahnya yang merah padam. Seakan ia menahan teriknya mentari saat itu. Keirngatnya bercucuran membasahi dahinya yang sedikit tertutup kerudung. Ia menggendong sebuah tas hitam yang nampaknya berat.

            Tangannya yang basah karena berkeringat terlihat menjinjing satu tas lagi yang berwarna kuning cerah. Pakaiannya yang rapi, dengan warna hitam dan putih yang berpadu amat serasi di tubuhnya. Dengan kerudung hitam yang menutupi kepalanya. Sepatunya yang hitam menunjukkan bahwa ia adalah seorang siswi.

 

 

p.s:

Kamu ingat batik sekolah yayasan kita?

Iya,

yang hitam putih itu.

 

Pagi Itu di Penggarutan

            Suatu pagi di tengah hamparan sawah yang menghijau. Aku dan teman-temanku berjalan di sebuah jalan setapak. Rindang pepohonan menyejukkan suasana. Kicau burung-burung meramaikan alam sekitar. Tetesan embun pagi di semak belukar. Hamparan sawah hijau yang menyejukkan mata. Ditambah kilauan sang mentari yang seakan tersenyum menyambut pagi.

            Terlihat di sebelah selatan jembatan rel kereta api yang panjang, terlihat masih berkabut. Di sebelah utara, nampak beberapa pohon kelapa yang tinggi dan suatu tempat yang indah. Itulah salah satu pemandangan di Penggarutan.

 

 

p.s:

Kamu ingat tempat itu?

Jalan itu masih sama kurasa.

Sudah lama pula saya tak ke sana.


 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

[History #1] Hubungan Sriwijaya dan Mataram Kuno

Menjadi Guru SMA

Anak Sulungku: Catatan 20-an