[Read More Books #1] Garis Batas-Agustinus Wibowo

 

[Read More Books #1]

 

 

Judul                          : Garis Batas-Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah

Penulis                      : Agustinus Wibowo

Penerbit                    : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit             : 2011

 

Garis Batas-Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah

 








Negeri apa di seberang sungai sana? Penduduk desa Afghan setiap hari memandang ke “luar negeri” yang hanya selebar sungai jauhnya. Memandang mobil-mobil melintas, tanpa pernah menikmati rasanya duduk dalam mobil. Mereka memandangi rumah-rumah cantik bak vila, sementara tinggal di dalam ruangan kumuh remang-remang yang terbuat dari batu.”

 

Pernah mendengar ungkapan “Buku adalah jendela dunia”?  I think this book is one of the real definition dari ungkapan tersebut. Buku karya Koh Agus  ini akan membawamu berkelana tanpa perlu beranjak ke mana-mana. Menelusuri negeri-negeri Stan yang tersembunyi di balik warna-warni peta dunia. Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan. Uzbekistan, Turkmenistan, negeri-negeri Asia Tengah yang mungkin tidak banyak kita tahu adalah museum waktu, potret zaman  dari kejayaan masa lalu Persia, Jalur Sutra, masa keemasan Islam, hingga negeri-negeri pecahan Uni Soviet.

Buku ini bukan sekedar buku perjalanan biasa. Ada banyak makna yang dapat direnungi. Tentang keajaiban sebuah garis batas, pemisah takdir. Sejarah, perbedaan, kebangsaan, kemanusiaan, budaya, dan peradaban.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

“Jika buku demikian bermutu, maka tak ada yang lama ataupun yang baru, yang ada kamu perlu membacanya.”

 

Kata-kata tersebut pernah saya dengar suatu hari di sekolah, entah siapa yang mengatakan. Sebenarnya buku ini sudah cukup lama terbit, sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar bukan? Tapi kamu perlu membacanya. For your information, cover ini adalah cover lama buku ini. Beberapa waktu lalu Garis Batas sudah merilis cover baru yang tidak kalah cantik. Entah yang lama atau yang baru, isinya sama-sama perlu dibaca.

Buku Best Seller yang terbit pertama tahun 2011 ini merupakan karya kedua dari penulis Agustinus Wibowo setelah buku Selimut  Debu yang sudah lebih dulu terbit. Garis Batas adalah kumpulan kisah perjalan Koh Agus di Asia Tengah, menjelajah negara-negara Stan yang beraneka rupa. Bacalah, maka kamu akan mengetahuinya, makna di balik sebuah perjalanan. Ajaibnya sebuah garis batas.

Buku ini terbagi menjadi 5 bab yang masing-masing membahas perjalanan penulis di lima negara Asia Tengah, yaitu Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan.






v  Bab 1 Tajikistan-Eksistensi Negeri Merdeka

Bab pertama buku ini akan mengajak Anda memulai sebuah perjalanan. Garis start diceritakan oleh penulis bukanlah dari perbatasan, tetapi jauh di kantor kedutaan. Ada banyak cerita menarik yang disajikan dengan cantik. Tentang petugas perbatasan, polisi, pegawai hotel, sopir dengan segala kisahnya tentang ‘pemeriksaan’ dan mediasi keuangan. Birokrasi, birokrasi. Perjalanan di Tajikistan adalah petualangan jiwa, menelusuri Dushanbe, ibukota yang rapi tapi birokrasi korup. Tentang penduduk yang mayoritas muslim tapi tak ada gegap gempita Ramadhan. Perjalanan di Istaravshan, kota tua yang jalannya bolong-bolong. Menelusuri Khorog, ibukota Provinsi GBAO di antara gunung-gunung tinggi dihuni oleh pengikut Ismaili.

 Tentang kisah mengharukan Gulchera dan Wali Jon, bibi dan keponakan yang terpisah oleh sungai pemisah takdir antara Tajikistan dan Afghanistan. Tentang banyak pengangguran, tapi pendidikan mereka diperhatikan. Saya tersentuh saat membaca kisah tentang kakek Tajikistan yang bisa menyebutkan pulau-pulau di Indonesia. Tentang mahalnya harga tepung, harga bensin, harga daging dalam tuturan Gulnoro. Tentang gadis kecil di Murghab. Namanya Hadisa, putri Gulnoro yang ‘istimewa’. Bahkan mungkin ia lebih kaya dari kita, orang biasa. Ia tidak perlu memikirkan mahalnya daging atau mahalnya tepung seperti orang tuanya. Menjelajahi daerah tepian danau besar itu, Rang Kul. Tentang kekhawatiran penulis yang hampir habis visanya tetapi belum juga bisa beranjak dari sana.

Membaca bab pertama buku ini tentang Tajikistan saya merasa tercerahkan. Bagaimana bisa saya masih mengeluh hidup di bumi pertiwi ini? Padahal sebenarnya di luar sana ada orang-orang yang jauh lebih susah. Kehidupan dan dunia di luar sana begitu luas, kita manusia hanya sebagian kecil, seperti butiran debu di padang pasir. Inikah perbedaan? Ternyata pelangi nampak indah karena berbeda warna. Lantas apakah perbedaan membolehkan manusia untuk saling membeda-bedakan pula? Afghanistan dan Tajikistan, negeri seberang, penduduk yang saling penasaran. Perpisahan yang tak diinginkan.

“Jangan menyumpahi gelap, tapi segera nyalakan lilin.” (Halaman 45)

“Garis batas adalah kodrat manusia. Tanpa disadari, kitaadalah seonggok tubuh yang selalu membawa garis batas portabel ke sana ke mari. Garis batas menentukan dengan siapa kita membuka hati, dengan siapa menutup diri.” (Halaman 46)

“Garis batas membuat hidup manusia penuh warna. Berkat garis batas, ada negeri-negeri berbeda, bangsa-bangsa berbeda, beribu bahasa dan makanan khas, adat-istiadat.... Bayangkan jika dunia ini dihuni oleh semua orang yang sama persis, berwajah sama, berbahasa sama, punya impian dan agama yang sama, berjenis kelamin sama, semua sama makmur, sama sempurna, sama pintar, selalu bersama-sama pergi ke sini dan kesana... betapa membosankannya.”(Halaman 82)

 

 



 

v  Bab 2 Kirgizstan-Tenggelam di Atas Peta

Bab dua, menjelajahi Kirgizstan. Masih tentang ganasnya korupsi dan polisi. Koh Agus kembali mengunjungi Kirgizstan untuk yang kedua kali, melepas selubung impresi. Bukankah kesan pertama tidak selalu benar? Kirgiztan yang rapi, gedung-gedung tinggi di Kota Osh, nuansa zaman komunis yang masih terasa. Tentang pasar Jayna Bazaar, pertemuan dengan ‘ibu’ penulis di Kirgizstan. Warna-warni Kota Osh yang sangat menarik hasil dari persimpangan budaya antara Tajikistan, Xinjiang Uyghur etnis Turki, Uzbekistan, dan tentu saja bangsa nomad Kirgiz. Takdir membawa penulis bermalam di Karakol, daerah yang sebenarnya paling ia hindari. Menyaksikan kemuraman demi kemuraman di Karakol.

Perjalanan selanjutnya mengajak kita menemui Satina, guru bahasa Inggris di Toktogul. Tentang kekaguman penulis pada sekolah Kirgiz yang ternyata membuat saya iri juga. Tentang kepolosan anak-anak sekolah Kirgiz yang  membuatmu bernostalgia. Semuanya berubah saat sang penulis memasuki Bishkek, ibu kota Kirgiztan yang gemerlap. Pertemuan dengan Moken yang menyelenggarakan pernikahan anaknya. Pembaca akan dibawa berimajinasi tentang upacara pernikahan ala Kirgizstan. Di sudut kota Bishkek masih tersisa orang-orang minoritas Dungan etnis China. Penulis bercerita panjang tentang bagaimana menjadi minoritas di negeri asing. Saya jadi bertanya-tanya, apakah makna sesungguhnya di balik nasionalisme? Ilusi, imajinasi tentang tanah air. Katanya perasaan cinta tanah air akan lebih terasa saat kamu memandangnya dari jauh, dari negeri orang.

Membaca bab 2 memgingatkan saya pada peristiwa berdarah tahun 98, tentang minoritas dan mayoritas, etnis Cina dan Orde Baru. Penulis menceritakan kisah pribadinya. Untuk kepentingan siapa garis batas itu ada?

“Penikmat dunia ini tidak peduli target apa pun untuk dilihat dan disaksikan. Terkadang ia pergi ke bukit gundul, ke tanah gersang, ke medan perang, atau ke kampung miskin. Setiap helai daun, setiap kelopak bunga, adalah keindahan kuasa Ilahi yang patut disyukuri.”(Halaman 140)

“Tetapi apakah kesan pertama selalu benar? Saya tak yakin. Saya percaya bahwa setiap budaya, masyarakat, dan sejarah selalu kompleks dan multi-dimensi, tak ada kepastian yang bisa diberikan hanya dengan satu jawaban, dan untuk memahaminya kita harus melepas berlapis-lapis selimut impresi yang menghalangi objektivitas.” (Halaman 140)

“Kita mungkin berpikir, kebebasan adalah anugerah, demokrasi lebih baik daripada kediktatoran yang mencekam, dan kebebasan berpendapat adalah hak dasar yang harus dipenuhi. Tetapi, apakah benar kebebasan dan kemerdekaan itu adalah yang terbaik bagi semua orang? Mana yang lebih penting, bebas bersuara tetapi kelaparan, ataukah mulut dibungkam tetapi perut selalu kenyang?” (Halaman 162)





v  Bab 3 Kazakhstan-Kebanggaan di Simpang Jalan

Kazakhstan, negeri raksasa di atas peta Asia Tengah. Penulis menceritakan tentang Kazakhstan yang lebih modern, Kazakhstan yang dingin dan sepi. Almaty namanya, kota tempat persinggahan pertama. Gemerlap kota bernuansa Rusia. Almaty, kota apel, kota mahal. Tentang film Borat, fantasi yang realistis. Tentang ibukota baru Kazakhstan. Tentang Karaganda yang sunyi. Kazakhstan adalah negeri Asia Tengah yang paling dekat dengan Rusia. Peradaban Rusia masih begitu terasa. Bahasa Rusia. Gedung-gedung tua gaya Rusia misalnya. Kazakhstan yang sedang mencari jati diri. Cerita tentang perjalanan kereta menuju Kazakhstan bagian selatan, Turkistan. Orang-orang yang ditemui di perjalanan. Mereka yang menawarkan makanan, penyeberangan, dan penginapan.

Satu kisah yang menurut saya sangat menyentuh ketika para nenek berkederudung di pasar perbatasan. Nenek-nenek yang berniat membantu penulis menyeberang dengan ‘aman’. Ada pula cerita tentang pemilik penginapan yang memberi tumpangan semalam. Ah, rupanya dunia ini masih ada kemanusiaan. Orang-orang yang ditemui Koh Agus sepanjang perjalanan sungguh luar biasa. Mereka orang asing, tapi terbuka pada orang asing. Konsep tamu memang mengakar dalam kehidupan sebagian penduduk Asia Tengah. Tentang makam Khoja Ahmad Yasawi yang banyak diziarahi muslim seluruh negeri. Bangunan makam yang megah itu dibangun oleh Timur Leng.

“Bukankah negara-negara Asia Tengah juga dibuat Uni Soviet atas dasar rasisme? Kazakhstan untuk Kazakh. Uzbekistan untuk Uzbek. Rasisme adalah dasar kehidupan,” tangkisnya. (Perkataan Kolya, pemuda Chukcha minoritas, halaman 264)

“ Kulit membungkus manusia. Warnanya adalah garis batas, identitas, label, penentu takdir.” (Halaman 265)

“Orang-orang malang... Sekarang saya belajar bagaimana bersyukur kepada Tuhan. Spasibo. Terima kasih. Dengan melihat foto-fotomu, saya jadi tahu saya tidak layak mengeluhkan kehidupan di Kazakhstan.” (Ucapan Ludmilla, perempuan Rusia penjual kaus kaki di kereta, halaman 295)

 





v  Bab 4 Uzbekistan-Tarian Masa Lalu

        Kisah-kisah di Uzbekistan, tentang bagaimana Mas Agus meneriakkan kencang-kencang Pembukaan UUD 1945 dalam keadaan terdesak di negeri asing, manjur ternyata. Tentang seorang sahabat lama yang merasa bosan dengan suramnya Uzbekistan. Uzbekistan adalah salah satu yang paling anti-Rusia. Tentang pesan pegawai keduataan, “Ingat Gus, kalau kamu sudah berada di Uzbekistan,  jangan kamu berpikir lagi ada di negara normal. Di sini semuanya bisa terjadi.” Ternyata memang benar perkataan Mbak Rosalina di kedutaan itu. Uzbekistan memang negeri yang bener-benar unik. Kisah menarik yang saya ingat adalah uang Uzbek yang begitu ‘kuat’. Di sana, semua serba tunai. Mau bayar tiket? Harus bawa sekeresek uang tunai. Bayangkan... Bagaimana kalau di sana harus membeli rumah? Berapa banyak uang yang harus dibawa? Itulah mengapa uang Uzbekistan disebut ‘kuat’. Sum yang kuat. Polisi di Taskhent yang tidak bersahabat, seperti di beberapa negeri tetangganya. Kisah menarik lainnya seorang Uzbek yang belajar budaya Indonesia. Temur yang sempat mengenyam pendidikan di Surabaya dan Ozoda, perempuan Uzbek yang pandai menari Yapong dan Badinding, bahkan membuka kelas tari sendiri. Saya jadi merasa malu, saya bahkan yang orang Indonesia tidak tahu bagaimana wujud tarian itu.

Tentang Bukhara yang termasyhur. Menara Kalon yang hampir seribu tahun usianya.. Dulu Genghis Khan pernah menghancurkan masjid Kalon. Tapi tidak dengan menaranya... Bahkan seorang Genghis Khan pun terkesima menyaksikan keindahan pemandangan dari puncak Kalon. Tentang masjid Uzbek yang kini sepi, tentang doa Suhrat, ‘Insya Allah kamu akan menjadi muslim.’ Tentang syahdunya perayaan Idul Adha di Masjid Kalon. Tentang keramahan Lembah Fergana. Kenangan masa silam, Jalur Sutra.

 

“Kewarganegaraan adalah ikatan mental, spiritual, identitas dan kesamaan masa lalu kita dengan saudara-saudari sebangsa.” (Halaman 424)

 

 

 



 

v  Bab 5 Turkmenistan-Utopistan

 

Turkmenistan, negeri yang tertutup itu. Semua gratis, semua murah. Inikah Zaman Emas yang mereka impikan? Tentang Tukrmenbashi, sang pemimpin negeri yang dipuji-puji. Tentang kitab kedua, Ruhnama, pedoman hidup penduduk Turkemenistan. Tentang gedung-gedung megah, patung-patung indah, tapi semua terasa hampa.

 

“Ini adalah dunia yang penuh fantasi. Mimpi indah bersama tokoh-tokoh khayal peradaban agung kini menjadi nyata, menjanjikan tawa riang generasi muda Abad Emas sebagai manusia paling beruntung di muka bumi.

Tetapi , sayang, dunia tak seindah fantasi.” (Halaman 467)

 

 

 

 

 Sebenarnya ada  banyak sekali kata-kata dan kisah luar biasa yang ada di buku ini. Saya sampai kehabisan pembatas buku untuk menandainya (Iya lah, 500-an halaman).

 

Semalam saya baru saja mengikuti seminar online Mas Agus dalam acara Dialog “ the Socrates Express-Menjaga Kewarasan di Tengah Ketidakpastian.” Mas Agus berbicara tentang bagaimana perjalanan di tengah pandemi, yang sebenarnya bisa dilakukan. Sebab perjalan bukan hanya tentang pergi. Perjalanan tidak hanya tentang fisik. Ada perjalanan memori, ada perjalanan batin.

 

 

“Perjalanan adalah cermin untuk melihat diri.”

 

 

Matur nuwun Mas Agus. Xie xie Koh Agus.Thank you Mr. Agus.

Waiting for your new book....

 

 

 

 

 






 

 

 

 

 

 

 

 At least, you have to read this book. Berpetualang tidak hanya soal jalan-jalan ke tempat baru, tapi juga menemukan makna dan cara pandang baru.







Catatan Entah Ke Berapa-Membaca Bahagia, Bahagia Membaca, ini adalah sebagian catatan harian saya yang bertanggal 26 November 2020.

 

 

 

p.s: Saya jadi ingin bercerita, saking senangnya. Komentarku dibacain di forum aja bahagia, apalagi direpost di instastory beliau. Duh, ayo nabung buat beli buku baru...














Your book reader,


Mar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[History #1] Hubungan Sriwijaya dan Mataram Kuno

Menjadi Guru SMA

Anak Sulungku: Catatan 20-an