[Her Story #5] Keluarga di Mata
Her Story Not HisStory #5
Keluarga di Mata
Kali ini ada beberapa request
dari teman-teman. Katanya, Mar bahas keluarga dong, siapa tahu ada pembacamu
yang relate. Oh begitu rupanya, jadi mau bahas keluarga nih? Bingung mau bahas
apa soal keluarga...Karena belum berkeluarga...Abaikan saja. Kembali ke
topik.
Keluarga. Apa sih yang terbayang di benakmu saat mendengar kata keluarga? Orang-orang yang selalu mendukung? Mama papa? Ibu bapak? Kakak adik? Kakek nenek? Tempat pulang? Bersama keluarga kamu merasa nyaman menjadi dirimu. Sebab mereka lebih dari sekedar mengenalmu. Mungkin itu beberapa gambaran tentang keluarga yang terlintas di pikirmu.
Tapi bagaimana jika keluarga yang
seharusnya menjadi tempatmu pulang justru membuatmu ingin pergi dan enggan
pulang? Saya belajar dari teman-teman di sekitar, keluarga yang seharusnya
menjadi orang yang paling dekat dengan kita kadang bisa menjadi alasan untuk
enggan pulang, alasan kesedihan, dan alasan-alasan lainnya.
Dalam hubungan keluarga, tidak
dipungkiri bahwa perbedaan selalu ada. Setiap keluarga punya cerita. Masalah
klasik misalnya, ibu ingin kamu kuliah hukum, ayah ingin kamu kuliah pendidikan,
kakak mendukungmu masuk ke dunia keuangan, sementara kamu sendiri masih terlalu
gamang dan bimbang, terjebak di antara berbagai pilihan. Contoh lain, anak yang
merasa tidak nyaman di rumahnya sendiri sebab orang tua yang sibuk sendiri, bekerja
dari pagi ke pagi. Atau kamu mau dengar yang lebih parah lagi? Orang-orang yang
katanya keluarga, masih bisa saling bercanda, tapi tak bisa bersama, sebab
alasan konflik rumah tangga. Lalu anak yang menjadi korbannya, sementara orang
tua tak berdaya menyambung rasa. Mungkin beberapa ketidaknyamanan yang dirasakan
dalam keluarga itu lah yang menjadi alasan mengapa rumah tak lagi menjadi
tempat pulang yang nyaman. Kalaupun kamu harus pulang, kamu hanya mendekam di
kamar seharian, keluar hanya untuk makan. Tapi dalam kehidupan nyata, hal-hal
semacam itu memang ada, memang terjadi.
Saat kerumitan itu terjadi, perbedaan
pendapat, merasa tidak dipedulikan, dan hal-hal tidak menyenangkan lainnya, apakah
keluarga kehilangan fungsinya? Sementara mereka terus saja bertengkar, atau memaksamu
dengana pilihan mereka. Lalu kamu terjebak dalam dilema dan tanda tanya.
Ujung-ujungnya kamu menyalahkan mereka egois dan sebagainya.
Jadi, bagaimana? Coba periksa kembali hatimu. Apakah memang benar mereka yang salah karena memaksamu memilih ini dan itu dengan alasan tahu yang terbaik untukmu? Ataukah kamu yang keliru karena menghindar selalu?
Saya hanya ingin bercerita, keluarga
yang kamu sebut menyebalkan, tidak nyaman, membosankan, melelahkan itu adalah
harta berharga. Coba tanyakan pada anak-anak yang tak punya orang tua, seberapa
berarti kehadiran mereka. Coba tanyakan pada anak-anak yang masih bisa melihat ibunya,
bisa melihat bapaknya, tapi tidak bisa bersama-sama sebab perceraian orang tua.
Coba tanyakan pada mereka yang baru saja kehilangan ibunya atau bapaknya,
seberapa menyesal mereka tak sempat buat bahagia.
Kakak yang berisik, adik yang rewel, ibu yang cerewet, bapak yang kaku, kamu yang menghela napas melulu. Kalau kamu tahu, keluargamu yang kau bilang ribet itu adalah impian mereka yang tak punya keluarga. Semestinya kamu bersyukur masih diberi kesempatan menjadi bagian sebuah keluarga yang utuh. Bukan tanpa sebab, kamu beruntung sebenarnya.
Sebelum kamu menyesal kehilangan eksistensi
keluarga, coba tanyakan lagi setiap permasalahan yang mengusik harimu. Mereka bertengkar,
apakah kamu sebagai anak tak bisa ikut andil mendamaikan? Mereka memaksa
pilihan hidupmu, apakah benar pilihan mereka seburuk itu di matamu? Atau jangan-jangan
kamu lah yang menutup semua pintu. Enggan mendengarkan dan terlajur menolak
diingatkan. Menunda untuk membicarakan persoalan. Ataukah memang kamu sebagai
anak tidak pernah mencoba mengerti sudut pandang perkataan ibu?
Saya banyak mendengar teman-teman yang terpaksa memilih pilihan ortu, lalu menjalani dengan lesu. Bukankah sebenarnya kamu bisa duduk jauh-jauh hari, bercerita tentang mimpi-mimpimu, membuat mereka mengerti dengan pilihanmu? Berbicara dari hati ke hati. Ini lho yang anakmu mau, Pak, Bu. Atau jangan-jangan kamu yang belum berusaha menyampaikan atau terlalu takut untuk sekedar memulai pembicaraan? Atau tak pernah berusaha menunjukkan keseriusan?
Tidak, saya tidak sedang
menyalahkanmu. Semoga kamu senantiasa bersyukur dengan keluargamu. Sebab
perbedaan akan selalu ada, tapi siapa yang bisa menekan ego itulah akhirnya.
Sebelum kamu menyesal, sebelum kamu ditampar kenyataan pilu, syukuri
keluargamu. Bagaimana pun jua.

Masih banyak yang harus disyukuri, masih banyak yang harus direnungi. Yang terlihat buruk sebenarnya tidak selalu benar benar buruk. Coba lihat di lain sisi. Ibu kantin said "Ga ada orang tua yang pengin liat anaknya susah. Orang tua cuma pengin liat anaknya lebih baik daripada dirinya. Sudah itu saja". Kalimat terakhir yang paling ngena "Syukuri keluargamu. Bagaimana pun jua" Terima kasih Mar'atus Sholekha ♡
BalasHapusTerima kasih sudah membaca. Jadi renungan juga bagi saya.
Hapus